Akademik & Riset

Agentic AI Mengubah Pendidikan: Dari Alat Bantu Menjadi Penggerak Proses Belajar

16 Agustus 2026, 13:04 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Perubahan besar sedang berlangsung dalam cara teknologi kecerdasan buatan digunakan di dunia pendidikan. Jika sebelumnya AI lebih banyak ditempatkan sebagai alat bantu dalam suatu proses, kini muncul pendekatan baru ketika AI mulai menjalankan bagian dari proses tersebut secara lebih mandiri.

Perubahan inilah yang dikenal melalui perkembangan Agentic AI, yaitu sistem AI yang dapat merencanakan tindakan, menjalankan tugas, mengevaluasi hasil, dan menyesuaikan langkah berikutnya berdasarkan tujuan yang diberikan. Dalam pendidikan, perkembangan tersebut berpotensi mengubah bukan hanya cara mahasiswa belajar, tetapi juga bagaimana universitas merancang kurikulum dan melakukan penilaian.

Dari AI sebagai Alat Menjadi AI sebagai Pelaksana

Pergeseran paradigma tersebut dapat diringkas melalui gagasan bahwa AI tidak lagi sekadar "included in our processes", tetapi mulai "running our processes". Artinya, AI ditempatkan bukan hanya sebagai teknologi pendamping, melainkan sebagai bagian aktif dari alur kerja.

Dalam praktik pendidikan, perubahan ini dapat terlihat pada berbagai aktivitas administratif maupun akademik. AI berpotensi membantu menyusun materi, membuat pertanyaan berdasarkan tingkat kemampuan mahasiswa, memberikan umpan balik, mengidentifikasi kesenjangan kompetensi, hingga merekomendasikan aktivitas pembelajaran berikutnya.

Perubahan tersebut membuat universitas perlu memikirkan kembali batas antara teknologi, dosen, dan mahasiswa. Tujuannya bukan menggantikan peran manusia, tetapi membangun proses pendidikan yang lebih responsif terhadap kebutuhan individu.

AI Tidak Lagi Hanya untuk Mahasiswa Teknologi

Salah satu perubahan penting lainnya adalah semakin luasnya penggunaan AI di luar bidang ilmu komputer dan teknologi informasi. Mahasiswa dari bisnis, pendidikan, hukum, komunikasi, kesehatan, hingga ilmu sosial juga akan berhadapan dengan sistem AI dalam dunia profesional.

Karena itu, pembelajaran AI tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan teknis. Mahasiswa perlu memahami bagaimana teknologi digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Pendekatan tersebut menempatkan nilai bisnis dan pemecahan masalah sebagai bagian penting dari literasi AI. Pemahaman terhadap kebutuhan organisasi, proses kerja, etika, data, dan pengambilan keputusan dapat menjadi sama pentingnya dengan kemampuan pemrograman.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan bahwa seseorang dengan pengetahuan bisnis yang kuat dapat berkembang menjadi ahli AI ketika memahami cara menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata.

Kurikulum Mulai Mengarah ke Otomasi

Transformasi tersebut juga mendorong integrasi otomasi ke dalam kurikulum. Salah satu contoh datang dari Afrika Selatan yang mengembangkan kualifikasi nasional untuk Robotic Process Automation (RPA) Developer.

Data dari South African Qualifications Authority menunjukkan kualifikasi RPA Developer berada pada NQF Level 5 dan dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan praktis, pengembangan solusi otomasi, analisis data, serta aspek etika dan kerja multidisiplin.

MICT SETA dan UiPath sebelumnya juga menyebut kualifikasi tersebut sebagai kualifikasi nasional RPA pertama di kawasan EMEA dan dirancang untuk memperluas akses terhadap keterampilan otomasi.

Namun, terdapat kesenjangan antara perkembangan industri dan pendidikan tinggi. Sejumlah universitas masih belum menjadikan teknologi RPA sebagai bagian resmi dari mata kuliah mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kurikulum membutuhkan kecepatan adaptasi yang lebih tinggi terhadap perubahan teknologi.

Personalisasi Pembelajaran Berbasis Data

Dampak Agentic AI yang paling menarik berada pada personalisasi pengalaman belajar. Sistem dapat memanfaatkan data akademik dan interaksi pembelajaran untuk membangun gambaran mengenai perkembangan setiap mahasiswa.

Alih-alih memberikan pertanyaan dan asesmen yang sama kepada seluruh mahasiswa, pendekatan berbasis agen memungkinkan sistem menghasilkan pertanyaan berdasarkan tingkat keahlian dan kebutuhan individu.

Dengan mekanisme tersebut, perjalanan akademik mahasiswa dapat dipantau secara lebih menyeluruh. Data tidak hanya digunakan untuk mengetahui nilai akhir, tetapi juga untuk memahami perkembangan kompetensi dari waktu ke waktu.

Pendekatan penelitian di North-West University turut menunjukkan arah baru dalam asesmen berbasis sistem agentic. Salah satu kajian terbaru dari peneliti universitas tersebut memperkenalkan konsep arsitektur asesmen yang membangun model individu terlebih dahulu, kemudian menghasilkan asesmen berdasarkan karakteristik individu tersebut.

Menuju Asesmen Prediktif

Saat ini, penerapan teknologi dalam pendidikan masih banyak berada pada tahap standardisasi rubrik dan asesmen. Namun, arah perkembangannya mulai bergerak menuju penilaian prediktif.

Dalam model tersebut, asesmen tidak hanya menjawab pertanyaan tentang apa yang telah dipelajari mahasiswa, tetapi juga membantu memperkirakan kebutuhan belajar berikutnya.

Jika dikembangkan secara bertanggung jawab, sistem semacam ini dapat membantu dosen mengetahui mahasiswa yang membutuhkan pendampingan lebih awal, sementara mahasiswa memperoleh rekomendasi belajar yang lebih relevan.

Tantangan Etika dan Peran Dosen

Tantangan Etika dan Peran Dosen

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Meski menawarkan peluang besar, Agentic AI tidak boleh diterapkan hanya karena teknologi tersebut tersedia. Pendidikan membutuhkan transparansi, perlindungan data, validasi hasil, serta pengawasan manusia.

Dosen tetap memiliki peran penting dalam menentukan tujuan pembelajaran, memahami konteks mahasiswa, memberikan pertimbangan pedagogis, dan memastikan keputusan teknologi tidak merugikan peserta didik.

Dengan demikian, masa depan pendidikan bukan sekadar tentang seberapa banyak AI digunakan, tetapi seberapa tepat teknologi tersebut ditempatkan dalam ekosistem pembelajaran.

Kesimpulan

Agentic AI menandai perubahan penting dalam pendidikan: dari AI yang sekadar menjadi bagian dari proses menuju teknologi yang mampu menjalankan sejumlah proses secara lebih mandiri. Pergeseran ini berpotensi mengubah kurikulum, otomasi pekerjaan akademik, personalisasi pembelajaran, hingga sistem asesmen.

Perkembangan kualifikasi RPA di Afrika Selatan menunjukkan bahwa pendidikan mulai bergerak untuk menjembatani kebutuhan teknologi dan dunia kerja. Sementara itu, perkembangan asesmen berbasis agentic AI memperlihatkan kemungkinan menuju pembelajaran yang semakin individual.

Dalam 12 bulan ke depan, perubahan tersebut berpotensi semakin terlihat. Tantangan terbesar bagi perguruan tinggi bukan sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan memastikan AI digunakan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, memperluas kemampuan manusia, dan tetap menempatkan mahasiswa sebagai pusat pendidikan.

FAQ

  1. Apa itu Agentic AI dalam pendidikan? Agentic AI adalah sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara lebih mandiri, termasuk merencanakan tindakan, melakukan pekerjaan, mengevaluasi hasil, dan menyesuaikan langkah berikutnya.
  2. Apa perbedaan AI biasa dan Agentic AI? AI biasa umumnya digunakan untuk membantu tugas tertentu, sedangkan Agentic AI dapat menjalankan rangkaian proses berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Bagaimana Agentic AI dapat mempersonalisasi pembelajaran? Sistem dapat menganalisis data kemampuan mahasiswa lalu menyesuaikan pertanyaan, materi, asesmen, dan rekomendasi belajar dengan kebutuhan masing-masing individu.
  4. Mengapa RPA mulai masuk ke kurikulum? RPA membantu mahasiswa memahami otomasi proses kerja sehingga keterampilan teknologi dapat dihubungkan dengan kebutuhan bisnis dan dunia profesional.
  5. Apakah Agentic AI akan menggantikan dosen? Tidak seharusnya. Agentic AI lebih tepat diposisikan sebagai teknologi pendukung, sedangkan dosen tetap memegang peran penting dalam pedagogi, konteks, etika, dan pengambilan keputusan akademik.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=Cn97V3oGXg0

Topik Terkait

Trending Hari Ini