Akademik & Riset

Riset Pendidikan di Masa Pandemi: Cara Memanfaatkan Data Sekunder Tanpa Tatap Muka

30 Agustus 2026, 15:49 WIB / Anwarul Hidayat
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Pandemi COVID-19 mengubah cara mahasiswa melakukan penelitian. Aktivitas yang sebelumnya dianggap sederhana, seperti observasi kelas, wawancara guru, atau diskusi kelompok, tiba-tiba memiliki risiko kesehatan yang tidak dapat diabaikan. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk memikirkan kembali bagaimana sebuah penelitian dapat dilakukan secara aman tanpa kehilangan kualitas data.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah penelitian jarak jauh dengan memanfaatkan data sekunder. Di tengah melimpahnya informasi digital, mahasiswa sebenarnya memiliki banyak pilihan sumber data yang memungkinkan penelitian dilakukan tanpa interaksi fisik secara langsung.

Mengapa Penelitian Tatap Muka Menjadi Tantangan?

Penelitian pendidikan memiliki karakter yang sangat sosial. Peneliti biasanya perlu berinteraksi dengan siswa, guru, sekolah, atau komunitas untuk memahami fenomena yang sedang diteliti.

Namun, situasi pandemi membuat metode seperti observasi langsung, wawancara tatap muka, dan focus group discussion menjadi lebih berisiko. Karena itu, desain penelitian perlu disesuaikan dengan kondisi agar proses pengumpulan data tidak membahayakan peneliti maupun partisipan.

Perubahan tersebut bukan berarti penelitian harus berhenti. Justru, kondisi ini dapat menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk merancang penelitian yang lebih kreatif dengan memanfaatkan sumber informasi yang sudah tersedia.

Data Sekunder Menjadi Alternatif Penelitian

Data sekunder merupakan data yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh pihak lain untuk tujuan tertentu. Dalam konteks penelitian pendidikan, sumbernya dapat berasal dari dataset terbuka, arsip sejarah, laporan institusi, dokumen kebijakan, hingga data perkembangan siswa yang telah dianonimkan.

Berbagai portal data terbuka juga dapat membantu peneliti memperoleh informasi tanpa harus mendatangi lokasi penelitian. Arsip seperti UK Data Archive, data Northern Ireland Statistics and Research Agency, repositori Department for Education, serta DERA milik Institute of Education dapat menjadi contoh sumber yang dapat dieksplorasi.

Selain sumber digital, arsip fisik juga memiliki nilai penelitian. Perpustakaan, kantor catatan publik, arsip gereja, surat kabar lama, dan dokumen institusi dapat digunakan untuk membangun penelitian sejarah pendidikan.

Data Internal Sekolah

Sekolah merupakan salah satu sumber data yang potensial. Sekolah secara rutin mengumpulkan informasi mengenai perkembangan siswa untuk memantau kemajuan belajar dan menentukan kebutuhan dukungan tambahan.

Jika tersedia dalam bentuk anonim dan penggunaannya memenuhi persyaratan etika penelitian, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjawab berbagai pertanyaan akademik. Misalnya, peneliti dapat mengkaji hubungan antara kehadiran siswa dan prestasi belajar tanpa harus melakukan observasi langsung.

Penelitian Data Sekunder Harus Tetap Sistematis

Kemudahan mengakses data bukan berarti penelitian dapat dilakukan secara sembarangan. Tantangan terbesar justru muncul ketika peneliti berhadapan dengan terlalu banyak informasi.

Sebelum mengumpulkan data, peneliti perlu menentukan parameter penelitian secara jelas. Batasan dapat berupa periode waktu, jenis dokumen, jumlah media yang dianalisis, lokasi, kelompok data, atau karakteristik tertentu dari sumber yang digunakan.

Langkah ini membantu mengurangi bias pribadi sekaligus mencegah penelitian berkembang terlalu luas. Tanpa batasan yang jelas, mahasiswa dapat menghabiskan terlalu banyak waktu mengumpulkan data yang pada akhirnya tidak relevan dengan pertanyaan penelitian.

Kreativitas Menjadi Bagian Penting

Kreativitas Menjadi Bagian Penting

Penelitian bukan sekadar mengikuti prosedur secara mekanis. Sebuah proyek penelitian merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja secara mandiri dan menemukan pendekatan yang sesuai dengan pertanyaan yang ingin dijawab.

Salah satu contohnya adalah penelitian Haley yang membandingkan adaptasi teknologi komputer dan proyektor di ruang kelas dasar pada era 1990-an melalui dokumen Times Educational Supplement dengan pengalaman guru dalam pembelajaran jarak jauh selama lockdown. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa fenomena pendidikan masa kini dapat dikaji dengan menghubungkannya pada catatan sejarah.

Contoh lain adalah penelitian Connor mengenai dampak renovasi bangunan sekolah terhadap kehadiran dan prestasi siswa. Data berupa foto bangunan lama, pengamatan tata ruang, serta data kehadiran dan prestasi yang telah dianonimkan dapat digabungkan untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.

Analisis Data Tidak Harus Rumit

Analisis data pada dasarnya merupakan proses untuk memahami dan memberikan makna terhadap informasi yang telah dikumpulkan. Karena itu, peneliti tidak selalu membutuhkan perangkat lunak statistik yang kompleks.

Untuk penelitian kuantitatif sederhana, Microsoft Excel dapat digunakan untuk menghitung rata-rata, rentang, probabilitas, korelasi, hingga menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik.

Sementara itu, penelitian kualitatif dapat menggunakan proses pengodean untuk menemukan pola dan tema utama dari dokumen atau arsip. Hasil akhirnya dapat disajikan melalui narasi, tabel, gambar, atau kombinasi beberapa bentuk penyajian.

Wawancara Daring sebagai Pilihan Lain

Wawancara Daring sebagai Pilihan Lain

Jika penelitian tetap membutuhkan perspektif langsung dari guru, siswa, atau pihak lain, wawancara dapat dialihkan ke platform daring. Panggilan video memungkinkan peneliti tetap memperoleh data primer tanpa harus berada di ruangan yang sama dengan partisipan.

Meski demikian, wawancara daring bukan berarti bebas dari persoalan etika. Peneliti tetap perlu mempertimbangkan persetujuan partisipan, privasi, keamanan data, kondisi lingkungan partisipan, serta cara penyimpanan rekaman dan transkrip.

Dengan demikian, perubahan metode penelitian selama pandemi seharusnya tidak hanya dipandang sebagai keterbatasan. Kondisi tersebut dapat mendorong mahasiswa memahami bahwa kualitas penelitian sangat bergantung pada ketepatan pertanyaan, pemilihan sumber, sistematika pengumpulan data, serta kemampuan memaknai informasi.

Kesimpulan

Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa penelitian pendidikan tidak harus selalu bergantung pada interaksi tatap muka. Pemanfaatan data sekunder, arsip digital, dokumen institusi, dataset terbuka, dan data sekolah yang telah dianonimkan dapat menjadi alternatif yang aman sekaligus bernilai akademik.

Kunci utamanya adalah merancang penelitian secara sistematis. Dengan menentukan batasan sejak awal, memilih sumber yang relevan, memperhatikan etika, dan menggunakan metode analisis yang sesuai, mahasiswa dapat menghasilkan penelitian berkualitas tanpa harus melakukan kontak fisik secara intensif.

Pada akhirnya, keterbatasan kondisi bukan selalu penghalang penelitian. Justru, keterbatasan dapat menjadi dorongan untuk menemukan cara baru dalam mengumpulkan, menganalisis, dan memahami data pendidikan.

FAQ

  1. Apa yang dimaksud dengan data sekunder dalam penelitian pendidikan? Data sekunder adalah data yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh pihak lain dan dapat digunakan kembali untuk menjawab pertanyaan penelitian tertentu.
  2. Mengapa data sekunder cocok digunakan selama pandemi? Data sekunder memungkinkan penelitian dilakukan tanpa banyak interaksi tatap muka sehingga dapat mengurangi risiko kesehatan bagi peneliti dan partisipan.
  3. Apakah penelitian menggunakan data sekunder tetap membutuhkan etika penelitian? Ya. Peneliti tetap harus memperhatikan izin penggunaan data, privasi, anonimitas, keamanan informasi, dan aturan institusi yang berlaku.
  4. Apakah Microsoft Excel cukup untuk analisis data penelitian? Untuk penelitian dengan kebutuhan analisis dasar, Excel dapat digunakan untuk statistik deskriptif, korelasi, pengolahan data, serta pembuatan tabel dan grafik.
  5. Apakah wawancara dapat dilakukan secara daring? Bisa. Wawancara melalui panggilan video merupakan alternatif penelitian jarak jauh, tetapi peneliti tetap perlu memperhatikan persetujuan dan aspek etika lainnya.

Topik Terkait

Trending Hari Ini