Kampus Times- Dunia sedang memasuki perubahan teknologi yang kecepatannya sulit dibandingkan dengan revolusi industri sebelumnya. Kecerdasan buatan dan robotika tidak hanya menciptakan alat baru, tetapi mulai mengambil alih tugas yang selama ini dilakukan manusia.
Perubahan tersebut melahirkan sebuah pertanyaan besar: apa yang terjadi ketika teknologi mampu melakukan pekerjaan manusia dalam skala jutaan bahkan ratusan juta posisi?
Sejumlah proyeksi memperkirakan hingga 800 juta pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terdampak otomatisasi pada 2030. Di Amerika Serikat saja, sebanyak 73 juta pekerjaan disebut berada dalam risiko.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan otomatisasi bukan lagi sekadar isu teknologi. Ini merupakan persoalan ekonomi dan sosial yang akan menentukan bagaimana masyarakat bekerja pada masa depan.
Kendaraan Otonom dan Ancaman bagi Pekerja Kelas Menengah
Salah satu sektor yang berada di garis depan otomatisasi adalah transportasi.
Truk tanpa pengemudi, taksi otonom, dan kendaraan pengiriman otomatis berpotensi mengubah industri transportasi secara fundamental. Teknologi tersebut dapat mengurangi kebutuhan terhadap manusia untuk mengendalikan kendaraan selama perjalanan.
Masalahnya, pekerjaan mengemudi memiliki peran sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan biasa.
Di Amerika Serikat, sekitar 3 persen tenaga kerja menggantungkan penghasilan dari aktivitas mengemudi. Mengemudi truk bahkan menjadi pekerjaan paling umum di 29 negara bagian.
Bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah, menjadi pengemudi truk merupakan salah satu jalur untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah kelas menengah tanpa harus memiliki pendidikan tinggi.
Karena itu, ketika teknologi mengambil alih pekerjaan tersebut, dampaknya tidak hanya berupa hilangnya sejumlah posisi. Yang terancam adalah salah satu jalur mobilitas ekonomi bagi masyarakat kelas bawah.
Jutaan Pengemudi Berada di Persimpangan
Sebuah laporan Gedung Putih pada 2016 memperkirakan sekitar 1,3 hingga 1,7 juta pengemudi truk di Amerika Serikat dapat terdampak otomatisasi.
Jika pengemudi taksi, sopir pribadi, dan kurir turut diperhitungkan, jumlahnya dapat mencapai sekitar 3,1 juta orang.
Nilainya juga sangat besar secara ekonomi. Total gaji pengemudi truk di AS disebut mencapai sekitar 300 miliar dolar per tahun.
Artinya, otomatisasi bukan hanya memindahkan pekerjaan dari manusia ke mesin. Ia juga berpotensi mengubah aliran pendapatan dalam perekonomian.
Jika jutaan orang kehilangan penghasilan secara bersamaan tanpa alternatif pekerjaan yang memadai, dampaknya dapat terasa pada konsumsi rumah tangga, bisnis lokal, hingga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Robot Mulai Masuk ke Industri Kuliner
Transportasi bukan satu-satunya sektor yang berubah.
Industri makanan dan jasa juga mulai menggunakan robot untuk menjalankan pekerjaan yang repetitif. Salah satu contohnya adalah lini otomatisasi pembuatan pizza yang diklaim mampu memproses hingga 360 pizza dalam satu jam.
Dari sudut pandang perusahaan, otomatisasi memiliki daya tarik yang jelas.
Robot dapat bekerja secara konsisten, menangani pekerjaan yang berulang, dan mengurangi paparan manusia terhadap tugas yang dianggap membosankan atau berisiko.
Namun, bagi pekerja yang selama ini mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tersebut, efisiensi mesin memiliki arti yang berbeda.
Setiap peningkatan produktivitas melalui otomatisasi dapat sekaligus berarti berkurangnya kebutuhan terhadap tenaga manusia.
AI Tidak Lagi Hanya Menggantikan Pekerjaan Fisik
Kesalahan umum dalam melihat otomatisasi adalah menganggap robot hanya akan menggantikan pekerja manual.
Perkembangan AI menunjukkan arah yang berbeda.
Teknologi kini mulai digunakan dalam bidang hukum, keuangan, kesehatan, dan berbagai pekerjaan profesional lainnya. Bahkan pekerjaan yang membutuhkan pendidikan tinggi mulai menghadapi kemungkinan otomatisasi pada sebagian tugasnya.
Di bidang medis, misalnya, sistem AI dapat membantu menganalisis citra medis dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan manusia.
Dalam contoh yang dikutip dalam diskusi, sebuah sistem mampu memproses 765 studi medis dalam 46 detik, jumlah yang disebut setara dengan sekitar dua hari kerja seorang radiolog.
Angka tersebut menunjukkan bahwa AI tidak harus sepenuhnya menggantikan seorang profesional untuk mengubah profesinya. Cukup dengan mengambil alih sebagian besar tugas yang menghabiskan waktu, struktur pekerjaan tersebut sudah dapat berubah secara signifikan.
Utopia Keselamatan Bisa Berubah Menjadi Distopia Ekonomi
Otomatisasi juga menawarkan manfaat yang sulit ditolak.
Kendaraan otonom, misalnya, berpotensi mengurangi kecelakaan yang disebabkan oleh kesalahan manusia. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 1,25 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas secara global.
Jika teknologi otonom mampu mengurangi angka tersebut secara signifikan, manfaat kemanusiaannya tentu sangat besar.
Namun, ada dilema yang harus diperhatikan.
Sebuah teknologi dapat membuat dunia lebih aman secara fisik sekaligus menciptakan ketidakamanan ekonomi bagi jutaan orang.
Inilah paradoks utama revolusi otomatisasi: teknologi yang mampu menyelamatkan nyawa belum tentu secara otomatis menciptakan kehidupan ekonomi yang lebih baik bagi semua orang.
Masalah Terbesar Ada pada Masa Transisi
Perubahan teknologi pada akhirnya mungkin menghasilkan jenis pekerjaan baru. Masalahnya adalah proses menuju kondisi tersebut tidak selalu berlangsung mulus.
Pekerja yang kehilangan pekerjaan sebagai pengemudi truk tidak otomatis dapat menjadi programmer. Pekerja restoran yang digantikan robot tidak serta-merta memiliki keterampilan untuk mengembangkan sistem AI.
Ada kesenjangan antara pekerjaan yang hilang dan pekerjaan baru yang tersedia.
Jika kesenjangan tersebut terlalu besar, masyarakat dapat mengalami periode panjang pengangguran dan penurunan pendapatan.
Karena itu, keberhasilan revolusi teknologi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat robot dan AI berkembang, tetapi juga dari seberapa baik manusia dipersiapkan untuk beradaptasi dengannya.
Pemerintah Tidak Bisa Menunggu Teknologi Selesai
Tantangan berikutnya adalah kebijakan publik.
Perkembangan AI dan robotika dapat bergerak dalam hitungan tahun, sementara perubahan regulasi, pendidikan, dan sistem sosial sering membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Jika pemerintah baru bertindak setelah jutaan pekerjaan menghilang, kebijakan tersebut mungkin sudah terlambat.
Diperlukan perencanaan mengenai pelatihan ulang tenaga kerja, pendidikan keterampilan baru, perlindungan sosial, serta penciptaan jalur mobilitas ekonomi baru.
Peneliti robotika Jonathan Hurst menekankan bahwa perubahan ini dapat dikelola dengan baik apabila pemerintah dan pembuat kebijakan menyadari perubahan yang terjadi dan mulai mempersiapkannya.
Dengan kata lain, persoalannya bukan apakah otomatisasi akan terjadi, tetapi apakah masyarakat siap menghadapinya ketika terjadi.
Mengapa Perusahaan Teknologi Perlu Ikut Bertanggung Jawab?
Perusahaan teknologi memiliki insentif kuat untuk menonjolkan manfaat otomatisasi.
Robot lebih produktif. AI lebih cepat. Kendaraan otonom berpotensi lebih aman.
Semua itu dapat benar pada saat yang sama.
Tetapi dampak sosial dari inovasi juga perlu dibicarakan secara terbuka. Perusahaan yang mengembangkan teknologi seharusnya tidak hanya memikirkan bagaimana membuat mesin bekerja lebih baik, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut memengaruhi manusia yang pekerjaannya terdampak.
Ini bukan berarti inovasi harus dihentikan.
Justru sebaliknya, teknologi perlu dikembangkan bersamaan dengan mekanisme transisi yang memungkinkan manusia memperoleh kesempatan baru.
Revolusi Industri Berikutnya Harus Berpusat pada Manusia
Otomatisasi kemungkinan tidak akan berhenti.
Robot akan semakin murah, AI semakin cerdas, dan kendaraan semakin mampu beroperasi secara mandiri. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah manusia bisa menghentikan perkembangan tersebut.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah siapa yang mendapatkan manfaatnya dan siapa yang menanggung biayanya?
Jika produktivitas meningkat tetapi keuntungan hanya terkonsentrasi pada pemilik teknologi, sementara jutaan pekerja kehilangan penghasilan, revolusi tersebut dapat memperlebar ketimpangan.
Sebaliknya, jika peningkatan produktivitas digunakan untuk menciptakan pekerjaan baru, meningkatkan kualitas hidup, memperkuat pendidikan, dan membantu pekerja bertransisi, otomatisasi dapat menjadi kekuatan ekonomi yang positif.
Kesimpulan
AI dan robotika sedang membawa dunia menuju revolusi industri baru. Kendaraan otonom, robot industri, otomatisasi kuliner, hingga AI untuk pekerjaan profesional menunjukkan bahwa perubahan tidak lagi terbatas pada pekerjaan kerah biru.
Ancaman terbesar bukan semata-mata jumlah pekerjaan yang dapat hilang, tetapi kecepatan perubahan yang mungkin melampaui kemampuan manusia untuk beradaptasi.
Pekerjaan mengemudi menjadi contoh penting. Teknologi kendaraan otonom dapat menyelamatkan nyawa dan meningkatkan efisiensi, tetapi pada saat yang sama berpotensi menghilangkan salah satu jalur mobilitas ekonomi bagi jutaan pekerja.
Karena itu, masa depan otomatisasi membutuhkan lebih dari sekadar inovasi teknologi. Pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu mempersiapkan masa transisi sejak sekarang.
Revolusi industri seharusnya bukan tentang manusia melawan mesin, melainkan memastikan kemajuan mesin tetap menghasilkan masa depan yang layak bagi manusia.
FAQ
- Berapa banyak pekerjaan yang diperkirakan terdampak otomatisasi? Salah satu proyeksi yang dikutip memperkirakan hingga 800 juta pekerjaan di seluruh dunia dapat terdampak otomatisasi pada 2030, meskipun angka tersebut merupakan estimasi dan bukan kepastian.
- Mengapa pengemudi truk sangat rentan terhadap otomatisasi? Karena kendaraan otonom berpotensi menjalankan sebagian besar fungsi mengemudi tanpa manusia, sementara pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan penting bagi jutaan pekerja.
- Apakah AI hanya mengancam pekerjaan kerah biru? Tidak. AI juga mulai memengaruhi pekerjaan kerah putih seperti hukum, keuangan, dan medis dengan mengotomatisasi berbagai tugas analitis dan repetitif.
- Apa manfaat kendaraan otonom bagi masyarakat? Salah satu manfaat potensialnya adalah mengurangi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kesalahan manusia, sekaligus meningkatkan efisiensi transportasi.
- Apa yang harus dilakukan pemerintah menghadapi otomatisasi? Pemerintah perlu mempersiapkan pelatihan ulang tenaga kerja, pendidikan keterampilan baru, perlindungan sosial, serta kebijakan transisi sebelum dislokasi pekerjaan terjadi dalam skala besar.