Kampus Times-Pendidikan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi teknis. Di tengah persoalan perubahan iklim, ketimpangan sosial, keberlanjutan, dan ketidakadilan global, perguruan tinggi juga dituntut membentuk profesional yang mampu memahami dampak sosial dan etis dari keputusan yang mereka ambil.
Semangat tersebut menjadi dasar uji coba program digital badge Global Citizenship Education (GCE) tingkat nasional bagi staf pendidikan tinggi di Irlandia. Program ini dirancang untuk membantu pendidik menggunakan perspektif keadilan global dalam mengembangkan pembelajaran, kurikulum, dan asesmen di berbagai bidang ilmu.
GCE Bukan Sekadar Materi Tambahan
Salah satu gagasan utama program ini adalah mengubah cara pandang terhadap GCE. Pendidikan kewarganegaraan global tidak seharusnya diperlakukan sebagai materi tambahan berupa satu sesi kuliah mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), isu internasional, atau studi kasus dari negara lain.
Sebaliknya, GCE diposisikan sebagai lensa kritis yang digunakan untuk melihat kembali bagaimana pengetahuan dibangun dan diajarkan.
Pertanyaan yang muncul bukan hanya “apa yang harus dipelajari mahasiswa?”, tetapi juga “siapa yang menghasilkan pengetahuan tersebut?”, “perspektif siapa yang terwakili?”, serta “suara siapa yang mungkin tidak terdengar?”.
Pendekatan ini membuat GCE dapat diterapkan pada hampir semua disiplin. Seorang dosen tidak harus mengubah bidang keahliannya menjadi mata kuliah tentang isu global. Ia dapat memeriksa kembali materi, sumber, metode pengajaran, dan asesmen melalui perspektif keadilan global.
Menghubungkan Keahlian dengan Tanggung Jawab Sosial

Tujuan akhirnya adalah membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memahami konsekuensi dari pekerjaannya.
Contohnya terlihat dalam bidang teknik. Persoalan banjir tentu tetap merupakan masalah teknis yang berkaitan dengan drainase, tata ruang, dan infrastruktur. Namun, ketika dilihat melalui lensa GCE, muncul pertanyaan tambahan: komunitas mana yang paling rentan terhadap banjir? Siapa yang memiliki akses terhadap perlindungan? Dan siapa yang memiliki kekuatan dalam menentukan kebijakan?
Dengan demikian, satu persoalan teknis dapat membuka pembahasan mengenai ketimpangan, kekuasaan dalam pengambilan keputusan, dan keadilan global.
Perspektif seperti ini membantu mahasiswa memahami bahwa keputusan profesional tidak berlangsung dalam ruang hampa. Sebuah rancangan, kebijakan, laporan keuangan, produk bisnis, maupun keputusan hukum dapat memberikan dampak berbeda kepada kelompok masyarakat yang berbeda.
Pembelajaran Harus Partisipatif dan Reflektif
GCE juga menekankan metode pembelajaran yang dialogis, partisipatif, dan reflektif. Peserta tidak hanya menerima informasi dari fasilitator, tetapi diajak menguji asumsi mereka sendiri serta memahami positionality atau posisi sosial yang memengaruhi cara seseorang melihat suatu persoalan.
Metode kreatif dan eksperiensial menjadi penting karena nilai keadilan dan kesetaraan tidak cukup diajarkan melalui teori. Nilai tersebut juga perlu tercermin dalam bagaimana proses pembelajaran dirancang dan bagaimana peserta berinteraksi satu sama lain.
Pilot Digital Badge Menjangkau Lintas Institusi
Program “Embedding GCE into Higher Education” dikembangkan sebagai kursus pengantar selama enam minggu dengan total beban belajar sekitar 25 jam. Peserta mengikuti sesi daring langsung setiap Kamis pukul 13.00–14.00, diskusi kelompok kecil dalam peer triads beranggotakan tiga hingga empat orang, serta tugas mingguan.
Dari 46 aplikasi yang diterima, program tersebut akhirnya diikuti dan diselesaikan oleh 33 staf dari 14 institusi pendidikan tinggi. Pendaftar juga menunjukkan karakter internasional karena terdapat lima aplikasi dari institusi di Islandia, Australia, Vietnam, Afrika Selatan, dan Inggris.
Latar belakang peserta pun beragam. Selain bidang pendidikan, terdapat peserta dari bisnis, akuntansi, keuangan, humaniora, psikologi, hukum, dan geografi.
Platform pengembangan staf opencourses.ie yang menaungi program ini sendiri telah menjangkau lebih dari 7.000 staf di sektor pendidikan tinggi sejak diluncurkan.
Evaluasi Menunjukkan Respons Positif

Dari 27 respons evaluasi yang terkumpul, seluruh responden atau 100 persen merekomendasikan agar kursus dijalankan kembali. Sebanyak tiga peserta mengusulkan adanya penyesuaian pada format pembelajaran.
Hasil tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan program GCE di lingkungan pendidikan tinggi. Tim pengembang juga sedang menyiapkan versi self-led yang ditargetkan tersedia pada akhir 2026, sementara pelaksanaan program langsung berikutnya direncanakan pada 2027.
Tantangan Pembelajaran GCE secara Daring
Meski mendapatkan respons positif, penerapan GCE secara daring bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan terbesar adalah keterbatasan waktu interaksi, karena sesi langsung hanya berlangsung sekitar 50 menit setiap minggu.
GCE membutuhkan dialog, refleksi, dan pengalaman belajar yang cukup mendalam. Ketika ruang dan waktu terbatas, terdapat risiko pembelajaran kembali menjadi pola konvensional atau banking education, ketika pengetahuan lebih banyak “ditransfer” daripada dibangun melalui percakapan dan pengalaman.
Karena itu, kolaborasi menjadi salah satu kekuatan utama program. Akademisi dari berbagai institusi dan disiplin dapat berbagi sumber daya, pengalaman, serta beban kerja.
Pertemuan tatap muka pertama tim pengembang di Portlaoise juga menjadi jangkar penting dalam menyatukan visi dan membangun komitmen bersama.
Kesimpulan
Pilot digital badge GCE di Irlandia menunjukkan bahwa pendidikan kewarganegaraan global dapat ditempatkan lebih jauh daripada sekadar tambahan materi mengenai SDGs atau isu internasional. GCE dapat menjadi lensa untuk mengevaluasi pengetahuan, kurikulum, metode pengajaran, hingga asesmen.
Pendekatan tersebut juga memperluas makna kompetensi profesional. Lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan secara teknis, tetapi memahami siapa yang terdampak, bagaimana kekuasaan bekerja, serta apa konsekuensi sosial dan lingkungan dari keputusan profesional mereka.
Pertanyaan penting yang kemudian perlu dibawa ke perguruan tinggi adalah: jika setiap program studi dilihat melalui lensa keadilan global, apa yang akan dipertahankan, apa yang perlu diubah, dan pertanyaan apa yang selama ini belum pernah diajukan kepada mahasiswa?
FAQ
- Apa itu digital badge GCE? Digital badge GCE adalah program pengembangan profesional yang membantu staf pendidikan tinggi memahami dan mengintegrasikan prinsip Global Citizenship Education ke dalam pembelajaran dan kurikulum.
- Apa tujuan utama program GCE di Irlandia? Tujuannya adalah membekali pendidik dengan lensa keadilan global agar isu keberlanjutan, kesetaraan, dan keadilan sosial dapat terintegrasi secara lebih mendalam dalam berbagai disiplin ilmu.
- Berapa lama pilot course GCE berlangsung? Kursus “Embedding GCE into Higher Education” berlangsung selama enam minggu dengan total waktu belajar sekitar 25 jam.
- Bagaimana hasil evaluasi program tersebut? Dari 27 respons evaluasi, seluruh 27 peserta atau 100 persen merekomendasikan agar kursus kembali dijalankan, meskipun tiga peserta mengusulkan penyesuaian format.
- Kapan versi GCE berikutnya akan tersedia? Tim pengembang menargetkan versi belajar mandiri atau self-led dirilis pada akhir 2026 dan merencanakan pelaksanaan program langsung berikutnya pada 2027.