Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan atau AI sedang mengubah salah satu pertanyaan paling mendasar tentang manusia: apa sebenarnya yang membuat seseorang disebut cerdas?
Selama bertahun-tahun, pendidikan banyak menghubungkan kecerdasan dengan kemampuan mengingat informasi, menguasai fakta, memperoleh nilai tinggi, dan menyelesaikan soal dengan cepat. Namun, kehadiran large language model (LLM) membuat ukuran tersebut semakin tidak relevan.
Bagi matematikawan Ken Ono, berusaha mengalahkan AI dalam mengumpulkan dan menghafal pengetahuan adalah perlombaan yang tidak seimbang. Manusia seperti berusaha menandingi sepeda motor dengan berlari.
Ketika Pengetahuan Menjadi Murah
Salah satu perubahan terbesar akibat AI adalah biaya untuk memperoleh pengetahuan yang semakin rendah. Informasi yang sebelumnya membutuhkan bertahun-tahun pendidikan, membaca puluhan buku, atau mengakses perpustakaan akademik kini dapat dicari dan dijelaskan dalam hitungan detik.
LLM bahkan dapat dipandang sebagai "pustakawan paling luar biasa" yang pernah dimiliki manusia. Jika sebuah pengetahuan telah dituliskan dan tersedia dalam materi yang dapat dipelajari model, kemungkinan besar AI telah menemukan pola atau informasi yang berkaitan dengannya.
Situasi tersebut membuat manusia tidak lagi unggul hanya karena mampu menyimpan lebih banyak fakta.
"Knowledge quickly became cheap. If our goal is to always stay ahead of AI then I think we're going to lose."
Persoalannya bukan bagaimana manusia menghafal lebih banyak daripada AI, melainkan bagaimana manusia menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Di sinilah kemampuan bernalar, berpikir kritis, kreativitas, dan pertimbangan manusia menjadi semakin penting.
Dari Mengingat Jawaban ke Merumuskan Pertanyaan
AI dapat memberikan jawaban dengan sangat cepat. Namun, kualitas jawaban sering kali bergantung pada kualitas pertanyaan yang diberikan.
Kemampuan menentukan masalah apa yang layak diteliti, pertanyaan apa yang harus diajukan, dan arah mana yang sebaiknya ditempuh menjadi bentuk kecerdasan yang semakin bernilai.
Dalam konteks pendidikan tinggi, hal ini membuat keberadaan dosen dan universitas belum kehilangan relevansinya. Justru ketika informasi semakin mudah diperoleh, fungsi pendidikan dapat bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menuju pembentukan cara berpikir.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan seseorang yang menjelaskan isi buku. Mereka membutuhkan pembimbing yang membantu memahami mengapa suatu masalah penting, bagaimana melihat persoalan dari perspektif berbeda, serta bagaimana menentukan arah penelitian.
Dengan kata lain, AI dapat membantu seseorang mendapatkan informasi, tetapi human judgment tetap diperlukan untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut.
Ramanujan dan Bukti Bahwa Talenta Tidak Selalu Terlihat
Perubahan cara memandang kecerdasan juga dapat dipahami melalui kisah Srinivasa Ramanujan.
Ramanujan merupakan matematikawan India yang sebagian besar belajar matematika secara otodidak. Ia bahkan pernah gagal dalam pendidikan perguruan tinggi. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya menghasilkan gagasan matematika yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan bidang tersebut.
Ramanujan meninggal pada usia hanya 32 tahun dan meninggalkan sejumlah catatan matematika yang berisi rumus serta gagasan luar biasa.
Bagi Ken Ono, kisah tersebut bukan sekadar sejarah matematika. Ramanujan menjadi bukti bahwa bakat besar tidak selalu mengikuti jalur pendidikan formal yang dianggap ideal.
Pada April 1984, Ono dan ayahnya menerima surat dari Janaki Ammal, janda Ramanujan, berkaitan dengan penggalangan dana untuk sebuah patung kenangan. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu pengalaman yang ikut membentuk arah kehidupan Ono.
Inspirasi itu turut mendorong lahirnya Spirit of Ramanujan, sebuah upaya untuk menemukan dan membina talenta matematika yang mungkin tidak terlihat oleh sistem pendidikan konvensional.
Salah satu penerima beasiswa awal program tersebut bahkan merupakan mantan mahasiswa Ono, Karina Hong.
Masalah Pendidikan: Terlalu Cepat, Terlalu Sempurna
Di tengah perubahan akibat AI, sistem pendidikan juga menghadapi persoalan mendasar.
Penilaian berbasis ujian, nilai, IPK, dan berbagai kriteria formal dapat membantu mengukur pencapaian tertentu. Namun, ketika ukuran tersebut menjadi tujuan utama, pendidikan berisiko mengorbankan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: rasa ingin tahu.
Anak-anak secara alami memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia. Mereka bertanya mengapa sesuatu terjadi, bagaimana sesuatu bekerja, dan apa yang mungkin terjadi jika suatu aturan diubah.
Namun, tekanan untuk selalu mendapatkan nilai sempurna dan menjawab dengan cepat dapat mengubah proses belajar menjadi perlombaan.
Padahal, dalam dunia yang dipenuhi AI, kemampuan menemukan pertanyaan baru mungkin justru lebih berharga daripada kemampuan memberikan jawaban tercepat.
Ketika Gelar Tidak Lagi Menjamin Identitas
Persoalan pendidikan juga berkaitan dengan biaya dan pilihan hidup.
Dalam konteks Amerika Serikat, pendidikan tinggi dapat membutuhkan biaya sekitar $80.000 per tahun. Beban tersebut dapat berkembang menjadi utang pendidikan sebesar $150.000 hingga $350.000 ketika seseorang melanjutkan dari pendidikan sarjana menuju sekolah profesional.
Utang dalam jumlah besar dapat menciptakan tekanan untuk memilih pekerjaan bukan karena kecintaan terhadap bidang tersebut, melainkan karena kebutuhan membayar tagihan.
Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya persoalan mendapatkan gelar. Ada pertanyaan yang lebih besar: apakah proses pendidikan membantu seseorang menemukan dirinya atau justru membuatnya kehilangan identitas?
Jika pendidikan hanya menghasilkan individu yang mengejar skor, gelar, dan pekerjaan bergaji tinggi, maka sebagian tujuan pendidikan dapat terlewatkan.
Pendidikan Masa Depan Harus Menjaga Rasa Takjub
AI mungkin akan terus membuat pengetahuan semakin mudah diakses. Model bahasa akan menjadi semakin mampu membaca, menjelaskan, menghubungkan, dan menghasilkan informasi.
Karena itu, manusia tidak perlu menjadikan AI sebagai lawan dalam perlombaan menghafal.
Seperti yang digambarkan dalam analogi Ken Ono, tidak ada orang yang tertarik menyaksikan Usain Bolt berlari melawan sepeda motor dalam perlombaan satu mil. Perlombaan tersebut memang tidak adil.
Namun, manusia tetap menyaksikan Olimpiade karena olahraga bukan hanya tentang siapa yang memiliki mesin paling cepat. Ada cerita tentang disiplin, perjuangan, kreativitas, batas kemampuan, dan makna menjadi manusia.
Hal yang sama dapat berlaku dalam pendidikan.
Nilai seorang matematikawan, peneliti, guru, atau mahasiswa tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang mampu mereka ingat. Nilainya terletak pada kemampuan melihat sesuatu yang belum dilihat orang lain, mengajukan pertanyaan yang belum terpikirkan, dan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan pemahaman baru.
Kesimpulan
Era AI memaksa manusia mendefinisikan kembali arti kecerdasan. Ketika fakta dan pengetahuan dapat diperoleh dengan sangat cepat, kemampuan menghafal tidak lagi menjadi keunggulan eksklusif manusia.
Keunggulan manusia justru semakin terlihat pada penalaran mendalam, kreativitas, rasa ingin tahu, pemikiran kritis, dan kemampuan membuat keputusan berdasarkan konteks. Kisah Ramanujan juga mengingatkan bahwa sistem pendidikan tidak selalu mampu mengenali seluruh talenta yang ada.
Karena itu, pendidikan masa depan seharusnya tidak hanya bertanya "berapa nilai yang diperoleh siswa?", tetapi juga "pertanyaan apa yang membuatnya penasaran?"
Jika AI membuat pengetahuan menjadi murah, maka tugas pendidikan berikutnya adalah memastikan manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir, bertanya, mencipta, dan merasa takjub terhadap dunia.
FAQ
- Mengapa AI mengubah definisi kecerdasan manusia? Karena AI dapat mengakses, mengolah, dan menghasilkan informasi dalam jumlah besar dengan sangat cepat sehingga kemampuan menghafal fakta tidak lagi menjadi keunggulan utama manusia.
- Apakah perguruan tinggi masih penting di era AI? Ya. Perguruan tinggi tetap penting untuk membangun penalaran, membimbing penelitian, merumuskan pertanyaan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan profesional.
- Siapa Srinivasa Ramanujan? Srinivasa Ramanujan adalah matematikawan India yang banyak belajar secara otodidak dan menghasilkan kontribusi penting dalam matematika meskipun pernah mengalami kegagalan dalam pendidikan perguruan tinggi.
- Apa itu Spirit of Ramanujan? Spirit of Ramanujan merupakan program yang terinspirasi dari kisah Ramanujan untuk menemukan dan mendukung talenta matematika yang berpotensi besar tetapi mungkin tidak teridentifikasi melalui jalur pendidikan formal.
- Apa kemampuan manusia yang semakin penting di era AI? Penalaran mendalam, kreativitas, pemikiran kritis, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan, dan human judgment menjadi semakin penting ketika AI mengambil alih banyak pekerjaan berbasis informasi.