Kendari, Kampus Times- QS Al-A’raf ayat 56 menyimpan pesan penting tentang hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Ayat ini tidak sekadar berbicara mengenai larangan merusak lingkungan, tetapi juga mengingatkan manusia agar menjaga keteraturan kehidupan sebagai bagian dari amanah kekhalifahan di bumi.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Struktur ayat tersebut menghadirkan rangkaian pesan yang kuat: jangan merusak, berdoa dengan takut dan harap, lalu menghadirkan ihsan dalam kehidupan.
Memahami Makna Fasad dan Islah
Fasad Bukan Sekadar Kerusakan Alam
Kata fasad berasal dari akar kata Arab fasada yang mengandung makna kerusakan, penyimpangan, atau hilangnya keadaan yang baik. Karena itu, fasad dapat terjadi dalam berbagai ruang kehidupan.
Kerusakan dapat berupa pencemaran sungai, penghancuran hutan, ketidakadilan sosial, konflik, kebohongan, rusaknya moral, hingga penyalahgunaan teknologi. Dalam konteks kehidupan modern, ruang digital juga dapat menjadi tempat munculnya fas?d melalui hoaks, fitnah, perundungan siber, dan manipulasi informasi.
Sebaliknya, islah berarti memperbaiki, membangun, mendamaikan, dan mengembalikan sesuatu kepada kondisi yang baik. Manusia tidak cukup hanya menghindari kerusakan, tetapi juga dituntut aktif menghadirkan perbaikan.
Bumi sebagai Amanah
Frasa ba‘da islahiha atau “setelah diperbaiki” memberikan penekanan penting. Bumi memiliki keteraturan dan keseimbangan yang memungkinkan manusia, hewan, tumbuhan, serta berbagai ekosistem hidup secara berkesinambungan.
Karena itu, manusia bukan pemilik mutlak bumi. Manusia adalah pengelola yang memikul amanah. Ketika hutan dieksploitasi secara berlebihan, sungai dicemari, atau sumber daya alam dihabiskan tanpa memperhitungkan generasi mendatang, persoalannya bukan lagi sekadar ekonomi, tetapi juga etika.
Khauf, Tama‘, dan Jalan Menuju Ihsan
Setelah melarang kerusakan, QS Al-A’raf ayat 56 memerintahkan manusia untuk berdoa dengan khauf dan tama‘. Khauf berarti rasa takut kepada Allah dan konsekuensi dosa, sedangkan tama‘ menunjukkan harapan terhadap ampunan, pertolongan, dan rahmat-Nya.
Keseimbangan keduanya penting dalam kehidupan seorang Muslim. Rasa takut mencegah manusia bertindak sewenang-wenang, sedangkan harapan membuat manusia tidak mudah berputus asa ketika berusaha memperbaiki kesalahan.
Puncaknya adalah ihsan. Dalam hadis Jibril, ihsan dijelaskan sebagai beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya dan menyadari bahwa Allah senantiasa melihat manusia. Kesadaran tersebut semestinya tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Relevansi QS Al-A’raf Ayat 56 di Era Digital
Pesan ayat ini semakin relevan ketika manusia hidup dalam ekosistem teknologi yang berkembang pesat. Satu unggahan di media sosial dapat memengaruhi reputasi seseorang, membentuk opini publik, bahkan memicu konflik.
Karena itu, prinsip “jangan berbuat fasad” juga perlu diterapkan sebelum seseorang membagikan informasi. Popularitas tidak selalu identik dengan kebenaran, sementara sesuatu yang viral belum tentu membawa kemaslahatan.
Hal serupa berlaku pada kecerdasan buatan atau AI. Teknologi dapat membantu manusia menghasilkan teks, gambar, video, dan berbagai bentuk informasi. Namun, kemampuan tersebut dapat menjadi sumber kerusakan apabila digunakan untuk penipuan, manipulasi, pemalsuan informasi, atau pembunuhan karakter.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang mampu dilakukan teknologi, tetapi juga untuk apa kemampuan tersebut digunakan.
Pendidikan Harus Melahirkan Manusia Muslih
Nilai QS Al-A’raf ayat 56 juga memiliki relevansi besar bagi dunia pendidikan. Pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu memperbaiki kehidupan.
Orang berilmu dapat menciptakan teknologi. Namun manusia yang memiliki kesadaran islah akan bertanya apakah teknologi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.
Demikian pula dengan kekuasaan. Seseorang dapat memiliki jabatan dan kemampuan memengaruhi banyak orang, tetapi nilai ihsan menuntut agar kekuasaan digunakan secara adil dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, pendidikan idealnya mempertemukan ilmu, iman, akhlak, kepedulian ekologis, dan tanggung jawab digital.
Fasad di Bumi Berawal dari Fasad di Dalam Diri
Pesan ayat ini juga dapat direnungkan melalui pendekatan spiritual. Kerusakan yang terlihat di luar terkadang berawal dari kerusakan yang tidak terlihat di dalam diri manusia.
Keserakahan, kesombongan, dendam, dan keinginan menguasai secara berlebihan dapat mendorong manusia mengeksploitasi alam maupun menyakiti sesama. Karena itu, islah tidak hanya berarti memperbaiki lingkungan, tetapi juga memperbaiki hati melalui tazkiyatun nafs.
Inilah titik penting hubungan antara spiritualitas dan ekologi. Manusia yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih mudah menghormati kehidupan di sekitarnya.
Kesimpulan
QS Al-A’raf ayat 56 menghadirkan pesan yang sangat relevan bagi kehidupan modern: manusia diperintahkan untuk tidak menciptakan kerusakan setelah Allah menghadirkan bumi dalam keteraturan.
Pesan tersebut mencakup lingkungan, hubungan sosial, moral, pendidikan, ruang digital, hingga penggunaan AI. Prinsip islah mengajak manusia bukan hanya menghindari kerusakan, tetapi aktif memperbaiki kehidupan.
Pada akhirnya, ayat ini menghubungkan larangan fasad dengan doa, khauf, tama‘, dan ihsan. Rahmat Allah didekatkan kepada mereka yang menghadirkan kebaikan secara nyata.
Manusia ideal bukan sekadar manusia yang mampu menguasai teknologi dan sumber daya, tetapi manusia yang meninggalkan kehidupan dalam keadaan lebih baik daripada ketika ia menemukannya.
FAQ
- Apa isi utama QS Al-A’raf ayat 56? Ayat ini melarang manusia melakukan kerusakan di bumi, memerintahkan doa dengan rasa takut dan harap, serta menegaskan dekatnya rahmat Allah kepada orang-orang yang berbuat ihsan.
- Apa arti fasad dalam QS Al-A’raf ayat 56? Fasad berarti kerusakan atau penyimpangan dari keadaan yang baik, yang dapat mencakup kerusakan lingkungan, sosial, moral, dan berbagai bentuk kerusakan kehidupan.
- Apa hubungan islahdengan lingkungan? Islah berarti memperbaiki dan menjaga kondisi yang baik, sehingga manusia dituntut memelihara keseimbangan alam serta menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.
- Apa hubungan ayat ini dengan dunia digital? Prinsip larangan fasad dapat diterapkan pada penggunaan teknologi dengan menghindari hoaks, fitnah, perundungan siber, manipulasi informasi, dan berbagai tindakan digital yang merugikan orang lain.
- Mengapa ihsan penting dalam kehidupan modern? Ihsan membuat manusia menggunakan ilmu, kekuasaan, teknologi, dan sumber daya dengan kesadaran moral bahwa setiap tindakan harus membawa kebaikan dan kemaslahatan.