Kendari, Kampus Times- Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, manusia kerap mengukur keberhasilan melalui jabatan, kekayaan, gelar, popularitas, jumlah pengikut, hingga pengaruh di media sosial. Namun, QS. Al-Furqan ayat 63 menawarkan ukuran yang berbeda: kualitas manusia justru terlihat dari cara ia berjalan di bumi dan cara ia merespons orang yang menyakitinya.
Allah menggambarkan ‘Ibad al-Rahman, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, sebagai mereka yang berjalan dengan hawnan dan ketika berhadapan dengan orang-orang jahil memilih berkata salama. Dua ungkapan tersebut mempertemukan gerak tubuh dan gerak jiwa dalam satu bangunan akhlak.
Makna ‘Ibad al-Rahman dalam Al-Qur’an
Frasa ‘Ibad al-Rahman berarti hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih. Penyebutan Al-Rahman memberi pesan penting bahwa kedekatan kepada Allah semestinya tercermin dalam kasih dan kelembutan terhadap kehidupan.
Spiritualitas tidak berhenti pada ibadah personal. Ia seharusnya tampak dalam hubungan manusia dengan sesama, terutama ketika seseorang menghadapi perbedaan, kritik, hinaan, atau provokasi.
Orang yang memiliki ilmu tetapi gemar merendahkan, memiliki jabatan tetapi suka menghina, atau rajin beribadah tetapi mudah menyebarkan kebencian perlu kembali mengevaluasi kualitas pengabdiannya. Sebab, penghambaan kepada Allah Yang Maha Pengasih idealnya melahirkan rahmah dalam kehidupan sosial.
Hawnan: Berjalan di Bumi Tanpa Kesombongan
Allah berfirman bahwa ‘Ibad al-Rahman adalah mereka yang yamsyuna ‘alal-ardi hawnan, berjalan di bumi dengan hawnan. Maknanya bukan sekadar berjalan lambat atau menundukkan kepala.
Dalam penjelasan ulama tafsir klasik, hawnan berkaitan dengan hilm, sakinah, dan waqar: kelembutan, ketenangan, dan kewibawaan. Karena itu, yang menjadi persoalan bukan cepat atau lambatnya langkah, melainkan kesombongan yang menyertai langkah tersebut.
Seseorang dapat berjalan cepat tetapi tetap rendah hati. Sebaliknya, seseorang dapat berjalan lambat tetapi menyimpan kesombongan. Dengan demikian, cara berjalan menjadi simbol dari cara manusia memahami keberadaannya di bumi.
Taw?adu‘ Bukan Rendah Diri
Kerendahan hati juga tidak boleh disamakan dengan rendah diri. Tawadu' berarti mampu mengetahui kelebihan diri tanpa menjadikan kelebihan tersebut sebagai alasan untuk menganggap orang lain lebih rendah.
Seorang profesor dapat tetap tawaduk. Seorang pemimpin dapat tetap rendah hati. Demikian pula seseorang yang memiliki kekayaan, jabatan, ilmu, atau pengaruh tidak harus kehilangan martabat hanya karena ia memilih tidak menyombongkan diri.
Justru, semakin besar amanah yang dimiliki, semakin besar pula kebutuhan untuk mengendalikan ego.
Qalu Salama: Ketika Kebodohan Tidak Dibalas dengan Kebodohan
Bagian kedua QS. Al-Furqan ayat 63 menghadirkan ujian yang lebih berat. Allah menyebut kondisi ketika orang-orang jahil menyapa mereka.
Al-jahilun dalam konteks ini tidak semata-mata menunjuk orang yang tidak berpendidikan. Ia dapat merujuk pada perilaku yang kehilangan kendali moral: kasar, provokatif, menghina, mencaci, dan bertindak tanpa pertimbangan adab.
Respons ‘Ibad al-Rahman adalah qalu salama. Mereka tidak membiarkan keburukan orang lain mengubah karakter mereka sendiri.
Prinsip ini menunjukkan bahwa kematangan spiritual terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan respons. Diam karena takut berbeda dengan diam karena matang. Tidak membalas karena tidak mampu berbeda dengan tidak membalas karena memiliki kekuatan untuk memilih akhlak.
Akhlak Lebih Tinggi daripada Kemenangan Debat
Dalam kehidupan sosial, manusia sering terjebak pada keinginan untuk menjadi pihak yang menang. Perdebatan kemudian berubah menjadi pertarungan ego.
QS. Al-Furqan ayat 63 mengajarkan orientasi yang berbeda. Kebenaran tetap dapat dipertahankan tanpa harus menghilangkan kehormatan orang lain. Prinsip dapat ditegakkan tanpa penghinaan.
Inilah bentuk kemenangan yang lebih dalam: bukan mengalahkan manusia lain, tetapi mengalahkan ego dalam diri sendiri.
Relevansi QS. Al-Furqan: 63 di Era Digital
Pesan ayat ini semakin aktual ketika komunikasi manusia berpindah ke media sosial. Di ruang digital, seseorang dapat menghina, menyerang, atau mempermalukan orang lain hanya melalui komentar dan unggahan.
Karena itu, hawnan dapat dibaca sebagai etika untuk tidak menjadikan media sosial sebagai panggung superioritas. Sementara qalu salama menjadi prinsip dalam menghadapi komentar provokatif.
Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kemarahan. Tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.
Jangan Menjadi “Jahil Digital”
Kemajuan pendidikan dan teknologi tidak otomatis membuat seseorang matang secara moral. Seseorang dapat memiliki gelar akademik tinggi, memahami teknologi, bahkan memiliki jutaan pengikut, tetapi tetap gagal mengendalikan emosinya.
Fenomena cyberbullying, ujaran kebencian, perundungan, dan budaya mempermalukan orang lain menunjukkan pentingnya literasi moral di ruang digital.
Literasi digital tanpa literasi etis berisiko membuat manusia semakin canggih dalam menyebarkan keburukan.
Hal yang sama berlaku dalam penggunaan kecerdasan buatan. AI dapat membantu menghasilkan teks, gambar, video, dan suara dengan cepat, tetapi manusia tetap bertanggung jawab menentukan apakah teknologi tersebut digunakan secara benar, bermanfaat, dan menghormati martabat manusia.
Masa depan teknologi karena itu membutuhkan bukan hanya artificial intelligence, tetapi juga moral intelligence.
Tafsir Eksistensial: Bagaimana Manusia Berjalan di Bumi?
Secara eksistensial, QS. Al-Furqan ayat 63 mengajak manusia mempertanyakan kesadaran yang berada di balik setiap langkah kehidupan.
Apakah manusia berjalan di bumi sebagai pemilik mutlak? Sebagai penguasa? Ataukah sebagai hamba dan khalifah yang menerima amanah?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut menentukan karakter. Ketika manusia merasa dirinya sebagai pusat segala sesuatu, kesombongan mudah tumbuh. Sebaliknya, kesadaran sebagai hamba Allah melahirkan kerendahan hati.
Di sinilah hawnan memiliki makna filosofis yang mendalam. Manusia berjalan dengan kaki di bumi, tetapi orientasi batinnya tetap menghadap kepada Allah.
Dari Ego Menuju Rahmah
Dalam perspektif tasawuf, ayat ini dapat dibaca sebagai perjalanan menundukkan ego. Hawnan menggambarkan kelembutan langkah, sedangkan salama menggambarkan kedamaian respons.
Ego berkata, “Aku harus menang.” Jiwa yang matang berkata, “Aku harus tetap benar tanpa kehilangan kasih.”
Ego ingin membalas penghinaan. Kesadaran spiritual memilih agar keburukan orang lain tidak menentukan akhlaknya.
Pesan tersebut berhubungan dengan QS. Luqman ayat 18 tentang larangan berjalan dengan angkuh, QS. Al-Qasas ayat 55 tentang berpaling dari perkataan sia-sia, serta QS. Fussilat ayat 34 tentang membalas keburukan dengan cara yang lebih baik.
Kemuliaan Tanpa Kesombongan
Tradisi pemikiran Islam juga menunjukkan bahwa tawadu' tidak berarti kehilangan harga diri. Manusia tetap boleh memiliki kehormatan, prestasi, dan posisi sosial, tetapi semuanya dipandang sebagai amanah, bukan alasan untuk menguasai atau merendahkan orang lain.
Semakin tinggi seseorang dalam kedudukan sosial, semestinya semakin besar kesadarannya terhadap keterbatasan diri.
Karena itu, kemuliaan tidak selalu tampak dari suara yang paling keras. Kadang-kadang ia justru hadir melalui ketenangan, kesabaran, dan kemampuan memilih kata ketika orang lain memilih menyerang.
Kesimpulan
QS. Al-Furqan ayat 63 menghadirkan gambaran manusia ideal melalui karakter ‘Ibad al-Rahman: rendah hati ketika menjalani kehidupan dan damai ketika menghadapi kebodohan.
Makna hawnan mengajarkan manusia untuk berjalan tanpa kesombongan, sedangkan qalu salama mengajarkan pengendalian diri agar keburukan tidak dibalas dengan keburukan. Keduanya menunjukkan bahwa spiritualitas sejati tidak hanya terlihat dalam ritual, tetapi juga dalam cara seseorang memperlakukan manusia lain.
Di era media sosial dan kecerdasan buatan, pesan tersebut semakin penting. Kemajuan teknologi harus berjalan bersama kematangan moral.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya dinilai dari seberapa besar pengaruhnya, seberapa tinggi kedudukannya, atau seberapa keras suaranya terdengar. Ukuran yang lebih mendalam adalah seberapa damai kehadirannya bagi kehidupan.
Bumi yang kita pijak bukan ruang untuk meninggikan ego, melainkan ruang amanah untuk berjalan dengan rendah hati menuju Allah.
FAQ
- Apa isi utama QS. Al-Furqan ayat 63? Ayat ini menjelaskan karakter ‘Ibad al-Rahman yang berjalan dengan rendah hati dan merespons orang jahil dengan perkataan yang damai.
- Apa arti hawnan dalam QS. Al-Furqan ayat 63? Hawnan bermakna kelembutan, ketenangan, kewibawaan, dan sikap bebas dari kesombongan.
- Apa makna qalu salama? Ungkapan ini menggambarkan respons yang baik dan terkendali ketika menghadapi perkataan atau perilaku orang yang jahil.
- Apakah tawadu‘ berarti rendah diri? Tidak. Tawadu‘ adalah kerendahan hati yang membuat seseorang mampu mengenali kelebihan diri tanpa merendahkan orang lain.
- Mengapa QS. Al-Furqan ayat 63 relevan di era digital? Karena ayat ini memberikan prinsip pengendalian diri, etika komunikasi, dan penolakan terhadap kebencian yang sangat dibutuhkan dalam interaksi media sosial.