Kampus Times- Mengubah disertasi menjadi buku monograf ilmiah bukan sekadar memindahkan isi tesis ke dalam format buku. Proses tersebut membutuhkan perubahan cara berpikir, struktur argumentasi, gaya penulisan, hingga posisi penulis sebagai seorang akademisi.
Bagi penulis pemula, tantangan terbesar justru bukan hanya menyelesaikan manuskrip. Mereka juga harus memahami bagaimana mengajukan proposal kepada penerbit, menghadapi peer review, membaca kontrak, melindungi hak cipta, dan berani memperjuangkan kepentingan atas karya sendiri.
Disertasi Bukan Sekadar Dipindahkan Menjadi Buku
Disertasi dan buku monograf memiliki tujuan komunikasi yang berbeda. Disertasi umumnya ditulis untuk menunjukkan kemampuan peneliti dalam melakukan penelitian dan menguasai literatur akademik. Sementara itu, monograf harus mampu menghadirkan argumen yang lebih kuat dengan suara penulis sebagai seorang ahli.
Brandy Thompson Summers menggambarkan perubahan tersebut sebagai perbedaan suara antara disertasi dan buku. Dalam buku, penulis perlu lebih berani menegaskan otoritas intelektualnya, bukan sekadar terus-menerus menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh peneliti sebelumnya.
Karena itu, penulis sebaiknya tidak terburu-buru menerbitkan disertasi secara utuh. Jeda setelah menyelesaikan disertasi dapat digunakan untuk menentukan bagian penelitian yang paling relevan, memiliki urgensi tinggi, dan berpotensi memberikan kontribusi lebih luas.
Masa jeda juga dapat dimanfaatkan untuk membangun reputasi melalui seminar, publikasi ilmiah, maupun diskusi akademik. Proses tersebut membantu penulis membangun kepercayaan diri sebelum mengambil posisi sebagai seorang pengarang buku.
Proposal Buku Harus Menjadi Pitch yang Kuat
Salah satu tahap penting dalam penerbitan monograf adalah menyusun proposal buku. Proposal bukan sekadar dokumen administratif, tetapi alat pemasaran yang harus menjawab pertanyaan utama editor: mengapa buku ini perlu diterbitkan?
Proposal yang kuat perlu memiliki pernyataan tesis yang jelas. Penulis juga harus mampu menjelaskan siapa pembaca utama buku tersebut secara spesifik, terutama berdasarkan disiplin atau bidang akademiknya.
Selain itu, proposal sebaiknya menyertakan asesmen pasar. Penulis dapat membandingkan sekitar lima buku sejenis yang diterbitkan dalam tiga hingga lima tahun terakhir untuk menunjukkan posisi dan keunikan karya yang ditawarkan.
Daftar isi beranotasi juga memiliki peran penting. Setiap bab perlu menjelaskan kontribusinya terhadap argumen utama dan menunjukkan bagaimana keseluruhan buku membangun alur pemikiran yang berkesinambungan.
Dengan demikian, editor tidak hanya melihat kumpulan tulisan akademik, tetapi memahami bentuk buku secara keseluruhan sejak tahap proposal.
Peer Review Menentukan Kelayakan Buku Akademik

Penelaahan sejawat atau peer review menjadi salah satu karakter utama penerbitan akademik. Berbeda dengan penerbitan komersial yang lebih banyak mempertimbangkan pasar, penerbit akademik harus memastikan bahwa karya memiliki kualitas dan kontribusi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masukan dari reviewer tidak seharusnya dipandang sebagai serangan terhadap penulis. Kritik tersebut merupakan bagian dari proses untuk memperkuat argumen, struktur, metodologi, dan kontribusi buku.
Penulis biasanya perlu menyiapkan dokumen author response untuk menjelaskan bagaimana mereka menanggapi setiap masukan reviewer. Respons harus dibuat secara sistematis, profesional, dan menunjukkan perubahan yang dilakukan maupun alasan akademis ketika penulis memilih mempertahankan bagian tertentu.
Sebagai gambaran, University of California Press memiliki dewan editorial yang melibatkan 20 anggota fakultas dari berbagai kampus dan bidang keilmuan. Proses review proposal rata-rata berlangsung sekitar delapan minggu, sementara manuskrip lengkap dapat membutuhkan sekitar 10–12 minggu.
Pahami Kontrak dan Hak Cipta Sebelum Menandatangani
Setelah naskah memperoleh persetujuan, persoalan berikutnya adalah kontrak penerbitan. Penulis tidak seharusnya menganggap kontrak sebagai dokumen yang hanya perlu ditandatangani.
Salah satu prinsip yang dapat digunakan adalah RUNS: Read, Understand, Negotiate, Save. Artinya, baca kontrak dengan teliti, pahami konsekuensinya, negosiasikan bagian yang diperlukan, kemudian simpan seluruh dokumentasi dengan baik.
Hak cipta juga perlu diperhatikan. Untuk karya yang dibuat setelah 1978 di Amerika Serikat, perlindungan umumnya berlangsung selama hidup penulis ditambah 70 tahun setelah kematian.
Klausul rights reversion menjadi salah satu bagian yang penting. Klausul ini dapat memberikan mekanisme bagi penulis untuk meminta kembali hak tertentu ketika buku sudah tidak lagi dicetak atau penjualannya berada di bawah batas yang ditentukan dalam kontrak.
Hal tersebut dapat menjadi penting apabila penulis ingin menerbitkan kembali karya secara mandiri atau mempertimbangkan akses terbuka di kemudian hari.
Negosiasi Adalah Bagian dari Profesionalisme
Penulis pemula sering merasa berada dalam posisi lemah ketika berhadapan dengan penerbit besar. Padahal, penerbit membutuhkan karya dan gagasan yang dimiliki penulis.
Rachel Brooke merangkum prinsip tersebut dengan sederhana: “negotiation is just a conversation.” Negosiasi tidak harus dipahami sebagai konflik, melainkan percakapan untuk menemukan kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak.
Penulis juga perlu berani menanyakan persoalan teknis, termasuk biaya penggunaan materi pihak ketiga. Dalam salah satu pengalaman Brandy Thompson Summers, biaya reproduksi gambar untuk sebuah artikel bertema fesyen bahkan dapat mencapai 10.000 dolar AS.
Karena itu, aspek hak penggunaan gambar, ilustrasi, arsip, dan materi lain perlu diperiksa sejak awal agar tidak menjadi beban tidak terduga ketika buku memasuki tahap produksi.
Konsistensi Menulis Lebih Penting daripada Menunggu Waktu Luang

Mengubah disertasi menjadi buku membutuhkan proyek jangka panjang. Brandy Thompson Summers menunjukkan bahwa konsistensi dapat menjadi solusi ketika penulis memiliki banyak tanggung jawab lain.
Untuk menyelesaikan tiga bab tambahan buku pertamanya, ia menulis selama dua jam setiap pagi, sekitar pukul 05.00–07.00, selama kurang lebih delapan bulan. Rutinitas tersebut menunjukkan bahwa kemajuan buku sering kali dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Panjang monograf akademik umumnya berada di sekitar 90.000 kata, termasuk catatan kaki dan bibliografi, untuk menghasilkan sekitar 230–250 halaman. Namun, tren penerbitan saat ini juga menunjukkan meningkatnya minat terhadap buku yang lebih ringkas, sekitar 70.000–80.000 kata.
Pada akhirnya, proyek buku sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara menerbitkan penelitian lama. Reyna Polivka menekankan pentingnya hubungan jangka panjang dalam dunia penerbitan. Proyek buku juga dapat menjadi sarana untuk membangun identitas intelektual dan menjadi akademisi yang ingin dicapai beberapa tahun ke depan.
Kesimpulan
Transformasi disertasi menjadi buku monograf membutuhkan lebih dari sekadar penyuntingan naskah. Penulis perlu menemukan kembali argumen utama, membangun suara sebagai ahli, menyusun proposal yang meyakinkan, merespons peer review secara profesional, serta memahami kontrak dan hak cipta.
Yang tidak kalah penting adalah keberanian untuk mengadvokasi karya sendiri. Penulis pemula memiliki hak untuk bertanya, bernegosiasi, dan mempertahankan keputusan akademis yang memiliki dasar kuat.
Dengan persiapan yang matang dan proses menulis yang konsisten, disertasi tidak harus berhenti sebagai dokumen kelulusan. Ia dapat berkembang menjadi buku yang memperluas pengaruh penelitian sekaligus membangun reputasi intelektual penulis.
FAQ
- Apakah disertasi bisa langsung diterbitkan menjadi buku? Disertasi sebaiknya tidak langsung dipindahkan seluruhnya menjadi buku karena monograf membutuhkan struktur, argumen, dan suara penulis yang berbeda.
- Apa yang harus ada dalam proposal buku monograf? Proposal idealnya memuat tesis utama, target pembaca, asesmen pasar, perbandingan dengan buku sejenis, serta daftar isi beranotasi.
- Mengapa peer review penting dalam penerbitan akademik? Peer review membantu memastikan kualitas, kredibilitas, dan kontribusi ilmiah sebuah naskah sebelum diterbitkan.
- Apa yang dimaksud dengan rights reversion? Rights reversion adalah mekanisme kontraktual yang memungkinkan hak tertentu atas karya kembali kepada penulis berdasarkan kondisi yang disepakati, misalnya ketika buku tidak lagi aktif diterbitkan.
- Apakah penulis pemula boleh menegosiasikan kontrak dengan penerbit? Ya. Penulis dapat membaca, memahami, dan menegosiasikan ketentuan kontrak agar hak serta kepentingannya terlindungi.