Life & Campus

Dari Tauhid ke Pembebasan: Menyelami Islam Protes Ali Syariati

16 Agustus 2026, 08:58 WIB / Tutut Septia Wati
Dari Tauhid ke Pembebasan: Menyelami Islam Protes Ali Syariati

Dari Tauhid ke Pembebasan: Menyelami Islam Protes Ali Syariati

Kendari, Kampus Times- Agama membawa pesan tentang keadilan dan pembebasan, tetapi perjalanan sejarah menunjukkan bahwa agama juga dapat dipakai untuk mempertahankan kemapanan. Paradoks inilah yang menjadi salah satu kegelisahan penting dalam pemikiran Ali Syariati.

Melalui gagasan Islam sebagai agama protes, Syariati berusaha mengembalikan agama kepada fungsi profetiknya: membela manusia, menggugat penindasan, dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Pemikiran tersebut tetap menarik dibaca dalam konteks Indonesia. Namun, Syariati tidak cukup hanya dikagumi sebagai pemikir revolusioner. Gagasannya perlu dibaca kritis dan dikontekstualisasikan dengan demokrasi, pluralitas, serta tantangan masyarakat digital.

Tauhid sebagai Fondasi Pembebasan

Bagi Syariati, tauhid tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Esa. Tauhid memiliki konsekuensi sosial karena hanya Allah yang bersifat mutlak.

Jika hanya Allah yang mutlak, maka manusia tidak seharusnya memperlakukan kekuasaan, negara, modal, ideologi, status sosial, maupun tokoh sebagai sesuatu yang absolut.

Dari sinilah lahir kritik Syariati terhadap berbagai bentuk syirik sosial. Manusia yang bertauhid seharusnya memiliki kebebasan karena tidak menjadi budak selain Tuhan.

Ketika Tauhid Menjadi Etika Sosial

Pertanyaan penting yang muncul kemudian bukan hanya apakah seseorang beriman, tetapi apakah keimanannya membuat manusia lebih adil, merdeka, dan manusiawi.

Pertanyaan ini relevan ketika bentuk penghambaan modern semakin beragam. Kultus kekuasaan, konsumerisme, fanatisme kelompok, politik identitas, dan pengultusan figur dapat menjadi bentuk dominasi baru.

Karena itu, tauhid dalam pembacaan Syariati dapat dipahami sebagai etika pembebasan: manusia tunduk kepada Allah sekaligus menolak segala bentuk penindasan terhadap martabat manusia.

Islam sebagai Agama Protes

Istilah “protes” tidak semata-mata berarti demonstrasi atau pemberontakan politik. Protes merupakan keberanian moral untuk mengatakan tidak terhadap ketidakadilan.

Islam harus mampu mengatakan tidak ketika agama digunakan untuk membenarkan kezaliman. Islam juga harus mempertanyakan keadaan ketika kemiskinan hanya dianggap sebagai takdir tanpa melihat struktur sosial yang menyebabkan ketimpangan.

Dalam perspektif ini, ibadah mempunyai dimensi sosial. Salat, zakat, dan puasa tidak semestinya berhenti sebagai ritual individual, tetapi harus membentuk karakter yang peduli terhadap penderitaan manusia.

Agama yang kehilangan daya kritik berisiko menjadi agama yang nyaman bagi kemapanan.

Dari Revolusi Menuju Transformasi

Pengalaman revolusi Iran menunjukkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan mobilisasi sosial dan politik. Dalam pembacaan Nasir Tamara, pengalaman tersebut juga membuka pertanyaan penting mengenai hubungan Islam, revolusi, dan kekuasaan.

Pertanyaan paling mendasar adalah: apa yang terjadi setelah rezim lama tumbang?

Revolusi dapat mengganti penguasa, tetapi belum tentu menghapus struktur dominasi. Karena itu, semangat Islam protes tidak boleh berhenti pada pergantian elite.

Kritik terhadap kekuasaan juga harus berlaku kepada kelompok sendiri. Jika kritik hanya tajam kepada lawan politik tetapi tumpul kepada pihak yang didukung, maka keberpihakan tersebut kehilangan dimensi profetiknya.

Tauhid Sosial dan Islam Kemanusiaan

Pemikiran Amien Rais mengenai Tauhid Sosial memiliki titik temu dengan gagasan Syariati. Tauhid harus memiliki konsekuensi terhadap persoalan keadilan, demokrasi, ketimpangan, dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, agama yang masuk ke ruang politik juga menghadapi risiko. Bahasa tauhid dapat berubah menjadi instrumen legitimasi kekuasaan jika nilai moral dikalahkan oleh kepentingan politik.

Karena itu, tauhid semestinya menjadi kekuatan yang membatasi kekuasaan, bukan mengsakralkan kekuasaan.

Sementara itu, Ahmad Syafi’i Maarif memberikan perspektif penting bahwa Islam tidak boleh direduksi menjadi ideologi politik. Islam harus hadir sebagai kekuatan moral yang membela kemanusiaan, demokrasi, keadaban, dan kemajemukan.

Dalam konteks Indonesia, pembebasan tidak seharusnya dimaknai sebagai kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Ukuran keberhasilan agama justru dapat dilihat dari kemampuannya menghadirkan keadilan bagi semua.

Membela Mustadh'afin

Jalaluddin Rakhmat menaruh perhatian pada keberpihakan kepada mustadh'afin, yaitu mereka yang dilemahkan oleh struktur sosial.

Semangat ini memiliki akar kuat dalam narasi kenabian. Musa berhadapan dengan Fir'aun, Ibrahim menggugat kemapanan paganisme, dan Nabi Muhammad berhadapan dengan struktur sosial-ekonomi yang tidak adil.

Namun pembebasan tidak hanya menyangkut struktur eksternal. Manusia juga dapat menjadi budak keserakahan, kebencian, popularitas, fanatisme, dan ego.

Karena itu, pembebasan Islam memiliki dua dimensi: membebaskan masyarakat dari ketidakadilan sekaligus membebaskan jiwa dari kecenderungan menindas.

Kritik terhadap Islam Protes

Gagasan Syariati tetap membutuhkan pembacaan kritis. Semangat protes dapat berubah menjadi romantisme revolusi apabila setiap kemapanan dianggap harus dihancurkan.

Padahal, institusi yang sehat tetap dibutuhkan untuk menjaga hukum, ketertiban, dan keadilan. Bahasa perlawanan juga harus dikendalikan oleh etika agar tidak berubah menjadi pembenaran terhadap kekerasan.

Selain itu, membongkar struktur lama tanpa membangun alternatif hanya akan menghasilkan kekosongan. Karena itu, Islam protes perlu berkembang menjadi Islam transformatif: kritis terhadap ketidakadilan sekaligus mampu menawarkan solusi.

Islam Protes di Era Digital

Gagasan Syariati justru memperoleh medan baru dalam masyarakat digital. Jika dahulu dominasi bekerja melalui istana, birokrasi, militer, dan kapital, kini kekuasaan juga dapat bekerja melalui algoritma, platform digital, ekonomi perhatian, dan data.

Manusia dapat merasa bebas karena memiliki smartphone, tetapi perilakunya diarahkan oleh algoritma. Ia merasa memilih, sementara pilihannya bisa dipengaruhi oleh sistem rekomendasi dan kepentingan ekonomi digital.

Dalam konteks ini, tauhid dapat dibaca sebagai etika kebebasan digital. Manusia tidak seharusnya menjadi budak popularitas, pasar, algoritma, maupun opini massa.

Islam protes hari ini bukan sekadar keberanian untuk berteriak “lawan”. Ia berarti kemampuan berpikir merdeka, menyampaikan kebenaran, menolak ketidakadilan, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan solusi.

Kesimpulan

Pemikiran Ali Syariati mengingatkan bahwa tauhid memiliki konsekuensi sosial. Mengakui Allah sebagai satu-satunya Yang Absolut berarti menolak segala bentuk penghambaan manusia kepada kekuasaan, harta, status, ideologi, maupun ego.

Namun, Islam protes tidak boleh berhenti pada romantisme revolusi. Ia harus berkembang menjadi gerakan transformasi yang menggabungkan keberanian mengkritik ketidakadilan dengan kemampuan membangun kehidupan yang lebih adil dan manusiawi.

Nasir Tamara membantu melihat dimensi politik revolusi, Amien Rais memperluasnya melalui tauhid sosial, Ahmad Syafi’i Maarif menekankan kemanusiaan dan kemajemukan, Jalaluddin Rakhmat menegaskan keberpihakan kepada mustadh'afin, sementara Muhammad Sabri AR. membuka ruang pembacaan tauhid sebagai kesadaran filosofis.

Pada akhirnya, Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk tunduk kepada Tuhan, tetapi juga membebaskannya dari segala bentuk penghambaan yang merendahkan martabat.

Tauhid yang sejati membebaskan. Dan kebebasan yang sejati harus tetap berpijak pada nilai ketuhanan, keadilan, dan kemanusiaan.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud Islam sebagai agama protes menurut Ali Syariati? Islam sebagai agama protes adalah keberanian moral untuk menolak penindasan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan agama demi mempertahankan kemapanan.
  2. Bagaimana Syariati menghubungkan tauhid dengan pembebasan? Tauhid menegaskan bahwa hanya Allah yang absolut sehingga manusia tidak boleh menjadi budak kekuasaan, harta, ideologi, maupun manusia lainnya.
  3. Apa hubungan pemikiran Syariati dengan Tauhid Sosial? Keduanya memiliki titik temu dalam gagasan bahwa tauhid harus memiliki konsekuensi sosial berupa keadilan, pembelaan terhadap masyarakat lemah, dan kritik terhadap ketimpangan.
  4. Apakah Islam protes berarti harus melakukan revolusi politik? Tidak. Semangat protes dapat diwujudkan melalui kritik moral, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, perjuangan keadilan, dan transformasi sosial tanpa harus identik dengan revolusi politik.
  5. Apa relevansi pemikiran Syariati di era digital? Gagasannya dapat digunakan untuk mengkritisi bentuk dominasi baru seperti manipulasi algoritma, konsumerisme, ekonomi perhatian, disinformasi, dan budaya popularitas.

Topik Terkait

Trending Hari Ini