Akademik & Riset

Dari Teknologi Perang ke Perdamaian: Mengapa Inklusi Bisa Menjadi Kekuatan Terbesar?

8 September 2026, 09:46 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Bagaimana jika energi yang selama ini digunakan untuk memenangkan perang dapat dialihkan untuk membangun perdamaian?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat sejarah perkembangan sains dan teknologi modern. Banyak fondasi teknologi yang sekarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari justru lahir atau berkembang pesat karena kebutuhan pertahanan.

Namun, warisan tersebut tidak harus berhenti pada teknologi militer. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kapasitas ilmiah, teknologi, dan kreativitas yang telah dibangun dapat dibuka seluas mungkin untuk seluruh masyarakat.

Gagasan inilah yang menjadi inti diskusi tentang “widen the aperture” atau memperlebar ruang partisipasi agar lebih banyak orang dapat berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan dunia.

Ketika Sains Masih Berada dalam “Kemiskinan”

Sebelum Perang Dunia II, dunia sains memiliki persoalan mendasar: pendanaan.

Penelitian ilmiah sering bergantung pada kekayaan pribadi peneliti atau dukungan dari patron tertentu. Sistem seperti ini membuat kesempatan melakukan penelitian tidak tersebar secara merata.

Dalam sejarah Eropa, keluarga kaya seperti Medici menjadi contoh bagaimana perkembangan seni dan ilmu pengetahuan dapat bergantung pada patronase.

Situasi mulai berubah secara drastis ketika kebutuhan pertahanan mendorong pemerintah Amerika Serikat menginvestasikan dana besar ke dalam penelitian ilmiah.

Pada 1940, Vannevar Bush menemui Presiden Franklin D. Roosevelt untuk mengusulkan pembentukan lembaga riset pertahanan. Persetujuannya disebut berlangsung hanya sekitar 10 menit, meskipun pertemuan tersebut terjadi sekitar satu setengah tahun sebelum serangan Pearl Harbor.

Dari sinilah lahir National Defense Research Committee atau NDRC.

Perang Mendorong Ledakan Pendanaan Riset

Proposal awal Bush mencakup sejumlah bidang teknologi strategis, termasuk Proyek Manhattan, radar, mesin jet, teknologi sensor, serta komputasi dan balistik.

Perang kemudian menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara investasi penelitian dan kemampuan teknologi sebuah negara.

Tetapi dampaknya tidak berhenti ketika perang berakhir.

Sistem pendanaan penelitian yang telah dibangun menjadi salah satu fondasi perkembangan sains Amerika Serikat setelah perang. Ekosistem tersebut turut berkontribusi terhadap berkembangnya pendidikan pascasarjana STEM dan kemudian lahirnya lembaga seperti National Science Foundation.

Dengan kata lain, kebutuhan perang secara tidak langsung menciptakan infrastruktur pengetahuan yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan damai.

“Science, the Endless Frontier”

Setelah perang, muncul pertanyaan penting: untuk apa kapasitas ilmiah tersebut digunakan selanjutnya?

Presiden Roosevelt ingin melihat bagaimana kemampuan teknologi yang dibangun selama perang dapat dialihkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dalam masa damai.

Vannevar Bush kemudian menulis laporan bersejarah “Science, the Endless Frontier.”

Salah satu gagasan utamanya adalah bahwa kemakmuran dan kesehatan masyarakat membutuhkan pelepasan seluruh energi kreatif dan produktif masyarakat.

Pesannya sangat kuat: kemajuan tidak seharusnya hanya bergantung pada sekelompok kecil orang yang memiliki akses terhadap pendidikan, modal, atau teknologi.

“It can be achieved only by releasing the full creative and productive energies of the American people.”

Prinsip tersebut masih relevan hingga saat ini.

Banyak Inovator Hebat Pernah Tersembunyi dari Sejarah

Masalah berikutnya adalah siapa saja yang dianggap sebagai pencipta teknologi.

Sejarah sains dan teknologi sering kali menonjolkan nama-nama tertentu, sementara kontribusi kelompok lain kurang mendapatkan perhatian.

Padahal, perempuan memainkan peran penting dalam perkembangan komputasi dan teknologi modern.

Ada Grace Hopper, para pemecah kode di Bletchley Park, hingga Katherine Johnson yang berkontribusi dalam perhitungan lintasan penerbangan luar angkasa.

Kisah mereka penting bukan hanya sebagai catatan sejarah.

Ketika generasi muda melihat bahwa orang-orang seperti mereka telah memberikan kontribusi besar terhadap perubahan dunia, muncul keyakinan bahwa mereka juga memiliki tempat dalam membangun masa depan.

“Hidden Figures” dan Pentingnya Representasi

Kisah tokoh-tokoh yang sebelumnya tersembunyi menunjukkan bahwa masalah representasi bukan sekadar persoalan simbolik.

Jika hanya kelompok tertentu yang terlihat sebagai ilmuwan, insinyur, atau pencipta teknologi, kelompok lain dapat merasa bahwa bidang tersebut bukan tempat mereka.

Sebaliknya, semakin banyak kisah keberhasilan yang ditampilkan, semakin luas pula imajinasi mengenai siapa yang dapat menjadi inovator.

Karena itu, membuka akses terhadap teknologi berarti bukan hanya memberikan perangkat.

Masyarakat juga membutuhkan rasa memiliki, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk mencoba.

Anak Muda Harus Belajar Menciptakan, Bukan Hanya Menggunakan

Prinsip tersebut dapat diterapkan sejak pendidikan dasar.

Anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan brainstorming, membuat purwarupa, menguji ide, menemukan kegagalan, kemudian memperbaikinya.

Tujuannya bukan membuat semua anak menjadi insinyur.

Yang lebih penting adalah membangun creative confidence—keyakinan bahwa mereka mampu melihat masalah dan mencoba menciptakan solusi.

Salah satu contoh datang dari siswa SMA di New Orleans. Mereka membuat sensor kualitas udara sendiri untuk memantau polusi industri di lingkungan tempat tinggal mereka.

Proyek tersebut menunjukkan perubahan cara pandang yang penting.

Teknologi tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibuat perusahaan besar atau laboratorium universitas. Dengan pengetahuan dan alat yang tepat, masyarakat dapat menggunakan teknologi untuk memahami masalah yang mereka hadapi sendiri.

Dari Konsumen Teknologi Menjadi Pencipta Solusi

Model pendidikan seperti itu memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan proyek sekolah.

Ketika siswa terbiasa mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, membuat prototipe, dan menguji solusi, mereka belajar bahwa lingkungan di sekitar mereka bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Mereka memiliki kemampuan untuk mengubahnya.

Inilah makna penting dari widen the aperture.

Semakin banyak orang diberi akses terhadap alat dan pengetahuan, semakin banyak pula ide yang dapat muncul dari tempat-tempat yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Potensi inovasi masyarakat menjadi jauh lebih besar ketika kesempatan tersebut tidak hanya diberikan kepada kelompok yang sejak awal sudah memiliki akses.

Teknologi dan Fondasi Perdamaian

Pada titik inilah teknologi bertemu dengan gagasan perdamaian.

Perdamaian tidak hanya berarti tidak adanya perang. Perdamaian juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Jika lebih banyak orang memiliki kemampuan teknologi, pendidikan, dan kreativitas untuk menyelesaikan masalah, ketergantungan terhadap konflik dapat berkurang.

Masyarakat yang mampu menciptakan solusi bersama juga memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi pihak atau kepentingan yang bergerak ke arah yang merugikan banyak orang.

Seperti yang disampaikan Megan Smith, semakin banyak orang yang memiliki kapabilitas dan semakin inklusif akses tersebut, semakin kecil kebutuhan untuk berkonflik dan semakin besar kemampuan masyarakat untuk bekerja sama.

Dari Kapal Perang hingga Kapal Perdamaian

Ada sebuah kutipan terkenal dari Grace Hopper:

“Ships are safe in a harbor, but that's not what ships are for.”

Kutipan tersebut dapat dibaca sebagai metafora tentang inovasi.

Teknologi yang hanya disimpan karena takut terhadap risiko tidak akan memberikan manfaat maksimal. Sebaliknya, teknologi harus digunakan dengan keberanian sekaligus tanggung jawab.

Tantangannya adalah memastikan kapal tersebut tidak diarahkan menuju kehancuran, tetapi menuju persoalan-persoalan yang membutuhkan solusi.

Energi kreatif manusia dapat diarahkan untuk mengatasi polusi, perubahan iklim, penyakit, kemiskinan, pendidikan, dan berbagai masalah sosial lainnya.

Masa Depan Tidak Boleh Hanya Dibangun oleh Segelintir Orang

Sejarah pendanaan sains memberikan sebuah pelajaran penting.

Ketika masyarakat menginvestasikan sumber daya dalam jumlah besar untuk membangun kemampuan ilmiah, dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama daripada tujuan awal investasi tersebut.

Kini, tantangannya adalah memperluas akses terhadap kemampuan tersebut.

Perempuan, kelompok minoritas, anak-anak, masyarakat berpenghasilan rendah, dan berbagai kelompok yang selama ini kurang terwakili perlu mendapatkan kesempatan untuk menjadi pencipta teknologi.

Sebab, mungkin saja solusi untuk persoalan terbesar dunia saat ini belum ditemukan bukan karena manusia kekurangan kecerdasan, melainkan karena terlalu banyak orang belum diberi kesempatan untuk ikut mencoba.

Kesimpulan

Sejarah menunjukkan bahwa kebutuhan pertahanan pernah menjadi salah satu pendorong terbesar pendanaan sains dan teknologi modern. Namun, warisan tersebut dapat diarahkan menuju tujuan yang berbeda: meningkatkan kualitas hidup dan membangun perdamaian.

Gagasan Vannevar Bush tentang membebaskan energi kreatif seluruh masyarakat tetap relevan di era teknologi saat ini. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk memahami dan menyelesaikan masalah di sekitarnya.

Kunci transformasinya adalah inklusi.

Ketika semakin banyak orang memiliki akses terhadap pendidikan, alat teknologi, kesempatan bereksperimen, dan rasa percaya diri untuk menciptakan sesuatu, semakin besar pula kapasitas masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama.

Perdamaian masa depan mungkin tidak hanya dibangun melalui diplomasi dan kebijakan, tetapi juga melalui kemampuan setiap orang untuk menjadi pencipta solusi.

FAQ

  1. Apa hubungan pendanaan perang dengan perkembangan sains modern? Kebutuhan pertahanan selama Perang Dunia II mendorong pemerintah Amerika Serikat meningkatkan pendanaan penelitian secara besar-besaran, yang kemudian membantu membangun fondasi ekosistem sains dan teknologi pascaperang.
  2. Siapa Vannevar Bush? Vannevar Bush adalah insinyur dan administrator sains Amerika Serikat yang berperan penting dalam mengorganisasi penelitian pertahanan dan menulis “Science, the Endless Frontier”.
  3. Mengapa kontribusi perempuan dalam teknologi penting untuk diceritakan kembali? Kisah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi juga dibangun oleh banyak perempuan yang sebelumnya kurang terlihat dalam sejarah, sekaligus memberikan contoh bagi generasi baru.
  4. Apa yang dimaksud dengan “widen the aperture”? Istilah tersebut berarti memperluas kesempatan agar lebih banyak kelompok masyarakat dapat memperoleh akses terhadap pendidikan, teknologi, modal, dan kesempatan untuk menciptakan solusi.
  5. Bagaimana teknologi dapat membantu membangun perdamaian? Teknologi dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan, menyelesaikan masalah bersama, meningkatkan kapabilitas, dan mengurangi kondisi sosial yang dapat mendorong konflik.

Topik Terkait

Trending Hari Ini