Life & Campus

QS Maryam Ayat 62: Jalan dari Kebisingan Dunia Menuju Kedamaian Ilahi

2 September 2026, 21:28 WIB / Tutut Septia Wati
QS Maryam Ayat 62: Jalan dari Kebisingan Dunia Menuju Kedamaian Ilahi

QS Maryam Ayat 62: Jalan dari Kebisingan Dunia Menuju Kedamaian Ilahi

Kendari, Kampus Times- Di tengah kehidupan modern yang semakin dipenuhi suara, informasi, notifikasi, dan perdebatan, manusia justru menghadapi persoalan baru: sulit menemukan ketenangan. Fenomena tersebut menjadi refleksi menarik dalam kajian QS Maryam ayat 62, sebagaimana diulas Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Direktur PUNCAK UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI.

Melalui tema “Dari Kebisingan Dunia Menuju Keheningan Ilahi: Membaca QS. Maryam:62”, ayat tersebut dibaca tidak hanya sebagai gambaran mengenai kehidupan penghuni surga, tetapi juga sebagai kritik terhadap budaya komunikasi manusia yang semakin bising.

Catatan penting: teks ayat yang menjadi dasar pembahasan adalah QS Maryam ayat 62, bukan QS Al-Furqan ayat 62. Teks Arab yang digunakan dalam materi juga merupakan QS Maryam ayat 62.

QS Maryam Ayat 62 dan Gambaran Kehidupan Surga

Allah SWT berfirman:

Artinya, penghuni surga tidak mendengar perkataan yang sia-sia, kecuali ucapan salam. Mereka juga memperoleh rezeki pada pagi dan petang.

Ayat ini menggambarkan tiga karakter utama kehidupan surga, yakni terbebas dari laghw, dipenuhi salam, serta memperoleh rezeki yang mencukupi. Surga dengan demikian tidak hanya dipahami sebagai tempat penuh kenikmatan, tetapi sebagai ruang eksistensial yang bebas dari konflik, kecemasan, kesia-siaan, dan kekurangan.

Memahami Makna Laghw

Salah satu kata kunci dalam ayat tersebut adalah laghw. Secara umum, laghw merujuk pada perkataan atau aktivitas yang tidak memberikan manfaat, termasuk ucapan batil, berlebihan, buruk, atau tidak memiliki nilai moral.

Dalam kehidupan kontemporer, bentuk laghw dapat ditemukan dalam berbagai ruang komunikasi. Gosip, fitnah, penghinaan, provokasi, kebohongan, perdebatan tanpa tujuan, hingga konten yang sengaja memancing kemarahan dapat menjadi bentuk kebisingan komunikasi.

Persoalannya semakin kompleks ketika laghw masuk ke ruang digital. Algoritma media sosial kerap membuat konten kontroversial dan emosional memperoleh perhatian besar. Akibatnya, sesuatu yang paling ramai belum tentu menjadi sesuatu yang paling benar atau paling bermanfaat.

Salam sebagai Etika Kehidupan

Ayat tersebut menghadirkan kontras yang kuat antara laghw dan sal?m. Jika laghw melahirkan kebisingan, konflik, dan kegelisahan, maka sal?m mengarah pada kedamaian, keselamatan, dan ketenteraman.

Salam berasal dari akar kata Arab s-l-m yang berkaitan dengan keselamatan dan kedamaian. Karena itu, salam tidak seharusnya berhenti sebagai ucapan formal, tetapi menjadi etos kehidupan.

Masyarakat yang benar-benar menjadikan nilai Islam sebagai pedoman bukan sekadar masyarakat yang banyak mengucapkan salam. Lebih jauh, masyarakat tersebut harus mampu membuat orang lain merasa aman melalui kejujuran, penghormatan, kasih sayang, dan keadilan.

Rezeki sebagai Simbol Kecukupan

Frasa bukratan wa ‘asyiyya atau pagi dan petang menggambarkan kesinambungan rezeki bagi penghuni surga. Dalam penjelasan tafsir, ungkapan waktu tersebut tidak harus dipahami sebagai pola pagi dan sore sebagaimana kehidupan dunia.

Pesan yang dapat ditarik adalah adanya kecukupan dan kesinambungan nikmat. Ketika manusia tidak hidup dalam kekurangan, dorongan untuk iri, dengki, menipu, merampas, atau menzalimi sesama tidak lagi menjadi dasar hubungan sosial.

Relevansi QS Maryam Ayat 62 di Era Digital

Pesan QS Maryam ayat 62 menjadi semakin relevan ketika diterapkan pada kehidupan digital. Hari ini hampir setiap orang memiliki ruang untuk berbicara, tetapi tidak setiap perkataan memiliki nilai.

Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya, “Apakah saya bisa mengatakan ini?”, melainkan “Apakah perkataan ini membawa sal?m atau justru menjadi laghw?”

Transformasi etika digital dapat dimulai dari hal sederhana: menjadikan unggahan sebagai pesan yang bermanfaat, komentar sebagai ruang dialog, viralitas sebagai sarana kebermanfaatan, dan media sosial sebagai ruang persaudaraan.

Di tengah banjir informasi, manusia tidak hanya membutuhkan informasi lebih banyak. Manusia membutuhkan hikmah untuk menentukan informasi mana yang layak dipercaya, dibagikan, dan dijadikan dasar tindakan.

Pesan untuk AI, Pendidikan, dan Kepemimpinan

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat kemampuan menghasilkan teks, gambar, suara, video, dan informasi semakin mudah. Namun, kemampuan teknologi tersebut perlu berjalan bersama etika dan tanggung jawab.

Pertanyaan terpenting bukan lagi sekadar apakah teknologi mampu menghasilkan informasi, tetapi apakah informasi tersebut membawa manusia menuju kebenaran dan kedamaian atau justru memperbanyak kebisingan.

Nilai yang sama berlaku dalam pendidikan. Pendidikan idealnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pandai berbicara dan berargumentasi, tetapi juga manusia yang mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, serta bagaimana menggunakan ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan.

Dalam kepemimpinan, salam dapat diwujudkan melalui keadilan, dialog, keteladanan, penghormatan, dan kesejahteraan. Pemimpin yang baik bukan hanya mampu mengendalikan, tetapi juga menciptakan rasa aman bagi masyarakat.

Perspektif Sufistik: Membersihkan Kebisingan Batin

Dalam pembacaan sufistik, laghw dapat dipahami lebih dalam sebagai segala sesuatu yang menjauhkan hati dari Allah. Sebaliknya, salam menggambarkan ketenteraman batin yang lahir dari kedekatan kepada-Nya.

Manusia modern dapat terhubung dengan jutaan orang melalui teknologi, tetapi tetap merasa sunyi. Karena itu, persoalan manusia bukan semata-mata kekurangan informasi, melainkan sering kali kekurangan makna.

Perjalanan spiritual dapat dimaknai sebagai proses mengubah laghw menjadi hikmah, kebisingan menjadi zikir, konflik menjadi salam, dan kelalaian menuju makrifah.

Kesimpulan

QS Maryam ayat 62 menghadirkan gambaran mendalam tentang kehidupan yang terbebas dari laghw, dipenuhi salam, dan memperoleh kecukupan dari Allah. Pesannya melampaui gambaran kehidupan akhirat karena juga memberikan prinsip penting bagi kehidupan manusia di dunia.

Di tengah media sosial yang penuh perdebatan, manusia membutuhkan etika komunikasi. Di tengah banjir informasi, manusia membutuhkan hikmah. Di tengah kecanggihan AI, manusia membutuhkan nurani.

Pada akhirnya, jalan menuju kedamaian dapat dimulai dari kemampuan mengurangi perkataan yang sia-sia, menjaga hati dari kebencian, memperbanyak zikir, serta menghadirkan rasa aman bagi orang lain. Dari kebisingan dunia, manusia diajak menemukan keheningan yang membuat hati kembali mendengar panggilan Allah.

FAQ

  1. Apa isi QS Maryam ayat 62? QS Maryam ayat 62 menjelaskan bahwa penghuni surga tidak mendengar perkataan sia-sia, melainkan ucapan salam, serta memperoleh rezeki yang terus tersedia.
  2. Apa arti laghw dalam QS Maryam ayat 62? Laghw berarti perkataan atau aktivitas yang sia-sia, tidak bermanfaat, batil, atau tidak memiliki nilai kebaikan.
  3. Apa makna salam dalam ayat tersebut? Salam berkaitan dengan keselamatan, kedamaian, ketenteraman, dan sikap menghadirkan rasa aman bagi orang lain.
  4. Apa relevansi QS Maryam ayat 62 dengan media sosial? Ayat ini mengajarkan agar komunikasi digital tidak digunakan untuk menyebarkan provokasi, fitnah, penghinaan, dan konten yang tidak bermanfaat.
  5. Apa pesan sufistik QS Maryam ayat 62? Pesan sufistiknya adalah mengurangi kebisingan lahir dan batin agar hati lebih dekat kepada Allah, dengan mengubah laghw menjadi hikmah dan konflik menjadi salam.

Topik Terkait

Trending Hari Ini