Akademik & Riset

Teknologi Luar Angkasa untuk Pembangunan: Dari Satelit hingga SDGs

9 September 2026, 06:56 WIB / Aji Krisna Bayu
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kampus Times- Bayangan tentang luar angkasa sering kali identik dengan roket, astronot, dan misi eksplorasi ke planet lain. Namun, bagi Danielle Wood, teknologi luar angkasa memiliki fungsi yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: membantu masyarakat menghadapi persoalan pembangunan di Bumi.

Wood, profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT), mendirikan kelompok riset Space Enabled di MIT Media Lab. Kelompok ini berfokus pada bagaimana teknologi yang dikembangkan atau dioperasikan dari luar angkasa dapat digunakan untuk mendukung keadilan, keberlanjutan, dan penyelesaian persoalan sosial.

Dari NASA hingga Pengalaman di Kenya

Ketertarikan Wood pada bidang kedirgantaraan tumbuh sejak ia menyaksikan peluncuran Pesawat Ulang-Alik Columbia ketika berada di NASA. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kompleksitas rekayasa antariksa dan membuatnya tertarik menjadi insinyur dirgantara.

Namun, pengalaman di Kenya kemudian menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar. Wood mempertanyakan apakah teknologi luar angkasa benar-benar relevan bagi masyarakat di negara berkembang.

Pertanyaan tersebut justru membawanya pada pemahaman bahwa berbagai negara berkembang telah memanfaatkan teknologi satelit selama puluhan tahun untuk mendukung pembangunan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari gagasan Wood bahwa teknologi luar angkasa tidak seharusnya dipandang sebagai fasilitas eksklusif negara maju. MIT mencatat bahwa risetnya kemudian berkembang dengan memadukan rekayasa satelit, ilmu kebumian, sistem, kebijakan teknologi, dan pembangunan masyarakat.

Luar Angkasa Seharusnya Memberi Manfaat bagi Semua

Gagasan mengenai pemerataan manfaat ruang angkasa memiliki dasar dalam hukum internasional. Outer Space Treaty 1967 menyatakan bahwa eksplorasi dan penggunaan luar angkasa harus dilakukan untuk kepentingan semua negara, tanpa membedakan tingkat perkembangan ekonomi maupun ilmiahnya.

Masalahnya, prinsip tersebut belum otomatis menghasilkan akses yang setara. Sejarah kolonialisme, ketimpangan ekonomi, rasisme, serta kesenjangan gender dapat memengaruhi siapa yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan, mengoperasikan, atau memperoleh manfaat dari teknologi antariksa.

Akibatnya, masih muncul anggapan bahwa ruang angkasa merupakan wilayah eksklusif negara kaya dan kelompok elite. Wood justru melihat kesenjangan tersebut sebagai persoalan desain dan kebijakan yang perlu diatasi.

Enam Teknologi Antariksa untuk Pembangunan Berkelanjutan

Riset Space Enabled mengidentifikasi enam kelompok teknologi dan aktivitas terkait ruang angkasa yang dapat membantu kebutuhan masyarakat serta mendukung SDGs. Kajian Wood dan koleganya yang diterbitkan di Acta Astronautica juga membahas penggunaan teknologi tersebut untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

1. Satelit Komunikasi

Satelit komunikasi dapat memperluas konektivitas ke wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur terestrial. Dalam situasi bencana, kemampuan komunikasi tersebut menjadi penting untuk membantu koordinasi tanggap darurat dan pemulihan.

Teknologi ini menunjukkan bahwa manfaat satelit tidak selalu terlihat dalam bentuk benda yang berada di orbit. Dampaknya dapat dirasakan melalui akses komunikasi yang lebih cepat dan luas di permukaan Bumi.

2. Satelit Navigasi dan Penentuan Posisi

Teknologi penentuan posisi memungkinkan lokasi suatu objek diketahui secara lebih akurat. Dalam konservasi, teknologi tersebut dapat membantu peneliti memantau pergerakan satwa yang terancam dan menghasilkan informasi bagi pengelolaan lingkungan.

Penggunaan ini memperlihatkan bagaimana sistem navigasi yang berawal dari kebutuhan teknologi antariksa dapat mendukung penelitian dan kebijakan konservasi di Bumi.

3. Satelit Pengamatan Bumi

Pengamatan Bumi menjadi salah satu aplikasi paling strategis. Satelit dapat menyediakan data mengenai curah hujan, vegetasi, suhu, dan berbagai karakteristik lingkungan.

Data tersebut dapat membantu mengidentifikasi risiko kekeringan, perubahan lingkungan, hingga potensi gangguan terhadap produksi pangan. Karena itu, teknologi pengamatan Bumi dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih berbasis data.

4. Riset Mikrogravitasi

Penelitian di lingkungan mikrogravitasi menghasilkan pengetahuan mengenai respons tubuh manusia terhadap kondisi yang berbeda dari kehidupan di Bumi. Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan pendekatan kesehatan dan kebugaran.

Hubungannya dengan pembangunan menunjukkan bahwa penelitian antariksa tidak berhenti ketika eksperimen selesai dilakukan di orbit. Pengetahuan yang dihasilkan dapat memiliki konsekuensi bagi kehidupan manusia di Bumi.

5. Transfer Teknologi

Teknologi yang awalnya dirancang untuk kebutuhan misi luar angkasa juga dapat dikembangkan untuk penggunaan di Bumi. Salah satu contoh yang sering dibahas adalah teknologi pengolahan dan pemulihan air yang berkaitan dengan kebutuhan sistem kehidupan di lingkungan antariksa.

Konsep transfer teknologi menjadi penting karena investasi riset antariksa dapat menghasilkan inovasi yang memiliki manfaat lebih luas daripada tujuan awal pembuatannya.

6. Inspirasi dan Pendidikan

Manfaat ruang angkasa juga bersifat tidak langsung. Program satelit, penelitian, dan pendidikan antariksa dapat mendorong lahirnya generasi insinyur, ilmuwan, dan peneliti di berbagai negara.

Bagi negara berkembang, pengembangan kapasitas manusia menjadi bagian penting dari kemampuan membangun ekosistem teknologi sendiri. Space Enabled karena itu tidak hanya membicarakan perangkat, tetapi juga manusia yang mampu menggunakan dan mengembangkan teknologi tersebut.

Space Enabled dan Tantangan Pemerataan Teknologi

Melalui Space Enabled, Wood berupaya mengurangi hambatan yang membuat teknologi antariksa sulit dimanfaatkan secara luas. Fokusnya mencakup persoalan akses terhadap data pengamatan Bumi, biaya komunikasi satelit, kemampuan teknis, serta keterbatasan kesempatan melakukan penelitian.

Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan teknologi ruang angkasa sebagai salah satu instrumen yang dapat berkontribusi terhadap berbagai SDGs, mulai dari pendidikan dan infrastruktur hingga pengurangan ketimpangan serta kemitraan global.

MIT menjelaskan bahwa Space Enabled bekerja melalui kolaborasi dengan pemerintah, organisasi internasional dan multilateral, lembaga nirlaba, perusahaan, serta pemimpin pembangunan untuk menemukan persoalan yang dapat diselesaikan dengan teknologi berbasis ruang angkasa.

Bukan Sekadar Mengejar Orbit

Perspektif Wood memberikan perubahan cara pandang terhadap teknologi luar angkasa. Keberhasilan teknologi antariksa tidak semata-mata dapat diukur dari seberapa jauh manusia menjelajah atau seberapa banyak satelit berhasil diluncurkan.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah siapa yang memperoleh manfaat dari teknologi tersebut. Jika data satelit dapat membantu petani menghadapi kekeringan, sistem komunikasi mendukung pemulihan bencana, dan pendidikan antariksa membangun kapasitas ilmuwan lokal, maka manfaat ruang angkasa telah hadir jauh sebelum manusia meninggalkan Bumi.

Kesimpulan

Teknologi luar angkasa memiliki peran yang semakin penting dalam pembangunan berkelanjutan. Enam bidang yang menjadi perhatian Space Enabled, yakni pengamatan Bumi, komunikasi satelit, penentuan posisi, riset mikrogravitasi, transfer teknologi, serta pendidikan dan inspirasi, menunjukkan bahwa manfaat ruang angkasa dapat hadir dalam berbagai aspek kehidupan.

Gagasan Danielle Wood juga menempatkan persoalan akses sebagai bagian penting dari masa depan teknologi antariksa. Tantangan berikutnya bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara adil, terjangkau, dan relevan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat di berbagai belahan dunia.

FAQ

  1. Apa gagasan utama Danielle Wood tentang teknologi luar angkasa? Teknologi luar angkasa seharusnya tidak hanya digunakan untuk eksplorasi, tetapi juga membantu menyelesaikan persoalan pembangunan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
  2. Apa itu Space Enabled? Space Enabled merupakan kelompok riset di MIT Media Lab yang mengembangkan pendekatan untuk menggunakan teknologi berbasis ruang angkasa dalam mendukung keadilan, keberlanjutan, dan penyelesaian persoalan di Bumi.
  3. Apa saja enam teknologi luar angkasa untuk pembangunan berkelanjutan? Enam bidang tersebut meliputi pengamatan Bumi, komunikasi satelit, penentuan posisi, riset mikrogravitasi, transfer teknologi, serta pendidikan dan inspirasi dari riset antariksa.
  4. Mengapa satelit penting bagi pembangunan? Satelit dapat menyediakan data dan layanan yang mendukung komunikasi, navigasi, pemantauan lingkungan, mitigasi bencana, konservasi, serta pengambilan keputusan berbasis data.
  5. Apa tantangan terbesar pemanfaatan teknologi luar angkasa? Tantangannya mencakup ketimpangan akses, biaya, kemampuan teknis, keterbatasan data dan infrastruktur, serta persoalan kebijakan yang dapat membuat manfaat teknologi tidak tersebar secara merata.

Sumber : https://youtu.be/5RAJvzV9j-o?si=yVqgFpmeWYNr4uaJ

Topik Terkait

Trending Hari Ini