Kampus Times- Bayangkan pemerintah harus menentukan lokasi pembangunan sekolah, rumah sakit, jalan, atau fasilitas publik lainnya. Semua keputusan tersebut membutuhkan satu hal yang sering dianggap sederhana: angka yang benar.
Masalahnya, angka statistik tidak selalu mudah diperoleh. Ketika ekonomi semakin digital, pekerjaan semakin beragam, dan aktivitas masyarakat semakin sulit tercatat melalui survei konvensional, sistem statistik menghadapi tantangan baru.
Di sisi lain, kecerdasan buatan menawarkan kemampuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data dalam skala yang sebelumnya sulit dilakukan manusia.
Namun, ada satu peringatan penting: AI sangat pintar mengenali pola, tetapi belum tentu memahami makna di balik pola tersebut.
Ketika Angka yang Salah Menghasilkan Kebijakan yang Salah
Statistik bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Statistik menjadi dasar berbagai keputusan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Data mengenai jumlah penduduk, kondisi ekonomi, kebutuhan tenaga kerja, kesehatan, pendidikan, hingga pembangunan digunakan untuk menentukan bagaimana anggaran publik dialokasikan.
Jika data tersebut salah, keputusan yang dihasilkan juga berpotensi salah.
Arthur Turrell menggambarkan persoalan tersebut melalui analogi yang sederhana:
"A decision on the wrong kind of data is like a house built on quicksand."
Rumah yang dibangun di atas pasir tidak memiliki fondasi kuat. Demikian pula kebijakan yang dibangun berdasarkan data yang buruk dapat terlihat kokoh di atas kertas, tetapi mudah bermasalah ketika diterapkan di dunia nyata.
Karena itu, kualitas statistik bukan hanya persoalan akademis. Ia merupakan fondasi pengambilan keputusan publik.
Ekonomi Modern Semakin Sulit Diukur
Mengukur ekonomi beberapa dekade lalu relatif lebih sederhana. Produksi barang fisik seperti kendaraan, makanan, mesin, dan berbagai produk manufaktur dapat dihitung dengan metode yang cukup jelas.
Kini, sebagian besar aktivitas ekonomi bergeser ke sektor jasa.
Di Inggris, manufaktur dan pertanian jika digabungkan disebut hanya mencakup sekitar 10% dari total output ekonomi. Sebagian besar aktivitas ekonomi lainnya berada di sektor jasa, digital, dan berbagai pekerjaan berbasis pengetahuan.
Masalahnya, bagaimana mengukur nilai sebuah layanan digital? Bagaimana menghitung kontribusi pekerjaan kreatif? Bagaimana mencatat waktu seseorang merawat anggota keluarganya di rumah?
Banyak aktivitas penting tersebut tidak selalu muncul dalam transaksi ekonomi formal.
Bahkan konsep waktu luang sendiri memiliki sejarah yang relatif baru. Gagasan tentang weekend sebagai periode waktu luang baru berkembang sekitar dekade 1870-an.
Perubahan sosial semacam ini menunjukkan bahwa statistik harus terus beradaptasi dengan cara manusia hidup dan bekerja.
AI Disebut "Stupidly Smart"
Di sinilah AI mulai menawarkan peluang.
AI pada dasarnya sangat kuat dalam pattern recognition atau pengenalan pola. Sistem dapat menemukan hubungan dalam teks, gambar, maupun data numerik dalam skala yang sulit dilakukan manusia secara manual.
Kemampuan tersebut dapat menghasilkan pencapaian luar biasa.
AlphaFold, misalnya, menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan untuk memprediksi struktur protein. Sistem AI juga dapat membantu meningkatkan prakiraan cuaca dan menganalisis gambar dalam jumlah sangat besar.
Namun, kemampuan luar biasa tersebut datang dengan batasan.
"AI is only stupidly smart."
AI dapat sangat unggul dalam tugas yang sesuai dengan pola yang dipelajarinya. Tetapi ketika menghadapi situasi ambigu, konteks baru, atau sesuatu yang berada di luar distribusi data pelatihannya, performanya dapat menurun secara drastis.
Karena itu, AI tidak seharusnya diperlakukan sebagai mesin yang selalu benar.
AI adalah alat yang sangat kuat untuk menemukan pola, tetapi manusia tetap diperlukan untuk memahami apa arti pola tersebut dan keputusan apa yang seharusnya dibuat.
Satelit Menggantikan Sebagian Survei Konvensional
Salah satu penerapan menarik terdapat pada penggunaan citra satelit untuk statistik ekonomi.
US Census Bureau telah memanfaatkan citra satelit dan model segmentasi AI untuk mendeteksi pembangunan rumah baru. Dengan pendekatan tersebut, proses yang sebelumnya bergantung pada metode survei tradisional dapat dilakukan secara lebih cepat dan efisien.
AI tidak perlu menunggu seseorang mengisi formulir. Sistem dapat menganalisis perubahan visual pada permukaan bumi untuk memperkirakan aktivitas pembangunan.
Pendekatan serupa juga dapat digunakan untuk memahami perkembangan wilayah, perubahan penggunaan lahan, hingga berbagai indikator ekonomi.
Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana AI dapat mengubah statistik dari proses yang lambat menjadi sistem pengukuran yang lebih dinamis.
1.500 Kamera untuk Mengukur Mobilitas
Pandemi COVID-19 memberikan contoh lain mengenai bagaimana sumber data alternatif dapat digunakan.
Dalam pembahasan tersebut, tim statistik mengintegrasikan sekitar 1.500 kamera CCTV publik yang mengambil gambar setiap 10 menit untuk mengukur pergerakan masyarakat dan kendaraan.
Data tersebut membantu menghasilkan gambaran mengenai mobilitas masyarakat tanpa harus mengandalkan survei yang membutuhkan partisipasi langsung.
Namun, pendekatan seperti ini juga menunjukkan bahwa kemajuan statistik selalu memiliki dimensi etika. Semakin banyak sumber data digunakan untuk memahami masyarakat, semakin penting pula memastikan privasi, transparansi, keamanan, dan batas penggunaan data.
Teknologi dapat membuat pengukuran menjadi lebih cepat, tetapi kecepatan tidak boleh mengalahkan tanggung jawab.
AI Bisa Mempercepat Statistik hingga Berbulan-bulan
Salah satu persoalan statistik pemerintah adalah keterlambatan.
Data pertumbuhan ekonomi daerah di Inggris biasanya membutuhkan sekitar 14 hingga 15 bulan sebelum dapat dirilis. Dalam pembahasan ini, model AI eksperimental disebut mampu menghasilkan indikator awal hingga sekitar 14 bulan lebih cepat.
Jika teknologi semacam ini terus berkembang, pemerintah dapat memperoleh sinyal ekonomi jauh lebih dini.
Hal tersebut penting ketika ekonomi mengalami perubahan cepat. Kebijakan yang dibuat berdasarkan data satu tahun lalu mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
AI berpotensi mengubah statistik dari catatan masa lalu menjadi sistem peringatan dini.
Dari Black Death hingga Gulungan Vesuvius
Nilai statistik juga terlihat ketika data digunakan untuk memahami sejarah.
Wabah Black Death pada abad ke-14 memberikan contoh bagaimana perubahan populasi dapat memengaruhi ekonomi. Kematian antara sepertiga hingga separuh populasi Inggris mengurangi suplai tenaga kerja secara drastis dan kemudian berkontribusi terhadap peningkatan upah pekerja.
Di era modern, AI bahkan memungkinkan manusia membaca data dari masa lalu yang sebelumnya hampir mustahil diakses.
Dalam Proyek Vesuvius, teknologi sinar-X dan AI digunakan untuk membantu membaca gulungan papirus dari Herculaneum yang hangus akibat letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi tanpa harus menghancurkan material fisiknya.
Teknologi tersebut menunjukkan bahwa AI bukan hanya alat untuk masa depan. Ia juga dapat menjadi instrumen untuk membuka kembali pengetahuan masa lalu.
Masa Depan Statistik Adalah Kolaborasi
Perkembangan AI tidak berarti manusia tidak lagi diperlukan dalam statistik.
Sebaliknya, semakin banyak pekerjaan pengumpulan dan pengolahan data yang dapat diotomatisasi, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan pertanyaan yang tepat.
Masyarakat juga memiliki peran.
Partisipasi dalam survei statistik resmi mungkin terlihat sederhana, tetapi kualitas keputusan publik bergantung pada kualitas informasi yang tersedia. Jika masyarakat tidak berpartisipasi, sebagian realitas sosial dapat menghilang dari data.
Pada akhirnya, AI membutuhkan data, sementara statistik membutuhkan manusia yang bersedia membantu menghasilkan data tersebut.
Kesimpulan
AI menawarkan peluang besar untuk memperbaiki cara dunia mengukur ekonomi dan masyarakat. Citra satelit, pengenalan objek, analisis data, dan model prediktif dapat membuat statistik lebih cepat, murah, dan responsif.
Namun, teknologi tersebut bukan solusi otomatis untuk semua persoalan.
AI sangat kuat dalam mengenali pola, tetapi dapat kesulitan memahami konteks, ambiguitas, dan situasi yang belum pernah ditemuinya. Karena itu, manusia tetap dibutuhkan untuk menilai kualitas data, memahami makna angka, dan menentukan keputusan yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, prinsipnya sederhana:
ketika kita memiliki angka yang salah, kita berisiko membuat keputusan yang salah.
Dan di era AI, tantangannya bukan sekadar mengumpulkan lebih banyak data, tetapi memastikan data tersebut benar-benar menggambarkan dunia yang ingin kita pahami.
FAQ
- Mengapa data statistik penting bagi pemerintah? Data statistik menjadi dasar untuk mengalokasikan anggaran dan menentukan kebijakan di bidang seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, tenaga kerja, dan ekonomi.
- Mengapa ekonomi modern semakin sulit diukur? Karena aktivitas ekonomi semakin didominasi sektor jasa, digital, dan pekerjaan kreatif yang tidak selalu mudah dihitung menggunakan metode statistik tradisional.
- Apa arti AI disebut "stupidly smart"? Istilah tersebut menggambarkan AI yang sangat hebat pada tugas tertentu yang sesuai dengan pola pelatihannya, tetapi dapat kesulitan ketika menghadapi konteks ambigu atau situasi yang berbeda dari data yang dipelajari.
- Bagaimana AI membantu statistik pemerintah? AI dapat mengotomatisasi klasifikasi data, menganalisis citra satelit, menghitung objek, memproses sumber data alternatif, dan menghasilkan indikator ekonomi secara lebih cepat.
- Apakah AI dapat menggantikan manusia dalam statistik? Tidak sepenuhnya. AI dapat mempercepat pengumpulan dan analisis data, tetapi manusia tetap diperlukan untuk menentukan pertanyaan, mengevaluasi kualitas data, memahami konteks, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.