Life & Campus

QS. Al-Mumtahanah Ayat 7: Saat Dendam Berubah Menjadi Mawaddah

8 September 2026, 09:52 WIB / Tutut Septia Wati
QS. Al-Mumtahanah Ayat 7: Saat Dendam Berubah Menjadi Mawaddah

QS. Al-Mumtahanah Ayat 7: Saat Dendam Berubah Menjadi Mawaddah

Kendari, Kampus Times- Permusuhan sering membuat manusia merasa bahwa hubungan yang rusak tidak mungkin dipulihkan. Luka masa lalu, pengkhianatan, perbedaan kepentingan, hingga konflik berkepanjangan dapat membuat seseorang menganggap pihak lain sebagai musuh untuk selamanya.

Namun, QS. Al-Mumtahanah ayat 7 menghadirkan perspektif yang berbeda. Ayat ini mengingatkan bahwa hubungan antarmanusia dapat berubah karena Allah memiliki kuasa untuk membalikkan keadaan hati.

Allah berfirman:

Artinya, “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa musuh hari ini belum tentu menjadi musuh selamanya. Kebencian dapat berubah menjadi kasih sayang, sementara konflik dapat menemukan jalan menuju perdamaian.

Makna Mawaddah: Lebih dari Sekadar Berhenti Bertikai

Salah satu kata penting dalam ayat ini adalah mawaddah. Istilah tersebut tidak sekadar menggambarkan kondisi ketika dua pihak berhenti berkonflik, tetapi juga mengandung dimensi kasih sayang dan kedekatan hati.

Dengan demikian, tujuan hubungan sosial dalam perspektif ayat ini bukan hanya mengakhiri pertikaian. Lebih jauh, manusia diarahkan untuk membangun kembali kemanusiaan yang sempat rusak akibat permusuhan.

Konteks Surah Al-Mumtahanah juga memperlihatkan keseimbangan tersebut. Al-Qur’an mengajarkan ketegasan terhadap pihak yang memusuhi dan memerangi, tetapi ketegasan itu tidak berarti mengabadikan kebencian kepada seluruh manusia.

Allah Berkuasa Mengubah Hati

Frasa wallahu qadir atau “Allah Mahakuasa” menjadi sangat penting. Manusia terkadang merasa bahwa seseorang tidak akan pernah berubah karena melihat kesalahan dan sejarah masa lalunya.

Al-Qur’an justru membuka kemungkinan lain. Allah dapat mengubah keadaan, memberikan kesadaran, membuka pintu pertobatan, dan mempertemukan manusia kembali dalam hubungan yang lebih baik.

Pesan ini juga diperkuat dengan penutup ayat, wallahu ghafurur rahim. Pengampunan dan kasih sayang menjadi fondasi penting dalam proses rekonsiliasi.

Pandangan Ulama tentang Permusuhan dan Rekonsiliasi

Dalam penafsiran klasik, Al-Tabari menjelaskan ayat ini sebagai harapan bahwa Allah dapat menciptakan kasih sayang antara kaum Muslimin dan pihak-pihak yang sebelumnya memusuhi mereka. Sejarah kemudian menunjukkan bahwa sebagian pihak yang sebelumnya berada dalam posisi berlawanan dapat berubah dan menjadi bagian dari komunitas Muslim.

Ibn Kath?r juga menempatkan ayat ini dalam rangkaian pembahasan mengenai hubungan dengan kelompok yang berbeda. Pesan yang terlihat adalah adanya keseimbangan antara ketegasan menghadapi permusuhan dan keterbukaan terhadap hubungan yang damai.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menjadikan perbedaan identitas sebagai alasan otomatis untuk bermusuhan. Yang menjadi persoalan adalah tindakan permusuhan, kezaliman, dan agresi.

Dari Dendam Menuju Kedewasaan Spiritual

Pesan QS. Al-Mumtahanah ayat 7 semakin relevan ketika dikaitkan dengan kehidupan modern. Polarisasi politik, konflik sosial, perbedaan pandangan, dan perdebatan di media sosial sering membuat manusia mudah membangun garis pemisah antara “kami” dan “mereka”.

Dalam kondisi seperti itu, lawan pendapat sering diperlakukan sebagai musuh pribadi. Perbedaan pilihan bahkan dapat berkembang menjadi kebencian yang berlangsung jauh setelah persoalan awal selesai.

Ayat ini menawarkan etika berbeda: tegas terhadap kezaliman, tetapi tidak menjadikan kebencian sebagai identitas diri.

Relevansi di Era Digital

Media sosial memungkinkan sebuah konflik menyebar dalam hitungan detik. Ujaran kebencian, fitnah, penghinaan, cyberbullying, hingga manipulasi informasi dapat memperpanjang permusuhan tanpa batas.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika jejak digital membuat kesalahan seseorang terus diingat. Seseorang dapat berubah, bertobat, dan memperbaiki diri, tetapi masyarakat terkadang tetap mengurungnya dalam kesalahan masa lalu.

Di sinilah pesan al-Ghafur dan ar-Rahim menjadi penting. Pertanggungjawaban tetap diperlukan, tetapi manusia juga perlu memiliki etika untuk mengakui perubahan dan memberikan kesempatan memperbaiki diri.

Dari ‘Adawah Menuju Mawaddah

Secara spiritual, ayat ini dapat direnungkan sebagai perjalanan dari ‘adawah menuju mawaddah, dari permusuhan menuju kasih sayang.

Musuh terbesar manusia terkadang bukan orang lain, melainkan ego, kesombongan, dendam, prasangka, dan keinginan untuk selalu menang. Karena itu, perdamaian sosial tidak dapat dilepaskan dari pembenahan hati.

Pesan tersebut juga penting dalam perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Teknologi dapat membantu manusia menyebarkan informasi, tetapi manusia tetap bertanggung jawab menentukan apakah teknologi digunakan untuk mempertemukan atau justru memperbesar perpecahan.

Kesimpulan

QS. Al-Mumtahanah ayat 7 adalah ayat tentang harapan terhadap perubahan manusia. Ayat ini mengajarkan bahwa permusuhan tidak harus diwariskan selamanya dan masa lalu tidak selalu menentukan masa depan.

Allah mampu mengubah kebencian menjadi mawaddah, konflik menjadi perdamaian, serta kesalahan menjadi pintu pertobatan. Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk tetap tegas terhadap kezaliman tanpa kehilangan kemampuan untuk berharap pada perubahan.

Di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi dan ruang digital yang mudah memperpanjang konflik, pesan ayat ini terasa semakin relevan: jangan biarkan dendam menjadi tempat tinggal bagi hati, karena rahmat Allah selalu membuka kemungkinan bagi perdamaian.

FAQ

  1. Apa isi utama QS. Al-Mumtahanah ayat 7? Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mampu mengubah hubungan permusuhan menjadi kasih sayang (mawaddah).
  2. Apa arti mawaddah dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 7? Mawaddah bermakna kasih sayang dan kedekatan yang lebih dalam daripada sekadar berhenti bertikai.
  3. Apakah Islam membenarkan permusuhan terhadap semua orang yang berbeda? Tidak. Islam membedakan antara pihak yang melakukan permusuhan dan mereka yang hidup secara damai meskipun berbeda identitas atau keyakinan.
  4. Apa relevansi QS. Al-Mumtahanah ayat 7 dengan media sosial? Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak memperpanjang kebencian melalui ujaran, fitnah, penghinaan, atau konflik digital.
  5. Apa pesan spiritual paling penting dari ayat ini? Manusia tidak boleh menganggap seseorang atau suatu hubungan mustahil berubah karena Allah Mahakuasa membalikkan keadaan hati.

Topik Terkait

Trending Hari Ini