Akademik & Riset

Robot Amica Bisa Berpikir Sendiri? Ini Masa Depan AI dan Risikonya

10 September 2026, 13:01 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memasuki fase yang semakin dekat dengan kehidupan manusia. Teknologi ini tidak hanya hadir dalam bentuk chatbot atau aplikasi digital, tetapi juga mulai terintegrasi dengan robot humanoid seperti Amica yang mampu berkomunikasi dan menampilkan ekspresi menyerupai manusia.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan jurnalis Tom Steinford, Amica diperkenalkan sebagai robot humanoid yang dikembangkan oleh Will Jackson di Falmouth, Inggris. Kemampuan Amica memperlihatkan bagaimana perpaduan antara robotika dan AI generatif mulai menciptakan mesin yang dapat berinteraksi secara lebih natural dengan manusia.

Amica dan Evolusi Robot Humanoid

Amica memiliki sejumlah fitur yang membuat interaksinya terlihat semakin menyerupai manusia. Robot ini dilengkapi ekspresi wajah yang dirancang realistis, anggota tubuh bermotor, serta kamera pada bagian mata yang memungkinkan sistem memperoleh informasi visual dari lingkungan.

Bagian penting dari kemampuan tersebut berada pada sistem kecerdasan buatannya. Amica memanfaatkan generative artificial intelligence dan large language models (LLM) untuk memahami pertanyaan serta menghasilkan respons secara mandiri. Artinya, percakapan dengan robot tidak sekadar mengikuti rangkaian jawaban yang telah diprogram sebelumnya.

Perkembangan ini menunjukkan perubahan paradigma dalam robotika. Robot tidak lagi hanya diposisikan sebagai mesin yang menjalankan perintah berulang, tetapi mulai diarahkan menjadi sistem yang dapat memahami konteks, berkomunikasi, dan merespons situasi secara lebih fleksibel.

AI Sudah Hadir dalam Aktivitas Sehari-hari

Menariknya, penggunaan AI sebenarnya jauh lebih luas daripada yang terlihat. Dalam pemaparan Dr. Katrina Wallace dari Responsible Metaverse Alliance, rata-rata orang dewasa di Australia disebut telah berinteraksi dengan teknologi berbasis AI sedikitnya 28 kali dalam sehari.

Interaksi tersebut dapat terjadi melalui layanan yang tampak biasa, seperti aplikasi transportasi, email, kalender, hingga sistem penjadwalan perjalanan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa AI perlahan menjadi infrastruktur digital yang bekerja di balik berbagai layanan tanpa selalu disadari penggunanya.

Dari sisi ekonomi, perkembangan AI juga memiliki potensi besar. Industri AI dipandang sebagai salah satu sektor teknologi dengan pertumbuhan tercepat dan dalam proyeksi tertentu diperkirakan dapat memberikan kontribusi hingga 15 triliun dolar AS terhadap ekonomi global dalam beberapa tahun mendatang.

Pekerjaan Lama dan Profesi Baru

Pertumbuhan AI sekaligus memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan. Sejumlah proyeksi yang dibahas dalam materi tersebut memperkirakan puluhan juta pekerjaan dapat terdampak atau tergantikan oleh otomatisasi, sementara pekerjaan baru juga muncul untuk mengembangkan, mengawasi, melatih, dan menyempurnakan sistem AI.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan yang lebih relevan adalah pekerjaan apa yang berubah, keterampilan apa yang semakin dibutuhkan, dan bagaimana manusia beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, kreativitas, serta pemahaman terhadap teknologi menjadi semakin penting. Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja karena itu memiliki posisi strategis dalam menghadapi transformasi berbasis AI.

Ancaman Hallucination dan Disinformasi

AI juga belum terbebas dari kesalahan. Salah satu persoalan yang dikenal sebagai hallucination terjadi ketika sistem menghasilkan informasi yang keliru atau rekaan, tetapi menyampaikannya seolah-olah benar.

Dampaknya dapat menjadi serius ketika informasi tersebut digunakan tanpa proses verifikasi. Kesalahan dalam demonstrasi chatbot Bard milik Google, misalnya, pernah dikaitkan dengan penurunan nilai pasar perusahaan dalam jumlah sangat besar. Kasus gambar palsu berbasis AI yang menggambarkan ledakan di sekitar Pentagon juga menunjukkan bagaimana konten sintetis dapat memicu kebingungan dan kepanikan.

Karena itu, kemampuan AI menghasilkan jawaban secara cepat tidak boleh disamakan dengan kemampuan menghasilkan fakta yang selalu benar. Pengguna tetap membutuhkan literasi informasi untuk memeriksa sumber, konteks, dan validitas sebuah klaim.

Perdebatan tentang Kesadaran AI

Perkembangan AI juga memunculkan pertanyaan filosofis mengenai apakah mesin suatu saat dapat memiliki kesadaran. Mantan insinyur Google, Blake Lemoine, pernah menyampaikan klaim kontroversial setelah menguji LaMDA dan menilai sistem tersebut menunjukkan karakteristik yang menurutnya menyerupai sentience atau kesadaran.

Klaim tersebut tidak menjadi konsensus ilmiah bahwa AI telah sadar. Namun, kontroversi LaMDA memperlihatkan bahwa kemampuan model bahasa dalam menghasilkan percakapan yang sangat natural dapat membuat batas antara simulasi percakapan dan persepsi manusia terhadap kesadaran menjadi semakin kompleks.

Risiko AI bagi Demokrasi dan Keamanan

Profesor Michael Osborne dari Oxford University memperingatkan kemungkinan penyalahgunaan AI dalam politik. Propaganda bots dapat digunakan untuk memproduksi dan menyebarkan informasi yang disesuaikan dengan karakteristik kelompok pemilih tertentu.

Risikonya tidak berhenti pada politik. Pemanfaatan AI dalam sistem militer, termasuk teknologi otonom dan pengawasan strategis, juga dapat memengaruhi stabilitas keamanan antarnegara. Karena itu, skenario ekstrem mengenai AI yang mengendalikan infrastruktur vital perlu dipahami sebagai persoalan tata kelola dan keamanan, bukan sekadar cerita fiksi ilmiah.

Will Jackson dan sejumlah pakar juga menekankan faktor Human Stupidity atau HS sebagai persoalan penting. Teknologi yang kuat dapat menjadi semakin berbahaya ketika digunakan oleh manusia yang tidak memahami konsekuensinya atau sengaja memanfaatkannya untuk kepentingan buruk.

Mengapa Regulasi AI Semakin Mendesak?

Perkembangan AI yang sangat cepat membuat regulasi menghadapi tantangan besar. Teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan sebagian lembaga untuk membuat aturan yang mampu mengantisipasi seluruh risikonya.

Sam Altman dari OpenAI sendiri pernah menyampaikan kepada Kongres Amerika Serikat mengenai potensi risiko AI dan pentingnya regulasi. Pernyataan tersebut memperkuat gagasan bahwa pengembangan teknologi membutuhkan mekanisme pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas.

AI juga tidak dapat begitu saja "dihapus kembali" setelah ditemukan. Karena itu, pilihan realistis bukan menghentikan seluruh perkembangan AI, melainkan memastikan teknologi tersebut dikembangkan dengan standar keselamatan, etika, keamanan, dan tanggung jawab yang memadai.

Kesimpulan

Amica menjadi gambaran menarik mengenai arah perkembangan robot humanoid ketika kecerdasan buatan generatif digabungkan dengan kemampuan fisik dan interaksi manusia. Di sisi lain, kemajuan tersebut datang bersama tantangan besar, mulai dari perubahan dunia kerja, hallucination, disinformasi, manipulasi politik, hingga potensi penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan berbahaya.

Masa depan AI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar mesin dapat dibuat. Faktor yang tidak kalah penting adalah bagaimana manusia merancang aturan, mengembangkan literasi digital, mengawasi penggunaannya, dan memastikan teknologi tetap berada dalam kerangka kepentingan publik.

FAQ

  1. Apa itu robot Amica? Amica adalah robot humanoid yang menggabungkan sistem robotika dengan AI generatif dan large language models untuk berinteraksi dan merespons manusia.
  2. Apakah Amica benar-benar memiliki kesadaran? Belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Amica atau AI lain memiliki kesadaran seperti manusia.
  3. Apa yang dimaksud AI hallucination? Hallucination adalah kondisi ketika sistem AI menghasilkan informasi yang salah atau rekaan tetapi menyampaikannya seolah-olah benar.
  4. Apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia? AI dapat mengotomatisasi sebagian tugas dan mengubah sejumlah pekerjaan, tetapi perkembangan teknologi juga menciptakan jenis pekerjaan dan kebutuhan keterampilan baru.
  5. Mengapa AI membutuhkan regulasi? Regulasi diperlukan untuk mengendalikan risiko, melindungi masyarakat, meningkatkan akuntabilitas, serta memastikan pengembangan dan penggunaan AI berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.

Sumber : https://youtu.be/OTwdrMAq-Fk?si=9e1nVHmpzij6LhZ6

Topik Terkait

Trending Hari Ini