Kampus Times- Perlombaan kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China tidak lagi semata-mata mengenai siapa yang memiliki model paling canggih. Persaingan tersebut kini semakin berkaitan dengan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana memastikan perkembangan AI tetap berada dalam kendali manusia.
Gagasan mengenai kerja sama keselamatan AI menjadi semakin relevan karena kedua negara berada di garis depan pengembangan teknologi tersebut. Amerika Serikat memiliki ekosistem perusahaan AI terkemuka, sementara China secara agresif membangun kemampuan model, infrastruktur komputasi, dan regulasi nasional.
OpenAI sendiri sejak lama menekankan pentingnya pengujian, evaluasi eksternal, serta kerja sama internasional untuk mengantisipasi risiko AI berkemampuan tinggi. Dalam kesaksian di hadapan Senat AS pada 2023, Sam Altman juga mendorong mekanisme kerja sama internasional untuk menetapkan standar keselamatan dan pengawasan terhadap sistem AI paling kuat.
Sam Altman Dorong Standar Keselamatan Global
Dalam gagasan yang dikaitkan dengan isu geopolitik AI, Altman melihat kemungkinan kerja sama AS dan China sebagai langkah penting untuk menghindari perlombaan teknologi yang mengabaikan keselamatan. Bahkan, ia menilai keberhasilan pemimpin kedua negara dalam mencapai kesepakatan keselamatan AI dapat menjadi pencapaian perdamaian yang sangat besar.
Gagasan tersebut tidak berarti Amerika Serikat dan China harus menghentikan kompetisi teknologi. Fokusnya justru pada penciptaan batas minimum yang disepakati bersama, terutama untuk AI yang memiliki kemampuan semakin otonom dan berpotensi menimbulkan dampak lintas negara.
Kekhawatiran itu semakin relevan ketika sistem AI mulai menjalankan tugas yang lebih kompleks secara mandiri. Risiko tidak hanya muncul dari kesalahan model, tetapi juga dari penyalahgunaan, kemampuan melakukan tindakan tanpa pengawasan memadai, serta kemungkinan manusia kehilangan kendali atas sistem yang jauh lebih kuat.
Apa yang Perlu Diatur?
Standar keselamatan AS–China dapat mencakup beberapa aspek penting. Pertama, pengembangan model AI berkemampuan tinggi perlu melalui pengujian risiko sebelum digunakan secara luas.
Kedua, pengembang dapat diwajibkan melakukan evaluasi independen terhadap kemampuan berbahaya dan menyediakan mekanisme pemantauan setelah sistem diluncurkan. Ketiga, kedua negara dapat membangun jalur komunikasi untuk bertukar informasi mengenai ancaman dan praktik keselamatan.
Pendekatan semacam ini bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Analisis Carnegie Endowment pada 2026 menilai dialog AS–China mengenai keselamatan AI tetap penting meskipun kedua negara kemungkinan sulit mencapai perjanjian yang benar-benar mengikat dalam waktu dekat.
Mengapa AS dan China Sulit Bekerja Sama?
Masalahnya, AI juga telah menjadi bagian dari persaingan strategis kedua negara. Washington melihat keunggulan AI sebagai komponen penting bagi ekonomi dan keamanan nasional, sedangkan Beijing berupaya meningkatkan pengaruhnya dalam tata kelola teknologi global.
China bahkan mendorong peran yang lebih besar dalam pembentukan tatanan AI internasional. Presiden Xi Jinping pada 2026 menekankan pentingnya akses AI yang lebih luas dan pembentukan mekanisme kerja sama internasional, sekaligus mendorong China memainkan peran lebih besar dalam standar tata kelola AI global.
Ketegangan teknologi juga tetap tinggi. Pada September 2026, pemerintah AS menuduh sejumlah perusahaan China melakukan praktik distilasi untuk memperoleh kemampuan dari model AI Amerika. Beijing menolak tuduhan tersebut dan menilai distilasi sebagai teknik teknologi yang sah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa membangun kepercayaan menjadi tantangan utama. Kesepakatan keselamatan membutuhkan transparansi, tetapi transparansi mengenai kemampuan AI juga dapat menyentuh kepentingan keamanan nasional.
Analogi Independence Day dan Ancaman yang Lebih Besar
Altman juga menggunakan gambaran seperti adegan dalam film Independence Day untuk menjelaskan pentingnya persatuan ketika menghadapi ancaman yang lebih besar daripada perselisihan antarkelompok.
Analogi tersebut menggambarkan satu prinsip sederhana: persaingan geopolitik dapat menjadi tidak relevan apabila muncul risiko teknologi yang dampaknya melampaui batas negara.
Dalam konteks AI, ancaman tidak harus berbentuk satu skenario ekstrem. Risiko dapat muncul secara bertahap melalui penyalahgunaan sistem, serangan siber, manipulasi informasi, otomatisasi keputusan berisiko tinggi, hingga penggunaan AI untuk aktivitas yang membahayakan keamanan publik.
Karena itu, kerja sama keselamatan tidak harus berarti kedua negara sepakat mengenai seluruh aspek AI. Mereka dapat memulai dari wilayah yang memiliki kepentingan bersama, seperti pengujian model, pelaporan insiden, komunikasi krisis, dan pengembangan metode evaluasi.
Jalan Panjang Menuju Tata Kelola AI Global
Tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan dokumen kesepakatan, tetapi memastikan aturan tersebut dapat diterapkan secara konsisten. Standar keselamatan juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi yang bergerak jauh lebih cepat daripada proses legislasi.
Altman sebelumnya mengusulkan pendekatan internasional yang mencakup standar keselamatan, penilaian risiko yang independen, serta mekanisme pengawasan terhadap sistem AI berkemampuan tinggi. Ia juga memperingatkan bahwa tanpa kerangka bersama, negara-negara dapat bergerak menuju aturan masing-masing yang justru membuat tata kelola AI semakin terfragmentasi.
Bagi dunia, kerja sama AS–China akan memiliki arti lebih besar daripada sekadar hubungan bilateral. Jika dua kekuatan AI terbesar mampu menyepakati batas keselamatan tertentu, negara lain memiliki titik acuan untuk membangun regulasi nasional dan regional.
Kesimpulan
Dorongan untuk membangun standar keselamatan AI AS–China menunjukkan bahwa geopolitik teknologi kini tidak dapat dipisahkan dari isu keselamatan global. Persaingan untuk menjadi pemimpin AI tetap berlangsung, tetapi semakin kuat pula kesadaran bahwa perkembangan teknologi tanpa mekanisme pengawasan dapat menciptakan risiko lintas batas.
Kesepakatan antara Washington dan Beijing memang sulit diwujudkan karena perbedaan kepentingan strategis dan politik. Namun, dialog mengenai pengujian, transparansi risiko, pelaporan insiden, serta batas keselamatan dapat menjadi langkah awal menuju tata kelola AI yang lebih bertanggung jawab.
Pada akhirnya, masa depan AI bukan hanya ditentukan oleh siapa yang menciptakan model paling kuat. Masa depan tersebut juga ditentukan oleh kemampuan negara-negara besar membangun aturan agar kekuatan teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
FAQ
- Apa yang didorong Sam Altman terkait AI AS–China? Dorongannya berfokus pada kerja sama dan standar keselamatan agar pengembangan AI berkemampuan tinggi tidak berkembang tanpa pengawasan yang memadai.
- Mengapa Amerika Serikat dan China penting dalam keselamatan AI? Keduanya merupakan kekuatan utama dalam pengembangan AI sehingga keputusan dan standar yang mereka buat dapat memengaruhi tata kelola teknologi secara global.
- Apa yang dimaksud standar keselamatan AI? Standar keselamatan mencakup prosedur pengujian, evaluasi risiko, pengawasan, pemantauan, dan mekanisme respons terhadap masalah yang muncul dari sistem AI.
- Mengapa kerja sama AS–China sulit diwujudkan? Persaingan teknologi, keamanan nasional, kepentingan ekonomi, dan perbedaan pendekatan terhadap tata kelola teknologi membuat kedua negara sulit membangun kepercayaan.
- Mengapa keselamatan AI membutuhkan kerja sama internasional? Dampak AI dapat melintasi batas negara sehingga sebagian risiko tidak dapat ditangani secara efektif hanya melalui regulasi satu negara.