Akademik & Riset

BRIN dan Masa Depan Riset Indonesia: Dari Laboratorium hingga Ekonomi Nasional

13 September 2026, 11:03 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Indonesia sedang menghadapi pertanyaan penting tentang masa depan riset dan inovasi nasional: bagaimana memastikan penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi mampu menghasilkan teknologi, kebijakan, produk, dan solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di tengah upaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membangun ekosistem riset yang lebih terintegrasi. Penguatan lembaga penelitian bukan sekadar persoalan meningkatkan anggaran, tetapi juga menyangkut arah penelitian, kualitas talenta, infrastruktur, hingga kemampuan membawa hasil riset ke pasar.

BRIN dan Integrasi Ekosistem Riset Nasional

Salah satu perubahan besar dalam tata kelola penelitian Indonesia adalah konsolidasi berbagai badan dan fungsi riset ke dalam BRIN. Model ini dirancang untuk mengurangi fragmentasi sekaligus menciptakan institusi riset yang mampu menangani berbagai tahapan, mulai dari penelitian dasar hingga komersialisasi inovasi.

Pendekatan tersebut mengambil inspirasi dari ekosistem riset Jerman. Secara konseptual, terdapat kombinasi karakter seperti Max Planck yang kuat pada riset dasar, Leibniz pada riset terapan, serta Fraunhofer yang memiliki orientasi kuat terhadap pemanfaatan dan komersialisasi teknologi.

Dalam kerangka tersebut, BRIN mengarahkan sekitar 20–30% kegiatan riset pada basic research, sementara 70–80% diarahkan untuk applied research. Komposisi ini menunjukkan keinginan agar penelitian tetap memiliki fondasi ilmiah yang kuat, tetapi pada saat yang sama lebih banyak menghasilkan solusi terhadap persoalan nyata.

Dua Jalur Pendanaan untuk Menjaga Keseimbangan Riset

Penguatan riset tidak dapat dilakukan hanya dengan menentukan topik dari pemerintah. Karena itu, pendekatan pendanaan BRIN dibagi melalui dua jalur utama, yakni mission-driven research dan competitive research.

Mission-Driven Research

Jalur mission-driven menggunakan pendekatan top-down dengan mengarahkan penelitian pada kebutuhan strategis nasional. Beberapa bidang yang menjadi perhatian mencakup ketahanan pangan, energi, air, dan kesehatan.

Pendekatan ini penting karena negara memiliki persoalan yang membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dalam waktu relatif terukur. Riset diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membantu pemerintah menyelesaikan persoalan pembangunan.

Competitive Research

Sementara itu, competitive research memberikan ruang lebih luas bagi peneliti untuk mengembangkan gagasan berdasarkan kompetisi dan kreativitas ilmiah. Model ini menjadi penting bagi penelitian dasar atau blue sky research, yang hasilnya mungkin belum terlihat secara langsung tetapi berpotensi menghasilkan terobosan pada masa depan.

Keseimbangan keduanya menjadi kunci. Riset yang terlalu berorientasi pada kebutuhan jangka pendek dapat mengurangi ruang eksplorasi ilmiah, sedangkan penelitian yang tidak memiliki jalur pemanfaatan berisiko sulit memberikan dampak sosial-ekonomi.

Indonesia Innovation Powerhouse dan Tantangan Hilirisasi

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana menghubungkan peneliti dengan pengguna hasil penelitian. Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN mengembangkan Indonesia Innovation Powerhouse atau Rumah Inovasi Indonesia/Daerah.

Program ini menyediakan 41 jenis layanan yang ditujukan untuk mempertemukan periset dengan industri, startup, hingga venture capital. Tujuannya adalah membangun jembatan dari laboratorium menuju pasar.

Pengalaman program inovasi berbasis desa menunjukkan bahwa pendekatan tersebut memiliki potensi besar. Program One Village One CEO, misalnya, telah menjangkau lebih dari 1.000 desa dan membina sekitar 480 startup di Science Techno Park.

Contoh lain terlihat pada teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis yang telah diterapkan di 84 kabupaten. Kasus seperti ini memperlihatkan bahwa inovasi dapat memiliki dampak langsung apabila terdapat mekanisme yang mampu membawa teknologi keluar dari lingkungan penelitian.

Talenta dan Komunikasi Sains Menjadi Kunci

Ekosistem inovasi tidak akan berjalan tanpa manusia yang memiliki kemampuan dan lingkungan kerja yang memadai. Karena itu, BRIN juga berupaya menarik talenta muda serta peneliti diaspora Indonesia melalui fasilitas laboratorium, dukungan pendanaan, dan skema post-doctoral.

Namun, membangun ekosistem riset tidak cukup hanya dengan menyediakan laboratorium canggih. Integritas penelitian, budaya ilmiah, serta kemampuan menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat juga sangat penting.

Di sinilah kebutuhan terhadap science communicator menjadi semakin besar. Penelitian yang berkualitas perlu dapat dijelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami publik agar masyarakat mengetahui manfaatnya dan dapat membedakan informasi ilmiah dari klaim tanpa dasar.

“We have to speak about truth... Correction should be coming from evidence base from researchers, but the way how to communicate is very important.”

Riset Harus Menjadi Fondasi Kebijakan

Pada akhirnya, kekuatan riset nasional akan terlihat dari kemampuannya memengaruhi keputusan publik. Kebijakan dan regulasi idealnya tidak hanya didasarkan pada asumsi, kepentingan jangka pendek, atau tren, tetapi menggunakan evidence-based policy yang ditopang data dan penelitian ilmiah.

Potensi Indonesia sebenarnya sangat besar. Indonesia memiliki sekitar 31.000 spesies tanaman yang berpotensi sebagai bahan obat, tetapi baru sekitar 20 spesies yang telah dimanfaatkan. Di sisi lain, sekitar 90% bahan baku obat nasional masih bergantung pada impor.

Kondisi tersebut menunjukkan ruang besar bagi riset Indonesia untuk menjawab persoalan strategis sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Hubungan antara inovasi dan ekonomi juga semakin penting. Terdapat korelasi positif antara skor Global Innovation Index suatu negara dengan GDP per kapita. Artinya, penguatan inovasi bukan sekadar agenda akademik, tetapi bagian dari strategi pembangunan ekonomi jangka panjang.

Dari Riset Menuju Negara Berbasis Inovasi

Penguatan anggaran menjadi salah satu fondasi. Total anggaran riset nasional disebut telah meningkat hingga sekitar Rp4 triliun seiring upaya meningkatkan dukungan pendanaan melalui LPDP. Namun, anggaran hanyalah satu bagian dari ekosistem.

Lima pilar perlu berjalan bersama: anggaran, infrastruktur, talenta, roadmap riset, dan ekosistem pendukung. Tanpa keterhubungan kelima unsur tersebut, peningkatan dana penelitian belum tentu otomatis menghasilkan inovasi yang berdampak.

Karena itu, masa depan riset Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak penelitian dilakukan, tetapi juga oleh seberapa efektif pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi teknologi, kebijakan, bisnis, dan solusi masyarakat.

Kesimpulan

BRIN menghadapi tugas strategis untuk membangun ekosistem riset Indonesia yang mampu menjaga keseimbangan antara penelitian dasar, riset terapan, dan komersialisasi inovasi. Integrasi lembaga, dua jalur pendanaan, Indonesia Innovation Powerhouse, penguatan talenta diaspora, serta komunikasi sains menjadi bagian dari upaya tersebut.

Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil penelitian benar-benar sampai kepada masyarakat dan industri. Jika riset mampu menjawab persoalan nasional sekaligus melahirkan inovasi bernilai ekonomi, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi berpeluang berkembang menjadi negara yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan.

FAQ

  1. Apa fokus utama BRIN dalam penguatan riset Indonesia? BRIN berfokus membangun ekosistem riset terintegrasi dari penelitian dasar, riset terapan, hingga hilirisasi dan komersialisasi inovasi.
  2. Berapa proporsi riset dasar dan terapan yang diarahkan BRIN? Sekitar 20–30% untuk riset dasar dan 70–80% untuk riset terapan.
  3. Apa itu Indonesia Innovation Powerhouse? Indonesia Innovation Powerhouse merupakan program Rumah Inovasi Indonesia/Daerah yang menyediakan 41 jenis layanan untuk menghubungkan periset dengan industri, startup, dan venture capital.
  4. Mengapa diaspora penting bagi riset Indonesia? Peneliti diaspora dapat membawa keahlian, pengalaman, jaringan internasional, serta pengetahuan teknologi yang dapat memperkuat kapasitas penelitian nasional.
  5. Mengapa evidence-based policy penting? Kebijakan berbasis bukti membantu pemerintah mengambil keputusan berdasarkan data dan hasil penelitian ilmiah sehingga kebijakan lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Topik Terkait

Trending Hari Ini