Ada sesuatu yang menarik ketika seorang tokoh politik membutuhkan buku untuk menjelaskan hubungan dirinya dengan Islam, bukan karena seorang pemimpin tidak boleh berbicara tentang agama. Justru sebaliknya, agama adalah bagian penting dari kehidupan bangsa Indonesia. Yang menarik adalah pertanyaan yang muncul di baliknya, mengapa Islam perlu dijelaskan melalui sebuah buku yang melekat pada figur politik tertentu?
Buku Islam ala Prabowo, dari judulnya saja, membuat pembaca bertanya, bagaimana sebenarnya hubungan antara Islam, diri seorang tokoh, dan kekuasaan? Apa Islam perlu memiliki versi? seorang tokoh politik? Atau Islam justru terlalu luas untuk dimiliki oleh seseorang, kelompok, bahkan negara?
Pertanyaan semacam ini mengingatkan pembaca kepada guru kita, KH. Abdurrahman Wahid, kita kenal dengan nama akrab, Gus Dur. Jauh sebelum perdebatan semacam ini mengemuka, Gus Dur telah menulis sebuah gagasan: Islamku, Islam Anda, Islam Kita.
Disitu, Gus Dur tidak sedang mengklaim dirinya tentang Islam, justru ia mengakui adanya pengalaman keberislaman yang beragam. Ada Islamku, yaitu pengalaman personal seseorang dalam memahami dan menghayati Islam. Ada Islam Anda, yakni pengalaman keberagamaan orang lain yang mungkin berbeda dari pengalaman pembaca. Dan ada Islam Kita, yaitu nilai-nilai Islam yang dapat menjadi milik bersama dalam kehidupan kebangsaan. Di titik inilah pemikiran Gus Dur terasa penting untuk dibaca kembali, sebab agama tidak pernah sesederhana slogan politik. Al-Quran sendiri memberikan penegasan tentang keberagaman manusia.
Allah berfirman:
Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat diatas tidak mengatakan bahwa keberagaman harus dihapus agar manusia menjadi seragam. Sebaliknya, keberagaman merupakan bagian dari ketetapan Tuhan. Dalam konteks kehidupan berbangsa, keberagaman pengalaman keislaman juga merupakan kenyataan sosial. Islam yang tumbuh di pesantren tidak selalu tampil dengan wajah yang sama dengan Islam di kampus. Islam masyarakat pedesaan tidak selalu identik dengan Islam masyarakat perkotaan. Pengalaman seorang santri, akademisi, pedagang, petani, ulama, birokrat, dan politisi tentu memiliki konteks yang berbeda.
Namun, perbedaan pengalaman itu tidak serta-merta menjadikan salah satunya sebagai satu-satunya representasi Islam. Di sinilah pentingnya membedakan antara Islam yang berasal dari wahyu Tuhan dan cara manusia memahami serta menjalankan ajaran Islam
Wahyu bersumber dari Tuhan, tetapi pemahaman manusia terhadap wahyu selalu berada dalam ruang sejarah, kebudayaan, pendidikan, pengalaman, dan kepentingan manusia itu sendiri. Karena itu, ketika seseorang mengatakan "Islam saya", pembaca dapat memahaminya sebagai pengalaman keberagamaannya. Tetapi ketika seseorang mengatakan bahwa "Islam saya" adalah satu-satunya Islam yang benar dalam ruang sosial-politik, persoalannya menjadi beda.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah identitas sosial, keturunan, kelompok, atau posisi politik. Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim, Nabi Muhammad bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian. (HR. Muslim)
Hadits ini seharusnya menjadi cermin bagi kita yang membawa nama agama, Islam tidak meminta manusia untuk terlihat paling Islami, Islam meminta manusia untuk menghadirkan iman dalam akhlak dan amal. Oleh karena itu, ukuran keislaman seorang pemimpin semestinya tidak berhenti pada bagaimana ia berbicara tentang Islam, bagaimana ia difoto dalam simbol-simbol keagamaan, atau bagaimana kedekatannya dengan tokoh-tokoh agama ditampilkan kepada publik.
Pertanyaan yang lebih penting menurut penulis ialah, apakah kekuasaannya menghadirkan keadilan? Apakah kebijakannya melindungi yang lemah? Apakah ia menjaga amanah? Apakah ia menghormati manusia yang berbeda? Al-Quran bahkan menempatkan keadilan sebagai sesuatu yang harus ditegakkan sekalipun berhadapan dengan kepentingan diri sendiri.
Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.
(QS. An-Nisa: 135)
Ayat ini sangat relevan ketika agama bersentuhan dengan kekuasaan, sebab kekuasaan memiliki kecenderungan untuk menggunakan berbagai sumber legitimasi agar dirinya terlihat benar. Dan agama adalah salah satu sumber legitimasi moral yang paling kuat. Sebab itu, ketika Islam dibawa ke dalam ruang politik, pertanyaan pembaca tidak seharusnya berhenti pada, Seberapa Islami seorang pemimpin?. Pertanyaan yang lebih penting adalah, Seberapa adil kekuasaannya?
Di sinilah pemikiran Gus Dur terasa berbeda, Gus Dur tidak sibuk membangun tembok bahwa Islam harus tampil dalam satu wajah. Ia justru membuka ruang bagi perbedaan pengalaman keberagamaan.
Islamku mengingatkan bahwa keberislaman memiliki dimensi personal, Islam Anda mengajarkan penghormatan terhadap pengalaman keberagamaan orang lain, sedangkan Islam Kita mengajak pembaca menemukan titik temu: nilai-nilai Islam yang dapat menjadi energi bersama bagi kehidupan masyarakat dan bangsa. Gagasan ini sesungguhnya sejalan dengan prinsip Al-Quran tentang tidak adanya paksaan dalam agama:
Tidak ada paksaan dalam agama. (QS. Al-Baqarah: 256)
Ayat tersebut bukan sekadar berbicara mengenai kebebasan memilih agama, ia juga memberikan pelajaran penting bahwa iman tidak lahir dari pemaksaan, keberagamaan yang sehat tidak membutuhkan intimidasi untuk mendapatkan pengakuan, ia tumbuh dari kesadaran. Maka, semakin seseorang yakin terhadap nilai-nilai agamanya, semestinya semakin besar pula kemampuannya menghormati manusia yang berbeda.
Persoalan kemudian bukan apakah seorang tokoh politik boleh menulis buku tentang Islam. Tentu saja boleh, yang perlu kita renungkan adalah ketika agama mulai diposisikan sebagai atribut personal seorang penguasa.
Islam menjadi identitas yang ditempelkan pada figur. Seolah-olah kedekatan seorang tokoh dengan Islam akan membuat kekuasaannya memperoleh legitimasi moral yang lebih tinggi, padahal Al-Quran mengingatkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status sosial.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS. Al-Hujurat: 13)
Ketakwaan bukan poster, bukan slogan, bukan juga sekadar judul buku, ia adalah kualitas batin yang kemudian dibuktikan melalui tindakan. Oleh karena itu, seorang pemimpin tidak perlu terlalu sibuk menjelaskan bahwa dirinya Islami apabila kebijakan dan perilakunya telah berbicara tentang keadilan, amanah, kasih sayang, dan keberpihakan kepada rakyat. Sebaliknya, sebanyak apa pun simbol agama digunakan, ia tidak akan mampu menggantikan substansi apabila kekuasaan justru melahirkan ketidakadilan.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai Islam ala Prabowo seharusnya tidak berhenti pada Prabowo. Ini bukan semata-mata persoalan satu tokoh, ini adalah pertanyaan yang lebih besar bagi kita semua: apakah kita sedang menjadikan Islam sebagai jalan pengabdian, atau menjadikannya sebagai alat untuk memperkuat identitas dan kekuasaan?
Gus Dur menawarkan sebuah jalan yang menarik, ia tidak mengatakan bahwa hanya ada satu pengalaman manusia dalam berislam, Gus Dur justru mengakui bahwa ada Islamku, ada Islam Anda, dan ada Islam Kita. Mungkin karena itulah pemikirannya terasa melampaui kebutuhan untuk membuat klaim.
Gus Dur tidak membutuhkan Islam untuk menjadi legitimasi bagi dirinya. Justru pemikirannya tentang Islam telah menjadi bagian dari perdebatan bangsa tentang kemanusiaan, demokrasi, kebinekaan, keadilan, dan kehidupan bersama.
Pada titik tertentu, orang yang benar-benar menghayati agama tidak selalu merasa perlu mengiklankan keagamaannya.
Sebab agama yang benar-benar hidup pada akhirnya akan terlihat dari sikap kita: dari bagaimana kita berlaku adil, berani membela mereka yang lemah, mau mendengarkan orang lain, dan tetap menghormati orang yang berbeda dengan kita. Termasuk kemampuan untuk menahan diri dan tidak merasa bahwa Islam harus seperti saya. Mungkin, inilah salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari gagasan Islamku, Islam Anda, Islam Kita yang ditawarkan Gus Dur.
Islam terlalu luas kalau hanya dipersempit menjadi milik seorang tokoh, terlalu dalam kalau hanya dijadikan slogan politik, dan terlalu mulia kalau dipakai sekadar untuk memperkuat kekuasaan. Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan pertanyaan tentang Islam ala siapa, tetapi bagaimana Islam benar-benar bisa menghadirkan rahmat bagi semua. Sebagaimana Allah berfirman,
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107).
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, Islam versi siapa yang paling benar?, tetapi, Islam seperti apa yang paling banyak menghadirkan rahmat?. Di situlah agama tidak lagi berhenti sebagai identitas yang kita tunjukkan kepada orang lain, tetapi menjadi akhlak yang benar-benar kita jalani dalam kehidupan sehari-hari.