Kampus Times- Kemunculan kecerdasan buatan atau AI membawa perubahan besar terhadap cara manusia mencari informasi, belajar, dan menyelesaikan pekerjaan. Dalam hitungan detik, AI dapat merangkum buku, menjawab pertanyaan, menyusun tulisan, hingga membantu menganalisis berbagai informasi.
Namun, kemudahan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah semakin mudah memperoleh jawaban berarti manusia semakin mampu berpikir?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu tantangan pendidikan di era AI. Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk membantu manusia mencapai tujuan yang lebih tinggi, bukan menggantikan proses berpikir yang justru membentuk kemampuan intelektual manusia.
Dalam perspektif yang dibahas, AI perlu ditempatkan sebagai wasilah atau sarana, sementara manusia tetap menjadi pihak yang menentukan tujuan dan arah penggunaannya.
Berpikir Manusia Berbeda dengan AI
Al-Aql dan Fatonah Tidak Sama dengan Algoritma
Berpikir atau al-aql dijelaskan sebagai proses ketika manusia menangkap realitas melalui indra, kemudian menghubungkannya dengan informasi yang telah dimiliki untuk memahami dan menafsirkan realitas tersebut.
Sementara itu, fatonah berkaitan dengan kemampuan memahami sesuatu secara cepat. Keduanya merupakan bagian dari kemampuan manusia yang terbentuk melalui pengalaman, pengetahuan, proses belajar, dan interaksi dengan realitas.
AI bekerja dengan mekanisme berbeda. Sistem AI merupakan teknologi yang mengolah data menggunakan algoritma dan model komputasi. AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak cerdas, tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti AI memiliki proses berpikir manusia.
Karena itu, pendidikan tidak seharusnya hanya mengejar kemampuan menghasilkan jawaban. Yang jauh lebih penting adalah membentuk manusia yang mampu memahami realitas, menilai informasi, mengambil keputusan, dan bertindak secara bertanggung jawab.
AI sebagai Wasilah yang Harus Dikendalikan Tujuan
Penggunaan AI juga tidak dapat dilepaskan dari tujuan pemakainya. Dalam perspektif syariat yang dibahas, AI sebagai alat tidak secara otomatis memiliki satu hukum yang berlaku untuk seluruh penggunaannya.
Tujuan dan cara pemanfaatannya menjadi pertimbangan penting. AI dapat digunakan untuk aktivitas bermanfaat, seperti membantu merangkum buku atau mendukung proses belajar. Sebaliknya, teknologi yang sama dapat digunakan untuk membuat konten palsu, melakukan fitnah, atau aktivitas lain yang bertentangan dengan nilai agama.
Artinya, persoalan utama bukan hanya apakah manusia mampu menggunakan AI, tetapi untuk apa AI digunakan.
Prinsip tersebut relevan dalam pendidikan karena siswa perlu dibekali kemampuan membedakan antara teknologi sebagai alat dan tujuan yang ingin dicapai melalui teknologi.
Kemudahan AI Jangan Sampai Menghilangkan Kemampuan Dasar
Ketika Teknologi Mengambil Alih Hal yang Seharusnya Dilatih
Teknologi sejak lama membantu manusia menyelesaikan pekerjaan rutin. Kalkulator, misalnya, membuat proses perhitungan menjadi jauh lebih cepat.
Namun, jika seluruh kemampuan dasar diserahkan kepada perangkat, manusia berisiko kehilangan keterampilan yang sebelumnya menjadi bagian dari kemampuan sehari-hari. Fenomena tersebut dapat terlihat dari eksperimen sosial yang menunjukkan sejumlah pelajar mengalami kesulitan menjawab pertanyaan spontan mengenai perkalian sederhana maupun pengetahuan umum.
Persoalannya bukan sekadar kemampuan menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang lebih penting adalah apakah pendidikan masih memberikan cukup ruang untuk melatih memori, konsentrasi, membaca mendalam, berhitung, dan membangun argumentasi.
Ketika teknologi mengambil alih pekerjaan rutin, manusia seharusnya menggunakan waktu yang tersedia untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi, bukan berhenti belajar.
Validasi Informasi dan Pentingnya Sanad

Salah satu tantangan serius AI adalah kemampuan menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata keliru. AI dapat mengambil pola dari data dalam jumlah besar, sementara sumber data tersebut tidak selalu memiliki tingkat keabsahan yang sama.
Dalam konteks ilmu agama, persoalan tersebut menjadi semakin sensitif. Sistem AI bahkan dapat memberikan rujukan kitab, nama sumber, atau nomor halaman yang ternyata tidak benar.
Karena itu, prinsip sanad dan validasi sumber tetap penting. Informasi yang diperoleh dari AI tidak seharusnya langsung diterima tanpa pemeriksaan, terutama ketika menyangkut persoalan agama.
Tradisi keilmuan yang menekankan sumber yang jelas menjadi semakin relevan di tengah banjir informasi digital. AI dapat membantu menemukan atau mengolah informasi, tetapi manusia tetap harus memeriksa kebenaran dan otoritas sumbernya.
Pendidikan Islam Perlu Mengutamakan Adab dan Amal
Ilmu Tidak Berhenti pada Kemampuan Kognitif
Pendidikan Islam memiliki tantangan untuk memastikan kemajuan teknologi tidak menggeser tujuan utama pendidikan. Peserta didik perlu dibekali akidah, adab, kemampuan menyaring informasi, membaca secara mendalam, serta kemampuan mendengar dan memahami orang lain.
Lebih dari sekadar memiliki pengetahuan, ilmu dalam perspektif pendidikan Islam diarahkan untuk diamalkan. Kemampuan kognitif yang tinggi tidak cukup jika tidak menghasilkan perilaku dan kontribusi yang baik.
Di sinilah letak perbedaan antara manusia yang sekadar mampu menghasilkan jawaban dengan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan untuk mengambil tindakan yang benar.
Prinsip “amaliyat tafkir itu yang mahal” menekankan bahwa proses berpikir merupakan sesuatu yang bernilai. Pendidikan perlu menjaga proses tersebut agar tidak tergantikan oleh kemudahan teknologi.
AI dan Tantangan Baru bagi Generasi Muda

Pengaruh AI juga meluas ke kehidupan sosial. Salah satu fenomena yang muncul adalah penggunaan AI oleh sebagian remaja di China sebagai teman berbicara atau tempat mencurahkan masalah sebelum tidur.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya masuk ke ruang kelas, tetapi juga ke wilayah interaksi sosial dan emosional manusia. Kondisi ini membuat pendidikan perlu membekali generasi muda dengan kemampuan membangun hubungan nyata, mengelola emosi, serta memahami batas penggunaan teknologi.
Bahkan, penggunaan AI juga memiliki konsekuensi lingkungan. Berdasarkan informasi yang dibahas, sekitar 20 hingga 50 query AI dapat berkaitan dengan konsumsi sekitar 500 mililiter air untuk kebutuhan pendinginan sistem pusat data. Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital memiliki biaya sumber daya yang perlu dipahami secara kritis.
Kesimpulan
AI memberikan peluang besar bagi pendidikan, tetapi kemudahan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir, membaca, mengingat, dan menilai informasi. Pendidikan justru perlu memastikan teknologi digunakan sebagai sarana yang memperkuat potensi manusia.
Dalam perspektif pendidikan Islam, tantangan tersebut semakin luas karena penggunaan AI perlu diarahkan oleh tujuan moral, adab, validasi sumber, dan pengamalan ilmu. AI dapat membantu manusia mendapatkan informasi, tetapi keputusan tentang kebenaran, tujuan, dan tindakan tetap membutuhkan manusia.
Pada akhirnya, pendidikan di era AI bukan perlombaan untuk membuat manusia semakin menyerupai mesin. Sebaliknya, pendidikan harus membantu manusia semakin memahami akalnya, menjaga adabnya, memperdalam ilmunya, dan mengamalkan pengetahuannya.
FAQ
- Apakah AI memiliki kecerdasan yang sama dengan manusia? Tidak. AI bekerja dengan data, algoritma, dan model komputasi, sedangkan kemampuan berpikir manusia melibatkan pemahaman realitas, pengalaman, pengetahuan, dan proses penalaran.
- Bagaimana pandangan terhadap penggunaan AI dalam pendidikan Islam? AI dapat digunakan sebagai sarana selama penggunaannya diarahkan pada tujuan yang baik dan tidak bertentangan dengan prinsip moral serta syariat.
- Mengapa informasi dari AI perlu diverifikasi? Karena AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau bahkan memberikan rujukan yang tidak benar sehingga pengguna perlu memeriksa sumber dan keabsahannya.
- Mengapa pendidikan tidak boleh terlalu bergantung pada AI? Ketergantungan berlebihan dapat membuat siswa melewati proses belajar yang penting seperti membaca, mengingat, menganalisis, dan menyusun pemikiran secara mandiri.
- Apa tujuan utama pendidikan Islam di era AI? Pendidikan Islam perlu membentuk manusia yang memiliki akidah, adab, kemampuan berpikir kritis, kecakapan menyaring informasi, serta kemampuan mengamalkan ilmu dalam kehidupan.