Akademik & Riset

Renungan tentang Kerja, Robot, dan Martabat Manusia

8 September 2026, 09:22 WIB / Rachmadian Wulandana
Symbolisasi sejarah perburuhan dari era eksploitasi, modenisasi dg robot2, dan pendayagunaannya untuk kemaslahatan manusia

Symbolisasi sejarah perburuhan dari era eksploitasi, modenisasi dg robot2, dan pendayagunaannya untuk kemaslahatan manusia

Setiap Senin pertama di bulan September, suasana di berbagai sudut kota di Amerika Serikat dan Kanada mendadak melambat. Asap pemanggang daging mengepul di halaman belakang rumah, toko-toko menggelar obral besar, dan anak-anak bersiap menyambut tahun ajaran baru. Bagi kebanyakan orang, Hari Buruh atau Labor Day hanyalah penanda berakhirnya musim panas, sebuah akhir pekan panjang yang menyenangkan. Namun, jika kita mengikis lapisan perayaannya, hari libur ini lahir dari luka, keringat, dan pergulatan berdarah ratusan ribu manusia yang menolak diperlakukan seperti mesin.

Pada pengujung abad kesembilan belas, roda revolusi industri berputar dengan rakus di atas punggung para pekerja. Mereka dipaksa bekerja belasan jam sehari di pabrik-pabrik yang pengap dan tambang yang berbahaya, dengan upah yang nyaris tak cukup untuk sekadar bertahan hidup. Gerakan perlawanan pun mulai bersemi.

Di New York, pada 5 September 1882, belasan ribu buruh mengambil risiko besar dengan membolos kerja untuk turun ke jalan, menuntut jam kerja yang manusiawi. Gelombang itu tak terbendung hingga meletuslah pemogokan besar parik kereta api Pullman pada tahun 1894 di kota Chicago. Pemerintah federal saat itu mengerahkan pasukan bersenjata untuk membubarkan aksi tersebut, menewaskan banyak pekerja pabrik kereta api tersebut. Terpojok oleh kemarahan publik yang meluap, Presiden Grover Cleveland buru-buru menandatangani undang-undang yang menetapkan Hari Buruh sebagai hari libur nasional di bulan September, sebuah konsesi politik yang tergesa-gesa untuk meredakan amarah kaum buruh. Pada tahun yang sama, Kanada meresmikan langkah serupa, melanjutkan momentum yang sejatinya telah mereka rintis sejak mogok kerja para pencetak di Toronto puluhan tahun sebelumnya.

Namun, ada sebuah ironi sejarah yang kerap terlewat. Sebagian besar negara di dunia memperingati Hari Buruh Internasional bukan di bulan September, melainkan pada 1 Mei. Anehnya, tanggal 1 Mei itu pun sebenarnya berakar dari tanah Amerika, yakni peringatan atas Tragedi Haymarket di Chicago tahun 1886, ketika aksi damai menuntut delapan jam kerja sehari berakhir dengan ledakan bom dan eksekusi para aktivis buruh. Para pemimpin di Washington sengaja memilih bulan September semata-mata untuk menjauhkan rakyatnya dari bayang-bayang radikalisme dan kepedihan Haymarket. Kendati tanggalnya terbelah, pesannya tetap tunggal: kerja itu bermartabat, dan manusia yang bekerja bukanlah sekadar roda penggerak pabrik.

Pada tahun 1920, seorang sastrawan asal Ceko bernama Karel Capek  menulis sebuah naskah drama fiksi ilmiah berjudul R.U.R. (Rossum's Universal Robots). Awalnya, Karel hendak menamai makhluk ciptaannya labora, dari akar kata Latin untuk kerja. Namun, saudaranya, Josef Capek mengusulkan kata lain yang jauh lebih tajam: roboti. Kata ini berakar dari istilah Slavia kuno, robota, yang berarti kerja rodi atau kerja paksa feodal yang wajib diserahkan para budak kepada tuan tanah mereka tanpa bayaran. Menariknya, robot dalam kisah Capek bukanlah tumpukan besi dan baut, melainkan makhluk biologis berdaging yang dibiakkan dalam bejana kimia, diciptakan semata-mata untuk menjadi tenaga kerja murah tanpa hak dan tanpa jiwa.

Di titik inilah sejarah mempertemukan dua gagasan yang bertolak belakang namun saling berkaca. Hari Buruh lahir dari perjuangan manusia untuk membebaskan diri dari jerat kerja tanpa henti, sementara kata robot lahir dari kenangan tentang perbudakan tanpa kebebasan. Impian awal otomatisasi sejatinya sangat mulia. Kita memimpikan mesin yang mengambil alih beban-beban berat, menyelami cerobong beracun, dan melakukan gerakan berulang yang melelahkan agar raga manusia tidak lagi remuk demi sesuap nasi.

Namun, di era kecerdasan buatan dan otomatisasi canggih saat ini, mimpi itu kerap terselubung kecemasan baru. Teknologi memang berpotensi membebaskan manusia dari bahaya, tetapi ia juga kerap dipakai untuk membuang manusia itu sendiri. Ketika satu-satunya ukuran kemajuan hanyalah efisiensi, pemangkasan upah, dan pelipatgandaan laba, kita perlahan melupakan nasib jiwa-jiwa yang kehilangan mata pencaharian. Pertanyaan peradaban mestinya bukan sekadar seberapa cepat kita bisa berproduksi, melainkan masyarakat seperti apa yang sedang kita bangun.

Peradaban tidak pernah dibangun di atas angka-angka produktivitas belaka. Ia ditenun oleh jutaan peran yang tak ternilai harganya: guru yang menyalakan akal anak-anak, petani yang merawat benih di bawah terik matahari, perawat yang terjaga di samping ranjang orang sakit, insinyur yang menopang jembatan, seniman yang menghidupkan rasa, serta orang tua yang membesarkan generasi berikutnya dengan penuh cinta. Menilai manusia hanya dari seberapa efisien mereka menghasilkan uang berarti mereduksi kemanusiaan itu sendiri menjadi sekrup pabrik.

Kearifan Islam menawarkan pandangan yang sangat jernih mengenai hal ini. Bekerja dipandang sebagai amanah atau titipan tanggung jawab yang menuntut integritas, dijalankan dengan semangat ihsan memberikan mutu terbaik dan keindahan moral dalam setiap ikhtiar serta dipayungi oleh 'adl, yakni keadilan yang menolak segala bentuk eksploitasi. Secara komprhensiv, bekerja pada dasarnya adalah sebuah ibadah. Islam memuliakan keringat orang yang mencari nafkah halal, namun menolak keras anggapan bahwa manusia hidup hanya untuk menjadi mesin produksi. Kita bekerja untuk menafkahi keluarga, menunaikan hak sesama, membangun masyarakat, dan pada puncaknya, mengabdi kepada Sang Pencipta.

Dari kacamata itu, teknologi adalah kawan yang berharga manakala ia meringankan kepayahan fisik dan memperluas daya guna akal kita. Biarlah robot mengelas baja di tempat berpijak yang curam, dan biarlah algoritma membantu dokter mendeteksi penyakit lebih dini. Namun, teknologi kehilangan arah moralnya ketika ia memperlakukan manusia sebagai beban biaya yang harus dilenyapkan.

Kini, pilihan peradaban itu kembali ke genggaman kita. Kita bisa terus memprogram dunia hingga manusia dipaksa hidup dan bernapas menyerupai mesin yang dingin, atau kita bisa menggunakan kecerdasan mesin untuk menyudahi kerja-kerja yang membelenggu, memberi manusia lebih banyak ruang untuk belajar, mencipta, mengasihi keluarga, merawat sesama, dan bersujud dalam kedamaian. Hari Buruh pada akhirnya bukan sekadar tentang perayaan pekerjaan, melainkan tentang penghormatan kepada manusia yang membuat peradaban ini tetap hidup. Mesin diciptakan bukan untuk menggantikan kemanusiaan, melainkan untuk membantu manusia tumbuh mekar seutuhnya.

Topik Terkait

Trending Hari Ini