Kampus Times- Bahasa tidak pernah benar-benar diam. Dari generasi ke generasi, manusia terus menciptakan kata baru, mengubah pengucapan, menggeser makna, bahkan meninggalkan istilah yang sebelumnya dianggap umum.
Namun, internet membuat proses tersebut berlangsung jauh lebih cepat. Kehadiran media sosial berbasis video seperti TikTok memungkinkan sebuah kata yang muncul di satu komunitas menyebar ke berbagai negara hanya dalam hitungan hari.
Perubahan bahasa yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun kini dapat berlangsung dalam satu generasi. Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan kosakata, tetapi mulai memengaruhi cara manusia berbicara, membentuk identitas, hingga mempertahankan bahasa yang terancam punah.
TikTok Mempercepat Penyebaran Bahasa
Sebelum era internet dan World Wide Web, perubahan bahasa umumnya menyebar melalui interaksi langsung, media massa, buku, musik, dan komunitas lokal. Pergeseran makna sebuah kata dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum digunakan secara luas.
Media sosial mengubah mekanisme tersebut. Video pendek memungkinkan jutaan orang menerima ekspresi, intonasi, dan kosakata yang sama hampir bersamaan.
Akibatnya, remaja di tempat yang secara geografis sangat jauh dapat menggunakan slang yang sama. Perbedaan antara komunitas bahasa di London dan Selandia Baru, misalnya, dapat semakin tipis ketika keduanya mengonsumsi konten digital yang sama.
Slang Menjadi Identitas Kelompok
Kata seperti “rizz” atau “skibidi” bukan sekadar kosakata. Dalam kelompok tertentu, istilah tersebut dapat berfungsi sebagai tanda keanggotaan sosial.
Seseorang yang memahami dan menggunakan istilah tersebut menunjukkan bahwa dirinya mengikuti budaya serta percakapan kelompoknya. Sebaliknya, orang yang tidak memahami istilah tersebut dapat dianggap berada di luar kelompok.
Menariknya, eksklusivitas tersebut biasanya tidak bertahan lama. Ketika orang tua atau kelompok yang lebih tua mulai menggunakan sebuah slang, remaja dapat menganggapnya tidak lagi keren dan segera mencari istilah baru.
Siklus tersebut membuat bahasa generasi muda bergerak semakin cepat.
Algoritma Ikut Memengaruhi Cara Manusia Berbicara
Perubahan bahasa modern juga tidak hanya terjadi karena pengguna saling meniru. Algoritma platform berpotensi memberikan insentif terhadap gaya komunikasi tertentu.
Salah satu contohnya adalah penggunaan intonasi naik pada akhir kalimat atau yang sering diasosiasikan dengan “suara TikTok”. Gaya berbicara tersebut dapat membuat penyampaian terasa lebih menarik dan membantu mempertahankan perhatian penonton.
Karena retensi penonton merupakan salah satu faktor penting dalam performa konten, kreator memiliki alasan untuk mempertahankan gaya komunikasi yang dianggap efektif.
Dengan demikian, algoritma tidak secara langsung menciptakan bahasa baru. Namun, algoritma dapat memberikan penghargaan terhadap gaya komunikasi tertentu yang kemudian ditiru oleh kreator lain.
Pada akhirnya, mekanisme tersebut berpotensi mempercepat inovasi linguistik.
Dari “LOL” hingga “Rizz”
Pengaruh internet terhadap bahasa lisan juga terlihat dari singkatan yang awalnya hanya digunakan dalam komunikasi tertulis.
Istilah seperti LOL, FOMO, dan YOLO perlahan berpindah dari layar ke percakapan sehari-hari. Beberapa bahkan tidak lagi dipahami sebagai singkatan, melainkan sebagai bagian dari kosakata yang dapat diucapkan secara langsung.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa batas antara bahasa tulisan dan bahasa lisan semakin kabur.
Bahasa Inggris Juga Mengalami Pergeseran
Perubahan tidak hanya terjadi pada kosakata. Pengucapan juga mengalami pergeseran karena paparan media global.
Batas antara bahasa Inggris Britania dan Amerika, misalnya, semakin mudah ditembus oleh generasi muda. Salah satu contoh yang sering diamati adalah pengucapan kata “schedule”, yang semakin sering menggunakan pelafalan bergaya Amerika dibandingkan bentuk tradisional Britania dalam konteks tertentu.
Globalisasi digital membuat penutur tidak lagi hanya mendapatkan model bahasa dari lingkungan geografisnya. Mereka dapat memperoleh model pengucapan dari kreator yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Ancaman Linguisida di Tengah Homogenisasi
Di balik cepatnya inovasi bahasa, terdapat persoalan yang jauh lebih serius: kepunahan bahasa.
Linguisida merupakan fenomena ketika sebuah bahasa menghilang, mati, atau menjadi punah. Hal tersebut dapat terjadi akibat perang, kebijakan pelarangan bahasa, diskriminasi, atau proses sosial yang membuat penutur merasa malu menggunakan bahasa warisan mereka.
Jika bahasa tertentu dianggap lebih bergengsi atau memberikan peluang ekonomi lebih besar, generasi muda dapat memilih meninggalkan bahasa leluhur mereka.
Diperkirakan sekitar setengah bahasa yang ada saat ini berpotensi menghilang pada akhir abad ini. Jika terjadi, dunia tidak hanya kehilangan kata-kata, tetapi juga sistem pengetahuan, sejarah, identitas, dan cara pandang yang tersimpan di dalam bahasa tersebut.
Bahasa M?ori Menunjukkan Kepunahan Bukan Takdir
Kabar baiknya, bahasa yang terancam tidak selalu berakhir dengan kepunahan.
Bahasa M?ori di Selandia Baru menjadi salah satu contoh penting revitalisasi bahasa. Melalui berbagai upaya pendidikan dan penggunaan kembali dalam kehidupan sehari-hari, bahasa tersebut berhasil memperoleh ruang yang lebih kuat di masyarakat.
Pengalaman M?ori menunjukkan bahwa perubahan bahasa dapat diarahkan. Ketika sebuah komunitas memiliki kemauan, institusi pendukung, pendidikan, dan ruang untuk menggunakan bahasanya, proses kemunduran dapat dibalik.
AI Membawa Harapan sekaligus Risiko
Teknologi AI kini menawarkan peluang baru untuk mendokumentasikan dan merevitalisasi bahasa dengan jumlah penutur terbatas.
AI dapat membantu menganalisis arsip, mendokumentasikan kosakata, membuat materi pembelajaran, serta menyediakan alat yang memungkinkan komunitas menggunakan bahasa mereka dalam konteks modern.
Namun, terdapat persoalan besar pada bahasa yang disebut low-resource languages. Karena jumlah data digitalnya terbatas, model AI dapat menghasilkan kosakata, terjemahan, atau struktur tata bahasa yang sebenarnya tidak digunakan oleh penutur asli.
Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan sumber kebenaran tunggal. Penutur asli dan ahli bahasa tetap memiliki peran penting dalam memastikan bahwa teknologi tidak justru menciptakan versi bahasa yang keliru.
Kesimpulan
Media sosial telah mengubah kecepatan evolusi bahasa. Kata-kata baru dapat menyebar lintas negara dalam waktu sangat singkat, sementara gaya pengucapan dan cara berbicara juga dapat berubah akibat paparan konten global dan insentif algoritma.
Perubahan tersebut pada dasarnya merupakan bagian alami dari kehidupan bahasa. Seperti dikatakan Neil Edgeller, bahasa bersifat dinamis dan terus berubah dari waktu ke waktu.
Tantangan sebenarnya adalah memastikan bahwa percepatan tersebut tidak hanya menghasilkan homogenisasi global, tetapi juga memberi ruang bagi keberagaman bahasa. Di tengah perkembangan AI, media sosial, dan budaya internet, mempertahankan bahasa yang terancam sama pentingnya dengan memahami bahasa baru yang sedang lahir.
Bahasa mungkin terus berubah, tetapi setiap perubahan juga membawa pilihan tentang apa yang ingin dipertahankan dan apa yang rela kita kehilangan.
FAQ
- Mengapa bahasa semakin cepat berubah di era media sosial? Media sosial memungkinkan kata, slang, pengucapan, dan gaya komunikasi menyebar kepada jutaan orang secara cepat tanpa batas geografis.
- Apa fungsi slang bagi remaja? Slang dapat menjadi penanda identitas dan menunjukkan keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial tertentu.
- Apa itu linguisida? Linguisida adalah fenomena ketika suatu bahasa menghilang, mati, atau akhirnya menjadi punah.
- Apakah bahasa yang terancam punah masih bisa diselamatkan? Bisa. Revitalisasi bahasa M?ori menunjukkan bahwa pendidikan, dukungan masyarakat, dan penggunaan aktif dapat membantu menghidupkan kembali bahasa yang sebelumnya mengalami kemunduran.
- Bagaimana AI membantu bahasa minoritas? AI dapat membantu dokumentasi, penerjemahan, pembelajaran, dan revitalisasi bahasa, tetapi hasilnya perlu diverifikasi karena bahasa dengan data terbatas rentan menghasilkan kesalahan.