Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan memunculkan dua narasi yang saling berlawanan. Di satu sisi, AI dianggap sebagai teknologi yang dapat mengubah produktivitas, menciptakan bisnis baru, dan meningkatkan kualitas hidup. Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai hilangnya pekerjaan, ketimpangan ekonomi, serta dampak sosial dari otomatisasi.
Andrew McAfee menawarkan perspektif yang lebih optimistis. Dalam pandangannya, perkembangan AI dan teknologi selama lima hingga sepuluh tahun ke depan justru berpotensi memperluas kemakmuran ekonomi dan meningkatkan human flourishing, atau kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan bermakna.
AI dan Masa Depan Dunia Kerja
Salah satu kekhawatiran terbesar mengenai AI adalah kemungkinan terjadinya pengangguran massal. Namun, McAfee mempertanyakan asumsi bahwa dunia akan segera kehabisan pekerjaan.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih relevan justru adalah apakah masyarakat benar-benar kekurangan pekerjaan yang perlu diselesaikan. Masih terdapat begitu banyak persoalan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, infrastruktur, pelayanan publik, dan bisnis yang belum tertangani secara optimal.
Karena itu, AI tidak harus dipandang sebagai pengganti seluruh tenaga kerja manusia. Teknologi tersebut dapat berfungsi sebagai alat untuk memperluas kemampuan individu.
AI sebagai Penyampai Keterampilan
McAfee menyebut AI sebagai skill delivery tool terbaik yang pernah diciptakan manusia. Artinya, AI dapat membantu seseorang memperoleh kemampuan yang sebelumnya hanya tersedia bagi orang dengan pengalaman, pendidikan, atau sumber daya tertentu.
Dampaknya dapat terasa dalam kewirausahaan. Seseorang dengan modal terbatas dapat memanfaatkan AI untuk melakukan riset, membuat materi pemasaran, menganalisis data, mengembangkan perangkat lunak, hingga melayani pelanggan.
Jika hambatan untuk memperoleh keterampilan semakin rendah, lebih banyak orang berpotensi menciptakan usaha dan menawarkan produk dengan biaya yang lebih murah. Dalam skenario tersebut, AI tidak hanya meningkatkan efisiensi perusahaan, tetapi juga memperluas akses terhadap kemampuan produktif.
Teknologi Mendorong Human Flourishing
Optimisme McAfee tidak hanya berangkat dari perkembangan AI. Ia melihat sejarah teknologi sebagai rangkaian inovasi yang secara bertahap meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Bidang kesehatan menjadi salah satu contoh paling jelas. Bayi yang lahir dengan cystic fibrosis saat ini dilaporkan dapat memiliki harapan hidup sekitar 82 tahun. Angka tersebut menunjukkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi medis dapat mengubah penyakit yang dahulu sangat membatasi kehidupan menjadi kondisi yang jauh lebih dapat dikelola.
Perkembangan obat juga memperlihatkan bagaimana teknologi dapat memengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung. Dalam data yang dibahas, penggunaan obat GLP-1 pada perempuan lajang dikaitkan dengan peningkatan tingkat pernikahan atau kemitraan sebesar 29 poin persentase, dari 10 persen menjadi 39 persen.
Temuan semacam itu menunjukkan bahwa inovasi medis dapat menghasilkan konsekuensi sosial yang lebih luas daripada tujuan awal pengembangannya.
AI Membuka Kembali Sejarah yang Hilang
Dampak teknologi juga terlihat dalam ilmu pengetahuan dan sejarah. Teknologi pemindaian yang dipadukan dengan AI memungkinkan peneliti membaca dan menerjemahkan gulungan naskah kuno yang sebelumnya tidak dapat dibuka karena tertimbun abu vulkanik.
Naskah dari perpustakaan Romawi yang terkubur akibat letusan Gunung Vesuvius menjadi contoh bagaimana teknologi modern dapat memberikan akses terhadap pengetahuan yang selama ribuan tahun tersembunyi.
Bagi McAfee, kemajuan seperti ini menggambarkan bahwa teknologi tidak hanya membuat pekerjaan lebih cepat. Teknologi juga dapat memperluas batas pengetahuan manusia.
Mengapa Publik Cenderung Pesimistis?
McAfee juga menyoroti kecenderungan masyarakat untuk lebih memperhatikan dampak buruk teknologi. Teknologi yang sangat kuat memang dapat menciptakan risiko baru dan disalahgunakan oleh pihak yang memiliki niat buruk.
Namun, menurutnya, keberadaan risiko tidak otomatis berarti dampak keseluruhan teknologi menjadi negatif. Penilaian harus dilakukan dengan membandingkan manfaat dan kerugian secara seimbang.
Ia juga mengkritik apa yang disebut sebagai kecenderungan professional pessimism, terutama ketika narasi negatif digunakan untuk menunjukkan kemampuan intelektual atau sikap kritis. Masalahnya, jika pesimisme menjadi satu-satunya cara melihat perubahan teknologi, masyarakat dapat gagal mengenali manfaat yang sudah terjadi.
Perusahaan Lama Menghadapi Gelombang Disrupsi
Optimisme terhadap AI tidak berarti semua perusahaan akan menjadi pemenang. Justru, McAfee melihat adanya ancaman serius terhadap perusahaan lama yang dibangun pada era ekonomi abad ke-20.
Pusat inovasi dan penciptaan nilai baru dalam ekonomi Amerika Serikat banyak terkonsentrasi di wilayah kecil California Utara. Sementara itu, perusahaan inkumben dengan struktur organisasi besar dapat mengalami kesulitan mengikuti perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
AI memungkinkan perusahaan baru bergerak dengan jumlah pekerja lebih sedikit namun produktivitas lebih tinggi. Dalam fenomena ekstrem yang dibahas, tiga orang yang memanfaatkan agen AI bahkan dapat menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan hingga 1.000 orang.
Angka tersebut tidak berarti semua pekerjaan akan mengalami pengurangan dengan skala yang sama. Namun, fenomena itu menggambarkan betapa besar potensi perubahan produktivitas ketika AI digunakan sebagai pengungkit kemampuan manusia.
Kelompok
Masalah terbesar dalam transformasi AI sering kali bukan teknologinya, melainkan manusianya. Tidak semua pekerja merasa nyaman dengan perangkat yang semakin kompleks.
Di sinilah kelompok power users atau penginjil teknologi memiliki peran penting. Mereka dapat menjadi jembatan antara teknologi baru dengan rekan kerja yang masih merasa takut atau bingung menggunakannya.
Kelompok ini bukan sekadar pengguna AI paling mahir. Mereka juga berfungsi sebagai penerjemah yang membantu organisasi memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Kesimpulan
Pandangan Andrew McAfee memberikan perspektif bahwa masa depan AI tidak harus identik dengan kehilangan pekerjaan dan kemunduran sosial. Teknologi memang membawa risiko dan dapat menciptakan disrupsi, tetapi sejarah menunjukkan bahwa inovasi juga mampu meningkatkan kesehatan, produktivitas, pengetahuan, dan kualitas hidup manusia.
Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tantangan terbesar mungkin bukan menentukan apakah AI akan mengubah dunia, melainkan bagaimana manusia dan organisasi beradaptasi terhadap perubahan tersebut.
Perusahaan perlu membangun kemampuan baru, pekerja perlu meningkatkan keterampilan, dan masyarakat perlu menilai AI secara lebih seimbang. Dengan pendekatan tersebut, AI berpotensi menjadi pengungkit kemampuan manusia, bukan sekadar mesin pengganti manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bukan hanya seberapa canggih AI yang berhasil diciptakan, tetapi seberapa baik manusia menggunakannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera.
FAQ
- Apa pandangan Andrew McAfee tentang AI? Andrew McAfee memiliki pandangan optimistis bahwa AI dapat meningkatkan kemakmuran ekonomi, produktivitas, dan kesejahteraan manusia jika digunakan secara tepat.
- Apakah AI akan menyebabkan kiamat pekerjaan? McAfee menilai kekhawatiran tersebut terlalu berlebihan karena masyarakat masih memiliki banyak pekerjaan dan persoalan yang membutuhkan penyelesaian.
- Mengapa AI disebut sebagai skill delivery tool? AI dapat membantu mendistribusikan keterampilan dan kemampuan kepada lebih banyak orang sehingga individu dapat melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keahlian khusus.
- Apa contoh manfaat teknologi terhadap human flourishing? Kemajuan teknologi telah meningkatkan penanganan penyakit, memperpanjang harapan hidup, serta membantu ilmuwan membaca kembali manuskrip kuno yang sebelumnya tidak dapat diakses.
- Mengapa perusahaan lama terancam disrupsi AI? Perusahaan inkumben sering memiliki struktur dan proses yang lebih lambat sehingga dapat kesulitan beradaptasi ketika perusahaan baru memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas secara drastis.