Sampang, Kampus Times – Mahasiswa Kuliah Pengabdian kepada Masyarakat (KPM/KKN) Institut Agama Islam Nazhatut Thullab (IAI NATA) Sampang 2026 mengembangkan pendampingan metode cepat Iqra’ bagi santri TPQ Miftahul Ihsan, Desa Muktesareh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.
Program tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa di bidang pendidikan keagamaan. Pendampingan diarahkan untuk membantu santri mempelajari cara membaca Al-Qur’an secara bertahap dengan memperhatikan tingkat kemampuan masing-masing.
Sebanyak 17 mahasiswa KPM IAI NATA Sampang Kelompok 2 Desa Muktesareh terlibat dalam program tersebut. Mereka berasal dari lima program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Hukum Keluarga Islam (HKI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Ekonomi Syariah (ES).
Pendampingan Disesuaikan dengan Kemampuan Santri
Koordinator KPM Desa Muktesareh Kelompok 2, Ariyanto dan Usman, mengatakan bahwa program pendampingan membaca Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung penguatan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Pendampingan dilakukan mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga peningkatan ketepatan dan kelancaran membaca. Mahasiswa berupaya menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan kemampuan setiap santri sehingga mereka tidak sekadar mengejar penyelesaian materi.
Pola tersebut penting karena kemampuan membaca Al-Qur’an pada setiap anak tidak selalu sama. Ada santri yang sudah mampu mengenali huruf dengan baik, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pengulangan dan pendampingan lebih intensif.
Dengan pendekatan bertahap, mahasiswa dapat memberikan perhatian sesuai kebutuhan santri. Proses pembelajaran pun diharapkan berlangsung lebih terarah tanpa mengabaikan kemampuan dasar yang perlu dikuasai sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Mengapa Metode Iqra’ Masih Relevan?
Menurut Ariyanto dan Usman, metode Iqra’ dipilih karena masih relevan sebagai metode dasar dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi anak-anak.
Salah satu keunggulan metode Iqra’ terletak pada sistem pembelajarannya yang disusun secara bertahap melalui enam jilid. Setiap jilid memiliki tingkat kesulitan berbeda sehingga perkembangan kemampuan membaca santri dapat diikuti secara berjenjang.
“Metode Iqra’ masih relevan karena pembelajarannya berjilid, dari jilid 1 sampai jilid 6, sehingga dapat disesuaikan dengan perkembangan kemampuan dan motorik santri,” kata Usman.
Sistem berjenjang tersebut memungkinkan santri membangun kemampuan dasar sebelum melanjutkan ke materi yang lebih kompleks. Pembelajaran juga dapat memberikan ruang bagi santri untuk mengulang bagian yang belum dikuasai.
Tidak Sekadar Mengejar Kenaikan Jilid
Dalam pembelajaran Al-Qur’an, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat santri menyelesaikan satu jilid. Kemampuan mengenali huruf, melafalkan dengan tepat, memahami pola bacaan dasar, serta membaca secara lebih lancar menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Karena itu, mahasiswa KPM IAI NATA menempatkan pendampingan sebagai bagian dari proses penguatan kemampuan santri. Program tetap disesuaikan dengan pola pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh TPQ Miftahul Ihsan.
Kehadiran mahasiswa bukan untuk menggantikan peran pengurus atau pengajar TPQ, melainkan membantu memperkuat proses pembelajaran yang telah berjalan. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu kunci agar program pengabdian dapat memberikan manfaat secara nyata.
Pengurus TPQ Sambut Positif Program Mahasiswa
Program pendampingan mendapat respons positif dari pengurus TPQ Miftahul Ihsan. Kehadiran mahasiswa dinilai membantu proses pendampingan sekaligus menghadirkan suasana berbeda dalam pembelajaran Al-Qur’an.
Keterlibatan 17 mahasiswa juga memungkinkan proses pendampingan dilakukan dengan perhatian yang lebih beragam terhadap kemampuan santri. Hal ini menjadi penting karena peserta didik di TPQ memiliki kecepatan belajar dan kebutuhan pendampingan yang berbeda.
Pengurus TPQ berharap pola pendampingan yang dikembangkan selama pelaksanaan KPM dapat memberikan manfaat jangka panjang. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan pembelajaran Al-Qur’an bagi santri setelah masa pengabdian mahasiswa selesai.
Pimpinan IAI NATA Apresiasi Program KPM
Program KPM di Desa Muktesareh turut mendapat perhatian jajaran pimpinan IAI NATA Sampang saat melakukan kunjungan ke lokasi pada Ahad, 16 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut melibatkan unsur rektorat, wakil rektor, dekan, pimpinan program studi, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAI NATA Sampang.
Jajaran pimpinan kampus mengapresiasi program mahasiswa yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pendampingan pembelajaran Al-Qur’an di TPQ Miftahul Ihsan menjadi salah satu bentuk pengabdian yang menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam bidang pendidikan keagamaan.
Apresiasi juga diberikan kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang mendampingi mahasiswa serta panitia KPM IAI NATA Sampang 2026 yang mengoordinasikan kegiatan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
KPM Menjadi Ruang Belajar Bersama
Pelaksanaan KPM tidak hanya memberikan manfaat kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
Melalui pendampingan di TPQ Miftahul Ihsan, mahasiswa belajar memahami kebutuhan pendidikan masyarakat secara langsung. Mereka juga memperoleh pengalaman membangun komunikasi, bekerja dalam tim lintas program studi, dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan karakter peserta didik.
Kolaborasi antara mahasiswa dan pengelola TPQ menjadi bagian penting agar program tidak berhenti sebagai kegiatan sementara. Pendampingan yang telah dilakukan dapat menjadi pengalaman dan referensi untuk mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih sesuai dengan kebutuhan santri.
Kesimpulan
Pengembangan pendampingan metode cepat Iqra’ oleh mahasiswa KPM IAI NATA Sampang di TPQ Miftahul Ihsan menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa dapat hadir melalui program sederhana tetapi memiliki dampak pendidikan yang nyata.
Metode Iqra’ yang disusun secara bertahap tetap dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembelajaran membaca Al-Qur’an, terutama ketika penerapannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing santri.
Lebih dari sekadar membantu santri membaca Al-Qur’an, program ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pengelola TPQ, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, pengalaman KPM dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan Al-Qur’an di tingkat masyarakat.
FAQ
- Apa program KPM IAI NATA di TPQ Miftahul Ihsan? Program tersebut berupa pendampingan pembelajaran membaca Al-Qur’an menggunakan metode Iqra’ secara bertahap sesuai kemampuan santri.
- Di mana program pendampingan Iqra’ dilaksanakan? Program dilaksanakan di TPQ Miftahul Ihsan, Desa Muktesareh, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang.
- Berapa mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut? Sebanyak 17 mahasiswa KPM IAI NATA Sampang Kelompok 2 Desa Muktesareh terlibat dalam kegiatan.
- Mengapa metode Iqra’ dipilih? Metode Iqra’ dipilih karena memiliki tahapan pembelajaran enam jilid sehingga kemampuan santri dapat dikembangkan secara berjenjang.
- Apa harapan dari program KPM tersebut? Program diharapkan membantu memperkuat pembelajaran Al-Qur’an dan memberikan manfaat yang dapat dilanjutkan oleh pengelola TPQ setelah KPM berakhir.