Akademik & Riset

Lulusan China Berebut PNS, Mengapa Gelar Kuliah Tak Lagi Menjamin Masa Depan?

3 September 2026, 19:08 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi dipandang sebagai jalur utama menuju kehidupan yang lebih baik bagi generasi muda China. Belajar dengan keras, masuk universitas, kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak di kota besar menjadi gambaran kesuksesan yang banyak dikejar keluarga.

Namun, janji tersebut mulai menghadapi tekanan. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, sementara kemampuan pasar kerja menyerap tenaga muda tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Musim panas baru-baru ini bahkan mencatat rekor sekitar 12,7 juta lulusan universitas yang memasuki pasar kerja. Besarnya jumlah pencari kerja membuat persaingan semakin ketat, terutama bagi mereka yang belum memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri.

Tingkat pengangguran pemuda China sebelumnya sempat menembus lebih dari 20 persen. Setelah pemerintah menghentikan publikasi data untuk meninjau metodologi pengumpulan, angka dengan metode baru tetap berada di kisaran 20 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja muda bukan sekadar fenomena sementara. China menghadapi tantangan struktural mengenai bagaimana pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri dapat kembali diselaraskan.

“Rotten Tail Kids” dan Kekecewaan Investasi Pendidikan

Tekanan tersebut melahirkan istilah yang cukup mencolok, yaitu rotten tail kids. Istilah ini dianalogikan dengan proyek bangunan yang berhenti di tengah jalan atau rotten tail buildings.

Fenomena tersebut menggambarkan anak muda yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bagi keluarga yang telah mengeluarkan biaya besar untuk pendidikan, kondisi ini terasa seperti investasi yang tidak menghasilkan.

Persoalannya bukan hanya kehilangan pendapatan. Pekerjaan memiliki hubungan erat dengan identitas, harga diri, martabat, dan harapan seseorang terhadap masa depan.

Ketika seorang lulusan tidak mampu menemukan pekerjaan meskipun telah mengikuti jalur pendidikan yang diharapkan, kekecewaan tersebut dapat dirasakan oleh individu sekaligus keluarganya.

Situasi ini juga memperlihatkan bahwa gelar akademis tidak lagi cukup menjadi jaminan mobilitas sosial. Yang semakin menentukan adalah apakah pendidikan tersebut menghasilkan kemampuan yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Jurusan Kuliah Mulai Dipangkas

Salah satu akar persoalan berada pada kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri.

China menghadapi kekurangan tenaga ahli di sejumlah bidang teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Ironisnya, pada saat yang sama terdapat banyak lulusan dari bidang yang peluang kerjanya dianggap semakin terbatas.

Pemerintah kemudian merespons dengan memangkas ribuan program atau gelar akademis yang dianggap sudah usang atau terlalu jenuh.

Dalam periode 2021 hingga 2025, sekitar 12.000 gelar akademis disebut telah dipangkas. Bidang yang terdampak antara lain seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen.

Kebijakan tersebut menunjukkan upaya untuk mengarahkan pendidikan tinggi lebih dekat dengan kebutuhan ekonomi. Namun, dampaknya tidak dapat dirasakan secara instan.

Mahasiswa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan pendidikan. Artinya, perubahan kurikulum dan struktur program studi hari ini baru akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar tenaga kerja beberapa tahun kemudian.

PNS Kembali Menjadi “Iron Rice Bowl”

Ketika sektor swasta menawarkan ketidakpastian, generasi muda mulai kembali melirik sesuatu yang dahulu dianggap kurang menarik: pekerjaan pemerintah.

Fenomena ini dikenal melalui istilah iron rice bowl, yaitu gambaran pekerjaan yang menawarkan stabilitas dan keamanan.

Pada 2025, untuk pertama kalinya jumlah peserta ujian pegawai negeri sipil melampaui peserta ujian pascasarjana. Jumlah pendaftar mencapai rekor sekitar 3,7 juta orang.

Persaingannya pun ekstrem. Untuk sejumlah posisi yang sangat populer, rasio pelamarnya dapat mencapai sekitar 2.000 orang untuk satu posisi.

Perubahan ini cukup kontras dengan generasi sebelumnya. Setelah reformasi ekonomi China pada 1978, banyak orang justru meninggalkan sektor publik untuk mengejar peluang yang lebih besar di perusahaan swasta.

Kini, arah tersebut mulai berbalik.

Ketika pertumbuhan ekonomi dan pasar kerja semakin tidak pasti, stabilitas kembali memiliki nilai yang sangat tinggi bagi generasi muda.

Gig Economy Menjadi Penampung, tetapi Mulai Penuh

Tidak semua lulusan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan kantoran atau posisi pemerintahan. Sebagian akhirnya masuk ke sektor pekerjaan fleksibel seperti pengantaran makanan dan layanan transportasi daring.

Pemerintah China bahkan menggambarkan gig economy sebagai semacam reservoir of employment atau wadah penampung tenaga kerja yang dapat membantu meredakan tekanan pasar kerja.

Masalahnya, wadah tersebut juga mulai mendekati batas kapasitasnya.

Jumlah pekerja fleksibel di China telah mencapai sekitar 320 juta orang, hampir setengah dari total angkatan kerja. Hingga 2025, lebih dari 53 juta orang bekerja sebagai kurir pengantar makanan atau pengemudi ride-hailing, meningkat sekitar 10 juta orang hanya dalam dua tahun.

Ketika semakin banyak lulusan memasuki pekerjaan yang sama, pendapatan dan peluang menjadi semakin tertekan.

Gig economy akhirnya tidak lagi dapat dianggap sebagai solusi permanen. Ia lebih menyerupai jalan keluar sementara bagi mereka yang belum menemukan pekerjaan yang lebih stabil.

Lulusan Desa Mulai Meninggalkan Kota Besar

Lulusan Desa Mulai Meninggalkan Kota Besar

Krisis lapangan kerja juga mengubah pola mobilitas generasi muda.

Selama bertahun-tahun, kota-kota besar seperti Beijing menjadi simbol keberhasilan. Lulusan dari daerah pedesaan datang dengan harapan bahwa pendidikan dan kerja keras akan membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun, ketika peluang kerja semakin sulit diperoleh, sebagian dari mereka terpaksa kembali ke daerah asal.

Perubahan tersebut terlihat pada demografi Beijing. Berdasarkan data statistik China, jumlah penduduk permanen berusia 20 hingga 29 tahun di Beijing menyusut hingga hampir setengahnya antara 2015 dan 2024.

Penurunan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik kota besar terhadap generasi muda tidak lagi sekuat sebelumnya.

Tantangan Besar China: Terlalu Banyak Lulusan, Terlalu Sedikit Pekerjaan Berkualitas

Persoalan yang dihadapi China pada akhirnya bukan sekadar jumlah pengangguran. Masalah yang lebih mendalam adalah ketidakseimbangan antara jumlah orang yang masuk pasar kerja dan jenis pekerjaan berkualitas yang tersedia.

Setiap tahun, jutaan orang baru memasuki pasar tenaga kerja dan harus bersaing dengan kelompok sebelumnya yang masih menganggur atau bekerja di bawah tingkat kualifikasi mereka.

Jika kondisi ini terus berlangsung, tekanan terhadap pendidikan tinggi juga akan meningkat. Masyarakat dapat mulai mempertanyakan apakah investasi bertahun-tahun di universitas benar-benar memberikan keuntungan yang sepadan.

Bagi China, tantangannya adalah menciptakan ekonomi yang mampu menghasilkan pekerjaan berkualitas dalam jumlah yang sebanding dengan pasokan tenaga kerja terdidik.

Pelajaran bagi Pendidikan dan Dunia Kerja

Pelajaran bagi Pendidikan dan Dunia Kerja

Fenomena di China memberikan pelajaran penting bagi negara lain. Pertumbuhan jumlah lulusan tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi jika keterampilan yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Pendidikan tinggi perlu bergerak lebih dekat dengan dunia kerja tanpa kehilangan fungsi akademiknya. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan gelar, tetapi juga pengalaman praktis, kemampuan digital, komunikasi, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan industri.

Di sisi lain, perusahaan dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan jalur transisi yang lebih baik dari pendidikan menuju pekerjaan.

Tanpa hubungan yang kuat antara kampus, industri, dan kebijakan tenaga kerja, sebuah negara dapat menghadapi paradoks: memiliki jutaan lulusan terdidik sekaligus kekurangan tenaga ahli di sektor-sektor tertentu.

Kesimpulan

Krisis tenaga kerja muda China memperlihatkan bahwa gelar perguruan tinggi tidak selalu menjadi tiket otomatis menuju pekerjaan yang baik. Rekor jumlah lulusan, tingginya pengangguran, ketidaksesuaian keterampilan, dan terbatasnya pekerjaan berkualitas menciptakan tekanan baru bagi generasi muda.

Fenomena rotten tail kids, lonjakan peminat pekerjaan PNS, serta membesarnya gig economy menunjukkan bagaimana harapan generasi muda sedang berubah. Stabilitas kini sering kali lebih menarik daripada ambisi mengejar karier dengan risiko tinggi.

Masalah ini juga menjadi peringatan bagi sistem pendidikan di berbagai negara. Tantangan masa depan bukan hanya menghasilkan lebih banyak lulusan, tetapi memastikan mereka memiliki keterampilan yang relevan dan mampu menemukan tempat dalam ekonomi yang terus berubah.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud dengan rotten tail kids di China? Istilah ini menggambarkan lulusan muda yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan, sehingga investasi pendidikan keluarga dianggap tidak menghasilkan sesuai harapan.
  2. Mengapa banyak lulusan China ingin menjadi PNS? Ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mendapatkan pekerjaan berkualitas membuat stabilitas, keamanan kerja, dan manfaat pekerjaan pemerintah semakin menarik.
  3. Mengapa China memangkas ribuan jurusan kuliah? Salah satu alasannya adalah adanya ketidaksesuaian antara program pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berubah.
  4. Apakah gig economy dapat menyelesaikan pengangguran pemuda China? Gig economy dapat menjadi penampung sementara tenaga kerja, tetapi jumlah pekerjanya yang sangat besar membuat sektor tersebut juga menghadapi risiko kejenuhan.
  5. Apa pelajaran utama dari krisis tenaga kerja muda China? Pertumbuhan jumlah lulusan harus diikuti dengan relevansi keterampilan, kualitas pekerjaan, dan hubungan yang lebih kuat antara pendidikan dengan kebutuhan industri.

Topik Terkait

Trending Hari Ini