Akademik & Riset

Riset: Akses TK Tingkatkan Partisipasi Kerja Ibu hingga 13 Persen, Namun Masih Hadapi Sejumlah Tantangan

4 Agustus 2026, 21:09 WIB / Aji Krisna Bayu
Riset: Akses TK Tingkatkan Partisipasi Kerja Ibu hingga 13 Persen, Namun Masih Hadapi Sejumlah Tantangan

Riset: Akses TK Tingkatkan Partisipasi Kerja Ibu hingga 13 Persen, Namun Masih Hadapi Sejumlah Tantangan

Kampus Times- Selama bertahun-tahun, peningkatan pendidikan perempuan di Indonesia diharapkan mampu mendorong semakin banyak perempuan memasuki dunia kerja. Namun kenyataannya, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih bertahan di kisaran 50 persen selama hampir dua dekade terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan saja belum cukup mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi perempuan, terutama setelah mereka menjadi ibu.

Sebuah riset terbaru memberikan gambaran menarik mengenai salah satu solusi yang berpotensi membantu mengatasi persoalan tersebut. Penelitian menemukan bahwa akses terhadap Taman Kanak-kanak (TK) mampu meningkatkan peluang ibu kembali bekerja secara signifikan.

TK Berperan Penting dalam Meningkatkan Partisipasi Kerja Ibu

Penelitian yang dipresentasikan oleh Prita menunjukkan bahwa pendaftaran anak ke TK mampu meningkatkan probabilitas ibu memasuki pasar kerja sebesar 13 poin persentase. Temuan ini memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini tidak hanya berdampak pada perkembangan anak, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.

Fenomena ini berkaitan dengan berkurangnya waktu pengasuhan langsung yang harus dilakukan ibu selama anak mengikuti kegiatan belajar di TK. Dengan adanya waktu luang tersebut, ibu memiliki kesempatan lebih besar untuk mencari pekerjaan atau kembali bekerja setelah sebelumnya berhenti karena mengurus anak.

Menariknya, dampak positif tersebut hampir sepenuhnya dirasakan oleh ibu. Penelitian tidak menemukan perubahan signifikan terhadap jam kerja ayah maupun anggota keluarga lainnya. Hal ini memperlihatkan bahwa tanggung jawab utama pengasuhan anak masih lebih banyak berada di tangan perempuan.

Motherhood Penalty Masih Menjadi Tantangan

Banyak Ibu Memilih Sektor Informal

Walaupun partisipasi kerja meningkat, penelitian menemukan bahwa kualitas pekerjaan yang diperoleh ibu belum mengalami peningkatan yang sama.

Sebagian besar ibu justru bekerja di sektor informal dengan pendapatan relatif lebih rendah. Pilihan tersebut diambil karena pekerjaan informal menawarkan fleksibilitas waktu sehingga ibu tetap dapat mengantar dan menjemput anak sekolah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan angka partisipasi kerja belum otomatis diikuti dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Jam Operasional TK Masih Terbatas

Salah satu hambatan utama berasal dari jam operasional TK di Indonesia yang umumnya hanya berlangsung sekitar tiga jam setiap hari.

Durasi tersebut belum cukup mendukung ibu yang ingin bekerja penuh waktu di sektor formal. Setelah kegiatan belajar selesai, ibu tetap harus menyediakan waktu untuk menjemput dan mengasuh anak hingga sore hari.

Akibatnya, banyak perempuan lebih memilih pekerjaan dengan jam kerja fleksibel dibandingkan pekerjaan formal yang memiliki jam kerja tetap.

Dominasi TK Swasta Perlu Menjadi Perhatian

Saat ini sekitar 95 persen TK di Indonesia dikelola oleh pihak swasta. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan tersendiri karena biaya pendidikan sangat bervariasi di setiap daerah.

Bagi keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas, biaya pendidikan dapat menjadi hambatan untuk memperoleh layanan pengasuhan yang berkualitas. Ketimpangan akses ini berpotensi memperlebar kesenjangan kesempatan kerja bagi perempuan.

Di sisi lain, angka partisipasi anak di TK sebenarnya terus mengalami peningkatan. Jika pada tahun 2001 hanya sekitar 20 persen anak usia 4 hingga 6 tahun yang terdaftar di TK, pada tahun 2023 angkanya telah mencapai sekitar 40 persen.

Penelitian ini memanfaatkan aturan batas usia pendaftaran berdasarkan tanggal 1 Juli sebagai dasar analisis untuk mengukur dampak akses TK terhadap peluang kerja ibu secara lebih akurat.

Perlunya Kebijakan yang Lebih Terintegrasi

Perlunya Kebijakan yang Lebih Terintegrasi

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Hasil penelitian memberikan pesan bahwa penyediaan layanan PAUD dan TK perlu diiringi dengan peningkatan kualitas layanan, tenaga pendidik, serta dukungan kebijakan ketenagakerjaan yang ramah keluarga.

Guru pendidikan anak usia dini memegang peranan penting dalam membentuk karakter, kemampuan sosial, dan kesiapan belajar anak sebelum memasuki sekolah dasar. Oleh karena itu, peningkatan kualitas tenaga pendidik menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Selain itu, dunia kerja juga memerlukan kebijakan yang lebih fleksibel agar perempuan dapat tetap produktif tanpa harus mengorbankan tanggung jawab pengasuhan.

Kolaborasi antara akademisi di Indonesia dan diaspora juga dinilai penting untuk menghasilkan riset berkelanjutan yang mampu memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi pemerintah.

Kesimpulan

Riset mengenai dampak akses TK menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui aspek pendidikan. Pendaftaran anak di TK terbukti meningkatkan peluang ibu untuk kembali bekerja hingga 13 poin persentase, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dan masyarakat pedesaan. Namun, tantangan berupa dominasi pekerjaan informal, jam operasional TK yang terbatas, serta ketimpangan akses akibat dominasi lembaga swasta masih perlu diatasi. Ke depan, kebijakan yang mengintegrasikan layanan PAUD berkualitas, pasar kerja yang lebih fleksibel, dan peningkatan kualitas guru menjadi langkah penting untuk mendukung pemberdayaan perempuan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga Indonesia.

FAQ

  1. Apakah TK dapat meningkatkan peluang ibu bekerja? Ya. Penelitian menunjukkan pendaftaran anak di TK meningkatkan peluang ibu masuk ke pasar kerja sebesar 13 poin persentase.
  2. Apakah keberadaan TK memengaruhi jam kerja ayah? Tidak. Penelitian menemukan dampak signifikan hanya terjadi pada ibu, sedangkan jam kerja ayah relatif tidak berubah.
  3. Mengapa banyak ibu tetap bekerja di sektor informal? Karena sektor informal menawarkan fleksibilitas waktu yang memudahkan ibu mengurus dan menjemput anak.
  4. Siapa yang paling merasakan manfaat akses TK? Ibu dari keluarga berpenghasilan rendah dan masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan memperoleh manfaat paling besar.
  5. Apa rekomendasi utama dari hasil penelitian ini? Pemerintah perlu memperluas akses PAUD dan TK berkualitas, meningkatkan kualitas guru, serta menghadirkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih ramah bagi keluarga.

Sumberhttps://www.youtube.com/live/s1e2Wr9fZVQ?si=pAEC7a0VsYGdTUp-

Topik Terkait