Kampus Times-Perkembangan kecerdasan buatan atau AI tidak hanya menciptakan perubahan teknologi, tetapi juga memunculkan respons sosial yang berbeda di berbagai negara. China dan Amerika Serikat menjadi salah satu contoh paling kontras dalam melihat masa depan AI.
Lebih dari 80 persen masyarakat China yang disurvei menyatakan sangat antusias terhadap prospek AI. Sebaliknya, masyarakat Amerika Serikat cenderung berada di sisi yang lebih cemas dan gugup terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Perbedaan ini menarik karena AI pada dasarnya menghadirkan peluang dan risiko yang serupa. Yang membedakan adalah pengalaman masyarakat dalam menghadapi perubahan teknologi selama beberapa dekade terakhir.
Mengapa Masyarakat China Begitu Optimistis?
Optimisme masyarakat China tidak muncul begitu saja. Dalam 20 hingga 30 tahun terakhir, perkembangan teknologi di negara tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan standar hidup.
Teknologi telah menjadi bagian dari transformasi ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Karena memiliki pengalaman bahwa kemajuan teknologi sebelumnya membawa perubahan positif, masyarakat China cenderung percaya bahwa perkembangan AI juga dapat memberikan manfaat serupa.
Pola pikir tersebut menghasilkan keyakinan bahwa teknologi merupakan bagian normal dari perkembangan masyarakat.
Pandangan ini tercermin dari pernyataan:
“China is right out there on the right hand side of the chart... upwards of 80% of the Chinese population surveyed are very excited about the prospect of AI.”
Namun, optimisme masyarakat secara umum tidak berarti semua pekerja China merasa aman menghadapi perubahan tersebut.
Di Shenzhen, Pekerja Teknologi Menghadapi Tekanan
Shenzhen merupakan salah satu pusat teknologi penting di China. Di balik optimisme terhadap AI, para pekerja teknologi di kota ini justru merasakan tekanan yang semakin nyata.
PHK, restrukturisasi perusahaan, dan bertambahnya tanggung jawab menjadi bagian dari perubahan dunia kerja. Persaingan mendapatkan pekerjaan juga semakin berat, terutama bagi pekerja yang telah memasuki usia tertentu.
Salah satu persoalan yang dikenal luas adalah fenomena “kutukan usia 35” atau curse of 35. Istilah tersebut menggambarkan kesulitan pekerja teknologi berusia di atas 35 tahun untuk memperoleh pekerjaan baru di industri yang sangat kompetitif.
Kondisi tersebut menciptakan paradoks. Pada tingkat nasional, AI dapat dipandang sebagai simbol kemajuan ekonomi. Namun pada tingkat individu, teknologi yang sama dapat meningkatkan ketidakpastian terhadap masa depan pekerjaan.
Robotika Dipandang Berbeda oleh Pekerjanya
Menariknya, tidak semua pekerja teknologi memandang otomatisasi sebagai ancaman. Para pekerja di sektor robotika justru melihat peluang yang berbeda.
Bagi mereka, AI dan robot dapat membantu manusia meninggalkan pekerjaan yang berbahaya, berat, atau berulang. Teknologi tidak selalu dipandang sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai alat yang memungkinkan manusia melakukan pekerjaan dengan lebih aman dan efisien.
Pandangan ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap AI sangat dipengaruhi oleh posisi seseorang dalam ekosistem ekonomi.
Seseorang yang mengembangkan robot mungkin melihat otomatisasi sebagai peluang inovasi. Sebaliknya, pekerja yang pekerjaannya dapat digantikan oleh otomatisasi akan melihat teknologi tersebut dari perspektif yang jauh lebih personal.
Pekerja Pengantar Memilih Bersikap Pragmatis
Perbedaan lain terlihat pada pekerja pengantar barang dan makanan di Shenzhen. Mereka menyadari perkembangan robotaxi, drone pengiriman, dan bentuk otomatisasi lainnya, tetapi tidak merasa bahwa mereka merupakan bagian langsung dari dunia teknologi tersebut.
Ancaman otomatisasi tetap ada. Namun, respons mereka justru cenderung pragmatis.
Mereka melihat perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang tidak dapat dihentikan. Daripada terus mengkhawatirkannya, mereka percaya bahwa perubahan akan selalu terjadi dan manusia pada akhirnya harus mencari cara untuk beradaptasi.
Sikap tersebut dirangkum melalui pernyataan sederhana:
“This is normal technology is always going to develop we'll figure things out.”
Pandangan ini memperlihatkan bentuk optimisme yang berbeda. Bukan optimisme bahwa pekerjaan mereka pasti aman, melainkan keyakinan bahwa manusia akan menemukan cara untuk menghadapi perubahan.
Pemerintah China Menghadapi Dilema Besar
Di tingkat pemerintah, persoalannya jauh lebih kompleks. China ingin mempertahankan posisi kompetitif perusahaan teknologinya, tetapi juga harus mengantisipasi dampak sosial akibat disrupsi pekerjaan.
Jika AI berkembang terlalu cepat, sejumlah sektor dapat mengalami perubahan tenaga kerja dalam waktu singkat. PHK massal berpotensi menciptakan ketidakpuasan dan ketegangan sosial.
Pemerintah China karena itu mulai merancang sistem pemantauan yang lebih proaktif. Rencananya adalah memantau proses penciptaan sekaligus disrupsi lapangan kerja selama lima tahun ke depan.
Tujuannya bukan semata-mata menghentikan otomatisasi. Pemerintah ingin mengetahui lebih awal ketika suatu sektor atau kota mulai mengalami perubahan tenaga kerja dalam skala besar.
Listrik dan Data Pembayaran untuk Mendeteksi PHK

Salah satu pendekatan yang menarik adalah penggunaan indikator ekonomi dan operasional untuk membaca perubahan di pasar tenaga kerja.
Sistem pengawasan tersebut dirancang untuk memantau sektor dan kota-kota tertentu dengan melihat berbagai indikator, termasuk penggunaan daya listrik dan data pembayaran.
Perubahan signifikan pada pola aktivitas perusahaan dapat menjadi sinyal awal bahwa terjadi perubahan besar dalam kegiatan bisnis atau tenaga kerja.
Dengan mengetahui tanda-tanda tersebut lebih awal, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah sebelum dampak ekonomi berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih besar.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan dampak AI tidak hanya dilakukan setelah PHK terjadi. Pemerintah berusaha bergerak menuju sistem yang mampu mengidentifikasi potensi gangguan sejak dini.
AI Membawa Masalah yang Lebih Cepat dari Solusinya
Secara teori, solusi terhadap disrupsi AI terdengar cukup jelas. Pemerintah dan perusahaan dapat menyediakan program retraining, pendidikan berkelanjutan, serta menyesuaikan kurikulum sekolah agar masyarakat memiliki keterampilan yang relevan.
Masalahnya adalah kecepatan.
Perubahan teknologi dapat berlangsung jauh lebih cepat daripada siklus pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Keterampilan yang dianggap relevan hari ini belum tentu memiliki nilai yang sama beberapa tahun kemudian.
Karena itu, muncul pertanyaan apakah pendekatan konvensional seperti pelatihan ulang benar-benar mampu mengejar skala perubahan yang dibawa AI.
Tantangan ini menjadi semakin besar ketika otomatisasi tidak hanya menggantikan pekerjaan manual, tetapi juga mulai memengaruhi pekerjaan yang sebelumnya dianggap membutuhkan kemampuan kognitif tinggi.
Stabilitas Sosial Menjadi Bagian dari Kebijakan AI
Kekhawatiran pemerintah China menunjukkan bahwa persoalan AI bukan hanya mengenai inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya terhadap stabilitas sosial juga menjadi pertimbangan penting.
Seperti yang dijelaskan dalam diskusi tersebut, sistem mungkin sangat efektif dalam menyebarkan teknologi, tetapi belum tentu sama efektifnya dalam meredakan ketegangan yang muncul akibat perubahan tersebut.
“Even though it's good at diffusing technology it's not good at diffusing tension.”
Di sinilah dilema pemerintah menjadi jelas. Terlalu banyak membatasi perusahaan teknologi dapat menghambat inovasi. Namun, terlalu sedikit melakukan pengawasan dapat meningkatkan risiko ketegangan sosial akibat perubahan pasar tenaga kerja.
Pelajaran dari Perbedaan China dan Amerika Serikat

Perbedaan persepsi China dan Amerika Serikat terhadap AI menunjukkan bahwa penerimaan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologinya.
Sejarah ekonomi, pengalaman masyarakat, struktur pasar tenaga kerja, serta kebijakan pemerintah ikut membentuk cara seseorang memandang masa depan AI.
China memberikan contoh bahwa pengalaman positif dari transformasi teknologi dapat menghasilkan optimisme publik yang kuat. Namun, kondisi pekerja teknologi dan munculnya kekhawatiran terhadap otomatisasi menunjukkan bahwa optimisme tersebut tetap memiliki batas.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menciptakan AI yang semakin canggih, tetapi bagaimana memastikan masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan yang dihasilkannya.
Kesimpulan
China memperlihatkan paradoks menarik dalam menghadapi perkembangan AI. Di satu sisi, lebih dari 80 persen masyarakat yang disurvei sangat antusias terhadap teknologi tersebut karena pengalaman puluhan tahun menunjukkan hubungan antara kemajuan teknologi dan peningkatan standar hidup.
Di sisi lain, pekerja teknologi menghadapi PHK, restrukturisasi, dan “kutukan usia 35”, sementara pekerja sektor pengantaran mulai menyadari bahwa otomatisasi dapat mengubah pekerjaan mereka.
Pemerintah China kemudian menghadapi tugas yang tidak mudah: menjaga inovasi tetap berkembang sekaligus mencegah disrupsi tenaga kerja berubah menjadi ketegangan sosial.
Pelajaran terpentingnya adalah bahwa keberhasilan revolusi AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi berkembang. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan masyarakat, perusahaan, dan pemerintah dalam mengelola perubahan agar manfaat teknologi tidak hanya dinikmati oleh sebagian pihak.
FAQ
- Mengapa masyarakat China lebih optimistis terhadap AI dibandingkan Amerika Serikat? Pengalaman 20 hingga 30 tahun terakhir membuat banyak masyarakat China melihat perkembangan teknologi sebagai sesuatu yang berjalan bersama peningkatan standar hidup.
- Apa yang dimaksud dengan “kutukan usia 35” di China? Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika pekerja teknologi berusia di atas 35 tahun menghadapi kesulitan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan baru.
- Apakah pekerja China menganggap AI sepenuhnya sebagai ancaman? Tidak. Sebagian pekerja, khususnya di sektor robotika, melihat AI sebagai teknologi yang dapat mengurangi pekerjaan berbahaya dan repetitif.
- Bagaimana pemerintah China memantau dampak AI terhadap lapangan kerja? Pemerintah merencanakan pemantauan sektor dan kota tertentu menggunakan berbagai indikator, termasuk penggunaan listrik dan data pembayaran, untuk mendeteksi perubahan tenaga kerja sejak dini.
- Mengapa pelatihan ulang belum tentu cukup menghadapi disrupsi AI? Perubahan teknologi dapat berlangsung lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan dan pelatihan dalam menyiapkan keterampilan baru bagi pekerja.