Kendari, Kampus Times- QS. Al-An‘am ayat 122 menghadirkan salah satu perumpamaan paling kuat tentang makna kehidupan dalam Al-Qur’an. Ayat ini berbicara mengenai manusia yang sebelumnya “mati”, kemudian dihidupkan Allah dan diberi cahaya sehingga mampu berjalan di tengah manusia. Gambaran tersebut berhadapan dengan seseorang yang berada dalam kegelapan dan tidak mampu keluar darinya.
Pesan ayat ini relevan untuk direnungkan dalam kehidupan modern. Manusia dapat hidup secara biologis, memiliki ilmu, pekerjaan, teknologi, bahkan kekuasaan, tetapi belum tentu memiliki arah kehidupan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya berkaitan erat dengan kehidupan hati.
Makna “Mati” dalam QS. Al-An‘am Ayat 122
Allah berfirman:
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan...”
“Mati” dalam perumpamaan ini bukan semata-mata kematian biologis. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan manusia yang berada dalam kekufuran, kesesatan, dan kehilangan petunjuk, kemudian Allah menghidupkan hatinya dengan iman.
Seseorang dapat memiliki mata tetapi tidak melihat kebenaran. Ia dapat memiliki telinga tetapi tidak menerima nasihat, memiliki ilmu tetapi kehilangan hikmah, atau mempunyai kekuasaan tetapi tidak mengetahui untuk apa kekuasaan tersebut digunakan.
Karena itu, persoalan kehidupan tidak hanya berkaitan dengan apakah tubuh masih bernyawa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah hati masih peka terhadap kebenaran.
Dari Kehidupan Menuju Cahaya
Setelah menyebut tentang kehidupan, Allah melanjutkan:
“Dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak.”
Kata nur atau cahaya menjadi bagian penting dalam perumpamaan ini. Cahaya bukan hanya sesuatu yang menerangi, tetapi sesuatu yang membuat manusia mampu menentukan arah.
Dalam penjelasan para ulama tafsir, nur dapat dipahami dalam kaitannya dengan iman, Islam, Al-Qur’an, dan petunjuk Allah. Dengan cahaya tersebut, manusia tidak sekadar mengetahui sesuatu, tetapi memiliki pedoman untuk menentukan bagaimana harus bertindak.
Cahaya iman seharusnya hadir dalam cara berpikir, berbicara, bekerja, memimpin, menggunakan harta, memanfaatkan teknologi, dan memperlakukan orang lain.
Dengan demikian, iman bukan sekadar pengalaman batin. Iman harus menjadi kompas kehidupan.
Berjalan di Tengah Manusia
Menariknya, Al-Qur’an menggunakan ungkapan “yamsyi bihi fin-nas”, yakni berjalan dengan cahaya tersebut di tengah manusia.
Artinya, cahaya petunjuk tidak dimaksudkan untuk menjadikan seseorang terasing dari realitas kehidupan. Manusia tetap hidup di tengah masyarakat, menghadapi perbedaan, konflik, godaan, perubahan zaman, dan berbagai persoalan sosial.
Karena itu, kualitas spiritual seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia hadir di tengah manusia.
Apakah iman membuatnya lebih jujur? Apakah ilmu membuatnya lebih rendah hati? Apakah agama membuatnya lebih adil dan bermanfaat?
Cahaya yang benar semestinya membentuk akhlak dan menghadirkan kemaslahatan.
Kegelapan yang Berlapis
Sebaliknya, Allah menggambarkan manusia lain berada dalam zulumat, yaitu kegelapan-kegelapan.
Penggunaan bentuk jamak tersebut dapat menjadi bahan renungan bahwa kegelapan manusia memiliki banyak bentuk. Ia dapat berupa kebodohan, kesesatan, hawa nafsu, kesombongan, kebencian, fanatisme, materialisme, hingga penyalahgunaan informasi dan teknologi.
Yang paling berbahaya bukan hanya ketika seseorang melakukan kesalahan, tetapi ketika kesalahan tersebut sudah dianggap sebagai kebenaran.
Seseorang dapat melakukan kezaliman tetapi merasa sedang membela kebenaran. Ia dapat menyebarkan fitnah tetapi menganggapnya kritik, atau bersikap sombong tetapi menyebutnya sebagai kepercayaan diri.
Ketika kemampuan membedakan benar dan salah hilang, manusia berada dalam kegelapan yang jauh lebih dalam.
Cahaya di Tengah Era Digital
Pesan QS. Al-An‘am ayat 122 semakin relevan di tengah kehidupan digital. Manusia saat ini memiliki akses terhadap informasi yang hampir tidak terbatas melalui internet, media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan.
Namun, banyak informasi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan.
Algoritma dapat menentukan apa yang sering kita lihat. Popularitas dapat membuat sesuatu tampak benar, sementara jumlah tayangan dan tanda suka sering dianggap sebagai ukuran nilai.
Padahal, sesuatu yang viral belum tentu benar dan sesuatu yang populer belum tentu baik.
Di sinilah manusia membutuhkan cahaya sebagai kompas moral. Teknologi dapat membantu menjawab apa yang bisa dilakukan, tetapi manusia tetap perlu bertanya apa yang seharusnya dilakukan.
Ilmu, Iman, dan Cahaya Kehidupan
Pesan ayat ini juga penting bagi dunia akademik. Ilmu dapat menjadi cahaya apabila digunakan untuk mencari kebenaran, membangun kemanusiaan, mengurangi kebodohan, dan menghadirkan keadilan.
Sebaliknya, ilmu dapat berubah menjadi kegelapan apabila digunakan untuk manipulasi, eksploitasi, kebohongan akademik, atau penyalahgunaan teknologi.
Karena itu, tidak setiap orang berilmu otomatis berada dalam cahaya. Ilmu membutuhkan orientasi moral agar menghasilkan kebijaksanaan.
Manusia modern tidak hanya membutuhkan information, tetapi juga meaning. Informasi menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana sesuatu bekerja, sementara kesadaran spiritual membantu manusia memahami untuk apa pengetahuan tersebut digunakan.
Cahaya sebagai Jalan Menuju Allah
Jika ayat ini direnungkan sebagai perjalanan spiritual, terdapat rangkaian yang sangat indah:
mati >> dihidupkan >> diberi cahaya >> berjalan >> menemukan arah.
Kematian hati digantikan kehidupan iman. Kehidupan iman melahirkan cahaya. Cahaya memberikan arah, dan arah tersebut membimbing manusia menjalani kehidupan menuju Allah.
Dalam perspektif tasawuf, perjalanan tersebut juga dapat dikaitkan dengan upaya membersihkan hati dari kesombongan, iri, kerakusan, kebencian, dan keterikatan berlebihan kepada selain Allah.
Manusia perlu mematikan ego agar hati kembali hidup.
Tiga Pertanyaan untuk Diri Sendiri
QS. Al-An‘am ayat 122 mengajak setiap orang melakukan evaluasi.
Pertama, apakah saya benar-benar hidup? Bukan hanya secara biologis, tetapi apakah hati masih peka terhadap kebenaran?
Kedua, cahaya apa yang menerangi kehidupan saya? Apakah wahyu dan iman, atau justru uang, jabatan, popularitas, opini publik, dan algoritma?
Ketiga, ke mana saya sedang berjalan? Sebab berjalan cepat tidak selalu berarti menuju tempat yang benar.
Menjadi Manusia yang Membawa Cahaya
Cahaya iman tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri. Ia perlu hadir melalui kejujuran, keadilan, ilmu, kasih sayang, tanggung jawab, dan amal kebajikan.
Dunia modern telah memberikan manusia banyak “lampu”. Layar smartphone dapat menerangi wajah, monitor menerangi ruangan, dan teknologi dapat menerangi informasi. Namun, cahaya yang menerangi layar tidak selalu menunjukkan jalan kehidupan.
Manusia tetap membutuhkan hidayah Allah sebagai kompas.
Kesimpulan
QS. Al-An‘am ayat 122 mengajarkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukan sekadar keberadaan fisik, melainkan kehidupan hati yang memperoleh iman dan petunjuk.
Manusia memiliki pilihan untuk berjalan dalam cahaya atau tersesat dalam kegelapan. Di tengah derasnya informasi, teknologi, dan perubahan sosial, pesan ayat ini menjadi semakin penting: manusia tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi membutuhkan arah.
Cahaya Al-Qur’an seharusnya membimbing manusia dalam berpikir, mengambil keputusan, menggunakan teknologi, dan memperlakukan sesama. Pada akhirnya, perjalanan dari kematian hati menuju kehidupan iman adalah perjalanan untuk menemukan kembali arah menuju Allah.
FAQ
- Apa makna “mati” dalam QS. Al-An‘am ayat 122? Yang dimaksud adalah kematian spiritual, yaitu keadaan hati yang jauh dari iman dan petunjuk Allah, bukan semata-mata kematian biologis.
- Apa arti “nur” atau cahaya dalam ayat tersebut? Nur dapat dipahami sebagai petunjuk Allah yang berkaitan dengan iman, Islam, Al-Qur’an, dan hidayah yang membimbing manusia menjalani kehidupan.
- Mengapa cahaya disebut sebagai sesuatu yang digunakan untuk berjalan? Karena petunjuk agama bukan hanya untuk diketahui, tetapi harus menjadi pedoman praktis dalam menentukan sikap dan tindakan.
- Apa relevansi QS. Al-An‘am ayat 122 dengan era digital? Ayat ini mengingatkan bahwa banyaknya informasi tidak otomatis memberikan kebenaran dan arah, sehingga manusia membutuhkan kompas moral dan spiritual dalam menggunakan teknologi.
- Apa pesan utama QS. Al-An‘am ayat 122 bagi kehidupan manusia? Pesan utamanya adalah agar manusia menghidupkan hati dengan iman, menerima cahaya petunjuk Allah, lalu menjadikannya pedoman untuk berjalan dan memberi manfaat di tengah masyarakat.