Sampang, Kampus Times – Sebanyak 23 mahasiswa Institut Agama Islam Nazhatut Thullab (IAI NATA) Sampang yang mengikuti Kuliah Pengabdian kepada Masyarakat (KPM) 2026 di Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, menghadirkan program pendidikan ramah anak dan pencegahan perundungan atau bullying bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Jawahir, Mlakah, Desa Komis.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 siswa. Melalui pendampingan yang komunikatif dan interaktif, mahasiswa mengajak peserta memahami pentingnya menghargai teman, membangun hubungan pertemanan yang sehat, serta menghindari tindakan yang dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun verbal.
Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam merespons persoalan pendidikan yang dekat dengan kehidupan anak. Edukasi diberikan dengan pendekatan yang mudah dipahami agar siswa tidak hanya mengetahui bahwa perundungan merupakan perilaku yang salah, tetapi juga mampu mengenali bentuk dan dampaknya.
Pendidikan Ramah Anak Menjadi Program Unggulan KPM
Membangun Budaya Sekolah yang Aman
Mahasiswa KPM Desa Komis berasal dari lima program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Hukum Keluarga Islam (HKI), dan Ekonomi Syariah.
Keragaman latar belakang keilmuan tersebut menjadi modal dalam menyusun program yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan dan sosial masyarakat. Salah satunya melalui edukasi pendidikan ramah anak dan pencegahan perundungan di lingkungan sekolah dasar.
Faisal Fawaid dan Rohman, peserta KPM Desa Komis, menjelaskan bahwa program tersebut dipilih karena pencegahan kekerasan dan perundungan perlu dikenalkan sejak jenjang pendidikan dasar.
Menurut mereka, siswa tidak cukup hanya mendapatkan pemahaman mengenai larangan melakukan bullying. Anak juga perlu belajar mengenali perilaku yang dapat merendahkan teman, memahami konsekuensinya, serta mengetahui cara membangun hubungan yang sehat.
“Pendidikan ramah anak dan pencegahan bullying penting dikenalkan sejak dini agar siswa memahami bagaimana memperlakukan teman dengan baik dan tidak menganggap tindakan mengejek atau menyakiti sebagai sesuatu yang biasa,” ujar Faisal.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena perundungan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Selain tindakan fisik, perilaku mengejek, menghina, mengucilkan, atau menggunakan kata-kata yang menyakiti juga dapat memengaruhi kenyamanan anak dalam mengikuti proses pembelajaran.
Rektor IAI NATA Soroti Dampak Psikologis Perundungan
Program pendidikan ramah anak turut mendapat perhatian dari tim supervisi KPM IAI NATA Sampang ketika mengunjungi lokasi pengabdian. Tim supervisi terdiri atas unsur rektorat, fakultas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), serta program studi.
Rektor IAI NATA Sampang, Nur Jamal, menilai kegiatan tersebut berpotensi memberikan dampak positif terhadap proses pendidikan. Menurutnya, suasana belajar yang aman dan nyaman memiliki hubungan erat dengan kondisi psikologis siswa.
“Anak perlu belajar dalam suasana yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan nyaman,” ujar Nur Jamal.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan ramah anak tidak sebatas program tambahan. Lingkungan sekolah yang aman menjadi bagian penting dalam mendukung proses belajar sekaligus membangun perkembangan sosial anak.
Mahasiswa Didorong Tidak Berhenti pada Isu Pendidikan
Wakil Rektor II IAI NATA Sampang, Nasrul Hadi, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai perlindungan anak dan pencegahan perundungan merupakan isu yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan mahasiswa.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan KPM 2026 tidak hanya berfokus pada sektor pendidikan. Mahasiswa juga perlu melihat potensi lain yang dimiliki masyarakat Desa Komis, termasuk penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Dengan demikian, kegiatan pengabdian diharapkan memiliki cakupan yang lebih luas. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui program pendidikan sekaligus membantu masyarakat mengembangkan potensi ekonomi yang tersedia di desa.
MI Al-Jawahir Sambut Positif Edukasi Anti-Perundungan
Pihak MI Al-Jawahir dan yayasan setempat menyambut positif kegiatan pendidikan ramah anak yang digelar mahasiswa KPM. Materi tersebut dinilai relevan diberikan sejak jenjang pendidikan dasar karena kebiasaan saling menghargai perlu dibentuk sejak usia dini.
Antusiasme siswa juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Para peserta mengikuti proses pendampingan dengan aktif melalui pola komunikasi yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Pendekatan tersebut membuat pesan pencegahan perundungan tidak sekadar disampaikan sebagai larangan. Siswa diarahkan untuk memahami contoh perilaku yang dapat menyakiti teman sekaligus membangun kebiasaan positif dalam berinteraksi.
Ketua Program Studi PAI IAI NATA Sampang, Ali Wafa, juga mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pendidikan ramah anak dan pencegahan perundungan merupakan bagian penting dalam menciptakan budaya belajar yang aman dan manusiawi.
Ia menilai kegiatan KPM sebaiknya tidak berhenti pada penyelesaian agenda selama masa pengabdian. Program yang dijalankan mahasiswa perlu menyentuh persoalan nyata dan meninggalkan kebiasaan baik yang dapat diteruskan sekolah setelah mahasiswa menyelesaikan pengabdian.
KPM Diharapkan Menghasilkan Program Berkelanjutan
Kegiatan di MI Al-Jawahir menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya lingkungan pendidikan yang aman. Kolaborasi antara mahasiswa, guru, yayasan, dan orang tua menjadi bagian penting agar upaya pencegahan perundungan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Bagi mahasiswa KPM IAI NATA Sampang, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi. Pengabdian tidak hanya menjadi kewajiban akademik, tetapi juga kesempatan memahami kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi yang relevan.
Ke depan, semangat tersebut dapat dikembangkan melalui program lain yang sesuai dengan karakteristik Desa Komis. Selain memperkuat pendidikan ramah anak, mahasiswa dapat ikut mendorong potensi ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM lokal.
Kesimpulan
Program pendidikan ramah anak dan pencegahan perundungan yang dilakukan mahasiswa KPM IAI NATA Sampang di MI Al-Jawahir menjadi contoh bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Edukasi kepada sekitar 50 siswa memberikan pemahaman mengenai pentingnya saling menghargai, membangun pertemanan sehat, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman.
Lebih dari sekadar kegiatan sesaat, program tersebut diharapkan dapat menjadi awal terbentuknya budaya sekolah yang lebih ramah, nyaman, dan bebas dari perundungan. Di sisi lain, mahasiswa juga perlu memperluas kontribusinya melalui program berkelanjutan yang menyentuh potensi sosial dan ekonomi Desa Komis.
FAQ
- Apa fokus utama kegiatan KPM IAI NATA di MI Al-Jawahir? Pendidikan ramah anak dan pencegahan perundungan bagi siswa jenjang pendidikan dasar.
- Berapa mahasiswa yang mengikuti KPM Desa Komis? Sebanyak 23 mahasiswa dari lima program studi mengikuti KPM 2026 di Desa Komis.
- Berapa siswa yang mengikuti edukasi pencegahan perundungan? Sekitar 50 siswa MI Al-Jawahir mengikuti kegiatan tersebut.
- Mengapa pendidikan ramah anak penting dikenalkan sejak dini? Karena kebiasaan saling menghargai dan membangun hubungan sehat perlu dibentuk sejak jenjang pendidikan dasar.
- Apa program lain yang didorong dalam KPM Desa Komis? Mahasiswa juga didorong mengembangkan program yang menyentuh potensi masyarakat, termasuk penguatan UMKM lokal.