Kampus Times- Teknologi yang memungkinkan manusia mengendalikan perangkat hanya dengan pikiran semakin bergeser dari konsep fiksi ilmiah menuju aplikasi medis nyata. Teknologi tersebut dikenal sebagai Brain-Computer Interface (BCI) atau antarmuka otak-komputer.
BCI dirancang untuk membaca aktivitas listrik di otak, menerjemahkannya menjadi perintah digital, kemudian mengirimkan perintah tersebut ke perangkat eksternal. Dalam konteks medis, teknologi ini berpotensi membantu pasien dengan kelumpuhan berkomunikasi, mengendalikan kursi roda, komputer, tangan robotik, hingga perangkat rumah pintar.
Perkembangan terbaru di China menunjukkan bahwa perlombaan teknologi BCI kini memasuki fase yang lebih serius. Negara tersebut bahkan telah memasukkan BCI ke dalam daftar industri masa depan yang diprioritaskan dalam pembangunan ekonomi dan teknologi.
Apa Itu Brain-Computer Interface?
Secara sederhana, Brain-Computer Interface adalah sistem yang menjadi penghubung langsung antara aktivitas otak dan perangkat elektronik. Sistem ini memungkinkan perintah tertentu dikirim tanpa harus melewati jalur saraf dan otot seperti pada gerakan tubuh normal.
Otak manusia menghasilkan aktivitas listrik ketika seseorang berpikir, merencanakan gerakan, melihat, berbicara, atau melakukan aktivitas lainnya. BCI menggunakan elektroda dan sensor untuk menangkap sebagian aktivitas tersebut.
Sinyal yang diperoleh kemudian diproses menggunakan perangkat lunak. Di sinilah kecerdasan buatan atau AI memainkan peran penting karena sinyal otak tidak bersih dan sangat kompleks.
AI Membaca Sinyal Otak yang Kompleks
Sinyal neural memiliki banyak gangguan atau noise. Algoritma pemrosesan sinyal dan AI digunakan untuk menemukan pola tertentu sehingga sistem dapat membedakan, misalnya, sinyal yang berkaitan dengan keinginan menggerakkan tangan dari aktivitas otak lainnya.
Hasil akhirnya adalah sebuah sistem yang dapat menerjemahkan aktivitas neural menjadi instruksi komputer. Semakin baik proses decoding, semakin cepat dan akurat pengguna mengendalikan perangkat.
BCI sendiri memiliki tingkat invasivitas berbeda. Perangkat non-invasif dapat ditempatkan di luar kepala, sedangkan sistem invasif memerlukan prosedur medis untuk menempatkan elektroda di dalam atau pada permukaan otak.
China Mempercepat Perlombaan BCI Global
China kini menjadikan BCI sebagai salah satu teknologi strategis. Dalam rancangan Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026–2030, pemerintah China memasukkan brain-computer interface bersama teknologi seperti komputasi kuantum, biomanufaktur, energi hidrogen dan fusi nuklir, embodied AI, serta 6G sebagai industri masa depan.
Dukungan tersebut tidak hanya berbentuk kebijakan. Pada akhir 2025, diumumkan dana industri ilmu otak senilai 11,6 miliar yuan atau sekitar US$165 juta untuk mendukung perusahaan BCI dari tahap riset hingga komersialisasi.
Langkah penting lainnya terjadi pada Maret 2026. Regulator China menyetujui perangkat BCI implan untuk penggunaan pasar, yang disebut sebagai peluncuran komersial pertama perangkat BCI medis invasif di dunia. Perangkat tersebut ditujukan bagi pasien tertentu dengan kelumpuhan akibat cedera tulang belakang leher dan memungkinkan mereka mengendalikan sarung tangan pneumatik menggunakan sinyal otak.
NeuroXess dan Era BCI untuk Pasien Lumpuh
Salah satu perusahaan yang ikut mendorong perkembangan BCI China adalah NeuroXess, perusahaan teknologi yang berbasis di Shanghai dan didirikan pada 2021. Perusahaan ini mengembangkan BCI implan fleksibel untuk membantu pasien dengan gangguan neurologis berat memulihkan fungsi gerak maupun komunikasi.
Salah satu pendekatan NeuroXess menggunakan elektroda fleksibel yang ditempatkan pada permukaan korteks. Berbeda dengan elektroda yang menembus jaringan otak, pendekatan tersebut dirancang untuk mengurangi dampak terhadap jaringan sekaligus tetap memperoleh sinyal neural yang dapat digunakan untuk decoding.
Dalam laporan mengenai uji klinisnya, pasien dengan kelumpuhan tingkat tinggi dilaporkan mampu mengendalikan kursor komputer dan sejumlah perangkat menggunakan pikirannya. Teknologi tersebut juga diarahkan untuk mengendalikan kursi roda, perangkat rumah pintar, serta perangkat rehabilitasi.
NeuroXess juga tengah membangun kapasitas manufaktur untuk mendukung produksi dalam skala lebih besar. Perusahaan menyebut fasilitas “Super Factory”-nya dirancang untuk mencapai kapasitas produk pada level 10.000 unit.
Tantangan BCI Bukan Sekadar Teknologi
Meski potensinya besar, BCI masih menghadapi persoalan teknis dan medis yang kompleks. Otak merupakan organ yang sangat sensitif sehingga keberadaan implan dalam jangka panjang harus mempertimbangkan respons jaringan, stabilitas sinyal, keamanan listrik, serta risiko komplikasi.
Regulasi juga menjadi tantangan. Karena BCI invasif merupakan perangkat medis berisiko tinggi, proses pembuktian keamanan dan efektivitas membutuhkan uji klinis serta pengawasan regulator yang ketat.
Persoalan berikutnya adalah biaya. Operasi, perangkat implan, pemeliharaan, rehabilitasi, dan sistem pendukung dapat membuat teknologi ini sulit dijangkau jika belum tersedia mekanisme pembiayaan kesehatan yang memadai.
Data Otak Menjadi Isu Baru
Ada satu persoalan yang bahkan lebih mendasar: siapa yang memiliki data otak manusia?
BCI menghasilkan informasi yang jauh lebih sensitif dibandingkan data penggunaan perangkat digital biasa. Ketika aktivitas neural diterjemahkan menjadi perintah, muncul pertanyaan tentang bagaimana data tersebut disimpan, siapa yang dapat mengaksesnya, serta untuk tujuan apa data digunakan.
Karena itu, perkembangan BCI tidak cukup hanya dinilai dari seberapa cepat sebuah chip dapat membaca otak. Standar keamanan siber, perlindungan privasi neural, persetujuan pasien, transparansi algoritma, dan batas penggunaan teknologi harus berkembang secara bersamaan.
Kesimpulan
Brain-Computer Interface sedang memasuki fase penting dalam perkembangan teknologi kesehatan. Kemampuan menerjemahkan sinyal otak menjadi perintah digital membuka peluang besar bagi pasien dengan kelumpuhan untuk memperoleh kembali sebagian kemandirian mereka.
China menjadi salah satu pemain yang bergerak agresif melalui dukungan pemerintah, pendanaan, riset klinis, dan kebijakan industri. Namun, keberhasilan BCI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologinya.
Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara aman, terjangkau, etis, dan bertanggung jawab. Jika persoalan tersebut mampu dijawab, BCI berpotensi menjadi salah satu teknologi yang mengubah hubungan manusia dengan komputer secara fundamental.
FAQ
- Apa itu Brain-Computer Interface? Brain-Computer Interface atau BCI adalah teknologi yang menerjemahkan aktivitas otak menjadi perintah untuk mengendalikan komputer atau perangkat elektronik.
- Bagaimana BCI bekerja? BCI menangkap sinyal aktivitas otak melalui elektroda atau sensor, kemudian algoritma memproses dan menerjemahkan sinyal tersebut menjadi perintah digital.
- Apa peran AI dalam BCI? AI membantu memproses sinyal otak yang kompleks dan penuh gangguan sehingga pola neural dapat diterjemahkan menjadi instruksi secara lebih akurat.
- Mengapa China menjadi pemain penting dalam teknologi BCI? China memberikan dukungan kebijakan, pendanaan, riset klinis, dan infrastruktur industri, serta memasukkan BCI sebagai salah satu industri masa depan dalam Rencana Lima Tahun ke-15.
- Apa risiko utama teknologi BCI? Risiko utamanya mencakup komplikasi medis, kestabilan implan, biaya tinggi, keamanan siber, serta perlindungan privasi dan kepemilikan data otak.