Akademik & Riset

AI dalam Pendidikan: Naga atau Ksatria bagi Proses Belajar Siswa?

10 September 2026, 07:01 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Pada cerita klasik, naga biasanya hadir sebagai ancaman yang harus dikalahkan, sementara ksatria tampil sebagai penyelamat. Analogi tersebut menarik ketika digunakan untuk melihat perkembangan artificial intelligence (AI) generatif di dunia pendidikan.

Bagi sebagian guru dan institusi pendidikan, AI generatif pada awal kemunculannya lebih menyerupai naga. Teknologi ini dikhawatirkan mempermudah siswa membuat tugas tanpa memahami materi, menyalin jawaban, hingga mengaburkan batas antara karya sendiri dan hasil otomatisasi.

Namun, melihat AI hanya sebagai ancaman juga berisiko membuat pendidikan tertinggal dari perubahan teknologi. AI dapat membantu siswa mendapatkan penjelasan, memperoleh umpan balik, mengeksplorasi ide, bahkan berlatih memecahkan masalah. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah AI harus digunakan, tetapi untuk tujuan apa teknologi tersebut digunakan.

Ketika Teknologi Dianggap sebagai Kecurangan

Dinamika AI dapat dipahami melalui analogi olahraga lompat galah. Pada 1923, Charles Hoff mencatatkan rekor dunia 4,21 meter dengan menggunakan galah kayu keras.

Saat ini, standar tersebut telah berkembang jauh. Armand Duplantis mampu mencapai rekor 6,23 meter dengan dukungan teknologi galah yang jauh lebih fleksibel. Artinya, terdapat peningkatan sekitar 48 persen dibandingkan capaian Hoff.

Perubahan tersebut tidak berlangsung tanpa perdebatan. Ketika galah fleksibel mulai digunakan, sebagian pengguna teknologi lama menganggap alat baru tersebut sebagai bentuk kecurangan. Namun, seiring waktu, perhatian publik bergeser pada kemampuan atlet melewati palang, bukan semata-mata jenis galah yang digunakan.

Pertanyaan serupa muncul dalam pendidikan: apakah AI generatif merupakan “galah fleksibel” yang memungkinkan manusia mencapai hasil lebih tinggi?

Jawabannya tidak sederhana. Teknologi memang dapat memperluas kemampuan manusia, tetapi pendidikan memiliki tujuan yang berbeda dengan sekadar menghasilkan skor atau produk akhir.

Ketika Hasil Bagus Tidak Berarti Belajar

Salah satu persoalan terbesar penggunaan AI dalam pendidikan adalah munculnya ilusi pembelajaran. Seseorang dapat menghasilkan tulisan yang terlihat baik atau memperoleh jawaban yang benar tanpa benar-benar memiliki kemampuan untuk menghasilkan dan memahami pekerjaan tersebut secara mandiri.

Bayangkan seorang pelatih meminta atlet berlari untuk meningkatkan kebugaran. Jika atlet tersebut menggunakan kendaraan untuk mencapai garis akhir, tujuan perjalanan memang tercapai. Namun, latihan fisik yang seharusnya membentuk kemampuan justru tidak terjadi.

Hal yang sama dapat terjadi pada tugas akademik. Jika siswa menyerahkan seluruh proses berpikir, mencari argumen, menyusun tulisan, dan menyelesaikan masalah kepada AI, produk akhirnya mungkin terlihat berkualitas. Akan tetapi, proses pembentukan keterampilan di baliknya bisa hilang.

Prinsip ini penting karena proses merupakan bagian inti dari pembelajaran. Hambatan, kesalahan, revisi, dan usaha menemukan solusi justru merupakan mekanisme yang membuat seseorang menjadi lebih terampil.

Data Menunjukkan Masalahnya Nyata

Penggunaan AI oleh pelajar bukan lagi sekadar kemungkinan. Survei terhadap pemuda usia 15–24 tahun di Swedia menunjukkan bahwa 36 persen responden menggunakan AI generatif untuk tugas sekolah.

Yang menarik, dari kelompok pengguna tersebut, 55 persen mengaku menggunakan AI untuk menyontek. Sementara itu, 12 persen masih ragu apakah penggunaan yang mereka lakukan dapat dikategorikan sebagai kecurangan.

Angka tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih luas daripada sekadar pelanggaran aturan. Literasi AI dan pemahaman mengenai integritas akademik menjadi semakin penting karena batas antara “membantu belajar” dan “menggantikan pekerjaan siswa” dapat menjadi kabur.

AI Tidak Berdampak Sama bagi Semua Siswa

Dampak otomatisasi AI sangat dipengaruhi kemampuan awal pengguna. Bagi seseorang yang telah memiliki keterampilan kuat, AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas.

Demonstrasi GPT-4 yang dilakukan Greg Brockman, misalnya, menunjukkan bagaimana AI dapat mengubah sketsa tangan menjadi kode situs web dalam waktu singkat. Pengguna berpengalaman tetap dapat memeriksa, memahami, dan memperbaiki kode karena telah memiliki pengetahuan teknis sebelumnya.

Situasinya berbeda bagi pemula. Siswa yang belum memahami dasar pemrograman, penulisan, matematika, atau penelitian dapat menjadi terlalu bergantung pada AI. Mereka memperoleh hasil lebih cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun fondasi keterampilan.

Dilema serupa juga dapat terjadi pada guru. Otomatisasi dapat membantu mempercepat penilaian esai, tetapi membaca karya siswa secara langsung memberikan informasi penting mengenai pola kesalahan, kesulitan, dan perkembangan kemampuan mereka.

Mengubah AI Menjadi Pelatih Belajar

Solusi yang lebih produktif bukan melarang AI secara membabi buta, melainkan mengubah cara penggunaannya. AI sebaiknya ditempatkan sebagai pelatih atau pembimbing yang membantu siswa menghadapi tantangan, bukan sebagai mesin yang menghilangkan tantangan tersebut.

Pendekatan ini dapat dilakukan dengan sederhana. Siswa dapat mencoba menyelesaikan tugas sendiri terlebih dahulu, kemudian menggunakan AI untuk meminta umpan balik, mengidentifikasi kelemahan argumen, memberikan pertanyaan lanjutan, atau menjelaskan konsep yang belum dipahami.

Model semacam ini membuat siswa tetap menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran. AI berfungsi memberikan dukungan ketika diperlukan, sementara proses berpikir tetap dilakukan oleh manusia.

Pendekatan serupa terlihat dalam pemanfaatan GPT-4 oleh Khan Academy melalui Khanmigo. Teknologi tersebut dirancang untuk membimbing siswa menemukan solusi, bukan sekadar memberikan jawaban akhir.

Kesimpulan

AI dalam pendidikan tidak harus diposisikan sebagai naga atau ksatria secara mutlak. Teknologi yang sama dapat menjadi alat untuk meningkatkan pembelajaran sekaligus menjadi jalan pintas yang menghilangkan proses belajar.

Kuncinya terletak pada kesadaran pengguna dan desain pembelajaran. Ketika AI digunakan untuk memberikan umpan balik, mengajukan pertanyaan, membantu eksplorasi, dan memperkuat pemahaman, teknologi ini dapat menjadi pendamping belajar yang kuat.

Sebaliknya, ketika AI mengambil alih seluruh proses berpikir, siswa berisiko mendapatkan hasil tanpa memperoleh kemampuan yang seharusnya dibangun. Karena itu, tantangan pendidikan di era AI bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi memastikan manusia tetap belajar ketika teknologi semakin mampu melakukan banyak hal.

FAQ

  1. Apakah AI generatif boleh digunakan untuk tugas sekolah? Boleh jika penggunaannya sesuai aturan sekolah dan berfungsi mendukung proses belajar, bukan menggantikan seluruh pekerjaan siswa.
  2. Mengapa AI dapat menimbulkan ilusi pembelajaran? Karena seseorang dapat memperoleh hasil yang terlihat baik tanpa benar-benar memahami proses dan keterampilan yang diperlukan untuk menghasilkan hasil tersebut.
  3. Apakah AI selalu merugikan siswa pemula? Tidak, tetapi ketergantungan berlebihan dapat membuat siswa kehilangan kesempatan membangun keterampilan dasar secara mandiri.
  4. Bagaimana cara menggunakan AI secara sehat untuk belajar? Kerjakan tugas sendiri terlebih dahulu, kemudian gunakan AI untuk memperoleh umpan balik, penjelasan, pertanyaan latihan, atau membantu menemukan kelemahan dalam pekerjaan.
  5. Apa peran ideal AI dalam pendidikan? AI idealnya berperan sebagai pelatih, pembimbing, dan pemberi umpan balik yang memperkuat kemampuan manusia, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar.

Sumber : https://youtu.be/mEtAfbFr6RE?si=A_9t67Rb89T1-A2X

Topik Terkait

Trending Hari Ini