Akademik & Riset

Brain Rot karena Scrolling? Sains Ungkap Dampaknya pada Otak

4 September 2026, 21:12 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Istilah brain rot semakin sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa kemampuan berkonsentrasinya menurun setelah terlalu banyak mengonsumsi konten internet berkualitas rendah. Fenomena ini paling sering dikaitkan dengan umpan algoritmik media sosial dan video pendek, meskipun istilah tersebut juga dapat digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten secara pasif di berbagai platform digital.

Keluhannya cukup familiar. Seseorang dapat merasa sulit membaca buku, menyelesaikan tulisan panjang, atau menonton film tanpa tergoda membuka ponsel.

Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kebiasaan tersebut benar-benar mengubah fungsi otak secara permanen atau hanya membuat otak terbiasa dengan pola stimulasi tertentu.

Mengapa Penelitian Eksperimental Sangat Penting?

Sebagian penelitian mengenai penggunaan media sosial dan kemampuan kognitif bersifat korelasional. Artinya, penelitian hanya menemukan hubungan antara tingginya penggunaan media sosial dengan kemampuan kognitif tertentu yang lebih rendah.

Masalahnya, hubungan tersebut belum membuktikan sebab-akibat. Bisa saja orang yang sejak awal memiliki kesulitan berkonsentrasi justru lebih mudah tertarik pada media sosial sehingga menghabiskan lebih banyak waktu di dalamnya.

Karena itu, penelitian eksperimental menjadi penting. Dalam pendekatan ini, peneliti dapat menguji kemampuan kognitif peserta sebelum dan sesudah mereka mendapatkan paparan media sosial tertentu.

Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih kuat mengenai apakah paparan singkat benar-benar dapat menyebabkan perubahan kognitif dalam jangka pendek.

Scrolling Singkat Sudah Bisa Memengaruhi Kognisi

Eksperimen dengan paparan media sosial selama sekitar 10 hingga 30 menit menunjukkan adanya dampak terhadap beberapa kemampuan kognitif.

Salah satunya adalah kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir secara reflektif mengenai informasi yang sedang diterima. Kemampuan tersebut penting karena manusia tidak hanya membutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan mempertanyakan dan mengevaluasi pikirannya sendiri.

Fungsi lain yang dapat terganggu adalah prospective memory, yaitu kemampuan mengingat bahwa kita harus melakukan sesuatu pada waktu yang akan datang. Contohnya adalah mengingat untuk mengirim pesan, mengerjakan tugas, atau melakukan aktivitas yang sebelumnya sudah direncanakan.

Menariknya, efek tersebut dapat muncul setelah paparan yang relatif singkat. Artinya, persoalannya mungkin bukan semata-mata berapa lama seseorang menggunakan media sosial dalam satu hari.

Bukan Videonya, tetapi Gerakan Scrolling?

Salah satu temuan paling menarik adalah kemungkinan bahwa antarmuka scrolling memainkan peran penting dalam perubahan kondisi kognitif.

Dalam format video pendek, pengguna terus-menerus melakukan gerakan geser untuk menentukan konten berikutnya. Setiap kali layar digeser, otak harus membuat keputusan dengan sangat cepat: apakah konten ini layak ditonton atau harus dilewati?

Proses tersebut menciptakan rangkaian keputusan mikro yang berlangsung terus-menerus. Pengguna tidak hanya menerima konten, tetapi juga secara aktif memilih apakah akan bertahan selama beberapa detik atau langsung berpindah.

Dalam eksperimen tertentu, video-video pendek yang sama disusun menjadi sebuah montase panjang sehingga peserta hanya menonton secara pasif tanpa perlu melakukan scrolling. Defisit kognitif yang terlihat setelah aktivitas scrolling tidak muncul dengan cara yang sama.

Temuan ini memberikan perspektif baru: yang berpotensi mengganggu bukan hanya isi konten atau durasinya, tetapi pola interaksi yang dibentuk oleh antarmuka digital.

Scrolling Membuat Otak Lebih Impulsif?

Ketika terus-menerus menentukan apakah sebuah video layak ditonton, pengguna melakukan penilaian yang sangat cepat. Pola tersebut diduga dapat mendorong otak menuju kondisi yang kurang reflektif dan lebih impulsif.

Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk mempertahankan perhatian justru membutuhkan kebalikan dari pola tersebut. Membaca buku, menulis, belajar, atau memecahkan masalah kompleks membutuhkan kesediaan untuk bertahan dalam satu aktivitas meskipun tidak selalu memberikan stimulasi instan.

Perbedaan inilah yang membuat pengalaman scrolling sulit dibandingkan secara langsung dengan aktivitas digital biasa. Masalahnya bukan sekadar layar, tetapi cara manusia berinteraksi dengan layar tersebut.

Apakah Brain Rot Merusak Otak Secara Permanen?

Di sinilah pentingnya membedakan antara gangguan fungsi kognitif sementara dan kerusakan otak permanen.

Berdasarkan temuan yang dibahas, belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan scrolling menyebabkan kerusakan kognitif manusia secara permanen. Efek yang ditemukan lebih tepat dipahami sebagai perubahan atau gangguan fungsi kognitif yang dapat terjadi setelah paparan tertentu.

Bahkan, eksperimen sederhana menunjukkan bahwa menjauhkan ponsel selama beberapa hari dapat membantu seseorang kembali melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih panjang, seperti membaca buku.

Dengan kata lain, merasa sulit fokus tidak otomatis berarti kemampuan konsentrasi telah “rusak”.

Jangan Hanya Mengandalkan Batas Waktu

Salah satu strategi populer untuk mengurangi penggunaan media sosial adalah menetapkan batas waktu, misalnya hanya boleh scrolling selama 15 menit. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan karena konten media sosial memang dirancang untuk membuat pengguna terus melanjutkan aktivitas.

Strategi yang lebih kuat adalah membuat batasan berdasarkan tempat atau situasi. Misalnya, media sosial hanya boleh dibuka ketika sedang berada di treadmill atau dalam kondisi tertentu yang tidak mengganggu aktivitas utama.

Pendekatan ini bekerja dengan mengubah hubungan antara ponsel dan aktivitas sehari-hari. Alih-alih terus bernegosiasi dengan diri sendiri mengenai kapan harus berhenti, seseorang membuat aturan sederhana mengenai di mana dan kapan ponsel boleh digunakan.

Kesimpulan

Fenomena brain rot ternyata memiliki persoalan ilmiah yang lebih kompleks daripada sekadar anggapan bahwa video pendek membuat otak “rusak”. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa scrolling singkat dapat memengaruhi beberapa fungsi kognitif, termasuk kemampuan berpikir reflektif dan prospective memory.

Namun, belum ada bukti bahwa perubahan tersebut berarti kerusakan kognitif permanen. Salah satu faktor yang justru menarik perhatian adalah mekanisme scrolling itu sendiri, yang memaksa otak membuat keputusan cepat secara berulang.

Karena itu, solusi tidak harus berupa meninggalkan teknologi sepenuhnya. Yang lebih penting adalah menciptakan jarak dari “monyet pemain terompet” yang terus membawa perhatian kita pergi dari aktivitas yang sedang dilakukan.

Rentang perhatian manusia mungkin tidak benar-benar rusak. Bisa jadi, kita hanya terlalu sering membiarkan ponsel mengambil alih perhatian tersebut.

FAQ

  1. Apa arti brain rot? Brain rot adalah istilah populer untuk menggambarkan dampak yang dirasakan setelah terlalu banyak mengonsumsi konten internet berkualitas rendah, terutama melalui media sosial berbasis algoritma.
  2. Apakah scrolling benar-benar memengaruhi fungsi kognitif? Studi eksperimental menunjukkan paparan scrolling dalam waktu singkat dapat mengganggu beberapa fungsi kognitif, termasuk kemampuan berpikir reflektif dan prospective memory.
  3. Apakah video pendek menjadi penyebab utama brain rot? Tidak sesederhana itu. Penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa tindakan scrolling atau swiping dapat menjadi faktor penting karena pengguna terus-menerus membuat keputusan cepat mengenai konten berikutnya.
  4. Apakah scrolling dapat merusak otak secara permanen? Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kebiasaan scrolling menyebabkan kerusakan kognitif permanen. Efek yang ditemukan lebih berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif dalam kondisi tertentu.
  5. Bagaimana cara mengurangi dampak scrolling terhadap konsentrasi? Selain membatasi waktu, seseorang dapat membuat batasan berdasarkan tempat atau aktivitas, misalnya hanya menggunakan media sosial pada situasi tertentu sehingga ponsel tidak terus-menerus menginterupsi aktivitas yang membutuhkan fokus.

Topik Terkait

Trending Hari Ini