Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sering membuat teknologi seolah-olah memiliki kecerdasan sendiri. Chatbot dapat menjawab pertanyaan, menulis kode, membuat gambar, hingga berinteraksi dengan manusia dalam bahasa natural. Namun, Jaron Lanier menawarkan cara pandang yang berbeda: “tidak ada AI” sebagai entitas mandiri.
Gagasan tersebut disampaikan Lanier dalam esainya berjudul There Is No A.I. yang diterbitkan The New Yorker pada April 2023. Ia berpendapat bahwa istilah artificial intelligence dapat membuat masyarakat terlalu mudah menganggap sistem AI sebagai makhluk atau pikiran baru, padahal teknologi tersebut sangat bergantung pada data dan karya manusia.
AI Bukan Entitas Baru, Melainkan Kolaborasi Manusia
Menurut Lanier, sistem AI modern lebih tepat dipahami sebagai bentuk kolaborasi manusia dalam skala yang sangat besar. Model AI belajar dari kumpulan data yang berasal dari aktivitas manusia, termasuk teks, gambar, kode, dan berbagai bentuk karya digital.
Cara pandang ini penting karena menggeser pertanyaan dari “seberapa pintar AI?” menjadi “manusia seperti apa yang membentuk AI tersebut?”. Dalam kerangka tersebut, kemampuan AI tidak muncul dari ruang kosong, melainkan dari pola yang dipelajari melalui data dan kontribusi manusia.
Menghindari Mitos “AI sebagai Tuhan Baru”
Lanier juga mengingatkan bahaya memperlakukan AI seperti entitas yang memiliki otoritas sendiri. Ketika masyarakat menganggap AI sebagai sumber kecerdasan yang hampir mahakuasa, keputusan manusia dapat terlalu bergantung pada hasil sistem tanpa memahami keterbatasannya.
Padahal, sistem AI tetap dapat menghasilkan kesalahan atau informasi yang tampak meyakinkan tetapi tidak benar. Perdebatan mengenai hallucination, transparansi data, dan keterbatasan model menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi tidak sama dengan pemahaman manusia.
AI Mempercepat Pekerjaan, tetapi Tidak Menghapus Peran Manusia
Lanier tidak menolak manfaat praktis AI. Salah satu bidang yang menurutnya sangat terbantu adalah pemrograman. AI dapat mempercepat proses penulisan kode dan membantu menemukan kesalahan yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk diperiksa secara manual.
Pengalaman tersebut menunjukkan posisi AI yang lebih realistis sebagai alat bantu. Teknologi dapat mengurangi pekerjaan teknis tertentu, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, mengevaluasi hasil, memahami konteks, dan mengambil keputusan.
Fenomena hubungan emosional dengan AI juga memperlihatkan bagaimana manusia dapat memproyeksikan sifat manusia kepada teknologi. Bagi Lanier, gambaran AI sebagai pasangan atau sosok yang benar-benar memiliki perasaan lebih dekat dengan pengalaman teatrikal daripada bukti bahwa mesin mempunyai kehidupan batin seperti manusia.
Mengapa Keamanan AI Tidak Cukup Mengandalkan Guardrails?
Salah satu persoalan penting dalam AI adalah keamanan. Sistem AI modern dilengkapi guardrails untuk membatasi keluaran tertentu, tetapi pendekatan tersebut tidak selalu sempurna dan dapat menghadapi upaya jailbreak.
Lanier mengusulkan gagasan yang disebut counterfactual cluster estimation sebagai pendekatan keamanan yang berjalan secara paralel. Konsep tersebut membayangkan mekanisme lain yang memeriksa kelompok data pelatihan yang paling berpengaruh terhadap suatu keluaran, terpisah dari mekanisme utama model.
Pendekatan Keamanan seperti Multi-Factor Authentication
Analogi yang digunakan Lanier menyerupai multi-factor authentication. Jika sistem utama memiliki kelemahan, lapisan pemeriksaan kedua yang bekerja secara independen dapat memberikan pengamanan tambahan.
Dalam gagasan tersebut, sistem paralel dapat membantu mengidentifikasi sumber data yang berkontribusi terhadap keluaran tertentu. Ini masih merupakan gagasan yang ditawarkan Lanier, bukan berarti telah menjadi standar keamanan AI yang diterapkan secara luas.
Membuka Black Box AI dengan Mengungkap Manusia di Baliknya
Istilah black box sering digunakan untuk menggambarkan sulitnya mengetahui bagaimana model AI menghasilkan keluaran tertentu. Lanier menawarkan interpretasi yang menarik: kotak tersebut dianggap gelap bukan semata-mata karena algoritmanya terlalu rumit, tetapi karena manusia dan sumber data di dalam proses tersebut tidak cukup terlihat.
Jika kontribusi manusia, asal data, dan proses pembentukan model lebih transparan, persoalan kualitas dan akuntabilitas dapat dibahas secara lebih konkret. Pendekatan ini juga berkaitan dengan gagasan data dignity, yaitu pentingnya memberikan pengakuan terhadap manusia yang menghasilkan data yang menjadi bahan bagi sistem digital.
Kreativitas Manusia Menentukan Masa Depan AI
Lanier juga mengkritik pandangan bahwa perkembangan AI secara otomatis akan membuat manusia tidak lagi dibutuhkan. Ia melihat risiko lain: apabila AI terus menghasilkan konten berdasarkan karya yang sudah tersedia, internet dapat dipenuhi konten berulang dan kehilangan keragaman kreativitas manusia.
Karena itu, masa depan AI tidak hanya bergantung pada kemampuan mesin menghasilkan lebih banyak konten. Tantangan yang lebih mendasar adalah menciptakan insentif agar manusia tetap menghasilkan karya, gagasan, pengalaman, dan bentuk ekspresi baru yang memperkaya ekosistem pengetahuan.
Gagasan ini juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap konsentrasi kekuatan digital. Jika produksi pengetahuan dan kreativitas semakin terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan atau sistem, masyarakat berisiko kehilangan keberagaman sumber inovasi.
Kesimpulan
Gagasan “tidak ada AI” dari Jaron Lanier bukan berarti teknologi AI tidak nyata atau tidak berguna. Argumen utamanya adalah bahwa masyarakat perlu berhenti memandang AI sebagai entitas yang berdiri sendiri dan mulai melihat manusia, data, karya, serta keputusan yang membentuknya.
Perspektif tersebut membantu menempatkan AI secara lebih rasional. AI dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi kualitas dan arah penggunaannya tetap bergantung pada manusia. Masa depan teknologi bukan hanya tentang membuat AI semakin canggih, melainkan memastikan manusia tetap terlihat sebagai sumber data, kreativitas, tanggung jawab, dan keputusan.
FAQ
- Apa maksud Jaron Lanier dengan “There Is No AI”? Lanier menggunakan gagasan tersebut untuk menolak pandangan bahwa AI adalah entitas mandiri yang memiliki kecerdasan seperti manusia. Ia menekankan bahwa AI sangat bergantung pada data dan kontribusi manusia.
- Apakah Jaron Lanier menganggap AI tidak berguna? Tidak. Ia mengakui manfaat AI dalam berbagai pekerjaan, termasuk membantu pemrograman dan mempercepat aktivitas manusia.
- Apa itu counterfactual cluster estimation? Ini adalah konsep keamanan yang diusulkan Lanier untuk menganalisis kelompok data yang paling memengaruhi keluaran model melalui mekanisme yang berjalan secara terpisah dari model utama.
- Mengapa AI disebut sebagai black box? Sistem AI sulit dipahami secara menyeluruh karena proses dan data yang membentuk keluaran model sangat kompleks. Lanier berpendapat transparansi terhadap kontribusi manusia dapat membantu membuka persoalan tersebut.
- Apa pesan Lanier tentang kreativitas manusia? Manusia perlu terus menciptakan karya dan data baru agar perkembangan AI tidak hanya menghasilkan konten yang berulang. Kreativitas manusia tetap menjadi sumber penting bagi perkembangan budaya dan pengetahuan.