Akademik & Riset

Mengapa Banyak Perusahaan Gagal Mendapatkan Produktivitas dari AI?

4 September 2026, 20:37 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi salah satu investasi teknologi terbesar dalam dunia bisnis. Perusahaan di berbagai sektor berlomba memasukkan AI ke dalam aktivitas kerja, mulai dari layanan pelanggan hingga analisis data dan pengembangan perangkat lunak.

Namun, besarnya investasi ternyata belum otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas. Di balik optimisme terhadap AI, banyak organisasi masih menghadapi persoalan mendasar: karyawan belum tahu cara menggunakannya, strategi perusahaan belum matang, dan teknologi yang dibeli tidak selalu terhubung dengan kebutuhan pekerjaan sehari-hari.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar AI di tempat kerja bukan lagi sekadar teknologi, melainkan kesiapan manusia dan organisasi.

Adopsi AI Berjalan dengan Dua Kecepatan

Perkembangan AI di dunia kerja saat ini berlangsung dalam dua kecepatan yang sangat berbeda.

Perusahaan teknologi terdepan sudah mulai memperlakukan agen AI sebagai bagian dari tim kerja. Teknologi digunakan untuk membantu menyelesaikan tugas, mempercepat proses, dan meningkatkan kemampuan karyawan.

Sementara itu, banyak perusahaan nonteknologi masih berada pada tahap awal. Mereka sekadar meminta karyawan menggunakan platform seperti ChatGPT atau Claude, tetapi belum mengubah proses kerja secara mendasar.

Akibatnya, penggunaan AI belum tentu menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan.

Investasi AI Harus Diikuti Pelatihan

Salah satu kesalahan terbesar perusahaan adalah menganggap pembelian teknologi secara otomatis akan menghasilkan adopsi.

Padahal, AI memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda dibandingkan perangkat lunak tradisional. Karyawan tidak cukup hanya diberikan akses ke sebuah platform. Mereka perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam pekerjaan.

Amanda Brophy menekankan bahwa perusahaan membutuhkan dua hal sekaligus: teknologi dan pelatihan. Keduanya tidak dapat diperlakukan sebagai pilihan alternatif.

Tenaga Kerja Menjadi Penentu Utama

Euan Blair menyampaikan gagasan yang semakin relevan dalam transformasi AI: perusahaan yang mengeluarkan investasi terbesar belum tentu menjadi pemenang.

Keunggulan justru berpotensi berada pada perusahaan yang memiliki tenaga kerja paling mampu menggunakan AI.

Hal ini menjelaskan mengapa program upskilling dan reskilling menjadi semakin penting. Perusahaan perlu mengajarkan bukan hanya cara membuka dan menggunakan alat AI, tetapi juga bagaimana menentukan tugas yang cocok untuk diotomatisasi, memeriksa hasil, dan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja.

Optimisme CEO Tidak Selalu Sesuai Kenyataan

Ada fenomena menarik dalam komunikasi perusahaan mengenai AI. Dalam laporan pendapatan, para CEO sering menggambarkan AI dengan narasi yang sangat optimistis.

AI disebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi, membuka peluang baru, dan mengubah bisnis. Namun, gambaran tersebut dapat berbeda ketika melihat dokumen regulasi yang lebih terukur.

Dalam dokumen tersebut, implementasi AI sering kali masih terbatas dan risiko yang disebutkan perusahaan dapat terlihat lebih konkret daripada manfaat yang sudah direalisasikan.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa potensi AI dan penerapan AI bukanlah hal yang sama.

Fenomena Shadow Use di Lingkungan Kerja

Masalah lain muncul ketika karyawan menggunakan AI secara diam-diam atau dikenal sebagai shadow use.

Seorang karyawan mungkin menemukan bahwa chatbot tertentu sangat membantu pekerjaannya. Namun, jika perusahaan menyediakan alat resmi yang kurang sesuai dengan kebutuhan, karyawan dapat memilih menggunakan platform lain secara informal.

Fenomena ini bukan sekadar persoalan kepatuhan. Shadow use juga menunjukkan adanya kegagalan komunikasi antara manajemen dan tenaga kerja.

Perusahaan perlu mengetahui alat apa yang benar-benar dibutuhkan karyawan, tugas apa yang ingin mereka selesaikan, serta hambatan apa yang mereka hadapi ketika menggunakan AI.

AI Harus Dihubungkan dengan Pekerjaan Nyata

Memberikan akses AI kepada karyawan tanpa menjelaskan penggunaannya dalam konteks pekerjaan sering kali menghasilkan kebingungan.

Pendekatan yang lebih efektif adalah menerjemahkan AI ke dalam aktivitas sehari-hari.

Misalnya, tim pemasaran dapat menggunakan AI untuk membuat konsep takarir media sosial, menyusun beberapa alternatif kampanye, atau merangkum masukan pelanggan. Tim keuangan dapat menggunakannya untuk membantu memproses dokumen, sedangkan pengembang perangkat lunak dapat memanfaatkannya untuk mempercepat pekerjaan coding.

Kemampuan Prompting Menjadi Penting

Kualitas hasil AI juga sangat dipengaruhi kualitas instruksi yang diberikan.

Karyawan perlu belajar membuat prompt dengan menyertakan audiens, tujuan, konteks, dan bahan rujukan yang jelas. Kemampuan tersebut akan semakin terasah jika digunakan secara rutin dalam pekerjaan sehari-hari.

Dengan demikian, pelatihan AI sebaiknya tidak berhenti pada seminar satu hari. Perusahaan perlu menciptakan kebiasaan penggunaan yang berulang sehingga karyawan memahami kapan AI benar-benar membantu dan kapan keputusan tetap harus dibuat manusia.

Potensi Produktivitas Sudah Terlihat

Meskipun banyak proyek AI belum menghasilkan dampak yang diharapkan, sejumlah penerapan menunjukkan potensi produktivitas yang signifikan.

Tim keuangan yang menggunakan AI dilaporkan mampu memproses invoice 50 persen lebih cepat dengan jumlah kesalahan yang lebih sedikit. Sementara itu, tim rekayasa perangkat lunak dapat meningkatkan kecepatan pengiriman kode hingga 75 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata-mata apakah AI mampu meningkatkan produktivitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan mengintegrasikannya dengan benar ke dalam pekerjaan manusia.

Di sisi lain, klaim bahwa 95 persen proyek uji coba AI generatif di tempat kerja gagal sebagaimana disebutkan dalam pembahasan tersebut juga menjadi peringatan. Perusahaan perlu berhenti mengejar AI hanya karena tren dan mulai mengukur manfaat berdasarkan masalah bisnis yang benar-benar ingin diselesaikan.

Kesimpulan

Adopsi AI di tempat kerja masih berada dalam fase awal yang penuh eksperimen. Besarnya investasi belum menjamin keberhasilan karena teknologi tanpa strategi dan tenaga kerja yang siap hanya akan menghasilkan potensi yang tidak terealisasi.

Perusahaan perlu membangun pendekatan yang menggabungkan teknologi, pelatihan, komunikasi, dan perubahan proses kerja. AI juga harus dikaitkan dengan kebutuhan konkret setiap peran agar karyawan memahami manfaatnya.

Pada akhirnya, persaingan AI bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Pemenangnya kemungkinan adalah perusahaan yang mampu membangun tenaga kerja paling siap menggunakan teknologi tersebut secara efektif, kritis, dan produktif.

FAQ

  1. Mengapa banyak perusahaan belum mendapatkan manfaat maksimal dari AI? Karena adopsi teknologi sering tidak disertai pelatihan, strategi yang jelas, dan integrasi dengan pekerjaan sehari-hari.
  2. Apa yang dimaksud dengan shadow use AI? Shadow use adalah penggunaan alat AI oleh karyawan secara informal di luar sistem atau perangkat yang secara resmi disediakan perusahaan.
  3. Apakah membeli teknologi AI saja sudah cukup? Tidak. Perusahaan membutuhkan teknologi sekaligus pelatihan agar karyawan mampu menggunakannya secara efektif.
  4. Mengapa kemampuan prompting penting di tempat kerja? Prompt yang jelas membantu AI memahami tujuan, konteks, audiens, dan sumber yang dibutuhkan sehingga hasilnya lebih relevan.
  5. Apakah penggunaan AI berarti pekerjaan manusia akan digantikan? Tidak selalu. AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi sehingga pekerja dapat mengurangi tugas rutin dan lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian manusia.

Topik Terkait

Trending Hari Ini