Profil & Institusi

Lulusan Perguruan Tinggi 2025 Didominasi Non-STEM, Proporsi STEM Tertinggi Ada di Program Diploma

6 September 2026, 19:18 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Kebutuhan tenaga manusia di bidang teknologi dan informasi terus meningkat. Namun, data pendidikan tinggi Indonesia menunjukkan bahwa komposisi lulusan belum sepenuhnya bergerak ke arah bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Grafik 6.7 dalam Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2025 memperlihatkan proporsi lulusan berdasarkan program pendidikan dan bidang keilmuan. Data tersebut memberikan gambaran menarik: pada sebagian besar jenjang pendidikan tinggi, lulusan non-STEM masih memiliki porsi lebih besar dibandingkan lulusan STEM.

Temuan ini penting karena komposisi lulusan bukan hanya menggambarkan bidang yang banyak menghasilkan sarjana atau tenaga profesional, tetapi juga dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat bagaimana pendidikan tinggi memasok sumber daya manusia sesuai kebutuhan bidang keilmuan.

Mayoritas lulusan sarjana hingga doktoral berasal dari non-STEM

Mayoritas lulusan sarjana hingga doktoral berasal dari non-STEM

Pada jenjang Sarjana, lulusan non-STEM mencapai 68,16%, sementara lulusan STEM sebesar 31,84%. Artinya, dari komposisi lulusan yang ditampilkan dalam grafik, bidang non-STEM masih mengambil porsi lebih dari dua kali lipat dibandingkan STEM.

Pola yang lebih kuat terlihat pada jenjang pascasarjana.

Pada tingkat Magister, lulusan non-STEM mencapai 79,22%, sedangkan STEM sebesar 20,78%. Sementara pada jenjang Doktoral, proporsi lulusan non-STEM berada di angka 76,55%, berbanding 23,45% untuk STEM.

Dengan demikian, semakin tinggi jenjang pendidikan pada kelompok magister dan doktoral, bidang non-STEM masih menunjukkan porsi lulusan yang dominan dalam data tersebut.

Namun, angka ini tidak berarti bidang STEM tidak berkembang. Grafik yang sama justru memperlihatkan bahwa ketersediaan program studi STEM pada beberapa jenjang cukup besar. Perbedaan antara ketersediaan program dan proporsi lulusan menjadi bagian menarik yang perlu diperhatikan.

Ada kesenjangan mencolok pada program profesi

Perbedaan paling tajam terlihat pada program profesi.

Data menunjukkan lulusan profesi terdiri atas 88,55% non-STEM dan hanya 11,45% STEM. Padahal, dari sisi ketersediaan program studi, bidang STEM justru mencapai 80,22%, sementara non-STEM sebesar 19,78%.

Jika kedua angka tersebut dibandingkan, terlihat adanya jarak yang sangat lebar antara proporsi program studi STEM dan proporsi lulusannya. Ketersediaan program studi STEM yang mencapai 80,22% tidak secara otomatis menghasilkan lulusan STEM dalam proporsi yang sama.

Perbedaan ini perlu dibaca secara hati-hati. Data grafik menunjukkan proporsi, bukan penjelasan mengenai penyebabnya. Karena itu, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa suatu bidang kekurangan peminat, memiliki tingkat kelulusan lebih rendah, atau mengalami persoalan tertentu tanpa data tambahan.

Yang jelas, terdapat ketidakseimbangan proporsi antara struktur program studi dan komposisi lulusan pada jenjang profesi.

Diploma dan spesialis punya pola berbeda

Berbeda dari profesi, program Diploma memperlihatkan komposisi lulusan yang lebih kuat pada STEM. Sebanyak 74,14% lulusan Diploma berada pada bidang STEM, sedangkan 25,86% berada pada non-STEM.

Menariknya, ketersediaan program studi Diploma juga menunjukkan kecenderungan yang sama: 71,49% program studi berada di bidang STEM dan 28,51% non-STEM.

Artinya, pada jenjang Diploma, proporsi lulusan STEM relatif sejalan dengan proporsi ketersediaan program studi STEM. Selisihnya hanya sekitar 2,65 poin persentase.

Pola lain terlihat pada program Spesialis. Grafik mencatat 100% lulusan Spesialis berada pada bidang STEM, sedangkan non-STEM tercatat 0%. Dari sisi ketersediaan program studi, STEM mencapai 99,58% dan non-STEM 0,42%.

Kondisi tersebut membuat program Diploma dan Spesialis menjadi kontras dengan program profesi yang menunjukkan perbedaan proporsi jauh lebih besar.

Apa artinya bagi pendidikan tinggi Indonesia?

Data Grafik 6.7 menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kebutuhan lulusan STEM tidak cukup hanya melihat berapa banyak program studi STEM yang tersedia.

Ada perbedaan antara supply program studi dan komposisi lulusan yang dihasilkan. Pada program Diploma dan Spesialis, kedua indikator tersebut terlihat relatif berdekatan. Sebaliknya, pada program Profesi, jaraknya sangat lebar.

Pada jenjang Sarjana, Magister, dan Doktoral, dominasi lulusan non-STEM juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Indonesia masih menghasilkan lulusan dalam jumlah proporsional lebih besar dari bidang-bidang non-STEM.

Bagi calon mahasiswa, data ini dapat menjadi konteks tambahan ketika mempertimbangkan pilihan bidang studi. Sementara bagi perguruan tinggi dan pembuat kebijakan, perbandingan tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat lebih jauh hubungan antara ketersediaan program studi, pilihan bidang keilmuan, dan lulusan yang benar-benar dihasilkan.

Yang juga penting, data ini merupakan gambaran proporsi bidang STEM dan non-STEM berdasarkan program pendidikan. Angka tersebut tidak secara langsung mengukur kualitas lulusan, kebutuhan pasar kerja, tingkat penyerapan tenaga kerja, maupun prospek karier masing-masing bidang.

Dengan kata lain, dominasi non-STEM dalam proporsi lulusan tidak otomatis berarti STEM lebih baik atau sebaliknya. Data ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran struktur keluaran pendidikan tinggi Indonesia menurut bidang keilmuan.

Kesimpulan Singkat

Buku Statistik Pendidikan Tinggi 2025 menunjukkan bahwa lulusan pendidikan tinggi Indonesia pada jenjang Sarjana, Magister, Doktoral, dan Profesi masih didominasi bidang non-STEM. Pengecualian terlihat pada Diploma dengan 74,14% lulusan STEM dan Spesialis dengan 100% STEM.

Temuan paling mencolok terdapat pada program Profesi: ketersediaan program studi STEM mencapai 80,22%, tetapi proporsi lulusannya hanya 11,45%. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya melihat pendidikan tinggi bukan hanya dari jumlah program studi yang tersedia, tetapi juga dari komposisi lulusan yang dihasilkan.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud dengan STEM dalam data pendidikan tinggi ini?
    STEM merupakan bidang keilmuan yang mencakup Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Grafik membandingkan proporsi bidang STEM dengan non-STEM pada berbagai program pendidikan.
  2. Jenjang mana yang memiliki proporsi lulusan STEM terbesar?
    Berdasarkan Grafik 6.7, program Spesialis memiliki proporsi lulusan STEM tertinggi, yakni 100%, disusul program Diploma sebesar 74,14%.
  3. Bagaimana proporsi lulusan STEM pada program Sarjana?
    Pada program Sarjana, lulusan STEM mencapai 31,84%, sedangkan non-STEM sebesar 68,16%.
  4. Mengapa program Profesi menarik perhatian dalam data ini?
    Karena terdapat perbedaan besar antara ketersediaan program studi STEM sebesar 80,22% dan proporsi lulusan STEM yang hanya 11,45%.
  5. Apakah dominasi lulusan non-STEM berarti bidang STEM kurang diminati?
    Tidak bisa langsung disimpulkan demikian. Grafik hanya menunjukkan proporsi program studi dan lulusan. Untuk mengetahui minat mahasiswa, tingkat kelulusan, atau penyebab perbedaan tersebut diperlukan data tambahan.

Sumber Data

Buku Statistik Pendidikan Tinggi Tahun 2025, PDDikti/Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Grafik 6.7 — “Proporsi Lulusan Berdasarkan Program Pendidikan dan Bidang Keilmuan”.

Topik Terkait

Trending Hari Ini