Event

Webinar Sejarah Lokal 2026: Mengemas Warisan Budaya Menjadi Konten Digital Edukatif

15 Agustus 2026, 16:51 WIB / Tutut Septia Wati
Webinar Sejarah Lokal 2026: Mengemas Warisan Budaya Menjadi Konten Digital Edukatif

Webinar Sejarah Lokal 2026: Mengemas Warisan Budaya Menjadi Konten Digital Edukatif

Kampus Times - Warisan budaya dan sejarah lokal merupakan bagian penting dari identitas sebuah daerah. Namun, kekayaan sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam buku, museum, arsip, atau situs peninggalan. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, sejarah juga perlu dikemas melalui media digital agar lebih mudah dikenal dan dipahami masyarakat, khususnya generasi muda.

Semangat tersebut menjadi bagian dari Webinar Sejarah Lokal 2026 yang mengangkat tema “Menyusun Narasi, Menciptakan Konten: Strategi Mengemas Warisan Budaya Monumental Menjadi Konten Digital Edukatif.”

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membahas bagaimana warisan budaya monumental dapat diolah menjadi narasi dan konten digital yang informatif, menarik, sekaligus tetap memperhatikan nilai sejarah dan budaya.

Mengapa Sejarah Lokal Perlu Dikemas Secara Digital?

Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Generasi muda kini lebih banyak menemukan pengetahuan melalui video, media sosial, infografis, podcast, hingga berbagai platform digital.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian sejarah. Jika informasi mengenai sejarah lokal hanya disampaikan dengan pendekatan konvensional, terdapat risiko generasi muda semakin jauh dari narasi sejarah di lingkungan mereka sendiri.

Sebaliknya, digitalisasi memungkinkan cerita sejarah dikemas dalam format yang lebih dekat dengan kebiasaan audiens masa kini.

Foto situs bersejarah, dokumentasi arsip, wawancara dengan narasumber, animasi, video pendek, hingga visualisasi sinematik dapat digunakan untuk memperkenalkan suatu warisan budaya secara lebih komunikatif.

Bukan Sekadar Membuat Konten

Mengubah sejarah menjadi konten digital bukan berarti menyederhanakan fakta secara berlebihan demi mengejar perhatian audiens.

Konten sejarah tetap membutuhkan riset, verifikasi sumber, konteks, dan ketepatan informasi. Kreativitas dalam penyajian harus berjalan bersama tanggung jawab untuk menjaga integritas sejarah.

Karena itu, kemampuan menyusun narasi menjadi salah satu aspek penting. Sebuah peninggalan sejarah dapat memiliki banyak cerita, tetapi konten yang baik perlu menentukan sudut pandang yang jelas agar pesan dapat diterima dengan mudah.

Tiga Perspektif dalam Webinar Sejarah Lokal

Webinar Sejarah Lokal 2026 menghadirkan tiga pembicara dengan latar belakang yang berbeda. Kombinasi perspektif tersebut menjadi menarik karena pembahasan sejarah tidak hanya dilihat dari sisi penelitian, tetapi juga penulisan, kajian budaya, dan visualisasi.

Adrian Perkasa, Ph.D.

Pembicara pertama adalah Adrian Perkasa, Ph.D., yang dikenal sebagai bagian dari tim ahli cagar budaya Jawa Timur serta sejarawan KITLV Belanda.

Perspektif seorang sejarawan dan ahli cagar budaya penting dalam membangun fondasi narasi yang akurat. Pengetahuan mengenai konteks sejarah, nilai penting sebuah peninggalan, serta sumber-sumber yang dapat digunakan menjadi dasar sebelum suatu warisan budaya diolah menjadi konten digital.

Dengan riset yang kuat, konten sejarah tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Yogi Ishabib, S.Sos.

Webinar juga menghadirkan Yogi Ishabib, S.Sos., yang memiliki pengalaman sebagai penulis, peneliti, editor, kurator, dan pengajar kajian budaya.

Peran penulis dan editor sangat penting dalam proses mengubah informasi sejarah menjadi cerita yang mudah dipahami. Data dan fakta sejarah perlu disusun menjadi narasi yang memiliki alur, konteks, serta relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Sementara itu, pendekatan kuratorial membantu menentukan informasi mana yang perlu ditonjolkan agar pesan budaya tidak kehilangan makna ketika disajikan kepada publik.

Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A.

Pembicara ketiga adalah Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A., yang tercantum sebagai dosen visualisasi dan sinematografi sejarah UNAIR.

Kehadiran perspektif visualisasi dan sinematografi memperkuat gagasan bahwa sejarah dapat disampaikan melalui kekuatan gambar dan cerita visual.

Sebuah bangunan bersejarah, misalnya, tidak hanya dapat diperlihatkan melalui foto dokumentasi. Detail arsitektur, suasana lingkungan, aktivitas masyarakat, serta konteks sejarahnya dapat dirangkai menjadi pengalaman visual yang lebih kuat.

Webinar Gratis dengan Fasilitas E-Sertifikat

Webinar Sejarah Lokal 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan dapat diikuti secara daring melalui platform Zoom dan YouTube. Peserta juga mendapatkan sejumlah fasilitas, yakni e-sertifikat dan materi seminar.

Pendaftaran dibuka pada 14–21 Agustus 2026, sehingga masyarakat yang tertarik pada sejarah, budaya, pendidikan, pembuatan konten, maupun pelestarian cagar budaya dapat memanfaatkan kesempatan tersebut.

Informasi pendaftaran pada poster mencantumkan tautan Pendaftaran Webinar Sejarah. Kegiatan juga mencantumkan kanal YouTube arkeohistoriajatim serta akun Instagram @cagarbudaya.sejarahjatim sebagai kanal informasi terkait.

Pelestarian Budaya di Era Digital

Digitalisasi budaya seharusnya tidak dipahami hanya sebagai upaya memindahkan dokumentasi lama ke internet. Lebih dari itu, digitalisasi dapat menjadi strategi untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah.

Ketika cerita mengenai cagar budaya dikemas secara kreatif dan disebarkan melalui kanal digital, jangkauan edukasi dapat melampaui batas geografis.

Namun, semakin luas jangkauan sebuah konten, semakin besar pula tanggung jawab pembuatnya. Informasi sejarah harus tetap mengutamakan akurasi, menghargai konteks budaya, serta menghindari penyederhanaan yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Dari Warisan Monumental Menjadi Pengetahuan Publik

Warisan budaya monumental memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada bentuk fisiknya. Di dalamnya terdapat memori kolektif dan rekam perjalanan masyarakat yang dapat menjadi sumber pembelajaran lintas generasi.

Karena itu, strategi mengemas warisan budaya menjadi konten digital edukatif dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah.

Kolaborasi antara sejarawan, peneliti, penulis, kurator, akademisi, videografer, dan kreator digital juga berpotensi menghasilkan konten yang tidak hanya menarik, tetapi memiliki kualitas pengetahuan yang kuat.

Kesimpulan

Webinar Sejarah Lokal 2026 menawarkan gagasan penting mengenai bagaimana warisan budaya monumental dapat tetap relevan di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui tema penyusunan narasi dan penciptaan konten, masyarakat diajak melihat sejarah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus disimpan, tetapi juga pengetahuan yang perlu dikomunikasikan kepada generasi berikutnya.

Kunci utamanya adalah menggabungkan riset yang kuat, narasi yang menarik, visual yang tepat, dan tanggung jawab terhadap fakta sejarah.

Jika dilakukan secara konsisten, transformasi warisan budaya ke dalam konten digital dapat menjadi strategi pelestarian sekaligus sarana pendidikan publik. Dengan demikian, teknologi tidak menjauhkan generasi muda dari sejarah, tetapi justru menjadi jembatan yang membuat warisan budaya semakin dekat, relevan, dan mudah dipelajari.

Topik Terkait

Trending Hari Ini