Akademik & Riset

Cara Menemukan Research Gap agar Jurnal Ilmiah Lebih Mudah Diterima

2 September 2026, 19:11 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Salah satu pertanyaan paling penting dalam penelitian akademik bukan hanya "apa yang ingin diteliti?", tetapi juga "mengapa penelitian ini perlu dilakukan?" Jawaban atas pertanyaan tersebut biasanya terletak pada research gap atau celah penelitian.

Research gap menjelaskan sesuatu yang belum diketahui, belum disepakati, belum terselesaikan, atau belum diterapkan dengan baik dalam penelitian maupun praktik. Bagi peneliti yang ingin menerbitkan artikel di jurnal ilmiah bereputasi, kemampuan menemukan dan menjelaskan celah tersebut menjadi bagian penting dari argumentasi penelitian.

Berdasarkan pengalaman pembicara dalam melatih lebih dari 300 mahasiswa PhD dan peneliti, research gap yang jelas dapat menjadi pembeda antara penelitian yang dianggap relevan dan penelitian yang dipandang kurang memiliki kontribusi.

Mengapa Research Gap Sangat Penting?

Sebuah penelitian tidak berdiri sendiri. Penelitian selalu hadir dalam konteks pengetahuan yang sudah ada.

Karena itu, peneliti harus menunjukkan hubungan antara studi mereka dengan penelitian sebelumnya. Jika literatur hanya dirangkum tanpa menunjukkan persoalan yang masih terbuka, pembaca maupun reviewer dapat mempertanyakan alasan penelitian tersebut dilakukan.

Research gap menjadi jembatan antara "apa yang sudah diketahui" dan "apa yang masih perlu diketahui". Dari sinilah pertanyaan penelitian, tujuan, hipotesis, serta kontribusi studi memperoleh dasar yang lebih kuat.

Research Gap Harus Terlihat di Atas Kertas

Salah satu pelajaran penting dari pengalaman publikasi adalah bahwa memahami gap secara pribadi belum cukup. Peneliti mungkin sangat memahami persoalan yang ingin diselesaikan, tetapi reviewer hanya dapat menilai apa yang benar-benar tertulis dalam manuskrip.

Pembicara bahkan menceritakan pengalaman ketika sebuah makalah yang dikirimkan ke jurnal top 10 bidang pengajaran bahasa Inggris mendapatkan major revision. Persoalannya bukan karena penulis tidak memahami research gap, melainkan karena gap tersebut "jelas di kepala" tetapi belum dijelaskan dengan baik di dalam artikel.

Empat Jenis Research Gap yang Bisa Digunakan

Empat Jenis Research Gap yang Bisa Digunakan

Tidak semua celah penelitian memiliki bentuk yang sama. Secara umum, terdapat empat tipe research gap yang dapat menjadi dasar penelitian.

1. Gap Penelitian atau Metodologi

Jenis pertama muncul ketika suatu topik atau pendekatan metodologis belum cukup diteliti.

Misalnya, sebuah fenomena telah banyak dikaji menggunakan metode kuantitatif, tetapi masih sedikit penelitian yang menggunakannya pendekatan kualitatif. Kekurangan tersebut dapat menjadi peluang untuk menghasilkan perspektif baru.

2. Gap Konsensus

Gap kedua muncul ketika para peneliti belum mencapai kesepakatan mengenai suatu persoalan.

Jika penelitian terdahulu menghasilkan temuan yang bertentangan, peneliti dapat melakukan studi baru untuk menguji kembali persoalan tersebut. Dalam situasi ini, penelitian bukan sekadar menambah data, tetapi membantu memperjelas perdebatan ilmiah.

3. Gap Keterbatasan Studi Sebelumnya

Penelitian terdahulu mungkin sudah banyak dilakukan, tetapi memiliki keterbatasan tertentu.

Keterbatasan tersebut dapat berupa ukuran sampel, konteks penelitian, instrumen, periode pengamatan, populasi, atau metode analisis. Penelitian baru dapat dirancang untuk mengatasi kelemahan tersebut.

4. Gap Praktis

Tidak semua research gap berasal dari jurnal ilmiah. Sebagian muncul dari masalah nyata di masyarakat, industri, pendidikan, kesehatan, atau lingkungan.

Jika terdapat persoalan praktis yang belum memiliki solusi efektif, kondisi tersebut dapat menjadi dasar kuat untuk penelitian. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penelitian memiliki relevansi akademik sekaligus manfaat praktis.

Cara Menempatkan Research Gap dalam Pendahuluan

Research gap sebaiknya tidak muncul secara tiba-tiba. Peneliti perlu membangun argumentasi secara bertahap.

Struktur yang umum adalah memulai dengan konteks masalah, kemudian membahas penelitian terdahulu, mengidentifikasi apa yang telah diketahui, dan menunjukkan apa yang masih belum terjawab.

Setelah itu, research gap ditempatkan di bagian akhir pendahuluan, tepat sebelum peneliti menjelaskan tujuan penelitian dan hipotesis atau pertanyaan penelitian.

Alurnya dapat dibuat sederhana:

Konteks masalah ? penelitian terdahulu ? keterbatasan atau persoalan ? research gap ? tujuan penelitian ? novelty dan kontribusi.

Dengan struktur tersebut, reviewer dapat mengikuti logika penelitian tanpa harus menebak alasan mengapa studi dilakukan.

Menggabungkan Beberapa Research Gap

Menggabungkan Beberapa Research Gap

Penelitian juga tidak harus bergantung pada satu jenis gap.

Justru, menggabungkan beberapa gap dapat memperkuat urgensi penelitian. Misalnya, penelitian terdahulu memiliki keterbatasan metodologis, sementara pada saat yang sama terdapat masalah praktis yang belum terselesaikan.

Kombinasi tersebut menghasilkan argumentasi yang lebih kuat karena penelitian tidak hanya mengisi kekosongan dalam literatur, tetapi juga berusaha menjawab kebutuhan dunia nyata.

Namun, peneliti tetap perlu memastikan setiap gap benar-benar relevan. Mengumpulkan banyak gap tanpa hubungan yang jelas justru dapat membuat fokus penelitian menjadi kabur.

Hubungkan Gap dengan Novelty dan Kontribusi

Setelah research gap dijelaskan, peneliti harus menunjukkan bagaimana penelitiannya menjawab celah tersebut.

Bagian ini dapat dilanjutkan dengan tujuan penelitian, kemudian diikuti penjelasan singkat mengenai novelty dan kontribusi.

Pernyataan seperti "studi ini merupakan penelitian pertama yang..." dapat digunakan apabila klaim tersebut benar-benar dapat dibuktikan melalui penelusuran literatur yang memadai.

Kontribusi sebaiknya disampaikan secara langsung dan ringkas. Pembaca harus dapat memahami apa yang baru dari penelitian tersebut dan bagaimana hasilnya memperluas pengetahuan yang sudah ada.

Kesimpulan

Research gap bukan sekadar formalitas dalam penulisan jurnal ilmiah. Ia merupakan dasar argumentasi yang menjelaskan mengapa sebuah penelitian layak dilakukan.

Peneliti dapat membangun gap melalui empat pendekatan utama: kekurangan penelitian, kurangnya konsensus, keterbatasan studi terdahulu, dan masalah praktis. Beberapa jenis gap bahkan dapat dikombinasikan untuk memperkuat urgensi penelitian.

Hal yang tidak kalah penting adalah cara menyampaikannya. Research gap yang hanya dipahami oleh penulis tidak akan banyak membantu jika tidak tertulis secara jelas dalam pendahuluan. Karena itu, susun argumentasi dari literatur menuju celah penelitian, kemudian hubungkan secara langsung dengan tujuan, novelty, dan kontribusi.

Pada akhirnya, penelitian yang kuat bukan hanya menjawab sebuah pertanyaan, tetapi mampu meyakinkan pembaca bahwa pertanyaan tersebut memang penting untuk dijawab.

FAQ

  1. Apa itu research gap? Research gap adalah celah dalam pengetahuan atau praktik yang belum diteliti, belum dipahami, belum disepakati, atau belum terselesaikan dan menjadi dasar dilakukannya penelitian baru.
  2. Apa saja jenis research gap? Empat jenis utama meliputi kekurangan penelitian atau metodologi, kurangnya konsensus, keterbatasan penelitian terdahulu, dan masalah praktis di dunia nyata.
  3. Di mana research gap ditulis dalam artikel ilmiah? Research gap umumnya ditempatkan di bagian akhir pendahuluan setelah pembahasan penelitian terdahulu dan sebelum tujuan serta hipotesis atau pertanyaan penelitian.
  4. Apakah satu penelitian boleh memiliki beberapa research gap? Boleh. Menggabungkan beberapa gap yang saling berkaitan dapat memperkuat urgensi dan kontribusi penelitian.
  5. Apa hubungan research gap dengan novelty? Research gap menunjukkan apa yang masih kurang atau belum terjawab, sedangkan novelty menjelaskan unsur baru yang ditawarkan penelitian untuk mengisi celah tersebut.

Topik Terkait

Trending Hari Ini