Life & Campus

Dari Algoritma Menuju Al-Hamd: Jalan Pulang ke Dar al-Salam dalam QS Yunus Ayat 10

29 Agustus 2026, 09:29 WIB / Tutut Septia Wati
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kendari, Kampus Times- Di era digital, hampir segala sesuatu dapat diukur. Jumlah pengikut, likes, views, komentar, hingga tingkat keterlibatan pengguna menjadi angka yang menentukan bagaimana seseorang dipandang dalam ruang digital.

Algoritma bekerja membaca kebiasaan manusia. Ia mengetahui konten yang sering dilihat, diklik, disukai, bahkan dibagikan. Namun, ada satu wilayah yang tidak pernah sepenuhnya dapat dihitung oleh algoritma: kedalaman hati manusia.

Seseorang dapat memiliki jutaan pengikut tetapi tetap merasa kesepian. Ia bisa memperoleh ribuan likes, tetapi masih membutuhkan pengakuan. Manusia bahkan dapat terhubung dengan berbagai penjuru dunia melalui layar, tetapi justru kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri dan Tuhannya.

Di tengah kondisi tersebut, QS Yunus ayat 10 menawarkan perspektif spiritual yang menarik. Ayat ini menggambarkan kehidupan penghuni surga melalui tiga ungkapan penting: tasbih, salam, dan al-hamd.

“Doa mereka di dalamnya ialah, ‘Mahasuci Engkau, ya Allah,’ dan salam penghormatan mereka di dalamnya ialah, ‘Salam.’ Dan penutup doa mereka ialah, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."

QS Yunus Ayat 10 dan Gambaran Kehidupan Surgawi

Menariknya, ketika Al-Qur’an menggambarkan kehidupan surga, penekanannya tidak hanya pada kenikmatan material. Bahasa yang digunakan justru sangat spiritual: Subhanaka Allahumma, salam, dan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin.

Ketiganya dapat dipahami sebagai gambaran keadaan jiwa yang telah menemukan kedamaian bersama Allah. Surga bukan hanya tempat yang indah, tetapi juga keadaan ketika manusia terbebas dari kegelisahan, konflik batin, dan keterikatan berlebihan terhadap dunia.

Pesan tersebut terasa relevan bagi manusia digital yang hidup dalam arus informasi tanpa henti.

Dari Kebisingan Digital Menuju Tasbih

Dunia digital adalah ruang yang penuh suara. Notifikasi datang silih berganti, berita bergerak setiap detik, opini bermunculan tanpa batas, sementara kontroversi baru sering muncul sebelum persoalan sebelumnya selesai.

Kondisi ini membuat manusia mengalami kelebihan informasi. Banyaknya informasi tidak selalu menghasilkan pengetahuan, sementara pengetahuan juga belum tentu melahirkan kebijaksanaan.

Di sinilah makna Subhanaka Allahumma menjadi penting. Tasbih bukan sekadar ucapan untuk menyucikan Allah, tetapi juga latihan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Mengucapkan Subhanallah mengajarkan manusia untuk tidak merasa paling tahu. Dalam ruang digital, kesadaran ini sangat penting agar seseorang tidak terburu-buru menghakimi, menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, atau menganggap pendapat pribadi sebagai kebenaran mutlak.

Tasbih pada akhirnya mengajarkan kerendahan hati epistemologis: manusia harus menyadari bahwa pengetahuannya terbatas

Dari Budaya Like Menuju Al-Hamd

Persoalan lain dalam kehidupan digital adalah budaya validasi. Likes, followers, komentar, dan viralitas sering berubah menjadi ukuran tidak tertulis mengenai keberhasilan seseorang.

Padahal, Al-Qur’an menawarkan paradigma yang berbeda melalui al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin. Al-hamd mengajarkan manusia untuk mengembalikan segala pujian kepada Allah sebagai sumber seluruh nikmat dan kebaikan.

Kesadaran al-hamd membuat seseorang tidak menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia. Ia dapat menerima pujian tanpa mabuk popularitas dan menerima kritik tanpa kehilangan martabat.

Syukur sebagai Cara Memandang Kehidupan

Al-hamd juga bukan sekadar ucapan setelah memperoleh sesuatu. Ia merupakan cara memandang kehidupan.

Keberhasilan disyukuri karena manusia menyadari adanya pertolongan Allah. Kegagalan pun dapat diterima sebagai ruang belajar dan introspeksi. Kepemilikan tidak membuat manusia diperbudak harta, sedangkan pujian tidak membuatnya kehilangan kendali atas diri.

Dengan demikian, al-hamd membebaskan manusia dari ketergantungan terhadap validasi eksternal.

Dar al-Salam dan Kerinduan Jiwa

Dalam QS Yunus ayat 25, Allah berfirman:

“Dan Allah menyeru manusia ke Dar al-Salam (negeri keselamatan/kedamaian).”

Dar al-Salam dapat dipahami sebagai negeri keselamatan dan kedamaian. Secara spiritual, konsep ini menggambarkan arah perjalanan manusia: dari kegelisahan menuju ketenteraman, dari keterpecahan menuju keutuhan, serta dari ego menuju kedekatan dengan Allah.

Ironisnya, teknologi yang dirancang untuk menghubungkan manusia terkadang justru menghadirkan keterasingan. Seseorang dapat berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi kesulitan berbicara secara mendalam dengan orang yang berada di sebelahnya.

Karena itu, persoalan manusia modern bukan hanya kurangnya koneksi, tetapi juga hilangnya kedalaman.

Algoritma Tidak Mengenal Kedalaman Jiwa

Algoritma dapat membaca pola perilaku manusia. Ia dapat memprediksi konten yang menarik perhatian berdasarkan aktivitas digital seseorang.

Namun, algoritma tidak memahami manusia secara utuh. Ia dapat mengetahui apa yang diklik, tetapi tidak sepenuhnya mengetahui mengapa seseorang menangis. Ia dapat memprediksi apa yang disukai, tetapi tidak otomatis memahami apa yang membuat hidup seseorang bermakna.

Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital karena itu perlu berjalan bersama perkembangan kecerdasan moral dan spiritual.

Pertanyaan penting bukan hanya apa yang dapat dilakukan teknologi, tetapi untuk apa teknologi digunakan dan manusia seperti apa yang menggunakannya.

Jika teknologi berada di tangan manusia yang dikuasai keserakahan, ia dapat menjadi alat eksploitasi. Jika dikuasai kebencian, teknologi dapat menjadi sarana propaganda. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi instrumen kemaslahatan ketika digunakan oleh manusia yang memiliki hati yang sehat.

Tasbih, Salam, dan Hamd sebagai Etika Digital

QS Yunus ayat 10 dapat menjadi inspirasi etika spiritual dalam kehidupan digital.

Pertama, tasbih. Sebelum berbicara, manusia perlu menyadari keterbatasan dirinya. Jangan merasa paling tahu dan jangan terburu-buru menghakimi.

Kedua, salam. Kehadiran di ruang digital semestinya menghadirkan kedamaian. Media sosial tidak seharusnya menjadi tempat mempermalukan, menghina, memfitnah, atau merusak martabat orang lain.

Sebelum menekan tombol kirim, seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kalimat ini membawa salam atau justru membawa luka?

Ketiga, al-hamd. Jangan biarkan algoritma menentukan harga diri. Jumlah likes bukan ukuran kemuliaan, followers bukan ukuran kedalaman, dan viralitas bukan ukuran kebenaran.

Nilai manusia jauh lebih besar daripada angka yang tampil di layar.

Dari Algoritma Menuju Kesadaran

Islam tidak mengajarkan manusia untuk memusuhi teknologi. Teknologi adalah alat, demikian pula algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan.

Persoalannya muncul ketika manusia justru menjadi alat bagi teknologi. Notifikasi, tren, dan ekonomi perhatian perlahan menentukan bagaimana manusia berpikir, merasa, bahkan menilai dirinya sendiri.

Perjalanan dari algoritma menuju al-hamd karena itu merupakan perjalanan spiritual: dari dikendalikan perhatian menuju kesadaran, dari validasi menuju syukur, dari kebisingan menuju kedamaian, dan dari ego menuju Allah.

Jalan Pulang ke Dar al-Salam

Pada akhirnya, QS Yunus ayat 10 bukan hanya menggambarkan ucapan penghuni surga. Ayat tersebut juga dapat menjadi cermin mengenai manusia seperti apa yang sedang dibentuk dalam kehidupan dunia.

Tasbih membersihkan pandangan. Salam membersihkan hubungan. Hamd membersihkan hati.

Ketiganya mengarahkan manusia menuju Dar al-Salam, sebuah tujuan yang tidak dapat dicapai hanya dengan semakin banyak koneksi digital atau semakin tinggi popularitas.

Manusia tidak perlu meninggalkan teknologi, tetapi perlu menempatkannya pada posisi yang benar. Teknologi harus membantu manusia menjadi lebih bermanfaat, bukan membuat manusia kehilangan arah.

Kesimpulan

Di tengah dunia yang semakin dikendalikan angka dan algoritma, QS Yunus ayat 10 mengingatkan bahwa kedalaman manusia tidak dapat direduksi menjadi data. Tasbih mengajarkan kerendahan hati, salam membangun kedamaian, sementara al-hamd menumbuhkan syukur dan membebaskan manusia dari ketergantungan terhadap validasi.

Jalan menuju Dar al-Salam pada akhirnya bukan perjalanan mengejar semakin banyak pengikut, likes, atau popularitas. Ia adalah perjalanan pulang kepada Allah.

Jangan sampai manusia begitu sibuk mengikuti algoritma hingga lupa mengikuti petunjuk-Nya. Jangan sampai begitu sibuk membangun citra di hadapan dunia hingga kehilangan hubungan dengan Tuhan.

Barangkali, jalan pulang itu sesederhana tiga kesadaran: Sub?anaka Allahumma, salam, dan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin.

FAQ

  1. Apa isi utama QS Yunus ayat 10? Ayat ini menggambarkan ucapan penghuni surga berupa tasbih, salam, dan al-hamd kepada Allah.
  2. Apa makna al-hamd dalam kehidupan digital? Al-hamd mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan likes, followers, atau popularitas sebagai ukuran utama nilai diri.
  3. Apa hubungan Dar al-Salam dengan kehidupan modern? Dar al-Salam menggambarkan tujuan spiritual manusia menuju keselamatan, ketenteraman, dan kedamaian bersama Allah.
  4. Mengapa algoritma tidak dapat memahami manusia secara utuh? Algoritma dapat membaca pola perilaku dan preferensi, tetapi tidak mampu sepenuhnya memahami kedalaman hati, makna hidup, dan pengalaman batin manusia.
  5. Bagaimana QS Yunus ayat 10 dapat menjadi etika digital? Tasbih mengajarkan kerendahan hati, salam mendorong komunikasi yang damai, dan al-hamd membangun rasa syukur tanpa bergantung pada validasi digital.

Topik Terkait

Trending Hari Ini