Akademik & Riset

Ekonomi AI Terhambat Energi Mahal, Inggris Kejar Perusahaan Triliunan Dolar

13 September 2026, 19:29 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memasuki fase ketika kemampuan teknologi tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas model. Infrastruktur fisik, terutama pasokan dan biaya energi, semakin menentukan seberapa cepat sebuah negara dapat membangun industri AI yang kompetitif.

Demis Hassabis menyoroti persoalan tersebut dengan melihat energi sebagai salah satu bahan baku utama komputasi AI modern. Ketika harga energi tinggi, biaya menjalankan pusat data dan sistem komputasi ikut meningkat. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dan negara dalam mengembangkan teknologi AI dalam skala besar.

Persoalan tersebut sangat relevan bagi Inggris dan negara-negara Eropa. Kawasan tersebut memiliki kapasitas riset dan talenta teknologi yang kuat, tetapi biaya energi dapat menjadi salah satu hambatan dalam membangun infrastruktur komputasi yang mampu bersaing dengan pusat teknologi global lainnya.

Dari Watts Menjadi Dolar dan Token

Hubungan antara energi dan ekonomi AI dapat diringkas melalui konsep “Watts to Dollars to Tokens”. Sederhananya, kebutuhan listrik menentukan biaya komputasi, sedangkan biaya komputasi menentukan seberapa ekonomis sebuah sistem AI dapat menghasilkan dan memproses token.

Token menjadi unit penting dalam pengoperasian berbagai model AI karena aktivitas pemrosesan bahasa dan informasi bergantung pada komputasi. Semakin besar penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan infrastruktur untuk menjalankan beban komputasi tersebut.

Karena itu, efisiensi energi tidak lagi sekadar persoalan teknis. Efisiensi tersebut berkaitan langsung dengan struktur biaya industri AI dan pada akhirnya dapat menentukan daya saing ekonomi suatu negara.

Data Center Berpotensi Menjadi Bagian dari Sistem Energi

Kebutuhan energi yang terus meningkat juga mendorong perubahan cara memandang pusat data. Data center selama ini lebih banyak dipahami sebagai fasilitas yang mengonsumsi listrik untuk menjalankan server dan sistem komputasi.

Namun, Wendy Hall dan Hassabis memprediksi kemungkinan perubahan peran tersebut pada masa depan. Pusat data dapat semakin terintegrasi dengan kota dan bahkan berkembang menjadi bagian dari sistem pembangkitan atau penyediaan daya baru.

Gagasan ini menunjukkan bahwa hubungan antara AI dan energi dapat bergerak dalam dua arah. Infrastruktur energi mendukung pertumbuhan pusat data, sementara pusat data masa depan berpotensi dirancang sebagai bagian dari ekosistem energi yang lebih luas.

Infrastruktur Menjadi Faktor Strategis

Perubahan tersebut membuat pembangunan AI tidak dapat dipisahkan dari perencanaan energi. Negara yang ingin mengembangkan industri AI membutuhkan kombinasi antara jaringan listrik yang kuat, pasokan energi yang kompetitif, pusat data, konektivitas, dan kapasitas komputasi.

Artinya, persaingan AI bukan hanya terjadi di laboratorium penelitian atau perusahaan teknologi. Persaingan juga berlangsung dalam pembangunan infrastruktur yang memungkinkan teknologi tersebut beroperasi secara ekonomis dalam skala besar.

Inggris Membidik Perusahaan Teknologi Triliunan Dolar

Di sisi lain, Inggris memiliki modal penting untuk membangun industri teknologi AI. Negara tersebut memiliki ekosistem penelitian yang kuat melalui kawasan yang sering disebut “Golden Triangle”, yang mencakup Oxford, Cambridge, dan London, serta institusi seperti University College London (UCL) dan Imperial College.

Kekuatan penelitian tersebut menjadi fondasi penting bagi lahirnya perusahaan teknologi berbasis inovasi. Namun, persoalannya tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan penelitian atau startup baru.

Menurut Hassabis, Inggris masih menghadapi persoalan pendanaan tahap lanjut atau growth financing. Perusahaan teknologi yang berhasil menciptakan inovasi membutuhkan modal besar ketika memasuki fase ekspansi. Jika pendanaan tersebut tidak tersedia, perusahaan berpotensi mencari modal dan peluang pertumbuhan di luar negeri.

Karena itu, ambisi Inggris bukan sekadar menciptakan lebih banyak startup AI. Hassabis mendorong lahirnya perusahaan teknologi bernilai triliunan dolar yang tetap independen dan memiliki basis di Inggris.

Dari Negara Riset Menjadi Negara Industri Teknologi

Ambisi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak negara maju. Keunggulan dalam penelitian tidak otomatis menghasilkan perusahaan teknologi global dengan valuasi raksasa.

Diperlukan rantai ekosistem yang lengkap, mulai dari universitas, talenta, modal ventura, pendanaan pertumbuhan, infrastruktur energi, pusat data, hingga pasar. Tanpa keterhubungan tersebut, hasil penelitian berisiko lebih banyak dinikmati oleh perusahaan atau ekosistem teknologi di negara lain.

Negara Tidak Bisa Hanya Menjadi Regulator

Persoalan lain yang muncul dalam ekonomi AI adalah keseimbangan antara regulasi dan inovasi. Hassabis pernah mengingatkan Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa sebuah negara tidak cukup hanya menjadi “juara dunia di bidang regulasi” tanpa menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi.

Pesan tersebut semakin penting ketika AI berkembang menjadi salah satu sektor strategis ekonomi global. Regulasi diperlukan untuk menjaga keamanan, akuntabilitas, dan kepercayaan publik. Namun, regulasi yang tidak diimbangi kapasitas inovasi dapat membuat sebuah negara hanya menjadi pasar bagi teknologi yang dikembangkan di tempat lain.

Karena itu, strategi AI nasional perlu menempatkan inovasi dan regulasi sebagai dua komponen yang berjalan bersama. Negara membutuhkan aturan yang jelas, tetapi juga membutuhkan perusahaan, peneliti, modal, energi, dan infrastruktur untuk menghasilkan teknologi sendiri.

Kesimpulan

Ekonomi AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma. Biaya energi, kapasitas pusat data, ketersediaan modal, dan kemampuan mempertahankan perusahaan teknologi di dalam negeri menjadi bagian penting dari persaingan.

Konsep “Watts to Dollars to Tokens” memperlihatkan hubungan sederhana tetapi strategis antara energi dan ekonomi komputasi. Negara yang mampu menyediakan energi dan infrastruktur secara efisien memiliki peluang lebih besar untuk membangun industri AI yang kompetitif.

Ambisi Inggris untuk melahirkan perusahaan teknologi triliunan dolar juga menunjukkan bahwa kepemimpinan AI membutuhkan ekosistem lengkap. Keunggulan riset harus diterjemahkan menjadi perusahaan, investasi, infrastruktur, dan inovasi yang mampu bertahan dalam persaingan global. Pada era AI, menjadi pembuat aturan saja tidak cukup; negara juga harus memiliki kapasitas untuk menciptakan teknologi masa depan.

FAQ

  1. Mengapa energi penting bagi ekonomi AI? Energi menjadi bahan baku utama komputasi AI sehingga biaya listrik berpengaruh langsung terhadap biaya menjalankan model dan pusat data.
  2. Apa arti konsep “Watts to Dollars to Tokens”? Konsep tersebut menggambarkan hubungan antara penggunaan energi, biaya komputasi dalam bentuk nilai ekonomi, dan kemampuan sistem AI memproses atau menghasilkan token.
  3. Bagaimana pusat data dapat menjadi bagian dari sistem energi? Pusat data masa depan diprediksi dapat terintegrasi dengan kota dan berkembang sebagai bagian dari ekosistem pembangkitan atau penyediaan daya.
  4. Mengapa Inggris ingin memiliki perusahaan teknologi triliunan dolar? Inggris memiliki ekosistem riset kuat, tetapi membutuhkan pendanaan pertumbuhan agar perusahaan teknologi dapat berkembang besar dan tetap memiliki basis serta independensi di dalam negeri.
  5. Mengapa negara tidak cukup hanya memiliki regulasi AI? Regulasi penting untuk mengendalikan risiko teknologi, tetapi kepemimpinan AI juga membutuhkan kemampuan menciptakan inovasi, perusahaan teknologi, infrastruktur, dan kapasitas komputasi sendiri.

Topik Terkait