Kampus Times- Membangun satelit mungkin terdengar seperti proyek yang hanya dapat dilakukan lembaga antariksa atau perusahaan teknologi dengan fasilitas canggih. Namun, sekelompok mahasiswa di Nepal membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.
Pada 13 Januari 2022, sekitar pukul 22.00 waktu setempat, SanoSat-1 berhasil diluncurkan ke luar angkasa. Satelit tersebut dikembangkan oleh mahasiswa Nepal dan memiliki ukuran yang sangat kecil, hanya 5 × 5 × 5 sentimeter dengan berat kurang dari 250 gram.
Konsepnya sederhana: jika perangkat elektronik seperti ponsel dapat dibuat berukuran kecil dan dibawa ke dalam saku, mengapa satelit tidak?
Gagasan tersebut terangkum dalam kalimat, "if phones can fit in the pocket why not satellite". Dari pemikiran sederhana itu, lahirlah sebuah proyek yang membutuhkan kerja teknis, koordinasi birokrasi, pendanaan, dokumentasi, hingga kolaborasi internasional.
Pocket Cube Mempermudah Mahasiswa Memulai Proyek Antariksa
SanoSat-1 menggunakan format pocket cube yang jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional. Ukurannya membuat proses perancangan menjadi lebih sederhana dan relatif sesuai dengan kemampuan mahasiswa.
Bagi proyek universitas, faktor waktu menjadi sangat penting. Mahasiswa memiliki masa studi yang terbatas sehingga proyek yang terlalu besar berisiko tidak selesai ketika anggota utama telah lulus.
Satelit berukuran kecil menawarkan alternatif yang lebih realistis. Selain desainnya lebih sederhana, biaya untuk mengikutsertakan satelit kecil dalam peluncuran juga jauh lebih rendah. Biaya pengelompokan satelit pico atau nano untuk dibawa roket berada di kisaran 20.000 hingga 25.000 dolar AS.
Namun, ukuran kecil bukan berarti proyeknya mudah.
25 Mahasiswa dan Tantangan Multidisiplin
Pengembangan satelit membutuhkan berbagai keahlian yang saling terhubung. Dalam proyek SanoSat-1, sekitar 25 mahasiswa terlibat dari sejumlah bidang, seperti teknik elektro, elektronika, komputer, mekanikal, dan fisika.
Setiap bidang memiliki peran berbeda. Sistem elektronik harus bekerja dengan baik, komputer harus mampu mengendalikan sistem, struktur mekanis harus mampu bertahan dalam peluncuran, sementara aspek fisika berkaitan dengan lingkungan dan misi satelit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa proyek teknologi besar tidak selalu membutuhkan satu orang yang menguasai semuanya. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun tim dengan kompetensi yang saling melengkapi.
Dokumentasi Menjadi Kunci Keberlanjutan
Salah satu masalah terbesar dalam proyek mahasiswa adalah pergantian anggota. Ketika mahasiswa lulus, pengetahuan yang mereka miliki berpotensi ikut hilang jika tidak terdokumentasi.
Karena itu, setiap kesalahan, perkembangan, hasil pengujian, dan pelajaran selama proyek perlu dicatat secara sistematis. Dokumentasi memungkinkan generasi berikutnya meneruskan pekerjaan tanpa harus kembali ke titik awal.
Prinsip tersebut sangat penting dalam proyek teknologi yang berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan bukan sekadar sesuatu yang harus dihindari, tetapi juga sumber pengetahuan bagi tim berikutnya.
Dengan kata lain, proyek mahasiswa tidak seharusnya berhenti ketika angkatan pertama lulus. Pengetahuan harus diwariskan sehingga proyek dapat terus berkembang.
Urusan Frekuensi Justru Bisa Menjadi Penghambat
Salah satu pelajaran terbesar dari SanoSat-1 datang dari sisi yang mungkin tidak terlihat: birokrasi.
Satelit membutuhkan frekuensi komunikasi agar dapat berhubungan dengan stasiun bumi. Pengajuan frekuensi tersebut berkaitan dengan International Telecommunication Union (ITU) dan harus melalui kementerian komunikasi pemerintah setempat.
Proses tersebut dapat berlangsung sekitar tiga bulan hingga satu tahun. Dalam kasus SanoSat-1, keterlambatan pengurusan membuat prosesnya bahkan berlangsung sekitar 1,5 tahun.
Masalah ini menunjukkan bahwa proyek luar angkasa bukan hanya persoalan membuat perangkat keras. Regulasi, komunikasi, administrasi, dan koordinasi dengan berbagai lembaga harus dipikirkan sejak awal.
Pelajaran pentingnya sederhana: jangan menunggu satelit selesai dibuat untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan peluncuran dan operasionalnya.
Pengujian Harus Meniru Kondisi Ekstrem
Satelit yang terlihat kecil harus menghadapi lingkungan yang sangat keras. Sebelum dikirim ke orbit, perangkat harus dipastikan mampu bertahan terhadap kondisi ekstrem di luar angkasa sekaligus getaran hebat ketika roket diluncurkan.
Masalahnya, fasilitas pengujian seperti itu belum tersedia di Nepal. Tim akhirnya harus mengirimkan satelit ke universitas di luar negeri yang memiliki fasilitas dan program kedirgantaraan.
Pengujian tersebut menjadi bagian penting untuk memperoleh sertifikasi kelayakan sebelum satelit dapat diluncurkan.
Situasi ini memperlihatkan tantangan lain yang sering dihadapi negara berkembang: keterbatasan infrastruktur tidak selalu dapat diselesaikan dengan teknologi saja. Kolaborasi internasional menjadi bagian penting untuk menutup kesenjangan fasilitas.
Memilih Misi Sederhana untuk Mencapai Tujuan
Tim SanoSat-1 juga tidak mencoba membuat satelit dengan terlalu banyak fungsi. Mereka memilih misi yang relatif sederhana, yaitu menggunakan sensor radiasi untuk mengukur radiasi gamma di orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO).
Pilihan tersebut membantu mengurangi kebutuhan terhadap mekanisme pengarah atau pointing mechanism yang kompleks.
Strategi ini memberikan pelajaran penting bagi mahasiswa yang ingin membuat proyek teknologi: mulailah dengan masalah yang dapat diselesaikan, bukan dengan ambisi yang terlalu besar.
Proyek sederhana yang berhasil dapat menjadi fondasi untuk proyek berikutnya yang lebih kompleks.
Dari Nepal, Sebuah Pesan untuk Generasi Mahasiswa
Perjalanan SanoSat-1 dimulai pada 2017 ketika para mahasiswa berada di tahun ketiga kuliah. Empat tahun kemudian, satelit tersebut berhasil mencapai luar angkasa.
Bahkan setelah peluncuran, keberhasilan belum langsung dapat dipastikan. Sinyal pertama SanoSat-1 berhasil ditangkap oleh stasiun bumi di Hungaria sekitar pukul 02.00 dini hari. Sebelumnya, tim sempat gagal mendapatkan sinyal pada jendela komunikasi pertama yang hanya berlangsung sekitar lima menit.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi luar angkasa bukan hanya tentang roket dan satelit mahal. Di baliknya ada mahasiswa yang belajar, gagal, memperbaiki kesalahan, mengurus birokrasi, mencari fasilitas pengujian, dan bekerja lintas disiplin selama bertahun-tahun.
Kini, SanoSat-1 yang mengorbit Bumi membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar data radiasi.
Keberadaannya menunjukkan bahwa keterbatasan geografis dan fasilitas tidak harus membatasi imajinasi seseorang untuk berkontribusi pada teknologi antariksa.
Kesimpulan
SanoSat-1 merupakan contoh bagaimana proyek sederhana dapat berkembang menjadi pencapaian teknologi yang luar biasa. Dengan ukuran hanya 5 × 5 × 5 cm, satelit tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat terlibat langsung dalam pengembangan teknologi luar angkasa apabila memiliki tim, dokumentasi, perencanaan, dan kemauan untuk belajar.
Pelajaran terbesarnya bukan hanya tentang cara membuat satelit, tetapi tentang bagaimana sebuah proyek dapat dibangun secara bertahap. Mulai dari desain yang realistis, membentuk tim multidisiplin, mendokumentasikan pengetahuan, mengurus regulasi sejak awal, hingga mencari kolaborasi ketika fasilitas belum tersedia.
SanoSat-1 pada akhirnya membawa pesan sederhana: seseorang tidak harus berada di negara dengan industri antariksa besar untuk memiliki mimpi tentang luar angkasa.
FAQ
- Apa itu SanoSat-1? SanoSat-1 adalah satelit pocket cube yang dikembangkan mahasiswa Nepal dan berhasil diluncurkan pada 13 Januari 2022.
- Berapa ukuran SanoSat-1? SanoSat-1 memiliki dimensi sekitar 5 × 5 × 5 cm dengan berat kurang dari 250 gram.
- Berapa lama SanoSat-1 dikembangkan? Proyek SanoSat-1 dimulai pada 2017 dan membutuhkan sekitar empat tahun hingga peluncuran pada 2022.
- Apa misi utama SanoSat-1? SanoSat-1 menggunakan sensor radiasi untuk mengukur radiasi gamma di orbit rendah Bumi atau LEO.
- Mengapa proyek SanoSat-1 penting bagi mahasiswa? Proyek ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengembangkan teknologi antariksa melalui proyek berskala realistis, kerja multidisiplin, dokumentasi pengetahuan, dan kolaborasi internasional.