Kampus Times- Di era internet dan kecerdasan buatan, mendapatkan informasi bukan lagi persoalan utama dalam belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan ribuan artikel, video, buku digital, hingga jawaban dari chatbot.
Namun, melimpahnya informasi justru menghadirkan persoalan baru. Terlalu banyak informasi dapat membuat proses belajar semakin sulit karena seseorang tidak lagi memiliki cukup ruang untuk mengolah, membandingkan, dan menghubungkan informasi yang diterimanya.
Dalam kondisi tersebut, salah satu strategi yang dapat digunakan adalah learning by thinking, yaitu belajar dengan terlebih dahulu mengandalkan proses berpikir dan pengetahuan yang sudah tersimpan di dalam diri.
Apa Itu Learning by Thinking?
Learning by thinking merupakan pendekatan yang menempatkan proses berpikir sebagai langkah awal dalam pembelajaran. Alih-alih langsung mencari jawaban dari internet atau bertanya kepada AI, seseorang terlebih dahulu mencoba menjelaskan, mengingat, mempertanyakan, dan menghubungkan apa yang sudah diketahuinya.
Prinsip ini memiliki kemiripan dengan praktik rubber ducking yang populer di kalangan software engineer. Ketika menghadapi masalah pemrograman, seorang programmer terkadang menjelaskan kode atau masalahnya kepada benda sederhana, seperti boneka bebek karet.
Menariknya, solusi terkadang muncul bukan karena benda tersebut memberikan jawaban, melainkan karena proses menjelaskan membuat programmer menyadari sendiri letak masalahnya.
Pengetahuan Lama sebagai Bahan Baku
Belajar tidak selalu berarti memasukkan informasi baru ke dalam kepala. Sering kali, pembelajaran terjadi ketika seseorang mentransformasi dan mengombinasikan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk menjawab pertanyaan baru.
Proses tersebut dapat dianalogikan seperti memasak. Kita tidak selalu membutuhkan bahan baru untuk menghasilkan sesuatu. Bahan yang sudah tersedia dapat dikombinasikan dengan cara berbeda untuk menghasilkan hidangan baru.
Begitu pula dengan pengetahuan. Ketika seseorang mencoba menjelaskan suatu konsep menggunakan pemahamannya sendiri, ia sedang mengolah kembali "bahan" yang sudah ada di dalam memorinya.
Mengapa Menjelaskan kepada Diri Sendiri Efektif?
Penelitian mengenai self-explanation telah berlangsung sejak akhir 1980-an. Para peneliti menemukan bahwa siswa yang aktif menjelaskan materi kepada diri sendiri cenderung menunjukkan kualitas pembelajaran yang lebih baik dibandingkan mereka yang hanya menerima informasi secara pasif.
Pendekatan tersebut tidak hanya berlaku bagi orang dewasa. Dalam eksperimen pemecahan masalah menggunakan pencocokan kartu, anak-anak berusia 5 dan 6 tahun yang diminta menjelaskan alasan di balik pilihan mereka mampu mengadopsi pola berpikir yang menyerupai cara orang dewasa, meskipun tidak memperoleh umpan balik tambahan.
Artinya, aktivitas menjelaskan bukan sekadar cara menguji apakah seseorang sudah memahami materi. Proses tersebut dapat mengubah bagaimana seseorang memproses informasi dan menemukan hubungan antarkonsep.
Self-Explanation Membongkar Ilusi Pemahaman
Salah satu manfaat penting dari self-explanation adalah kemampuannya mengungkap illusion of explanatory depth.
Fenomena ini terjadi ketika seseorang merasa memahami suatu konsep dengan baik, tetapi ketika diminta menjelaskannya secara rinci, ternyata pemahamannya jauh lebih dangkal daripada yang diperkirakan.
Misalnya, seseorang merasa tahu cara kerja mesin pencari. Namun, ketika diminta menjelaskan langkah demi langkah bagaimana sebuah mesin pencari menentukan hasil yang muncul di layar, ia mungkin mulai kesulitan.
Kesulitan tersebut bukan kegagalan. Justru, di situlah proses belajar menjadi lebih efektif karena seseorang akhirnya mengetahui bagian mana yang belum dipahami.
Membuat Information Shopping List
Setelah menemukan celah pemahaman, seseorang dapat membuat semacam information shopping list. Daftar ini berisi informasi spesifik yang benar-benar dibutuhkan untuk melengkapi pemahaman.
Cara tersebut jauh lebih efektif dibandingkan membuka mesin pencari tanpa tujuan yang jelas. Pencarian informasi menjadi lebih terarah karena kita sudah mengetahui pertanyaan apa yang perlu dijawab.
Dengan demikian, informasi dari luar berfungsi sebagai pelengkap proses berpikir, bukan sebagai pengganti proses tersebut.
Bahaya Belajar yang Terlalu Bergantung pada AI
Kehadiran AI dan chatbot membuat proses mendapatkan jawaban menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko jika digunakan tanpa proses berpikir mandiri.
Ketika seseorang langsung memberikan pertanyaan kepada AI dan menerima jawaban yang terlihat lengkap, ia dapat merasa sudah memahami topik tersebut. Padahal, informasi tersebut mungkin belum benar-benar ditransformasikan menjadi pengetahuan yang dapat digunakan secara mandiri.
Inilah salah satu bentuk baru dari illusion of understanding. Seseorang mengetahui jawaban, tetapi belum tentu memahami bagaimana jawaban tersebut terbentuk atau bagaimana menerapkannya dalam situasi berbeda.
Karena itu, AI sebaiknya ditempatkan sebagai alat untuk memperluas pembelajaran setelah proses berpikir awal dilakukan.
Cara Menerapkan Learning by Thinking
Pendekatan ini sebenarnya cukup sederhana. Ketika mempelajari sesuatu yang baru, jangan langsung membuka internet atau bertanya kepada AI.
Pertama, berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: apa yang sudah saya ketahui tentang topik ini? Apa hubungan topik tersebut dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah saya miliki?
Kedua, coba jelaskan konsep tersebut menggunakan bahasa sendiri, seolah-olah sedang menerangkannya kepada orang lain. Jika mengalami kesulitan, tandai bagian yang tidak dapat dijelaskan.
Ketiga, gunakan celah tersebut untuk menentukan informasi apa yang benar-benar perlu dicari. Setelah mendapatkan informasi baru, kembali jelaskan konsep tersebut dengan pemahaman yang sudah diperbarui.
Cara ini menciptakan siklus belajar yang lebih aktif: ingat, jelaskan, temukan celah, cari informasi, lalu jelaskan kembali.
Jadilah "Rubber Duck" untuk Diri Sendiri
Ilmuwan kognitif Tania Lombrozo, yang telah mempelajari proses pembelajaran selama lebih dari 25 tahun, menekankan pentingnya proses berpikir dalam memahami informasi.
Prinsip sederhananya adalah jangan selalu memulai pembelajaran dari apa yang berada di luar kepala. Mulailah dengan melihat apa yang sudah ada di dalam kepala.
Dalam dunia yang semakin dipenuhi informasi, kemampuan untuk berpikir sebelum mencari informasi justru menjadi keterampilan penting. Kita tidak harus mengetahui semuanya. Yang lebih penting adalah mengetahui apa yang sudah kita pahami, apa yang belum kita pahami, dan informasi apa yang benar-benar kita butuhkan.
Kesimpulan
Learning by thinking menawarkan pendekatan sederhana tetapi penting untuk menghadapi era information overwhelm. Ketika informasi semakin mudah diperoleh, tantangan pembelajaran bukan lagi sekadar menemukan jawaban, melainkan mengubah informasi menjadi pemahaman yang benar-benar dimiliki.
Melalui self-explanation dan praktik rubber ducking, seseorang dapat mengolah pengetahuan internal, menemukan celah pemahaman, kemudian mencari informasi tambahan secara lebih terarah.
AI, internet, dan berbagai sumber informasi tetap memiliki peran penting. Namun, proses belajar sebaiknya tidak dimulai dengan menyerahkan pertanyaan kepada teknologi.
Sebelum mencari jawaban dari luar kepala, cobalah berpikir dari apa yang sudah ada di dalam kepala.
FAQ
- Apa yang dimaksud dengan learning by thinking? Learning by thinking adalah pendekatan belajar yang mengutamakan proses berpikir, mengingat, menjelaskan, dan menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelum mencari informasi tambahan.
- Apa itu self-explanation dalam pembelajaran? Self-explanation adalah strategi belajar dengan menjelaskan suatu konsep kepada diri sendiri menggunakan bahasa dan pemahaman sendiri.
- Mengapa rubber ducking dapat membantu belajar? Rubber ducking membantu seseorang menemukan solusi dengan memaksanya menguraikan masalah secara verbal sehingga hubungan atau kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat dapat muncul.
- Apa itu illusion of explanatory depth? Illusion of explanatory depth adalah kecenderungan seseorang merasa memahami suatu konsep secara mendalam sampai ia mencoba menjelaskannya dan menemukan bahwa pemahamannya sebenarnya terbatas.
- Bagaimana cara menggunakan AI tanpa menghambat proses belajar? Gunakan AI setelah mencoba berpikir dan menjelaskan materi secara mandiri agar AI berfungsi sebagai sumber informasi untuk mengisi celah pemahaman, bukan menggantikan proses berpikir.