Kampus Times- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia menciptakan, menikmati, dan mendistribusikan karya kreatif. Teknologi yang sebelumnya identik dengan bisnis, pendidikan, dan otomasi kini semakin memasuki ruang seni, musik, desain, hingga produksi konten.
Perubahan tersebut memunculkan dua pandangan. Di satu sisi, AI menawarkan kemampuan baru yang dapat memperluas kreativitas manusia. Di sisi lain, kemampuan AI meniru gaya, suara, dan pola karya manusia menimbulkan pertanyaan serius mengenai hak cipta, pekerjaan, dan batas antara pencipta dengan mesin.
AI Mulai Mengubah Cara Manusia Berkarya
Salah satu perubahan paling menarik terlihat pada seni visual. Seniman Mario Klingemann dikenal sebagai salah satu pelopor pemanfaatan AI dalam seni dengan mengeksplorasi hubungan antara kontrol manusia dan ketidaksengajaan yang dihasilkan mesin.
Klingemann menggunakan jaringan saraf atau neural networks yang dilatih menggunakan ribuan lukisan potret dari abad ke-17 hingga ke-19. Sistem tersebut kemudian mampu menghasilkan aliran potret baru secara terus-menerus. Proses ini memperlihatkan bahwa AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat untuk menjalankan instruksi, tetapi dapat menjadi bagian dari proses eksplorasi artistik.
Ketidaksengajaan Menjadi Bagian dari Kreativitas
Pendekatan tersebut menarik karena seni tidak selalu lahir dari kendali penuh. Kesalahan, kejutan, dan hasil yang tidak direncanakan sering menjadi bagian dari proses kreatif manusia.
Profesor Matematika Universitas Oxford, Marcus du Sautoy, melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kemampuan mesin membuat tiruan atau pastiche. Menurut perspektif tersebut, AI berpotensi mendorong perubahan mendasar terhadap lanskap seni karena mesin dapat menemukan kombinasi dan kemungkinan yang sebelumnya sulit dieksplorasi manusia.
Kondisi ini membuat pertanyaan tentang kreativitas menjadi semakin kompleks. Jika manusia menentukan tujuan dan kurasi, sementara AI menghasilkan kemungkinan, maka proses penciptaan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan satu pihak.
AI Lebih Berpotensi Menjadi Kolaborator
Kekhawatiran bahwa AI akan menghapus pekerjaan kreatif terus muncul seiring meningkatnya kemampuan teknologi. Namun, penelitian mengenai dampak otomatisasi di Inggris menunjukkan bahwa risiko kehilangan pekerjaan bagi seniman tergolong rendah.
Gambaran tersebut memperkuat pandangan bahwa AI dapat berperan sebagai kolaborator, bukan sekadar pesaing. Teknologi kamera pada masa lalu dapat menjadi analogi yang relevan. Kehadiran kamera tidak menghilangkan seni, tetapi mengubah cara manusia memahami fotografi, lukisan, dan representasi visual.
Profesi Baru Muncul Bersama AI
Perubahan teknologi juga dapat menciptakan jenis pekerjaan baru. Salah satunya adalah data curator, yakni pihak yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan pengurasi data yang digunakan dalam pengembangan sistem AI.
Dalam konteks industri kreatif, manusia juga dapat semakin diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian, konsep, interpretasi, empati, dan pemahaman budaya. AI menangani sebagian pekerjaan mekanis, sedangkan manusia memiliki kesempatan untuk memusatkan perhatian pada keputusan kreatif yang lebih kompleks.
Hak Cipta Menjadi Tantangan Besar
Di balik peluang tersebut terdapat persoalan yang tidak sederhana, yaitu intellectual property atau IP. AI dapat mempelajari pola dari karya dalam jumlah sangat besar dan kemudian menghasilkan karya baru yang memiliki kemiripan dengan gaya tertentu.
Contohnya dapat dibayangkan dalam musik. Sebuah sistem AI dapat mempelajari katalog lagu seorang penyanyi dan menghasilkan karya baru dengan karakteristik vokal atau musikal yang menyerupai penyanyi tersebut. Kemampuan semacam ini menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang memiliki hak atas hasilnya dan sejauh mana gaya seorang seniman dapat dilindungi.
Musisi Holly Herndon menjadi contoh menarik karena ia justru berkolaborasi dengan model AI miliknya yang diberi nama “Spawn”. Namun, perkembangan tersebut juga menunjukkan adanya ruang hukum yang belum sepenuhnya siap menghadapi kemampuan AI dalam meniru suara dan gaya manusia.
Persoalan serupa muncul dalam kasus penggunaan AI untuk menirukan suara figur publik. Perdebatan mengenai penggunaan suara yang menyerupai Jay-Z dalam sebuah karya menunjukkan bahwa teknologi dapat bergerak lebih cepat daripada aturan yang mengaturnya.
Ketika Teknologi Memunculkan Pertanyaan Moral
Pembahasan tentang AI tidak berhenti pada kemampuan teknis. Jonathan Pageau menggunakan kisah-kisah kuno untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai hubungan manusia dengan teknologi.
Dalam salah satu cerita abad pertengahan, Albertus Agung digambarkan menciptakan kepala perunggu yang mampu menjawab pertanyaan. Kisah tersebut dapat dibaca sebagai gambaran awal tentang ketertarikan sekaligus kekhawatiran manusia terhadap mesin yang mampu menghasilkan jawaban.
Cerita tentang Cawan Suci juga menawarkan simbol yang relevan. Cawan dapat dipahami sebagai lambang kelimpahan, sedangkan Tombak Suci merepresentasikan kekuatan destruktif. Persoalan utamanya bukan hanya seberapa besar kekuatan sebuah teknologi, tetapi kepada siapa kekuatan tersebut digunakan.
Jebakan Moloch dalam Perlombaan AI
Pertanyaan tersebut semakin penting ketika negara dan perusahaan berlomba mengembangkan AI yang lebih cepat dan kuat. Dalam kondisi kompetitif, setiap pihak dapat merasa harus terus meningkatkan kemampuan teknologi agar tidak tertinggal.
Situasi ini dapat dijelaskan melalui konsep Moloch Trap, yaitu kondisi ketika persaingan membuat banyak pihak mengambil keputusan yang secara individual dianggap rasional, tetapi secara kolektif menghasilkan konsekuensi yang merugikan.
Karena itu, perdebatan tentang AI tidak cukup hanya membahas efisiensi, produktivitas, atau kemampuan komputasi. Manusia juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap pendidikan, pekerjaan, perhatian, kreativitas, dan kualitas kehidupan sosial.
Menjaga Manusia Tetap Menjadi Pengendali
Optimisme terhadap AI tetap memiliki tempat. Holly Herndon, misalnya, melihat kemungkinan kolaborasi antara vokal manusia dan vokal AI untuk menghasilkan bentuk seni baru.
Namun, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan manusia dalam menentukan batas. Pertanyaan paling mendasar bukan sekadar “Apa yang dapat dilakukan AI?”, melainkan “Untuk tujuan apa AI digunakan dan kepada siapa manfaatnya diberikan?”
Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kemampuan tersebut. Humaniora, puisi, dongeng, seni, aktivitas alam, komunitas, dan refleksi dapat membantu manusia mengembangkan penilaian serta kebijaksanaan yang tidak dapat direduksi menjadi kemampuan teknis.
Kesimpulan
AI sedang mengubah industri kreatif dengan cara yang lebih kompleks daripada sekadar menggantikan pekerjaan manusia. Teknologi ini dapat menjadi alat eksplorasi, kolaborator, sekaligus sumber persoalan baru dalam hak cipta dan kepemilikan karya.
Masa depan industri kreatif kemungkinan tidak ditentukan oleh pertarungan sederhana antara manusia dan mesin. Tantangan sebenarnya adalah memastikan manusia tetap memiliki kendali atas tujuan, nilai, dan arah penggunaan teknologi. Semakin canggih AI berkembang, semakin penting pula kemampuan manusia untuk menjawab satu pertanyaan fundamental:
FAQ
- Apakah AI akan menggantikan seniman? Risiko kehilangan pekerjaan bagi seniman dinilai relatif rendah, sementara AI lebih berpotensi digunakan sebagai kolaborator dalam proses kreatif.
- Bagaimana AI digunakan dalam seni visual? AI dapat dilatih menggunakan kumpulan karya visual untuk menghasilkan kemungkinan karya baru yang kemudian dapat dikurasi dan diarahkan oleh manusia.
- Apa tantangan terbesar AI bagi industri kreatif? Salah satu tantangan utama adalah hak cipta, terutama ketika AI mampu meniru gaya, suara, atau karakteristik karya seniman dalam skala besar.
- Apa yang dimaksud Moloch Trap dalam perkembangan AI? Moloch Trap menggambarkan situasi ketika persaingan mendorong banyak pihak terus meningkatkan teknologi meskipun keputusan tersebut dapat menghasilkan dampak negatif secara kolektif.
- Mengapa humaniora penting di era AI? Humaniora membantu manusia mengembangkan penilaian, nilai, kebijaksanaan, kreativitas, dan pemahaman terhadap kehidupan sehingga teknologi tetap berada dalam kendali manusia.