Akademik & Riset

Just in Time Learning: Masa Depan Pendidikan di Era AI

9 September 2026, 17:11 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Selama bertahun-tahun, sistem pendidikan dibangun dengan logika just in case learning: siswa mempelajari sebanyak mungkin rumus, fakta, teori, dan konsep karena suatu hari nanti pengetahuan tersebut mungkin dibutuhkan.

Pendekatan ini masuk akal ketika perubahan teknologi berlangsung relatif lambat. Namun, ketika informasi berkembang sangat cepat dan berbagai alat digital dapat diakses dalam hitungan detik, menjejali siswa dengan sebanyak mungkin fakta mulai dipandang kurang efektif.

Paradigma baru yang semakin relevan adalah just in time learning. Fokusnya bukan lagi membuat siswa menghafal semua hal sebelum menghadapi persoalan, melainkan membangun kemampuan untuk belajar ketika kebutuhan muncul.

Bukan Berarti Pengetahuan Tidak Penting

Just in time learning tidak berarti siswa tidak perlu memahami pengetahuan dasar. Fondasi seperti membaca, matematika, logika, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis tetap penting.

Perubahannya terletak pada cara pengetahuan digunakan. Siswa perlu mengetahui bagaimana menemukan informasi yang relevan, mengevaluasi kebenarannya, menggunakan alat yang tepat, kemudian menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan masalah nyata.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan menghasilkan individu yang lebih mudah beradaptasi, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan antusias mengeksplorasi dunia.

AI Tutor Mendorong Pembelajaran Berbasis Penguasaan

Salah satu peluang terbesar dari perkembangan kecerdasan buatan adalah munculnya AI tutor yang dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan setiap siswa.

Dalam sistem mastery learning, siswa tidak harus menghabiskan waktu yang sama untuk setiap materi. Jika sebuah konsep sudah dikuasai, siswa dapat bergerak ke materi berikutnya. Sebaliknya, ketika mengalami kesulitan, sistem dapat memberikan penjelasan atau latihan tambahan.

Model pembelajaran seperti ini berpotensi membuat waktu belajar jauh lebih efisien. Materi tertentu yang selama ini membutuhkan waktu panjang, termasuk persiapan untuk tes standar seperti SAT atau ACT, diperkirakan dapat dipelajari dalam waktu yang jauh lebih singkat ketika pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Waktu yang berhasil dihemat kemudian dapat digunakan untuk aktivitas yang lebih eksploratif, seperti proyek, penelitian, diskusi, kreativitas, dan pemecahan masalah.

LearnLM dan Tantangan Tutor AI

Pengembangan tutor AI juga menghadapi tantangan. AI tidak cukup hanya mampu memberikan jawaban cepat. Tutor digital harus dapat memahami tingkat pemahaman siswa, memberikan pertanyaan yang tepat, sekaligus berani mengoreksi ketika siswa melakukan kesalahan.

Google, misalnya, mengembangkan LearnLM untuk meningkatkan karakteristik model AI agar lebih efektif digunakan dalam pembelajaran. Tantangannya adalah menghindari perilaku sycophantic, yaitu kecenderungan sistem terlalu mengiyakan pengguna meskipun pemikirannya keliru.

Jika dikembangkan dengan tepat, tutor AI dapat membuka peluang hadirnya pendamping belajar personal bagi lebih banyak anak.

Peran Guru Tidak Hilang, tetapi Berubah

Kemunculan AI tidak otomatis membuat guru kehilangan relevansinya. Justru, semakin banyak pekerjaan instruksional yang dapat dibantu teknologi, semakin penting aspek manusia dalam pendidikan.

Guru dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk memahami karakter siswa, membangun motivasi, memandu diskusi, dan membantu anak mengatasi hambatan dalam proses belajar.

Peran guru kemudian bergerak dari sekadar penyampai materi menuju guide dan cheerleader. Guru menjadi sosok yang membantu siswa menemukan arah, mempertahankan semangat, serta menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.

Interaksi manusia juga memiliki dimensi yang sulit digantikan teknologi. Rasa percaya, dukungan emosional, kolaborasi, dan pengalaman belajar bersama tetap menjadi bagian fundamental dari pendidikan.

Dari Have to Menuju Want to

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah motivasi. Banyak siswa belajar karena have to: harus menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, memenuhi target kurikulum, atau memperoleh nilai tertentu.

Padahal, pembelajaran yang berlangsung karena want to dapat menciptakan pengalaman yang berbeda. Ketika seseorang benar-benar ingin mengetahui sesuatu, rasa ingin tahu mendorongnya untuk mencari informasi, mencoba berbagai pendekatan, dan terus belajar bahkan tanpa diperintah.

Platform digital seperti YouTube, mesin pencarian, dan layanan AI memperlihatkan bagaimana seseorang dapat mempelajari hampir semua topik berdasarkan minat pribadi.

AI Bisa Mengurangi Porsi Have to

AI dapat mengambil peran penting dalam perubahan ini. Jika teknologi membantu siswa menguasai materi wajib dengan lebih efisien, sekolah dapat memiliki lebih banyak waktu untuk memperluas pembelajaran berbasis minat.

Siswa bisa menggunakan waktu tersebut untuk mengeksplorasi bidang yang benar-benar menarik perhatian mereka. Dari sinilah pendidikan dapat bergerak dari sekadar mengejar penyelesaian kurikulum menuju pembangunan kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Kesimpulan

Just in time learning menawarkan perubahan mendasar dalam cara pendidikan memandang pengetahuan. Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, kemampuan mengetahui apa yang perlu dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan kapan menggunakan pengetahuan menjadi semakin penting.

AI tutor dan mastery learning dapat membantu membuat proses belajar lebih personal dan efisien. Namun, teknologi bukan pengganti manusia. Guru tetap memiliki peran penting sebagai pemandu, motivator, dan pembangun lingkungan belajar.

Pada akhirnya, pendidikan masa depan bukan hanya tentang membuat siswa tahu lebih banyak. Yang lebih penting adalah membuat mereka mampu belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan memiliki keinginan untuk terus menemukan hal baru.

FAQ

  1. Apa itu just in time learning? Pendekatan pembelajaran yang menekankan kemampuan mempelajari pengetahuan dan keterampilan ketika benar-benar dibutuhkan untuk menghadapi masalah atau situasi tertentu.
  2. Apa perbedaan just in case dan just in time learning? Just in case mengajarkan pengetahuan sebagai persiapan untuk kemungkinan kebutuhan di masa depan, sedangkan just in time menekankan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan saat ini.
  3. Apakah AI tutor akan menggantikan guru? Tidak. AI dapat membantu memberikan pembelajaran personal dan efisien, sementara guru tetap berperan dalam motivasi, bimbingan, interaksi sosial, dan pengembangan karakter.
  4. Apa manfaat mastery learning dengan AI? Siswa dapat bergerak lebih cepat pada materi yang sudah dikuasai dan memperoleh bantuan tambahan pada konsep yang belum dipahami.
  5. Mengapa want to penting dalam pendidikan? Keinginan belajar dari dalam diri dapat mendorong rasa ingin tahu, eksplorasi, dan kebiasaan belajar yang lebih berkelanjutan dibandingkan pembelajaran yang hanya didorong kewajiban.

Sumber : https://youtu.be/U-7THjkQdbg?si=ANQUnUP0Wpxv8j4c

Topik Terkait