Akademik & Riset

Mengapa DeepMind Dijual ke Google? Modal $7 Miliar dan Jalan Menuju Nobel

14 September 2026, 07:10 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Ketika Google mengakuisisi DeepMind pada Januari 2014, keputusan tersebut terlihat seperti transaksi teknologi bernilai besar. Nilai kesepakatan yang banyak diberitakan berada di kisaran $650 juta. Namun, alasan di balik penjualan itu ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mencari pembeli dengan harga terbaik.

Dalam penjelasan yang disampaikan Demis Hassabis pada 2026, persoalan utamanya adalah skala modal. Hassabis mengatakan bahwa jika DeepMind ingin terus berkembang dan bersaing dengan perusahaan teknologi raksasa, kebutuhan investasinya bisa mencapai sekitar $7 miliar. Pada saat yang sama, ia mengaku bahkan kesulitan mengumpulkan pendanaan dalam putaran sekitar $10 juta.

Angka tersebut penting karena menggambarkan jurang antara ambisi riset AI dan kemampuan pendanaan startup pada masa itu. DeepMind bukan perusahaan perangkat lunak biasa yang bisa segera menghasilkan pendapatan untuk membiayai ekspansinya.

AI Umum Membutuhkan Infrastruktur Besar

Sejak didirikan pada 2010, DeepMind memiliki ambisi yang sangat mendasar: memahami dan membangun sistem kecerdasan buatan yang semakin umum. Masalahnya, riset semacam itu membutuhkan peneliti berkualitas tinggi, perangkat keras, data, serta kapasitas komputasi yang terus meningkat.

Berbeda dengan startup digital yang dapat mengembangkan produk menggunakan infrastruktur relatif ringan, pengembangan AI tingkat lanjut membutuhkan sumber daya komputasi yang mahal. Karena itu, modal menjadi bagian integral dari strategi ilmiah, bukan sekadar kebutuhan administrasi perusahaan.

Dalam konteks itulah, pernyataan Hassabis mengenai kebutuhan $7 miliar harus dipahami sebagai perkiraan kebutuhan untuk bersaing pada skala raksasa, bukan sebagai tagihan konkret yang sudah dikeluarkan DeepMind pada 2014. Angka tersebut merupakan refleksi Hassabis bertahun-tahun kemudian mengenai besarnya modal yang menurutnya diperlukan untuk tetap independen dan mengejar perusahaan teknologi terbesar.

Perang Talenta Membuat Situasi Semakin Sulit

Persoalan DeepMind tidak berhenti pada uang untuk membeli komputer. Setelah penelitian DeepMind mulai menarik perhatian Silicon Valley, sumber daya paling berharga justru berada di dalam perusahaan: para penelitinya.

Hassabis mengatakan bahwa perusahaan teknologi besar mulai memburu orang-orang DeepMind. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai ancaman terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan tim yang dibangun untuk mengerjakan riset jangka panjang.

Menurut kesaksiannya, sebagian peneliti DeepMind ketika itu memperoleh sekitar $100 ribu per tahun, sementara tawaran dari perusahaan teknologi besar dapat mencapai $10 juta per tahun. Ia bahkan menyebut tawaran bisa meningkat jauh lebih tinggi jika kandidat menolak.

Terlepas dari detail angka kompensasi tersebut yang merupakan kesaksian Hassabis, fenomenanya menunjukkan persoalan mendasar dalam industri AI: talenta langka memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

Bagi laboratorium yang belum memiliki produk komersial dan pendapatan besar, mempertahankan peneliti terbaik melawan perusahaan dengan sumber daya hampir tak terbatas merupakan tantangan struktural.

Google Menjadi Infrastruktur bagi Ambisi Ilmiah DeepMind

Di titik inilah Google menawarkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar uang akuisisi. Bergabung dengan Google berarti DeepMind mendapatkan akses ke sumber daya komputasi, infrastruktur teknologi, serta kemampuan untuk mempertahankan tim penelitian dalam jangka panjang.

Keputusan tersebut memungkinkan Hassabis dan timnya lebih banyak memusatkan perhatian pada persoalan ilmiah daripada terus mencari investor. Fokus tersebut kemudian menghasilkan berbagai pencapaian yang menjadi bagian penting dari sejarah AI modern.

Salah satu tonggaknya adalah AlphaGo, sistem AI yang menunjukkan kemampuan luar biasa dalam permainan Go. Beberapa tahun kemudian, perhatian DeepMind semakin bergeser ke persoalan ilmiah dengan hadirnya AlphaFold.

Dari Akuisisi Menuju Nobel Kimia

AlphaFold menjadi contoh paling jelas mengenai bagaimana investasi pada riset jangka panjang dapat menghasilkan dampak yang jauh melampaui industri teknologi.

Sistem tersebut dikembangkan untuk memprediksi struktur tiga dimensi protein. AlphaFold kemudian membantu memecahkan persoalan biologis yang selama puluhan tahun menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan.

Pada 2024, Demis Hassabis dan John Jumper bersama David Baker dianugerahi Nobel Kimia. Hassabis dan Jumper mendapatkan bagian penghargaan atas pengembangan AlphaFold, sementara Baker diakui atas kontribusinya dalam desain protein berbasis komputasi.

Dampaknya juga tidak berhenti pada penghargaan. Google DeepMind menyebut basis data AlphaFold telah digunakan oleh lebih dari 3 juta peneliti dari lebih dari 190 negara. Data dan prediksi tersebut tersedia secara luas untuk mendukung penelitian biologi, kesehatan, pengembangan obat, hingga kajian penyakit.

Ketika Dampak Ilmiah Mengalahkan Nilai Finansial

Di sinilah makna keputusan Hassabis menjadi menarik. Kekayaan finansial dapat dihitung melalui nilai perusahaan atau kepemilikan saham. Sebaliknya, nilai pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian jauh lebih sulit diukur.

AlphaFold memberikan contoh nyata. Sebuah sistem yang berawal dari proyek riset AI akhirnya menjadi infrastruktur pengetahuan yang dimanfaatkan jutaan peneliti di berbagai negara.

Dalam refleksinya pada 2026, Hassabis mengatakan bahwa dampak AlphaFold bagi sekitar 3 juta peneliti merupakan alasan kuat mengapa hasil penelitian tersebut lebih berharga jika digunakan secara luas daripada disimpan sebagai aset eksklusif satu organisasi.

Pandangan tersebut memperlihatkan filosofi yang berbeda tentang keberhasilan perusahaan teknologi. Keberhasilan tidak selalu harus diukur dari seberapa banyak kekayaan yang berhasil dipertahankan pendirinya.

Pelajaran dari Keputusan DeepMind

Kisah DeepMind menunjukkan bahwa riset teknologi mutakhir memiliki ekonomi yang berbeda dari bisnis konvensional. Ketika sebuah perusahaan mengejar terobosan fundamental, kebutuhan modal dapat menjadi sangat besar sebelum manfaat komersialnya terlihat.

Namun, keputusan menjual perusahaan juga tidak otomatis berarti menyerahkan misi. Dalam kasus DeepMind, akuisisi Google justru menyediakan lingkungan yang memungkinkan penelitian berlanjut dalam skala lebih besar.

Kini, AlphaFold menjadi salah satu bukti bahwa strategi tersebut menghasilkan konsekuensi ilmiah yang signifikan. Bagi dunia pendidikan tinggi dan penelitian, kisah ini memperlihatkan pentingnya ekosistem yang mampu mempertemukan modal, talenta, komputasi, dan kebebasan akademik.

Kesimpulan

Penjualan DeepMind kepada Google pada 2014 tidak dapat dilihat hanya sebagai transaksi senilai ratusan juta dolar. Dari penjelasan Demis Hassabis, keputusan itu merupakan respons terhadap persoalan modal, kebutuhan komputasi, serta perang perebutan talenta AI.

Ironisnya, keputusan yang secara finansial tampak seperti kehilangan kendali atas perusahaan justru membantu mempertahankan agenda riset jangka panjang. Dari sana lahir AlphaGo dan AlphaFold, sementara kontribusi AlphaFold kemudian membawa Hassabis dan John Jumper meraih Nobel Kimia 2024.

Pelajaran terbesarnya sederhana: dalam teknologi frontier, uang memang menentukan seberapa jauh sebuah riset dapat berjalan. Namun, nilai terbesar sebuah teknologi terkadang baru terlihat ketika hasilnya melampaui perusahaan yang membangunnya dan menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

FAQ

  1. Mengapa DeepMind dijual kepada Google pada 2014? Demis Hassabis menjelaskan bahwa DeepMind membutuhkan modal sangat besar untuk bersaing dengan perusahaan teknologi raksasa, sementara kemampuan pendanaan independennya masih terbatas.
  2. Berapa kebutuhan investasi DeepMind yang disebut Hassabis? Hassabis menyebut sekitar $7 miliar sebagai perkiraan kebutuhan investasi untuk dapat bersaing pada skala perusahaan teknologi terbesar.
  3. Berapa nilai akuisisi DeepMind oleh Google? Nilai transaksi yang banyak diberitakan berada di sekitar $650 juta pada 2014.
  4. Apa hubungan DeepMind dengan Nobel Kimia 2024? Demis Hassabis dan John Jumper memperoleh Nobel Kimia 2024 bersama David Baker; Hassabis dan Jumper mendapat penghargaan atas pengembangan AlphaFold.
  5. Berapa banyak peneliti yang menggunakan AlphaFold? Google DeepMind menyebut AlphaFold telah digunakan oleh lebih dari 3 juta peneliti dari lebih dari 190 negara.

Topik Terkait