Kampus Times- Pandemi COVID-19 mengubah cara manusia memandang pendidikan. Ketika pembelajaran dapat dilakukan dari rumah dan siswa memiliki akses terhadap sumber pengetahuan global melalui internet, sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk memperoleh informasi.
Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan mendasar: jika pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja, mengapa siswa masih perlu datang ke sekolah?
Jawabannya mungkin bukan terletak pada seberapa banyak materi yang dapat disampaikan guru. Sekolah memiliki nilai yang lebih mendalam, yaitu menjadi ruang bagi anak untuk membangun hubungan, mengenali dirinya, belajar hidup bersama orang lain, dan mengembangkan kekuatan internal.
Di sinilah konsep human-centered education atau pendidikan yang berpusat pada manusia menjadi semakin penting.
Pendidikan Tidak Cukup Hanya Mencerdaskan Pikiran
Kerangka pendidikan UNESCO mengenalkan empat pilar pembelajaran, yaitu learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.
Dua pilar pertama relatif mudah ditemukan dalam sistem pendidikan tradisional karena berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan. Namun, learning to live together dan learning to be membutuhkan perhatian lebih besar karena berkaitan dengan karakter, hubungan sosial, identitas, dan perkembangan manusia secara utuh.
Keduanya memiliki hubungan erat dengan kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ).
EQ tidak hanya berarti kemampuan mengendalikan emosi. Lebih luas, kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami diri sendiri, mengenali perasaan orang lain, membangun hubungan, serta merespons situasi secara lebih matang.
EQ sebagai Bahasa Kasih Sayang
Konsep kecerdasan emosional dapat diterjemahkan secara sederhana melalui prinsip: memahami diri sendiri untuk mencintai diri sendiri dan memahami orang lain untuk mencintai orang lain.
Pemahaman terhadap diri membantu siswa mengenali kekuatan, kelemahan, emosi, dan kebutuhannya. Sementara itu, memahami orang lain membantu mereka mengembangkan empati dan menghargai perbedaan.
Pendekatan tersebut semakin relevan karena kecerdasan emosional juga masuk dalam kerangka kompetensi Cambridge pada 2020 sebagai salah satu kemampuan penting yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Artinya, kemampuan manusiawi bukan sekadar pelengkap pendidikan. Kompetensi tersebut menjadi bagian penting dari kesiapan seseorang menghadapi kehidupan profesional dan sosial.
Human-Centered Education Menempatkan Manusia sebagai Pusat
Pendidikan berpusat pada manusia bukan berarti sekadar mengganti pendidikan yang berpusat pada guru menjadi pendidikan yang sepenuhnya berpusat pada siswa.
Pendekatan ini berusaha menciptakan keseimbangan. Guru tetap memiliki peran penting sebagai pendidik, sementara siswa dipandang sebagai manusia utuh yang memiliki kebutuhan intelektual, emosional, sosial, dan personal.
Tujuan pendidikan kemudian tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membuka hati.
Pengetahuan membantu siswa memahami dunia. Namun, karakter dan kecerdasan emosional membantu mereka menentukan bagaimana seharusnya hidup di dalam dunia tersebut.
Sekolah Perlu Menjadi Kelas yang Bahagia
Ruang Aman untuk Belajar dan Melakukan Kesalahan
Konsep happy classroom atau kelas bahagia berangkat dari gagasan bahwa lingkungan belajar harus memberikan rasa aman kepada siswa.
Siswa perlu merasa bahwa mereka boleh bertanya tanpa takut dianggap bodoh. Mereka juga harus memiliki ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, mendapatkan umpan balik, kemudian memperbaikinya.
Dalam konteks ini, kelas dapat menjadi semacam benteng perlindungan kedua setelah keluarga. Bukan tempat yang bebas dari tuntutan, tetapi tempat siswa dapat menghadapi tantangan tanpa kehilangan rasa aman dan harga diri.
Guru Harus Mampu Melihat dari Perspektif Anak
Membangun kelas bahagia membutuhkan lebih dari sekadar permainan atau dekorasi ruang kelas yang menyenangkan.
Guru perlu memiliki kemampuan untuk memahami dunia dari sudut pandang anak. Anak memiliki cara berpikir, rasa ingin tahu, ketakutan, dan pengalaman yang berbeda dari orang dewasa.
Karena itu, guru perlu belajar melihat siswa sebagai individu, bukan sekadar angka dalam daftar nilai.
Guru yang mampu membangun hubungan emosional yang tulus dapat menciptakan lingkungan ketika siswa merasa dihargai dan diterima.
Kreativitas Anak Perlu Dipertahankan
Salah satu fenomena menarik yang dibagikan dalam pembahasan tersebut berkaitan dengan perubahan kreativitas seiring bertambahnya usia.
Anak-anak sekitar usia lima tahun digambarkan memiliki tingkat keceriaan, rasa ingin tahu, dan kreativitas yang sangat tinggi. Mereka banyak bertanya, mudah tertawa, dan berani mengeksplorasi.
Namun, kapasitas tersebut cenderung menurun seiring bertambahnya usia hingga mencapai titik terendah sekitar usia 44 tahun sebelum kemudian meningkat kembali.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak seharusnya mematikan rasa ingin tahu anak melalui tekanan untuk selalu memberikan jawaban yang benar.
Sekolah justru perlu menjaga keberanian siswa untuk bertanya, bereksperimen, dan menemukan kemungkinan baru.
Tujuan Akhir Pendidikan adalah Transformasi

Pendidikan sejati tidak berhenti ketika siswa mendapatkan nilai bagus atau memperoleh ijazah.
Hasil akhirnya adalah transformasi manusia. Siswa diharapkan memiliki kedewasaan berpikir, mampu melihat persoalan dari berbagai perspektif, memahami orang lain, dan memiliki kekuatan internal untuk menghadapi perubahan.
Kekuatan internal tersebut menjadi semakin penting dalam dunia yang bergerak cepat. Teknologi, pekerjaan, dan kondisi sosial dapat berubah, tetapi kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan tetap memiliki arah hidup akan menjadi fondasi yang lebih tahan lama.
Kebahagiaan Tidak Boleh Ditunda
Pendidikan juga perlu mengubah cara memandang kebahagiaan.
Jika kebahagiaan selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang baru boleh dirasakan setelah lulus, mendapatkan pekerjaan, atau mencapai kesuksesan tertentu, siswa berisiko menjalani bertahun-tahun pendidikan hanya sebagai perjalanan menuju “nanti”.
Padahal, kebahagiaan perlu dipelajari dan dialami selama prosesnya.
Sekolah dapat mengajarkan bahwa hidup bermakna bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir, tetapi juga tentang menjalani setiap proses dengan kesadaran, hubungan yang sehat, dan rasa syukur terhadap apa yang sedang dikerjakan.
Pendidikan Masa Depan Harus Lebih Manusiawi

Teknologi dapat membantu memperluas akses pengetahuan. Pembelajaran daring dapat membuat materi tersedia kapan saja. Namun, teknologi tidak menghilangkan kebutuhan manusia terhadap hubungan emosional.
Justru ketika akses terhadap informasi semakin mudah, nilai sekolah dapat semakin bergeser menuju hal-hal yang tidak mudah diperoleh hanya melalui layar: empati, kolaborasi, karakter, keberanian, rasa percaya diri, dan kemampuan memahami manusia lain.
Guru pun memiliki peran yang semakin penting. Mereka bukan hanya penyampai materi, tetapi menjadi teladan, pendamping, dan manusia dewasa yang membantu siswa memahami dirinya sendiri.
Kesimpulan
Pendidikan berpusat pada manusia menempatkan keberhasilan siswa jauh melampaui nilai akademis. Pendidikan harus membantu anak memahami dirinya, menghargai orang lain, mengembangkan kecerdasan emosional, serta memiliki kekuatan internal untuk menghadapi perubahan.
Konsep happy classroom menjadi salah satu bagian penting dari pendekatan tersebut. Kelas yang bahagia bukan berarti kelas tanpa tantangan, melainkan lingkungan yang membuat siswa merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, gagal, dan tumbuh.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, pendidikan justru perlu semakin dekat dengan sisi manusia. Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang tahu banyak, tetapi manusia yang mampu berpikir, merasakan, berempati, beradaptasi, dan menjalani kehidupan secara bermakna.
FAQ
- Apa yang dimaksud dengan human-centered education? Human-centered education adalah pendekatan pendidikan yang menempatkan manusia secara utuh sebagai pusat proses belajar dengan memperhatikan aspek intelektual, emosional, sosial, karakter, dan kebutuhan personal siswa.
- Mengapa kecerdasan emosional penting dalam pendidikan? Kecerdasan emosional membantu siswa memahami dirinya, mengelola emosi, membangun hubungan, mengembangkan empati, dan menghadapi berbagai situasi secara lebih matang.
- Apa itu happy classroom? Happy classroom adalah lingkungan belajar yang aman, suportif, dan memungkinkan siswa merasa dihargai sehingga mereka berani bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, serta memperbaikinya.
- Apa hubungan EQ dengan empat pilar pendidikan UNESCO? EQ memiliki keterkaitan kuat dengan learning to be dan learning to live together karena keduanya menekankan perkembangan diri, hubungan sosial, empati, dan kemampuan hidup bersama.
- Apa tujuan utama pendidikan yang berpusat pada manusia? Tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga karakter, ketahanan mental, kemampuan beradaptasi, empati, dan kekuatan internal untuk menjalani kehidupan.