Kampus Times- Teknologi Brain-Computer Interface (BCI) memasuki fase perkembangan yang semakin serius. Jika sebelumnya implan otak lebih banyak dikaitkan dengan penelitian eksperimental, kini teknologi tersebut mulai bergerak menuju uji klinis, integrasi dengan perangkat pintar, hingga penggunaan komersial.
Tiongkok menjadi salah satu negara yang paling agresif mendorong perkembangan tersebut. Di tengah persaingan dengan perusahaan Amerika Serikat, Beijing menempatkan BCI sebagai bagian dari strategi industri masa depan dan memberikan dukungan kebijakan untuk mempercepat penelitian serta penerapannya.
Tiongkok Mengejar Ketertinggalan Teknologi BCI
Perusahaan Amerika Serikat memang lebih dahulu membangun posisi kuat dalam teknologi implan otak. Namun, perkembangan di Tiongkok berlangsung sangat cepat melalui berbagai uji klinis pada manusia.
Salah satu perusahaan yang menjadi perhatian adalah NeuroXess, startup asal Shanghai. Teknologinya telah diuji pada lebih dari 50 pasien dan menunjukkan kemampuan menerjemahkan sinyal otak menjadi perintah untuk perangkat eksternal.
Salah satu pasien, Mr. Zhang, dilaporkan telah menggunakan implan tersebut sejak Oktober 2025. Teknologi ini memungkinkan pasien dengan kelumpuhan mengendalikan kursi roda hingga sejumlah perangkat rumah tangga menggunakan pikirannya.
Perkembangan tersebut menjadi semakin penting setelah Tiongkok memberikan persetujuan pada Maret 2026 untuk BCI invasif pertamanya agar dapat digunakan secara komersial.
Dukungan Pemerintah Menjadi Pengungkit
Kemajuan BCI di Tiongkok tidak hanya berasal dari perusahaan swasta. Pemerintah juga menjadikan teknologi ini sebagai bagian dari agenda industri nasional.
Dalam Rencana Lima Tahun ke-15, BCI ditetapkan sebagai salah satu dari enam industri strategis masa depan. Kebijakan tersebut memberikan arah pengembangan yang lebih jelas, termasuk dukungan terhadap regulasi dan percepatan proses peninjauan uji klinis.
Tiongkok juga mengalokasikan dana sains otak sebesar sekitar US$165 juta. Dukungan ini menjadi penting karena pendanaan modal ventura untuk perusahaan BCI di Tiongkok masih lebih kecil dibandingkan Amerika Serikat.
Meski demikian, investasi startup chip otak di Tiongkok meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut menunjukkan meningkatnya keyakinan terhadap prospek industri BCI.
Tantangan Besar di Balik Implan Otak
Kemampuan membaca sinyal otak tentu memiliki potensi besar, tetapi teknologi BCI invasif juga membawa risiko medis yang tidak sederhana.
Perangkat yang ditanam di dalam otak dapat memicu pembentukan jaringan parut seiring waktu. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu sel otak sekaligus menurunkan kemampuan implan dalam menerima sinyal neural secara konsisten.
Karena otak merupakan organ yang sangat sensitif, keberadaan perangkat asing di dalamnya membutuhkan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan perangkat elektronik biasa.
Dari sisi regulasi, BCI juga menghadapi proses panjang. Teknologi ini masuk kategori perangkat medis Kelas III sehingga membutuhkan standar pengujian dan persetujuan yang ketat sebelum digunakan secara luas.
Biaya Menjadi Hambatan Komersialisasi
Persoalan berikutnya adalah biaya. Laporan Bloomberg pada Juli 2025 menyebut perkiraan Neuralink bahwa biaya satu prosedur operasi BCI dapat mencapai sekitar US$50.000.
Angka tersebut belum tentu menjadi harga final bagi seluruh sistem BCI, tetapi menggambarkan betapa mahalnya prosedur yang melibatkan operasi otak, perangkat implan, tenaga medis, dan pemantauan jangka panjang.
Ketidakpastian mengenai cakupan asuransi juga menjadi tantangan. Teknologi BCI mungkin mampu meningkatkan kualitas hidup pasien, tetapi manfaat medis tersebut harus dapat diimbangi dengan model pembiayaan yang memungkinkan teknologi diakses masyarakat.
AI Membuat BCI Semakin Canggih
BCI modern tidak bekerja hanya dengan menangkap sinyal listrik dari otak. Sistem tersebut membutuhkan algoritma kecerdasan buatan untuk menyaring gangguan dan menerjemahkan pola aktivitas neural menjadi perintah yang dapat dipahami komputer.
Potensi integrasi bahkan mulai diperluas ke ekosistem perangkat pintar. NeuroXess dilaporkan bekerja sama dengan Xiaomi agar pengguna dapat mengendalikan berbagai perangkat rumah pintar melalui sinyal otak.
NeuroXess juga mulai membangun fasilitas manufaktur yang diklaim memiliki kapasitas hingga 10.000 perangkat per tahun. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mulai mempersiapkan teknologi BCI untuk produksi dalam skala lebih besar.
Persaingan BCI AS dan Tiongkok
Persaingan teknologi BCI tidak terlepas dari perbedaan ekosistem investasi. Perusahaan BCI di Amerika Serikat secara kumulatif telah memperoleh pendanaan sekitar US$2,75 miliar, jauh lebih besar dibandingkan akumulasi pendanaan perusahaan sejenis di Tiongkok dan Eropa.
Namun, keunggulan pendanaan tidak otomatis menjamin dominasi jangka panjang. Tiongkok memiliki kekuatan lain berupa koordinasi kebijakan negara, dukungan industri, serta kemampuan membangun infrastruktur manufaktur dalam skala besar.
Situasi tersebut membuat perlombaan BCI semakin menarik. Persaingannya bukan hanya mengenai siapa yang mampu menciptakan implan paling canggih, tetapi juga siapa yang dapat membuat teknologi tersebut aman, terjangkau, dan diterima regulator.
Privasi Neural Jadi Persoalan Baru
Ketika komputer mampu membaca aktivitas otak, muncul pertanyaan yang jauh lebih mendasar: siapa yang memiliki data tersebut?
Data neural dapat memberikan informasi yang sangat personal mengenai kondisi dan aktivitas otak seseorang. Jika teknologi BCI digunakan secara luas, diperlukan aturan yang jelas mengenai kepemilikan, penyimpanan, akses, serta penggunaan data neural.
Risikonya tidak berhenti pada privasi. Teknologi BCI juga memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan penggunaan tanpa persetujuan untuk memengaruhi kesadaran atau perilaku manusia.
Di sisi lain, kemampuan mengendalikan perangkat melalui pikiran juga memiliki potensi militer. Konsep seperti pengoperasian drone tanpa tangan menunjukkan bagaimana teknologi yang awalnya dikembangkan untuk membantu pasien dapat memiliki aplikasi strategis yang jauh lebih luas.
Kesimpulan
Perkembangan BCI di Tiongkok menunjukkan bahwa teknologi yang menghubungkan otak manusia dengan komputer mulai bergerak dari laboratorium menuju dunia nyata. Dukungan pemerintah, peningkatan investasi, uji klinis, dan kesiapan manufaktur membuat Tiongkok menjadi salah satu pemain penting dalam perlombaan global ini.
Namun, keberhasilan BCI tidak cukup diukur dari kemampuan membaca sinyal otak. Keamanan medis, biaya, regulasi, privasi neural, dan potensi penyalahgunaan harus menjadi bagian dari pembahasan sejak awal.
Jika tantangan tersebut dapat diatasi, BCI berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi, khususnya bagi penyandang disabilitas. Tetapi semakin dekat teknologi dengan otak manusia, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa inovasi tersebut tetap berada dalam kendali manusia.
FAQ
- Apa itu Brain-Computer Interface (BCI)? Brain-Computer Interface adalah teknologi yang memungkinkan sinyal aktivitas otak diterjemahkan menjadi perintah untuk mengendalikan komputer atau perangkat eksternal.
- Mengapa Tiongkok mengembangkan BCI secara agresif? Tiongkok melihat BCI sebagai salah satu industri strategis masa depan dan memberikan dukungan kebijakan, pendanaan, serta percepatan pengembangan teknologi.
- Apa risiko BCI invasif? Implan yang ditanam di otak dapat menimbulkan risiko seperti pembentukan jaringan parut, kerusakan jaringan, gangguan sinyal, serta komplikasi akibat prosedur operasi.
- Berapa biaya operasi BCI? Perkiraan yang dikutip dari Neuralink pada 2025 menyebut biaya operasi sekitar US$50.000, meskipun biaya aktual dapat berbeda tergantung teknologi dan prosedurnya.
- Mengapa privasi neural penting? BCI berpotensi menghasilkan data mengenai aktivitas otak seseorang sehingga diperlukan perlindungan ketat terhadap kepemilikan, akses, penyimpanan, dan penggunaan data tersebut.