Event

Universitas Sunan Gresik Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Bahas Profil Lulusan hingga CPL

19 Agustus 2026, 08:31 WIB / Tutut Septia Wati
Universitas Sunan Gresik Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Bahas Profil Lulusan hingga CPL

Universitas Sunan Gresik Perkuat Kurikulum Berbasis OBE, Bahas Profil Lulusan hingga CPL

Gresik, Kampus Times- Universitas Sunan Gresik (USG) terus mendorong penguatan mutu pendidikan tinggi melalui pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Upaya tersebut diwujudkan melalui Sarasehan Penguatan Kurikulum Berbasis OBE yang membahas keterkaitan profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), bahan kajian, mata kuliah, hingga struktur kurikulum.

Materi II dalam sarasehan mengangkat tema “Pengembangan Kurikulum Berbasis OBE: Profil Lulusan, CPL, Bahan Kajian, dan Struktur Kurikulum”. Sesi tersebut menghadirkan Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd., CRA., sebagai narasumber.

Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, secara daring melalui Zoom. Berdasarkan agenda, sesi berlangsung pukul 09.35–10.35 WIB dengan format paparan interaktif dan diskusi.

OBE Menempatkan Capaian Lulusan sebagai Titik Awal

Outcome-Based Education merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan hasil atau kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan sebagai orientasi utama. Dengan pendekatan ini, kurikulum tidak sekadar disusun sebagai daftar mata kuliah dan materi yang harus disampaikan dosen.

Sebaliknya, setiap unsur kurikulum harus memiliki hubungan yang jelas dengan capaian pembelajaran yang ingin diwujudkan. Proses pembelajaran, materi, mata kuliah, hingga asesmen perlu diarahkan untuk memastikan mahasiswa benar-benar mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Profil Lulusan Menjadi Arah Pengembangan

Dalam pengembangan kurikulum OBE, profil lulusan memiliki posisi penting karena menggambarkan peran yang dapat dijalankan oleh lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Penetapannya perlu mempertimbangkan visi keilmuan program studi, perkembangan disiplin ilmu, kebutuhan pemangku kepentingan, serta karakteristik institusi.

Profil lulusan kemudian menjadi dasar dalam merumuskan CPL. Karena itu, profil lulusan perlu dirancang secara realistis dan tidak terlalu spesifik pada jabatan tertentu, sehingga tetap relevan dengan perkembangan dunia kerja dan kebutuhan masyarakat.

CPL Harus Jelas dan Dapat Diukur

Salah satu tantangan dalam penerapan kurikulum berbasis OBE adalah merumuskan CPL yang benar-benar dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran dan asesmen. CPL perlu disusun secara ringkas, jelas, relevan, dapat diamati, dan dapat diukur.

CPL juga harus mencerminkan berbagai aspek kompetensi mahasiswa, termasuk sikap, pengetahuan, keterampilan umum, dan keterampilan khusus. Rumusan yang baik akan membantu program studi memastikan bahwa proses pendidikan benar-benar mengarah pada kemampuan yang dibutuhkan lulusan.

Dari CPL Menuju Bahan Kajian

Setelah CPL dirumuskan, program studi perlu menentukan bahan kajian yang mendukung ketercapaiannya. Bahan kajian merupakan ruang lingkup pengetahuan atau keahlian yang perlu dipelajari mahasiswa untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Pemetaan antara CPL dan bahan kajian penting dilakukan agar tidak terjadi pengulangan materi maupun kesenjangan pembelajaran. Setiap CPL harus memiliki dukungan bahan kajian yang memadai, sementara bahan kajian yang dipilih juga harus memiliki kontribusi yang jelas terhadap capaian lulusan.

Membentuk Mata Kuliah dan Struktur Kurikulum

Bahan kajian selanjutnya dapat diorganisasikan menjadi mata kuliah dengan mempertimbangkan keluasan, kedalaman, serta beban belajar mahasiswa. Tahapan ini membutuhkan perencanaan agar setiap mata kuliah memiliki fungsi yang jelas dalam mendukung ketercapaian CPL.

Struktur kurikulum juga perlu disusun secara logis dan berjenjang. Urutan mata kuliah harus memperhatikan tingkat kemampuan mahasiswa, hubungan prasyarat, kesinambungan pembelajaran, serta distribusi beban studi pada setiap semester.

Dengan demikian, kurikulum OBE tidak hanya berbicara mengenai isi pembelajaran, tetapi juga mengenai bagaimana pengalaman belajar mahasiswa dirancang secara sistematis sejak awal hingga akhir masa studi.

Pentingnya Keselarasan Kurikulum

Penerapan OBE menuntut adanya alignment atau keselarasan antara berbagai komponen pendidikan. Profil lulusan, CPL, bahan kajian, mata kuliah, CPMK, pembelajaran, dan asesmen perlu dapat ditelusuri keterkaitannya.

Menghindari Kurikulum yang Terbentuk karena Kebiasaan

Salah satu persoalan yang dapat muncul dalam pengembangan kurikulum adalah mempertahankan mata kuliah hanya karena sudah digunakan selama bertahun-tahun. Dalam pendekatan OBE, setiap mata kuliah seharusnya dapat dijelaskan kontribusinya terhadap capaian pembelajaran.

Karena itu, proses peninjauan kurikulum perlu dilakukan secara kritis. Program studi harus mampu mengidentifikasi mata kuliah yang tumpang tindih, bahan kajian yang belum terakomodasi, serta CPL yang belum mendapatkan dukungan pembelajaran dan asesmen secara memadai.

Dorong Kurikulum yang Relevan dengan Dunia Kerja

Penguatan kurikulum berbasis OBE juga berkaitan dengan kebutuhan untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan masyarakat dan dunia kerja. Pendidikan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam situasi nyata.

Karena itu, perspektif pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum. Masukan dari dunia industri, pemerintahan, organisasi profesi, alumni, dan masyarakat dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memastikan profil lulusan serta CPL tetap relevan.

Sarasehan Menjadi Ruang Penyamaan Persepsi

Melalui Materi II Sarasehan Penguatan Kurikulum Berbasis OBE, Universitas Sunan Gresik mendorong terbentuknya pemahaman yang lebih seragam mengenai alur pengembangan kurikulum.

Peserta yang terdiri atas unsur pimpinan universitas, fakultas, program studi, lembaga penjaminan mutu, dosen, serta tim pengembang kurikulum diharapkan dapat menggunakan pembahasan tersebut sebagai acuan dalam meninjau maupun menyusun kurikulum.

Kegiatan ini juga diharapkan menghasilkan butir pemeriksaan untuk menilai keterhubungan antara profil lulusan, CPL, bahan kajian, mata kuliah, dan struktur kurikulum. Hasil pembahasan dapat menjadi dasar untuk menyusun catatan perbaikan pada kurikulum yang telah berjalan maupun pengembangan program studi baru.

Kesimpulan

Penguatan kurikulum berbasis OBE menjadi langkah strategis bagi perguruan tinggi untuk memastikan proses pendidikan benar-benar berorientasi pada kompetensi lulusan. Melalui keterhubungan antara profil lulusan, CPL, bahan kajian, mata kuliah, dan struktur kurikulum, program studi dapat membangun pengalaman belajar yang lebih terarah dan terukur.

Sarasehan yang digelar Universitas Sunan Gresik menunjukkan pentingnya penyamaan persepsi dan evaluasi berkelanjutan dalam pengembangan kurikulum. Tantangannya bukan sekadar menyusun dokumen kurikulum, tetapi memastikan setiap komponennya benar-benar bekerja untuk menghasilkan lulusan yang kompeten, relevan, adaptif, dan siap menghadapi perubahan zaman.

FAQ

  1. Apa tema Materi II Sarasehan Penguatan Kurikulum Berbasis OBE? Materi II membahas Pengembangan Kurikulum Berbasis OBE yang mencakup profil lulusan, CPL, bahan kajian, dan struktur kurikulum.
  2. Siapa narasumber Materi II? Narasumbernya adalah Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd., CRA.
  3. Kapan kegiatan dilaksanakan? Sarasehan dilaksanakan pada Rabu, 19 Agustus 2026, dengan sesi Materi II berlangsung pukul 09.35–10.35 WIB.
  4. Di mana kegiatan Sarasehan Penguatan Kurikulum Berbasis OBE dilaksanakan? Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diselenggarakan oleh Universitas Sunan Gresik.
  5. Mengapa OBE penting dalam pengembangan kurikulum perguruan tinggi? OBE membantu memastikan seluruh komponen kurikulum, pembelajaran, dan asesmen diarahkan secara sistematis untuk mencapai kompetensi lulusan yang telah ditetapkan.

Topik Terkait

Trending Hari Ini