Kampus Times- Peta pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya berbicara tentang berapa banyak kampus atau mahasiswa yang tersedia. Data terbaru juga memperlihatkan bidang keilmuan apa yang paling banyak dipilih mahasiswa dan bagaimana komposisinya dibandingkan dengan ketersediaan program studi.
Grafik 5.8 dalam Buku Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 menunjukkan adanya jarak yang cukup menarik antara ketersediaan program studi STEM dan proporsi mahasiswa yang benar-benar terdaftar pada bidang tersebut. Pada sejumlah jenjang pendidikan, program studi STEM tersedia dalam proporsi yang cukup besar, tetapi mahasiswa yang menempuhnya masih menjadi kelompok minoritas.
Data ini penting karena STEM—yang mencakup sains, teknologi, teknik, dan matematika—sering dikaitkan dengan kebutuhan kompetensi di tengah perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja.
Mahasiswa Sarjana hingga Doktoral Masih Didominasi Non-STEM

Pada jenjang sarjana, misalnya, sebanyak 71,64% mahasiswa terdaftar berada pada program non-STEM. Sementara itu, mahasiswa yang terdaftar pada program STEM mencapai 28,36%.
Artinya, dari komposisi mahasiswa sarjana yang ditampilkan dalam grafik, bidang non-STEM masih menjadi pilihan mayoritas. Proporsi STEM bahkan belum mencapai 30%.
Pola serupa terlihat pada jenjang magister. Mahasiswa non-STEM mencapai 79,03%, sedangkan mahasiswa STEM hanya 20,97%. Dengan demikian, bidang non-STEM memiliki porsi hampir empat kali lipat dibandingkan STEM pada jenjang tersebut.
Pada program doktoral, dominasi non-STEM juga masih terlihat. Sebanyak 76,49% mahasiswa berada pada bidang non-STEM, sementara STEM menyumbang 23,51%.
Jika tiga jenjang tersebut dilihat bersama, terlihat pola yang konsisten: pendidikan tinggi pada level sarjana, magister, dan doktoral masih lebih banyak dihuni mahasiswa dari bidang non-STEM.
Ketersediaan Program STEM Tidak Selalu Berarti Mahasiswanya Banyak
Hal menarik muncul ketika proporsi mahasiswa dibandingkan dengan ketersediaan program studi.
Pada jenjang sarjana, program studi STEM mencapai 30,82%, sedangkan program studi non-STEM sebesar 69,18%. Pada magister, proporsi program studi STEM sebesar 27,84%, sementara non-STEM mencapai 72,16%.
Untuk program doktoral, ketersediaan program studi STEM berada pada angka 36,71%, sedangkan non-STEM sebesar 63,29%.
Dengan kata lain, pada tiga jenjang tersebut, porsi program studi STEM masih berada di bawah 40%. Kondisi ini berjalan searah dengan proporsi mahasiswa STEM yang juga masih berada di bawah 30%.
Data tersebut menunjukkan bahwa rendahnya proporsi mahasiswa STEM tidak dapat dibaca hanya dari sisi minat mahasiswa. Ketersediaan program studi juga menjadi bagian dari konteks yang perlu diperhatikan.
Namun, grafik tidak memberikan data mengenai faktor penyebab mahasiswa memilih atau tidak memilih bidang STEM. Karena itu, angka tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa rendahnya jumlah mahasiswa STEM semata-mata disebabkan oleh rendahnya minat.
Program Profesi Menunjukkan Pola yang Berbeda
Pola yang berbeda terlihat pada program profesi.
Ketersediaan program studi STEM pada jenjang profesi mencapai 80,21%, jauh lebih tinggi dibandingkan non-STEM yang berada pada 19,79%. Akan tetapi, proporsi mahasiswa justru berbanding terbalik.
Mahasiswa non-STEM pada program profesi mencapai 80,19%, sementara mahasiswa STEM hanya 19,81%.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam Grafik 5.8. Banyaknya program studi STEM yang tersedia tidak otomatis menghasilkan proporsi mahasiswa STEM yang lebih besar.
Hal ini menunjukkan bahwa antara struktur penyediaan program studi dan distribusi mahasiswa terdapat dinamika yang berbeda. Data tersebut juga menjadi pengingat bahwa kebijakan pengembangan STEM tidak cukup hanya dilakukan dengan memperbanyak atau mempertahankan program studi, tetapi perlu melihat bagaimana mahasiswa benar-benar tersebar di dalamnya.
Diploma dan Spesialis Memiliki Karakteristik Berbeda
Pada jenjang diploma, mahasiswa non-STEM mencapai 35,67%, sedangkan mahasiswa STEM sebesar 64,33%. Ini membuat diploma menjadi salah satu jenjang yang menunjukkan proporsi mahasiswa STEM lebih besar daripada non-STEM.
Sementara itu, program spesialis memperlihatkan kondisi yang sangat berbeda. Proporsi mahasiswa non-STEM tercatat 100%, sedangkan STEM 0%.
Jika dilihat dari ketersediaan program studi, program spesialis justru memiliki proporsi STEM yang sangat tinggi, yakni 99,58%, sedangkan non-STEM hanya 0,42%.
Perbedaan ekstrem tersebut memperkuat gambaran bahwa jumlah atau proporsi program studi yang tersedia tidak selalu berjalan searah dengan distribusi mahasiswa yang terdaftar.
Pada program diploma dan spesialis, pola ketersediaan dan distribusi mahasiswa juga perlu dibaca secara hati-hati karena karakter masing-masing jenjang pendidikan memang berbeda.
Apa Artinya bagi Pendidikan Tinggi Indonesia?
Grafik 5.8 memberikan satu pesan penting: ekosistem STEM Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah program studi, tetapi juga oleh distribusi mahasiswa yang masuk dan terdaftar di dalamnya.
Pada sarjana, magister, dan doktoral, proporsi mahasiswa STEM masih berada di bawah 30%. Di sisi lain, terdapat jenjang seperti profesi dan spesialis yang menunjukkan kesenjangan besar antara ketersediaan program STEM dan proporsi mahasiswa yang terdaftar.
Bagi pengembangan pendidikan tinggi, data ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat apakah kapasitas program studi yang tersedia sudah sejalan dengan distribusi mahasiswa. Bagi calon mahasiswa, statistik tersebut juga memberikan gambaran bahwa pilihan bidang keilmuan di perguruan tinggi Indonesia masih sangat beragam dan tidak terkonsentrasi pada STEM saja.
Kesimpulan
Data Grafik 5.8 Buku Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025 menunjukkan bahwa mahasiswa non-STEM masih mendominasi pada sejumlah jenjang pendidikan tinggi, terutama sarjana, magister, dan doktoral. Pada ketiga jenjang tersebut, proporsi mahasiswa STEM belum mencapai 30%.
Di sisi lain, ketersediaan program studi STEM menunjukkan pola yang tidak selalu sejalan dengan distribusi mahasiswa. Karena itu, pengembangan pendidikan STEM perlu melihat dua sisi sekaligus: ketersediaan program studi dan bagaimana mahasiswa memilih serta tersebar pada bidang keilmuan tersebut.
FAQ
-
Apa yang dimaksud STEM dalam data ini?
STEM merupakan kelompok bidang keilmuan yang mencakup sains, teknologi, teknik/engineering, dan matematika. -
Berapa proporsi mahasiswa STEM pada jenjang sarjana?
Proporsi mahasiswa STEM pada program sarjana sebesar 28,36%, sedangkan non-STEM sebesar 71,64%. -
Bagaimana kondisi mahasiswa STEM pada program magister?
Mahasiswa STEM pada program magister mencapai 20,97%, sementara non-STEM sebesar 79,03%. -
Apakah ketersediaan program studi STEM selalu membuat mahasiswa STEM lebih banyak?
Tidak. Data menunjukkan terdapat jenjang tertentu dengan ketersediaan program studi STEM tinggi, tetapi proporsi mahasiswa STEM justru lebih rendah. -
Jenjang mana yang memiliki proporsi mahasiswa STEM paling tinggi dalam grafik?
Dari data yang ditampilkan, program diploma memiliki proporsi mahasiswa STEM sebesar 64,33%, lebih tinggi dibandingkan non-STEM sebesar 35,67%.
Sumber Data
Buku Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025, PDDikti/Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Grafik 5.8 “Proporsi Mahasiswa Terdaftar Berdasarkan Ketersediaan Program Studi dan Bidang Keilmuan”.