Life & Campus

Dari Gelisah Menuju Salam, Jalan Pulang Jiwa kepada Tuhan

14 September 2026, 10:06 WIB / Tutut Septia Wati
Dari Gelisah Menuju Salam, Jalan Pulang Jiwa kepada Tuhan

Dari Gelisah Menuju Salam, Jalan Pulang Jiwa kepada Tuhan

Kendari, Kampus Times- Kegelisahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tekanan pekerjaan, perubahan teknologi, derasnya informasi, persaingan, hingga tuntutan kehidupan digital sering membuat manusia memiliki banyak koneksi, tetapi tetap merasa jauh dari ketenangan.

QS. Ibrahim ayat 23 menghadirkan perspektif berbeda tentang tujuan akhir perjalanan manusia. Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sebagai golongan yang memperoleh kehidupan surga, keabadian, serta penghormatan berupa salam atau kedamaian.

Artinya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dimasukkan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan izin Tuhan mereka, sedangkan ucapan penghormatan mereka adalah “Salam”.

Ayat ini menjadi kontras dari berbagai gambaran tentang perjuangan, penolakan, ancaman, dan kezaliman yang terdapat dalam QS. Ibrahim. Pesannya jelas: perjuangan orang beriman tidak berakhir pada kesulitan. Ada tujuan yang lebih tinggi, yakni kehidupan yang berada dalam rahmat dan kedamaian Allah. 

Iman Harus Melahirkan Amal Saleh

Salah satu pesan penting QS. Ibrahim ayat 23 terdapat pada penyandingan antara iman dan amal saleh. Keimanan tidak berhenti sebagai pengakuan, tetapi harus terlihat dalam tindakan dan akhlak.

Kejujuran, keadilan, amanah, kasih sayang, ilmu yang bermanfaat, serta kepedulian kepada sesama merupakan bentuk nyata dari iman yang hidup. Karena itu, kualitas keberagamaan tidak hanya dapat dilihat dari apa yang seseorang katakan, tetapi juga dari bagaimana keyakinan tersebut membentuk perilakunya.

Imam al-Tabari menjelaskan bahwa orang beriman adalah mereka yang membenarkan Allah dan para rasul-Nya, sedangkan amal saleh berkaitan dengan ketaatan melalui pelaksanaan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Pandangan tersebut memperlihatkan hubungan erat antara keyakinan dan tindakan. Iman menjadi fondasi, sedangkan amal saleh menjadi manifestasi nyata dalam kehidupan.

Buya Hamka juga menempatkan iman sebagai sesuatu yang harus melahirkan perbuatan. Keimanan yang hidup semestinya membentuk manusia yang jujur, berani, bekerja, berbuat baik, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Salam, Puncak Kedamaian Manusia

Kata salam dalam penutup ayat memiliki makna yang sangat kuat. Kedamaian tidak hanya berarti terbebas dari konflik, tetapi juga keadaan ketika manusia terbebas dari ketakutan, kesedihan, permusuhan, dan berbagai bentuk kekurangan.

Al-Qurtubi memberikan perhatian pada makna salam sebagai gambaran keamanan dan keselamatan penghuni surga. Perspektif tersebut menunjukkan bahwa surga bukan hanya gambaran tentang kenikmatan fisik, tetapi juga puncak kedamaian eksistensial manusia.

Perspektif kontemporer tentang iman juga menempatkan kedamaian sebagai bagian dari kehidupan sosial. Iman seharusnya membuat seseorang mampu berdamai dengan Allah, dirinya sendiri, sesama manusia, dan lingkungan.

Karena itu, salam semestinya tidak hanya menjadi kata yang diucapkan, tetapi nilai yang diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.

Ketika Teknologi Tidak Selalu Membawa Ketenangan

Perkembangan teknologi menghadirkan kemudahan yang belum pernah dirasakan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung lintas batas, dan kecerdasan buatan atau AI semakin mampu membantu berbagai pekerjaan manusia.

Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana.

Manusia dapat memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi tetap menghadapi kecemasan, konflik, kesepian, dan krisis makna. Karena itu, perkembangan teknologi membutuhkan fondasi moral yang kuat.

AI dapat memproses informasi dan menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap bertanggung jawab terhadap keputusan dan dampak yang ditimbulkannya. Semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap etika, empati, tanggung jawab, dan kebijaksanaan.

Jejak Digital sebagai Bagian dari Amal

Kehidupan digital juga perlu dibaca sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Unggahan, komentar, video, pesan, maupun informasi yang dibagikan merupakan bentuk tindakan yang dapat memberikan manfaat atau justru menimbulkan kerusakan.

Seorang Muslim perlu mempertimbangkan nilai dari setiap aktivitas digital sebelum membagikannya. Pertanyaan sederhana dapat menjadi pengingat: apakah sesuatu yang dibagikan tersebut mendekatkan kepada kebaikan atau justru memperluas kebencian dan kerusakan?

Perspektif ini menjadikan media sosial bukan sekadar ruang berekspresi, tetapi juga ruang untuk menghadirkan amal saleh. Tulisan yang bermanfaat, informasi yang benar, serta komunikasi yang santun dapat menjadi bagian dari kontribusi sosial.

Jalan Pulang Menuju Kedamaian

QS. Ibrahim ayat 23 pada akhirnya mengingatkan manusia agar tidak menjadikan keberhasilan dunia sebagai satu-satunya ukuran kehidupan. Kekayaan, jabatan, popularitas, pengaruh, bahkan teknologi akan terus mengalami perubahan.

Hal yang lebih penting adalah arah perjalanan manusia. Iman menjadi fondasi, amal saleh menjadi bukti, dan kedamaian menjadi salah satu gambaran akhir yang dijanjikan Allah bagi orang-orang beriman.

Kesimpulan

QS. Ibrahim ayat 23 menggambarkan perjalanan orang beriman dari perjuangan menuju kehidupan yang penuh kedamaian. Ayat ini menegaskan pentingnya keselarasan antara iman dan amal saleh serta mengajarkan kerendahan hati karena keberhasilan akhir tetap berada dalam izin dan rahmat Allah.

Bagi manusia modern, pesan tersebut semakin relevan. Teknologi boleh berkembang, informasi boleh semakin melimpah, dan AI boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap membutuhkan iman, etika, dan kebijaksanaan. Pada akhirnya, tujuan kehidupan bukan sekadar menguasai dunia, melainkan menemukan jalan pulang kepada Allah dalam keadaan yang penuh salam.

FAQ

  1. Apa isi utama QS. Ibrahim ayat 23? Ayat ini menggambarkan orang beriman dan beramal saleh yang memperoleh surga, keabadian, serta kedamaian (salam) dengan izin Allah.
  2. Apa hubungan iman dan amal saleh? Iman menjadi dasar keyakinan, sedangkan amal saleh merupakan perwujudan iman dalam tindakan nyata.
  3. Apa makna salam dalam QS. Ibrahim ayat 23? Salam menggambarkan kedamaian, keselamatan, keamanan, dan terbebas dari berbagai bentuk ketakutan serta kesedihan.
  4. Apa kaitan ayat ini dengan teknologi? Kemajuan teknologi perlu diimbangi iman, etika, empati, dan tanggung jawab agar tidak hanya menghasilkan kecanggihan, tetapi juga kemaslahatan.
  5. Mengapa jejak digital dikaitkan dengan amal saleh? Unggahan, komentar, dan informasi yang dibagikan merupakan tindakan yang dapat menghasilkan manfaat maupun kerusakan sehingga perlu dipertanggungjawabkan secara moral.

Topik Terkait