Akademik & Riset

Wetware: Ketika Sel Otak Manusia Mulai Menjadi Prosesor Komputer

9 September 2026, 06:39 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Selama puluhan tahun, kemajuan teknologi komputer mengikuti satu prinsip sederhana: membuat transistor semakin kecil sehingga semakin banyak komponen dapat ditempatkan dalam sebuah cip.

Strategi tersebut menghasilkan perkembangan komputasi yang luar biasa. Namun, miniaturisasi silikon kini semakin mendekati batas fisik. Lapisan material dalam sirkuit modern sudah mencapai ukuran yang sangat kecil, bahkan mendekati skala atom.

Pada saat yang sama, perkembangan AI menghadirkan persoalan baru. Model AI berukuran besar membutuhkan pusat data dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat.

Di tengah dua masalah tersebut, para peneliti mulai melihat sesuatu yang selama ini sudah dimiliki manusia: sel hidup.

Inilah gagasan di balik wetware, sebuah pendekatan yang menggabungkan jaringan biologis dengan perangkat elektronik untuk melakukan pemrosesan informasi.

Otak Manusia Menjadi Inspirasi Komputasi

Otak manusia merupakan salah satu sistem pemrosesan informasi paling efisien yang diketahui.

Sekitar 86 miliar neuron membentuk jaringan dengan lebih dari 100 triliun koneksi. Seluruh sistem tersebut dapat bekerja hanya dengan konsumsi energi sekitar 20 watt.

Sebagai perbandingan, superkomputer dapat membutuhkan daya hingga puluhan megawatt.

Perbedaan tersebut sangat besar. Biologi tidak memproses informasi dengan cara yang sama seperti komputer digital konvensional. Jaringan neuron bersifat dinamis, adaptif, dan mampu belajar berdasarkan pengalaman.

Brett Kagan dari Cortical Labs menjelaskan bahwa kemampuan tersebut merupakan hasil evolusi.

"Anything with biology can learn to navigate its environment incredibly quickly incredibly efficiently."

Bagi pengembangan komputer masa depan, kemampuan belajar dengan energi yang relatif kecil menjadi sesuatu yang sangat menarik.

DishBrain Membuktikan Neuron Bisa Belajar

Salah satu eksperimen yang paling menarik datang dari Cortical Labs melalui proyek DishBrain.

Peneliti menumbuhkan sekitar 800.000 neuron di atas cip silikon. Jaringan biologis tersebut kemudian dihubungkan dengan sistem elektronik sehingga aktivitas neuron dapat menerima informasi sekaligus menghasilkan respons.

Eksperimen tersebut menggunakan permainan sederhana Pong.

Neuron menerima stimulus listrik yang merepresentasikan kondisi permainan. Ketika responsnya sesuai dengan tujuan permainan, sistem memberikan pola stimulus yang lebih teratur. Ketika gagal, neuron menerima stimulus yang lebih kacau.

Pendekatan tersebut didasarkan pada gagasan free energy principle, yang secara sederhana menggambarkan kecenderungan sistem biologis untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Hasilnya menunjukkan sesuatu yang sebelumnya terdengar seperti fiksi ilmiah: sel otak hidup dapat belajar berinteraksi dengan lingkungan digital.

Lapisan neuron tersebut bahkan disebut memiliki ukuran yang sebanding dengan otak lebah madu kecil.

Wetware Mulai Keluar dari Laboratorium

Teknologi biokomputasi tidak lagi berhenti sebagai eksperimen akademik.

Final Spark, misalnya, mengembangkan platform yang memungkinkan peneliti mengakses organoid otak melalui jaringan cloud. Konsep tersebut memungkinkan jaringan biologis digunakan sebagai bagian dari eksperimen komputasi tanpa peneliti harus berada langsung di laboratorium.

Sekitar 200 orang dari berbagai universitas disebut telah menggunakan atau mengantre untuk memperoleh akses ke platform tersebut.

Cortical Labs juga membawa konsep tersebut ke arah komersial dengan meluncurkan CL1, prosesor yang menggunakan sel otak manusia sebagai komponen biologis. Produk tersebut diluncurkan pada Maret 2025 dengan harga sekitar 35.000 dolar AS per unit.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan penting: wetware mulai bergerak dari konsep penelitian menuju sebuah platform teknologi yang dapat digunakan pihak lain.

Komputasi Biologis Bisa Lebih Hemat Energi

Salah satu alasan wetware menarik perhatian adalah persoalan energi.

Investasi global dalam infrastruktur AI telah mencapai skala ratusan miliar dolar. Pada saat yang sama, konsumsi listrik pusat data diperkirakan terus meningkat dan dapat mencapai sekitar 1.580 terawatt jam per tahun pada 2034.

Angka tersebut menggambarkan tantangan besar.

Semakin besar model dan semakin banyak pengguna, semakin besar pula kebutuhan terhadap pusat data, listrik, pendinginan, dan perangkat keras.

Biologi menawarkan pendekatan berbeda. Jaringan neuron tidak membutuhkan miliaran transistor untuk melakukan pembelajaran tertentu. Ia memanfaatkan koneksi biologis yang mampu berubah dan beradaptasi.

Bukan berarti neuron akan menggantikan GPU atau cip silikon dalam waktu dekat. Namun, kombinasi keduanya dapat membuka kategori komputasi yang sebelumnya tidak tersedia.

Masa Depan Bisa Menggabungkan Mesin dan Makhluk Hidup

Fred Jordan, pendiri Final Spark, menggambarkan kemungkinan tersebut sebagai dunia yang menggabungkan komponen hidup dan buatan.

"In the future we'll have to live in a world where there will be some parts in computing which are living and other which are just artificial."

Konsep tersebut merupakan inti dari hybrid computing.

Cip silikon dapat menangani komunikasi digital dan kontrol sistem, sementara jaringan biologis melakukan tugas tertentu yang membutuhkan kemampuan adaptasi atau pembelajaran.

Dalam skenario tertentu, komputer masa depan mungkin tidak sepenuhnya terbuat dari logam, silikon, dan plastik. Sebagian komponennya dapat berupa jaringan biologis yang hidup.

Potensi Terbesar Justru di Dunia Kedokteran

Selain komputasi, manfaat wetware yang paling menjanjikan mungkin berada di bidang biomedis.

Organoid otak memungkinkan peneliti mempelajari perkembangan jaringan saraf manusia dalam lingkungan laboratorium. Sistem tersebut dapat digunakan untuk menguji bagaimana penyakit atau obat memengaruhi sel otak.

Peluang ini sangat penting untuk penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson.

Lebih dari sepertiga populasi dunia diperkirakan akan mengalami gangguan neurologis dalam hidupnya. Jumlah kasus gangguan neurologis juga diproyeksikan meningkat seiring pertumbuhan populasi dan penuaan.

Dalam konteks tersebut, model biologis manusia dapat memberikan informasi yang tidak selalu dapat diperoleh dari hewan percobaan atau simulasi komputer.

Apakah Wetware Bisa Mengurangi Uji Coba Hewan?

Thomas Hartung, seorang ahli toksikologi, melihat teknologi organoid sebagai salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengujian pada hewan.

Masalahnya bukan sekadar biaya. Respons biologis hewan tidak selalu merepresentasikan respons tubuh manusia.

Organoid manusia dapat memberikan model yang lebih dekat dengan jaringan manusia untuk jenis penelitian tertentu. Jika teknologi tersebut semakin matang, proses pengembangan obat berpotensi menjadi lebih cepat dan lebih tepat sasaran.

Dalam industri farmasi, bahkan percepatan satu hari dalam peluncuran obat dapat memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

Namun, teknologi ini tidak otomatis menghapus kebutuhan terhadap seluruh model hewan. Penggunaan organoid masih memiliki keterbatasan dan harus ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian metode penelitian yang lebih luas.

Pertanyaan Besar: Apakah Organoid Bisa Sadar?

Di balik potensi luar biasa tersebut terdapat persoalan etika yang sulit dihindari.

Semakin kompleks organoid otak yang dikembangkan, semakin besar pula pertanyaan mengenai status biologisnya. Apakah jaringan neuron yang semakin kompleks hanya merupakan kumpulan sel, atau suatu saat dapat memiliki bentuk kesadaran tertentu?

Thomas Hartung menyebut persoalan tersebut sebagai salah satu pertanyaan terbesar yang masih dihindari dalam diskusi tentang teknologi ini.

"The biggest elephant in the room is would a brain organoid become self-aware."

Pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban sederhana.

Karena itu, perkembangan wetware membutuhkan batas etika dan mekanisme pengawasan yang jelas. Kemampuan menciptakan jaringan biologis yang semakin kompleks harus diikuti dengan pemahaman tentang konsekuensi ilmiah dan moralnya.

Masa Depan Komputasi Mungkin Tidak Sepenuhnya Silikon

Wetware tidak berarti komputer konvensional akan segera berakhir.

Silikon masih memiliki keunggulan luar biasa dalam kecepatan, skalabilitas, presisi, dan kemampuan produksi massal. Namun, batas energi dan miniaturisasi membuat para ilmuwan semakin terbuka terhadap paradigma komputasi baru.

Biokomputasi menawarkan sesuatu yang berbeda: sistem yang dapat belajar menggunakan jaringan biologis dengan konsumsi energi yang sangat rendah.

Perkembangan DishBrain, platform organoid berbasis cloud, hingga CL1 menunjukkan bahwa konsep tersebut perlahan bergerak dari eksperimen menuju teknologi nyata.

Kesimpulan

Wetware menghadirkan gagasan radikal tentang masa depan komputasi: bagaimana jika komputer tidak hanya menggunakan silikon, tetapi juga kehidupan?

Penggabungan neuron manusia dengan cip elektronik dapat menawarkan efisiensi energi, kemampuan belajar biologis, serta model baru untuk memahami penyakit otak dan mengembangkan obat.

Namun, peluang tersebut datang bersama tantangan besar. Pertanyaan mengenai keamanan, stabilitas, reproduktibilitas, skalabilitas, serta kemungkinan kesadaran organoid harus dijawab sebelum teknologi ini berkembang lebih jauh.

Jika komputer generasi berikutnya benar-benar memadukan komponen biologis dan elektronik, maka batas antara mesin dan makhluk hidup akan menjadi semakin tipis.

Masa depan komputasi mungkin bukan tentang memilih biologi atau silikon, melainkan menemukan cara agar keduanya bekerja bersama.

FAQ

  1. Apa itu wetware dalam teknologi? Wetware adalah pendekatan komputasi yang memanfaatkan jaringan biologis, seperti neuron hidup, bersama perangkat elektronik untuk memproses informasi.
  2. Apa itu eksperimen DishBrain? DishBrain adalah eksperimen yang menghubungkan sekitar 800.000 neuron dengan cip silikon dan menunjukkan kemampuan jaringan tersebut berinteraksi serta belajar memainkan Pong.
  3. Mengapa otak manusia dianggap efisien untuk komputasi? Otak manusia memiliki jaringan neuron dan koneksi yang sangat kompleks tetapi dapat berfungsi dengan konsumsi energi sekitar 20 watt.
  4. Apakah wetware dapat menggantikan komputer berbasis silikon? Dalam waktu dekat, kemungkinan besar tidak. Wetware lebih realistis dipandang sebagai teknologi komplementer yang dapat menangani jenis tugas tertentu yang membutuhkan kemampuan adaptasi biologis.
  5. Apakah organoid otak bisa menjadi sadar? Belum ada jawaban pasti. Pertanyaan mengenai kemungkinan munculnya kesadaran pada organoid yang semakin kompleks justru menjadi salah satu persoalan etika dan ilmiah terbesar dalam bidang ini.

Topik Terkait

Trending Hari Ini