Life & Campus

TRG dan Pekerja Riset: Strategi Membangun Budaya Riset Produktif di Unhas

25 Agustus 2026, 21:31 WIB / Tutut Septia Wati
TRG dan Pekerja Riset: Strategi Membangun Budaya Riset Produktif di Unhas

TRG dan Pekerja Riset: Strategi Membangun Budaya Riset Produktif di Unhas

Makassar, Kampus Times- Produktivitas publikasi akademik kerap menjadi salah satu cermin perkembangan sebuah institusi pendidikan tinggi. Namun, di balik angka publikasi dan pemeringkatan, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah kampus membangun ekosistem yang mampu membuat kegiatan riset berlangsung secara konsisten dan berkelanjutan?

Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Prof. Dr. Ir. Khusnul Yaqin, M.Sc., Guru Besar Ekotoksikologi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Dalam refleksinya, ia menceritakan pencarian sederhana melalui Scopus dengan memasukkan frasa Marine Science and Fisheries sebagai afiliasi penulis.

Hasil pencarian tersebut menempatkan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin pada peringkat ke-12 dalam konteks yang ia telusuri. Bagi Khusnul, angka tersebut bukan semata alasan untuk menyalahkan pemeringkatan, melainkan momentum untuk bertanya mengapa produktivitas riset belum maksimal dan apa yang dapat dilakukan untuk memperbaikinya.

Ia menilai kualitas penelitian memang penting. Namun, penelitian yang tidak ditulis, diterbitkan, dan dibaca oleh komunitas ilmiah berisiko berhenti sebagai pengetahuan yang tidak memiliki jangkauan luas.

Mengubah Kerja Individual Menjadi Kerja Kolektif

Seorang dosen memiliki banyak tanggung jawab di luar penelitian. Mengajar, membimbing mahasiswa, menghadiri rapat hingga menyelesaikan pekerjaan administratif membuat waktu untuk riset menjadi terbatas.

Karena itu, kerja individual perlu diubah menjadi kerja kolektif. Dalam model ini, riset tidak lagi bergantung pada kemampuan satu orang, tetapi dikerjakan oleh kelompok yang memiliki target, pembagian tugas, agenda penelitian, dan orientasi publikasi yang jelas.

Gagasan tersebut sejalan dengan keberadaan Tim Riset Kolaborasi atau Thematic Research Group (TRG) di Universitas Hasanuddin yang digagas Rektor Prof. Jamaluddin Jompa. Secara konseptual, TRG dapat menjadi lokomotif untuk menggerakkan budaya penelitian dan publikasi.

Namun, menurut Khusnul, keberadaan TRG saja tidak otomatis membuat produktivitas riset meningkat. Ada kelompok yang benar-benar melakukan diskusi ilmiah, menyusun penelitian, mengolah data, menulis manuskrip, hingga menargetkan jurnal bereputasi. Sebaliknya, ada pula kelompok yang aktivitasnya berhenti pada pertemuan dan komunikasi sosial tanpa agenda ilmiah yang konkret.

Karena itu, TRG idealnya tidak hanya menjadi wadah administratif, tetapi mesin produksi pengetahuan.

Mengenalkan Konsep “Pekerja Riset”

Dari kegelisahan tersebut, Khusnul menawarkan konsep pekerja riset. Istilah ini bukan dimaksudkan untuk menjadikan mahasiswa sebagai tenaga kerja akademik yang semata-mata mengejar jumlah tulisan.

Pekerja riset adalah individu yang menjadikan kegiatan ilmiah sebagai pekerjaan utama: membaca persoalan, merancang penelitian, mengumpulkan data, melakukan analisis, menulis hasil, kemudian memperjuangkan hasil tersebut agar dipublikasikan.

Dalam konteks pendidikan magister berbasis riset, mahasiswa dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem tersebut sejak awal. Mereka tidak harus menunggu sampai memasuki tahap akhir studi untuk mulai memikirkan publikasi.

Bibliometrik sebagai Titik Awal

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah studi bibliometrik dan systematic literature review. Keduanya membantu peneliti memetakan perkembangan suatu bidang, menemukan tema yang sedang berkembang, melihat keterkaitan penelitian, sekaligus mengidentifikasi celah pengetahuan.

Dengan pendekatan tersebut, novelty penelitian tidak sekadar dinyatakan dalam kalimat bahwa sebuah topik “belum pernah diteliti”. Kebaruan dibangun berdasarkan pemetaan literatur yang dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.

Model seperti ini juga memungkinkan mahasiswa memahami bahwa penelitian yang baik bukan sekadar mencari topik populer. Penelitian harus berangkat dari pertanyaan ilmiah yang memiliki dasar, konteks, serta peluang kontribusi terhadap pengetahuan.

TRG Aquatic Ecotoxicology sebagai Contoh Awal

Gagasan tersebut kemudian diterapkan Khusnul bersama empat calon mahasiswa S2 yang sebelumnya pernah ia bimbing. Mereka bergabung dengan TRG Aquatic Ecotoxicology setelah melalui proses komunikasi dan kerja bersama selama sekitar tiga bulan.

Dalam tahap awal, mereka mendiskusikan kemungkinan topik, menyusun studi bibliometrik, merancang systematic literature review, mencari celah penelitian, dan mulai merumuskan manuskrip. Seluruh kegiatan diarahkan tetap berada dalam paradigma aquatic ecotoxicology agar setiap penelitian menjadi bagian dari bangunan pengetahuan yang saling terhubung.

Setelah diterima sebagai mahasiswa magister berbasis riset, pekerjaan tersebut dilanjutkan secara lebih intensif. Target awalnya adalah menghasilkan manuskrip bibliometrik atau systematic literature review, sebelum masuk ke penelitian eksperimental maupun lapangan.

Skema ini diarahkan agar setiap mahasiswa menghasilkan setidaknya dua artikel: satu artikel berbasis bibliometrik atau systematic literature review dan satu artikel hasil penelitian.

Yang lebih penting, publikasi pertama tidak berhenti sebagai kewajiban akademik. Hasil pemetaan literatur menjadi pijakan untuk menentukan penelitian berikutnya sehingga proses riset memiliki kesinambungan.

Membangun Siklus Riset yang Berkelanjutan

Konsep pekerja riset juga menyentuh persoalan pendanaan. Akses terhadap metadata dan pangkalan data seperti Scopus dapat digunakan untuk melakukan pemetaan awal sebelum penelitian eksperimental dikembangkan.

Selanjutnya, pembiayaan riset dapat dibangun melalui hibah, kolaborasi, serta pemanfaatan insentif publikasi. Dengan demikian, publikasi tidak hanya menjadi output akhir, tetapi dapat ikut mendukung keberlanjutan kegiatan penelitian.

Siklus yang dibayangkan cukup sederhana: membaca menghasilkan gagasan, gagasan menghasilkan penelitian, penelitian menghasilkan artikel, artikel menghasilkan insentif, lalu insentif mendukung penelitian berikutnya.

Dalam ekosistem seperti itu, manfaat dapat dirasakan berbagai pihak. Dosen memperoleh peluang meningkatkan publikasi dan dampak akademik. Mahasiswa mendapatkan pengalaman riset, kompetensi, rekam jejak publikasi, dan pengalaman bekerja dalam kelompok ilmiah. Fakultas serta universitas memperoleh tambahan kontribusi terhadap reputasi akademiknya.

Kebijakan Institusi Menjadi Faktor Penentu

Namun, produktivitas kelompok riset tidak hanya bergantung pada semangat individu. Kebijakan institusi juga menjadi faktor penting.

Khusnul menekankan pentingnya kesinambungan hubungan antara dosen dan mahasiswa yang sejak awal telah membangun agenda penelitian bersama. Jika dosen yang telah merancang topik, membangun paradigma penelitian, dan mendampingi mahasiswa sejak tahap awal tidak dapat melanjutkan proses pembimbingan, kesinambungan ekosistem riset berpotensi terganggu.

Distribusi pembimbing tetap memiliki nilai penting. Namun, dalam pendidikan berbasis riset, kepakaran, kesesuaian bidang, kesinambungan intelektual, dan komitmen akademik juga perlu dipertimbangkan.

Pada akhirnya, TRG membutuhkan lebih dari sekadar struktur organisasi. Ia membutuhkan manusia yang benar-benar bekerja, agenda riset yang jelas, budaya kolaborasi, dan kebijakan yang memungkinkan kelompok tersebut berkembang.

Kesimpulan

Gagasan TRG dan pekerja riset menawarkan cara pandang bahwa peningkatan produktivitas publikasi tidak cukup dilakukan dengan menambah target atau membentuk kelompok secara administratif. Yang dibutuhkan adalah ekosistem kerja ilmiah yang membuat dosen dan mahasiswa bergerak bersama dari membaca, memetakan pengetahuan, meneliti, menulis, hingga mempublikasikan hasilnya.

Pengalaman awal TRG Aquatic Ecotoxicology menunjukkan bagaimana mahasiswa magister berbasis riset dapat ditempatkan sebagai bagian dari mesin produksi pengetahuan. Jika model tersebut didukung komitmen anggota, pendanaan yang berkelanjutan, akses data, serta kebijakan institusi yang tepat, TRG berpotensi menjadi lokomotif yang benar-benar bergerak.

Bagi Universitas Hasanuddin, gagasan ini pada akhirnya bukan hanya tentang mengejar peringkat publikasi. Lebih jauh, ia merupakan upaya membangun kebiasaan ilmiah: membaca lebih banyak, bertanya lebih tajam, meneliti lebih serius, dan memastikan setiap hasil penelitian memiliki kesempatan untuk menjadi pengetahuan yang dapat dibaca dan digunakan oleh masyarakat akademik.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud dengan pekerja riset? Pekerja riset adalah individu yang secara aktif menjalankan rangkaian kegiatan ilmiah mulai dari membaca persoalan, merancang penelitian, mengolah data, menulis hingga mempublikasikan hasil penelitian.
  2. Apa fungsi TRG dalam meningkatkan riset? TRG atau Thematic Research Group dapat menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan dosen dan mahasiswa dalam agenda penelitian yang memiliki tema, target, pembagian kerja, dan orientasi publikasi yang jelas.
  3. Mengapa bibliometrik penting dalam penelitian? Studi bibliometrik membantu memetakan perkembangan pengetahuan, tren penelitian, hubungan antartopik, serta peluang celah penelitian berdasarkan data publikasi.
  4. Mengapa systematic literature review dapat digunakan sebagai penelitian awal? Systematic literature review membantu peneliti memahami bukti ilmiah yang telah tersedia dan menemukan pertanyaan penelitian yang masih membutuhkan jawaban.
  5. Apa tujuan akhir konsep pekerja riset? Tujuannya bukan sekadar memenuhi kewajiban publikasi, tetapi membangun budaya riset yang berkelanjutan sehingga mahasiswa dan dosen terbiasa membaca, meneliti, menulis, berkolaborasi, dan menghasilkan pengetahuan baru.

Topik Terkait

Trending Hari Ini